Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.
Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.
Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.
Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 2
Sersan Gilang langsung bertindak cepat dengan mendorong kuat tubuh pria penagih utang yang posisinya paling dekat dengannya hingga terhuyung.
"Apa-apaan kau?!" tanya pria satunya yang memegangi Asia. Terkejut sekaligus heran dengan kemunculan orang asing yang tiba-tiba menyerang mereka.
Asia yang tadi meringis kesakitan sambil memegangi rambutnya yang dijambak, segera mendongak untuk melihat siapa yang datang membantunya. Siapa dia? batin Asia heran karena merasa sama sekali tidak mengenali pria bertubuh tegap itu.
"Lepaskan dia," perintah Sersan Gilang dengan suara penuh penekanan.
"Urusan apa kau ikut campur?! Ini urusan kami!" Dengan wajah bengis, pria itu justru menarik rambut Asia dengan lebih kencang sebagai bentuk tantangan.
Erangan kecil yang tertahan spontan lolos dari bibir Asia akibat rasa perih di kulit kepalanya.
"Kalian menyakiti seorang wanita," tutur Sersan Gilang tetap tenang, namun tatapan matanya menajam.
"Dia?" Pria itu menunjuk Asia dengan dagunya. Tatapannya remeh. "Dia punya utang, tapi tidak mau bayar! Jadi aku memukulnya. Apa yang salah dengan itu?!"
"Itu bukan utangku!" sanggah Asia membela diri.
"Terus saja kau bicara seperti itu! Di dalam surat perjanjian, kau tetap menjadi jaminan sampai utang itu lunas! Paham?!"
"Kalian menjebak ayahku!" teriak Asia tanpa rasa takut sedikit pun, meski posisinya sedang terdesak.
"Ayahmu itu yang bodoh, bukan salah kami!" Pria itu mengangkat tangannya, hendak memukul Asia lagi.
Sebelum bogem mentah itu mendarat, Sersan Gilang langsung melayangkan tinjuan keras ke wajah pria tersebut. Pukulan itu terlihat santai, tetapi sangat ampuh. Cengkeraman tangan pria itu pada rambut Asia seketika terlepas, dan tubuhnya terdorong mundur hingga beberapa langkah.
"Jangan mencoba bangun, atau aku akan membuat kalian babak belur di sini," ancam Sersan Gilang tegas saat melihat kedua preman itu hendak bergerak. Melihat aura intimidasi yang tidak main-main dari pria bertubuh tegap itu, kedua penagih utang tersebut langsung gentar.
"Kau, k-kau akan tahu berhadapan dengan siapa!" ancam pria itu lalu pergi.
Napas Asia tersengal-sengal karena sempat tertekan dan syok akibat ketegangan tadi. Tanpa menangis sedikit pun, dia hanya meringis pelan sambil merapikan pakaiannya yang sempat sedikit kusut. Asia berusaha menahan rasa sakit di lengan dan tubuhnya akibat terkena pukulan sebelumnya.
"Siapa kamu?" tanya Asia. Matanya masih menatap asing pada wajah penolongnya.
"Maaf. Saya hanya bawahan dari Tuan yang ada di sana," jawab Sersan Gilang sopan sambil menunjuk ke arah Hugo dan putranya yang menunggu di kejauhan.
Kepala Asia menoleh ke arah yang ditunjuk. Oh, pria di kursi roda itu, batinnya. Asia kemudian kembali menatap Gilang. "Terima kasih sudah membantuku."
"Bukan saya, tapi beliau yang memerintahkannya. Jika bisa, Anda sebaiknya mengucapkan terima kasih langsung pada atasan saya," ujar Sersan Gilang. Sebagai prajurit yang hanya menjalankan perintah, dia merasa tidak berhak menerima apresiasi itu sendirian.
"Baiklah," jawab Asia patuh. Dia tidak keberatan dengan hal itu. Toh, bagaimanapun dia selamat berkat keputusan pria tersebut.
Dengan didampingi oleh Sersan Gilang, Asia berjalan menghampiri tempat Hugo berada. Begitu sampai di depan pria itu, Asia sedikit membungkuk sopan. "Terima kasih sudah menolong saya, Tuan."
Hugo menatap Asia datar. Memperhatikan sudut bibir dan lengan wanita itu yang terluka. "Kamu bisa diantar ke rumah sakit oleh ajudanku," ujar Hugo dingin setelah melihat hasil dari kekerasan para penagih utang tadi.
Tanpa sadar Asia meraba wajahnya. "Ah ini?" Ada rasa ngilu disana. Dia sempat ditampar tadi. Sakit, tapi itu sudah biasa.
Asia membungkukkan tubuhnya sedikit dengan sopan. Ia menggeleng secara halus. "Terima kasih banyak atas kebaikan Anda, Tuan. Tapi tidak perlu, saya bisa mengobatinya sendiri di rumah," tolaknya jujur. Karena dia tahu tidak ada uang untuk biaya rumah sakit.
Sementara itu, Nero yang berada di samping kursi roda papanya hanya diam mematung, sepasang mata bulatnya sibuk mengamati sosok Asia dari atas sampai bawah.
Kruuuk.
Mendadak suara nyaring dari perut Asia memecah keheningan di antara mereka.
Sialan. Wajah Asia seketika merona merah karena malu.
Hugo tetap menatapnya datar tanpa ekspresi, lalu membuka suara demi membalas budi atas pertolongan Asia pada kursi rodanya tadi. Dia tidak mau ada hutang budi pada orang asing.
"Ikut kami makan di dalam," ajak Hugo dengan nada tegas yang sulit ditolak.
Asia sempat ragu, tapi rasa lapar yang teramat sangat membuatnya tidak bisa membohongi diri sendiri.
"Jika tidak merepotkan Anda, saya ikut. Tapi... apakah boleh pesanan saya dibungkus saja? Saya ingin memakannya di rumah," pinta Asia dengan penyampaian yang tetap sopan.
Hugo hanya mengangguk sekilas, lalu memberi kode pada Gilang untuk mendorong kursi rodanya masuk ke area restoran fast food di lantai dasar mall diikuti Asia dari belakang.
***
Asia memperhatikan Nero yang kembali merengek di sepanjang jalan menuju restoran.
"Ayo, aku mau makan sama robot!" Bocah itu rupanya masih ingat betul dengan mainan robot yang ia ributkan sejak tadi dan tidak mau membahas hal lain.
Hugo mencoba meredam suasana agar tidak memicu keributan di tempat umum. "Kita akan membelikannya nanti, Nero. Kamu sebaiknya sabar menunggu," ujar Hugo memberikan pengertian dengan suara rendahnya.
"Tidak akan sempat! Ini pasti akan habis!" potong Nero tak sabaran, sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan ayahnya.
Hugo akhirnya memilih diam. Pria itu tidak berniat mendebat anaknya yang sedang emosi di depan banyak orang. Dia tetap tenang dan terus menggerakkan kursi rodanya menuju gerai makanan siap saji yang menjadi tujuan mereka sejak awal.
Namun hari ini nasib baik sedang tidak memihak mereka. Begitu mereka sampai di depan kasir untuk memesan, pelayan mengabarkan bahwa paket ayam dengan hadiah mainan robot yang diinginkan Nero ternyata sudah habis stoknya.
"Huwaaa!!!" Nero langsung menangis keras tepat di depan kasir restoran. Tangisannya meledak begitu saja karena kecewa. "Ini salah Papa! Papa tidak mau membelikannya dari tadi!" tuduh bocah itu sambil menyalahkan ayahnya.
Hugo tetap berusaha bersikap tenang menghadapi kemarahan anaknya. "Kamu bisa beli paket makanan yang lain," kata Hugo dengan nada datar. Mencoba menenangkan situasi agar tidak menjadi pusat perhatian.
"Tidak! Aku mau yang ada robotnya yang itu! Enggak mau yang lain! Huwaaa!" bantah Nero makin menjadi-jadi. Bocah itu menghentakkan kakinya ke lantai. Sama sekali tidak mau menerima alternatif lain.
Di posisinya yang berdiri tidak jauh dari sana, Asia meringis menahan pening di kepalanya. Rasa lapar yang melilit perut ditambah polusi suara dari tangisan kencang bocah itu benar-benar menguji sisa kesabarannya malam ini.
Laparnya makin tertunda karena masalah ini. Asia seketika menyesal telah menerima ajakan makan malam itu.
"Jika tahu situasinya akan sekacau ini, lebih baik aku segera pulang ke rumah dan makan seadanya. Yah, aku selalu mendapat hal yang tidak baik. Kenapa terkejut? Bukankah semuanya seperti biasanya, batin Asia merasa ini bukan pertama kalinya. Asia akhirnya memilih cuek.