Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6. YANG MINTA DISELAMATKAN
Cecilia menarik napas panjang, dengan wajah sedikit pucat seakan baru saja berlari tanpa henti karena ia menggunakan cukup banyak energi untuk mengusir roh jahat. Namun gadis itu tetap berdiri tegak.
Semua orang hanya menatap Cecilia, tercengang dengan apa yang mereka lihat tadi.
Tidak ada ledakan cahaya.
Tidak ada pertunjukan megah seperti yang mereka pikirkan akan terjadi ketika mengusir roh jahat.
Namun mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri bagaimana wujud roh jahat hingga jeritan mereka.
Terlebih pria yang sejak tadi meraung tanpa kendali kini tenang, bernapas, dan baik-baik saja. Hanya perlu pengobatan lebih lanjut.
Caelum melangkah maju ketika para kesatria berisik banyak hal tentang fenomena yang mereka lihat. Matanya menyipit untuk mencoba mencari tipu daya. Namun tidak ada, tapi ia masih belum bisa percaya.
Lalu sang Putra Mahkota berkata, "Lakukan lagi. Bawakan yang paling berbahaya. Yang benar-benar di luar kendali."
Suasana kembali tegang. Beberapa kesatria saling pandang karena mereka langsung tahu siapa yang dimaksud.
Rowan tidak berkata apa-apa, hanya menurut. Ia berjalan menuju salah satu sel paling ujung. Sel yang selama ini selalu dijaga ekstra ketat.
Ketika pintunya dibuka raungan menggelegar memenuhi koridor.
Seorang pria raksasa menerjang Rowan, tubuhnya kekar penuh otot. Matanya merah seperti iblis.
Empat penjaga yang memeganginya langsung terpental, sampai Rowan turun tangan.
"PEGANG DIA!" perintah Rowan.
Butuh Rowan sendiri untuk menghentikannya. Kesatria itu menangkap leher pria tersebut dan membantingnya ke lantai.
Gareth ikut membantu, bersama-sama mereka memaksa pria tersebut berlutut.
Pria itu terus meraung, menggertakkan gigi. Berusaha menggigit siapa saja yang mendekat dan menyerang semuanya.
"Dia kandidat eksekusi besok. Kami sudah menyerah untuk menyembuhkannya," salah satu penjaga berkata pelan.
Cecilia berjalan mendekat. Namun kali ini ia tidak berdiri ketika di depan pria itu seperti tadi. Ia justru berlutut tepat di depan pria itu.
Semua orang panik.
"Nona! Jangan!" seru Garrick.
"Jangan terlalu dekat!" Rowan langsung maju untuk berjaga-jaga.
Namun Cecilia tidak mendengarkan. Ia hanya memandang pria itu cukup dalam dan lama. Seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Kemudian Cecilia mengangkat tangan dan menyentuh pipi pria tersebut.
Pria itu langsung membeku, lalu Cecilia berbicara dengan suara yang jauh lebih lembut.
"Jangan sentuh ayah dari anak ini. Kalian membuatnya menangis dan tertahan di dunia ini. Pergi kalian, iblis kegelapan. Jangan rusak mereka yang masih hidup," ujar Cecilia
Semua orang terdiam. Suara Cecilia mulai terdengar dingin di akhir kalimat.
Tiba-tiba cahaya muncul, bukan dari Cecilia. Melainkan dari tubuh pria itu sendiri. Kilatan lembut berwarna keemasan. Kemudian sesuatu terpental keluar dari tubuh pria itu seperti asap hitam yang dihantam cahaya.
Makhluk itu menjerit dengan lengkingan keras, lalu menghilang.
Pria besar itu tersentak, tubuhnya jatuh ke depan dengan terbatuk-batuk keras, seperti seseorang yang baru saja muncul dari dasar sungai.
"Ukhh!" Ia menarik napas panjang.
Mata pria itu kembali normal. Ia melihat sekitar dengan bingung lalu menatap Cecilia yang ada di hadapannya.
"A-apa yang terjadi?" tanya sang pria.
Cecilia tersenyum kecil. "Kau dirasuki roh jahat. Beruntung kau tidak tenggelam bersama mereka karena kau memiliki keinginan untuk mati."
Pria itu membeku. Lalu tertawa pahit seraya berkata, "Seharusnya kau membiarkan saja aku mati dimakan roh jahat itu."
Semua orang terkejut.
Namun pria itu melanjutkan, "Aku sudah tidak ingin hidup."
Keheningan menyelimuti koridor, mereka bingung maksud sang pria.
Lalu Cecilia berkata pelan, "Tapi putrimu tidak ingin kau mati."
Pria itu langsung menatap Cecilia dengan mata membelalak. "Apa?"
"Putrimu tidak ingin kau mati," ulang Cecilia.
Wajah pria itu berubah marah dan berseru, "Bagaimana kau tahu aku punya seorang putri?!"
Cecilia tidak terlihat terkejut dan justru menjawab dengan senyum, "Dia terus di sisimu. Menangis sambil memanggilmu penuh kekhawatiran."
Pria itu membeku.
"Gadis kecil berambut merah ikal dengan luka kecil di pipi kirinya," ujar Cecilia.
Tubuh pria itu gemetar, karena deskripsi itu tepat. Terlalu tepat untuk dibilang kebetulan.
"Tidak mungkin. Putriku sudah ...." Suaranya pecah.
Cecilia mengangguk dengan air muka sedih. "Sudah meninggal. Terbunuh oleh bandit saat kau mengajaknya berlibur menuju Oberyn."
Pria itu menatap Cecilia seperti melihat monster. "Bagaimana kau bisa tahu?"
Suara Cecilia menjadi sangat lembut seraya menunjuk sisi kanan sang pria yang kosong dan berkata, "Karena putrimu selalu ada di sisimu. Dia terus menangis karena khawatir kau dirasuki roh. Dia tidak bisa menyebrang ke cahaya karena kau masih terus diselimuti rasa bersalah atas kematiannya"
Mata pria itu mulai berkaca-kaca.
"Kau terus ingin mati menyusulnya. Kau membuatnya sangat khawatir untuk meninggalkanmu sendirian menuju ke tempat damai. Dia bilang itu bukan salahmu. Dia bilang kau tidak boleh menyusulnya terlalu cepat," beritahu Cecilia.
Air mata pria itu mulai jatuh. Pria itu menunduk dengan bahu bergetar. Tangisan mulai pecah perlahan.
Cecilia tersenyum tipis dan kembali berkata, "Dan bukankah kau pernah berjanji akan pergi ke Kerajaan Oberyn untuk melihat kapal terbang? Dia ingin kau ke sana menggantikannya. Dia meminta, untuk menaruh bunga Daisy kesukaannya saat kau ke makamnya nanti."
Pria itu langsung hancur, ketika yang dikatakan oleh Cecilia tidak ada satu pun yang meleset. Hati pria itu benar-benar hancur. Tangisnya pecah begitu keras hingga menggema di seluruh koridor.
"ELLA! Maaf ayah tidak bisa melindungimu!" Pria itu menyebut nama putrinya berulang kali.
Meminta maaf berkali-kali dan menangis seperti anak kecil. Tangisan seorang ayah yang menahan duka cukup lama atas kehilangan putri kecilnya.
"Ayah minta maaf ...."
"Ayah minta maaf ...."
"Ayah tidak bisa melindungimu ...."
Bahkan beberapa kesatria mulai memalingkan wajah. Mata mereka memerah menahan air mata karena kesedihan pria itu terasa begitu nyata dan dalam. Tak kuasa mengingat beberapa dari mereka juga memiliki seorang putri.
Sementara Cecilia hanya menatap ruang kosong di samping pria itu. Lalu mengangguk kecil, seolah mendengarkan sesuatu.
Kemudian tersenyum dan berucap, "Ya. Aku akan menyampaikannya pada ayahmu."
Pria itu mengangkat kepala.
Cecilia berkata, "Dia bilang dia mencintaimu. Dan jangan lupa agar kau menjaga diri dengan baik."
Tangisan pria itu semakin deras tapi kini mengangguk dan berkata, "Akan kulakukan. Ayah janji akan menjaga diri dengan baik setelah ini. Kau harus pergi ke tempat yang damai dan indah, Ayah akan menyusul saat waktu ayah sudah tiba nanti. Ayah tidak akan mencoba bunuh diri lagi, Ayah janji."
Sunyi menyelimuti koridor.
Tidak ada yang berbicara.
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan para tahanan lain tampak lebih tenang. Seolah sesuatu yang menyesakkan tempat itu telah berkurang.
Sang Kaisar berdiri diam. Tatapannya tertuju pada Cecilia. Untuk pertama kalinya sejak datang, wajah santainya menghilang. Karena sang kaisar tahu bahwa apa yang baru saja ia lihat bukan tipuan atau sihir biasa, melainkan ini sudah di luar logika manusia.
Caelum juga terdiam. Putra Mahkota yang terkenal skeptis itu tidak bisa menemukan penjelasan apa pun. Karena tidak mungkin Cecilia mengetahui semua detail tentang putri pria itu.
Tidak mungkin, kecuali ia benar-benar berbicara dengan arwah.
Sang Kaisar akhirnya menghela napas panjang. Lalu tersenyum kecil dan berkata, "Sekarang aku mengerti kenapa kau begitu keras kepala mencarinya, Rowan."
Mata Rowan sedikit melebar.
Sementara Kaisar melanjutkan, "Karena jika gadis ini berada di pihak kita maka untuk pertama kalinya sejak tiga tahun terakhir, aku melihat harapan."
Dan untuk pertama kalinya sejak tragedi kerasukan massal mulai menyebar di dunia. Harapan itu berdiri di tengah koridor bawah tanah.
Dengan rambut pirang platinum. Dan mata biru yang mampu melihat mereka yang telah mati.
Tanpa ada yang tahu bahwa kehadiran gadis itu akan membuat banyak air mata tumpah.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/