"Dulu Ku tulis takdirmu untuk menderita, sekarang malah..aku yang harus bertarung nyawa merubah takdir itu." Ling Xie seorang penulis novel kolosal, tidak sengaja terjebak ke dalam cerita novelnya sendiri. Ia terbangun ke dalam cerita nya sendiri. Ia terkejut mendapati dirinya terbangun dari tidur, dan masuk ke dalam tubuh putri Jin Ling Xie. Seorang protagonis, yang ia ciptakan untuk hidup sengsara, seorang putri yang terbuang, dan di fitnah sebagai wanita murahan, oleh Putri Li Mei Feng seorang putri palsu dari kerajaan Feng Ling. Di dunia yang kejam ini, ia harus bertahan hidup dengan bantuan Sistem. Misinya sungguh berat dan tidak main-main. Ia harus mengembalikan takdir putri yang terbuang itu, untuk merebut posisi putri mahkota Kerajaan Feng Ling yang asli, dari tangan Li Mei Feng si putri palsu itu. Serta merebut kembali jodoh sejatinya yaitu seorang pangeran Zhong Yang. Dan membersihkan nama baik Ibu kandung nya, Selir Agung Ling Mei Rong dari fitnahan Yan Shi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUSTIKA DEWI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelesaikan Tugas Pertama
Istana Feng Ling kini tidak seindah dahulu, tidak seharum dulu. Kabar mengenai kesehatan Ibu Suri Zhao He yang sempat menurun drastis, secara tiba-tiba, kini tersiar ke seluruh penjuru istana. Hal itu, membuat beberapa orang yang sangat menghormati beliau, di landa kekhawatiran. Bagaimana tidak, Ibu Suri jatuh sakit, secara tiba-tiba mengundang beberapa spekulasi bagi orang-orang. Apalagi, Ibu Suri Zhao He sangat tidak menyukai Putri Li Mei Feng dan perilaku Permaisuri Yan Shi.
Siapa yang menyangka, sikap baik dengan senyuman manis, tersimpan rencana jahat, yang kejam. Tidak ada yang menyangka bahwa putri Li Mei Feng sangat jahat.
Di dalam ruang kamar peristirahatan ibu Suri Zhao He di Paviliun Feng Ling, dengan tertutup rapat. Tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamar peristirahatan itu, kecuali sudah dapat izin dari Ibu Suri Zhao He langsung.
Ibu Suri Zhao He bangun dari tempat tidur nya, seraya perlahan-lahan duduk bersandar pada bantal. Terlihat wajah Ibu Suri tampak masih pucat, dan sedikit lemas. Walaupun sudah di sembuhkan oleh Ling Xie, tetap saja kesembuhan itu memerlukan proses. Namun, saat nona Ling Xie dan Dayang Bai Zhi datang ke kamar peristirahatan Ibu Suri, secara tiba-tiba Ibu Suri perlahan bangun dan duduk di kursi utama. Kehadiran mereka, membuat Ibu Suri Zhao He penasaran dengan perihal kedatangan mereka.
Nona Ling Xie dan Dayang Muda Bai Zhi melangkah maju, sambil membungkuk kan badan dan mengangkat kedua tangan ke depan dada. Tangan kiri terbuka datar, sambil membungkus tangan kanan yang mengepal, sebagai bukti salam penghormatan kepada Ibu Suri Zhao He.
"Yang Mulia Ibu Suri Zhao He, kami menghadap." ucap keduanya sambil menunduk kan kepala.
Ling Xie, si tabib cadar putih datang menghadap Ibu Suri Zhao He, dengan menggunakan baju hanfu putih dengan variasi jubah putih dan memakai cadar putih menutupi wajah cantik nya. Suasana kamar yang semula tampak hening, namun Ling Xie membuka suara dengan nada rendah dan tegas memecah keheningan, yang menyelimuti kamar itu. Memang ia, tidak memiliki bukti kuat saat itu, tetapi menyaksikan langsung rencana jahat mereka besok akan jadi bukti kuat nya.
"Yang Mulia Ibu Suri Zhao He. Hamba sudah menemukan pelaku yang telah berbuat jahat dan meracuni tubuh Yang Mulia." ucap Ling Xie memulai percakapan dengan Ibu Suri Zhao He.
"Memang siapa pelakunya?" tanya Ibu Suri Zhao He sambil duduk santai.
"Em..m Pelakunya adalah Putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi serta di bantu oleh dua orang dayang. Dayang Senior Su Yan dan Dayang Cui Er." jawab Ling Xie menjelaskan.
"Darimana kamu tahu?" tanya Dayang senior Si Yi, yang berdiri di samping Ibu Suri Zhao He.
"Tadi, Hamba berjalan-jalan melihat-lihat suasana malam di istana, ini. Tidak sengaja melintas di depan kamar Tuan Putri Li Mei Feng. Hamba mendengar langsung percakapan mereka. Menurut pendengaran hamba, besok pagi mereka akan merencanakan untuk menjebak pelayan dapur, agar kejahatan mereka tertutupi." jelas Ling Xie pada Ibu Suri Zhao He.
Alih-alih terkejut saat mendengarnya, Ibu Suri Zhao He justru berubah dingin. Kedua matanya menyala dengan wajah marah yang meluap-luap. Amarahnya kini bukan sekedar amarah biasa, tetapi bercampur dengan kebencian yang dalam. Ibu Suri Zhao He tertawa kecil, suara tawanya menyimpan kebencian yang luar biasa.
"Benarkah? Aku sudah menduganya sejak lama. Gadis itu sangat egois, arogan, manja dan bersikap sesuka hati." ujar Ibu Suri Zhao He, sambil memandangi tirai jendela kamar.
"Firasatku tidak pernah salah. Gadis muda itu..Li Mei Feng, sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya di Istana ini, aku sudah yakin, dia bukanlah putri asli kerajaan Feng Ling." kata Ibu Suri Zhao He.
"Yang Mulia sudah mengetahui bahwa, dia adalah orang jahat?" tanya Dayang muda Bai Zhi yang terkejut.
"Iya, Bai Zhi. Aku sudah tahu, di saat dia di angkat sebagai putri mahkota Kerajaan Feng Ling. Seperti nya dia gadis yang serakah dan tamak. Di kerajaan ini, hanya aku yang tidak terpengaruh padanya." jawab Ibu Suri dengan jelas dan tegas.
"Kalau begitu, bolehkah kita bekerja sama untuk menjebak nya? Kejadian ini bukanlah ketidaksengajaan, melainkan sebuah perencanaan pembunuhan. Ini harus di tindak lanjuti." ajak Ling Xie membuat kesepakatan bersama Ibu Suri Zhao He.
"Tentu saja, Nona Ling Xie. Siapapun yang berbuat salah, dan jahat akan segera mendapatkan hukuman yang setimpal!" sahut Ibu Suri Zhao He, sambil mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan dengan Ling Xie.
Karena Ibu Suri Zhao He telah menyetujui kesepakatan kerjasama dengan nya
Akhirnya Ling Xie dan Dayang muda Bai Zhi pamit kembali ke Paviliun Tamu Agung.
"Yang Mulia Ibu Suri Zhao He, Yang hamba hormati. Kami, izin kembali." ujar Dayang Muda Bai Zhi dan Ling Xie yang mengatakannya bersamaan.
"Silahkan!"
Dayang senior Si Yi, mengantarkan mereka berdua sampai ke depan pintu kamar. Mereka pun kembali ke kamar di Paviliun Tamu Agung.
Dayang Si Yi kembali, ia membantu Ibu Suri Zhao He untuk beristirahat kembali, karena sudah larut malam. Para pengawal yang berjaga di luar kamar Ibu Suri, tampak segan dengan mereka berdua. Ling Xie dan dayang muda Bai Zhi, melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat. Akhirnya sampai di Paviliun Tamu Agung. Ling Xie dan Dayang muda Bai Zhi masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat-rapat pintu kamar itu.
* * * * *
Keesokan harinya, Ibu Suri Zhao He yang di dampingi oleh dayang senior Si Yi dan Ling Xie bersama dayang muda Bai Zhi.
Mereka benar-benar berada di dapur Istana. Mereka semua bersembunyi di balik tirai dari sudut tersembunyi di dapur istana. Mereka akan menyaksikan sendiri seluruh rencana jahat yang disusun oleh Putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi.
Mereka sengaja datang lebih awal dari yang lain, agar lebih puas menyaksikan pertunjukan rencana jahat itu. Saatnya tiba kedatangan putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi beserta dayang pribadi mereka. Mereka melihat keduanya sedang berbisik-bisik, membicarakan rencana mereka. Putri Li Mei Feng menyiapkan sebotol racun , dan merencanakan untuk memfitnah pelayan dapur sebagai pelakunya. Demi menyelamatkan diri mereka. Rencana ini secara halus merusak reputasi target mereka, serta mematikan pekerjaan sang target dayang muda Bai Zhi. Karena hanya dengan membawa Ibu Suri Zhao He ke tempat itu adalah sebagai bukti, bahwa kejahatan Putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi adalah bentuk kejahatan besar dan bisa saja tidak akan di ampuni.
"Bu, bagaimana ini? Apakah ibu sudah siap?" bisik Putri Li Mei Feng kepada Ibunya.
"Tenang, Nak! Serahkan itu pada, Ibu." sahut Permaisuri Yan Shi dengan percaya diri.
Lalu mereka berdua berjalan ke arah Kasim Meng Bao, seorang kepala koki di dapur istana. Permaisuri menghampiri Kasim Meng Bao, dan berpura-pura bertanya.
"Kasim Meng! Apakah makanan untuk Ibu Suri, sudah siap?" Permaisuri berpura-pura bertanya.
"Makanan nya sudah, siap Yang Mulia." sahut Kasim Meng Bao sambil menunduk.
Dayang senior Jia Hui mengambil makanan dan minum yang akan di suguhkan untuk Ibu Suri Zhao He, menggunakan nampan kayu berbentuk kotak.
"Wah, dayang senior Jia Hui! Apakah ini makanan untuk Ibu Suri? Sebaiknya aku saja yang mengantarkan nya," ujar Putri Li Mei Feng sambil memegang nampan kayu itu, Permaisuri Yan Shi berjalan mendekati Dayang Jia Hui. Permaisuri Yan Shi berdiri lebih dekat dengan Dayang Jia Hui, dan berpura-pura mengajaknya mengobrol, sambil tangannya menyelipkan sebotol racun mematikan, yang dipersiapkan nya dari balik bajunya. Menaruh botol kecil itu ke dalam sabuk pinggang baju Dayang Jia Hui, tanpa sepengetahuan siapapun. Sebelum melakukan hal jahat itu, ia sudah memastikan bahwa dapur dalam kondisi sibuk, bahkan Kasim Meng Bao sudah kembali bertugas untuk memandu para koki muda di tungku dapur Istana.
Setelah tugas itu selesai, Putri Li Mei Feng pun berbalik arah dan berlari ke luar dapur istana dengan berteriak memanggil semua orang berdatangan.
"Tolong! panggilkan Ibu Suri, Cepat! pelaku yang meracuni Ibu Suri sudah di temukan!"
Semua Kasim dan para dayang istana, berdatangan. Mereka mempertanyakan perihal ini.
"Ada apa ini?"
"Tidak tahu!"
Semua orang berhadir, di tempat itu Putri Li Mei Feng berjalan mengelilingi dayang Jia Hui.
"Apakah kalian tahu siapa pelakunya?" Putri Li Mei Feng bertanya pada semua yang hadir, mencoba memancing keributan. Semua yang berhadir hanya saling tatap sambil menggelengkan kepala.
"Pelakunya adalah Dayang Senior Jia Hui! kalau tidak percaya, silahkan periksa saja pakaian nya, siapa tahu ada barang buktinya." kata Putri Li Mei Feng mulai menjalankan perannya.
"Tidak! Hamba tidak melakukan itu!" ucap Dayang senior Jia Hui menentang semua tuduhan itu.
Permaisuri Yan Shi merebut makanan dan minum yang tersedia nampan itu, dan di letakan di atas meja dapur. Putri Li Mei Feng mendorong Dayang Jia Hui hingga jatuh ke lantai.
"Tidak! Hamba tidak melakukan itu! Saya tidak melakukan tindakan itu! Saya tidak tahu!" ucap nya sambil semua yang berhadir ikut menggeledah pakaian nya, dan akhirnya mereka menemukan sebotol kecil yang disinyalir sebagai racun.
"Nah, ini apa?" tanya seorang Kasim di dapur istana.
Dayang Jia Hui mulai tercengang saat melihat botol itu ada terselip di pakaian nya.
"Saya berani sumpah, saya tidak melakukan tindakan yang membahayakan nyawa Ibu Suri!" ucap Dayang Jia Hui membela diri.
"Ini Fitnah! tolong percaya saya! Saya tidak tahu, ada botol itu di pakaian, saya. Saya bukan pelaku nya!" rintih Dayang Jia Hui sambil menangis.
Tiba-tiba datanglah Ibu Suri Zhao He bersama dengan Tabib Cadar Putih Nona Ling Xie, beserta dayang senior Si Yi, dan Dayang Muda Bai Zhi.
Permaisuri Yan Shi melihat Ibu Suri Zhao He datang, ia langsung melangkah maju seraya membungkuk kan badan, menaruh tangan ke atas dada, tangan kiti terbuka datar membungkus tangan kanan yang mengepal, dan mengucapkan salam hormat kepada Ibu Suri Zhao He.
"Yang Terhormat Mulia Ibu Suri Zhao He. Hamba menangkap Dayang Jia Hui. Seperti nya dia adalah pelakunya, Yang Mulia." ucap Permaisuri Yan Shi menjalankan peran nya.
Ibu Suri Zhao He berjalan menuju mereka, menghindari putri Li Mei Feng. Dan berhadapan dengan permaisuri Yan Shi.
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat dan mengenai pipi Permaisuri Yan Shi. Tamparan itu mengejutkan semua orang yang berhadir di sana.
"Yang Mulia Ibu Suri, mengapa anda menampar saya?" tanya Permaisuri Yan Shi sambil memegang pipinya yang memerah akibat tamparan dari Ibu Suri Zhao He, ibu mertua nya.
Putri Li Mei Feng menghampiri Ibu Suri Zhao He, dan mempertanyakan tamparan itu, yang sengaja di layangkan kepada ibunya permaisuri Yan Shi.
"Nenek Ratu! Mengapa Nenek menampar ibunda Permaisuri Yan Shi?" tanya Putri Li Mei Feng.
"Berhenti memanggilku Nenek! Aku bukan nenekmu!" ucap Ibu Suri Zhao He dengan nada tinggi. Seperti Beliau tidak bisa mengontrol kebencian nya pada putri Li Mei Feng.
"Bisa-bisa kalian, memfitnah orang lain, demi menutupi kejahatan yang kalian perbuat!" luapan amarah Ibu Suri Zhao He yang tidak terbendung lagi.
Dengan kemarahan yang meledak-ledak, Ibu Suri Zhao He berteriak memanggil para pengawal istana, untuk segera menyeret dan membawa Putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi ke aula penegakan hukum kekaisaran.
"Pengawal! Pengawal!" teriak Ibu Suri Zhao He memanggil.
"Yang Mulia Ibu Suri," ucap para pengawal istana dengan melakukan gerakan salam hormat kepada Ibu Suri Zhao He.
"Bawa Putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi, ke aula penegakan hukum kekaisaran!" perintah Ibu Suri Zhao He.
"Tidak! Jangan...jangan bawa kami!" lirih permaisuri memohon.
"Kasim Liu Ying! Kasim Li Mu wen!" panggil Ibu Suri Zhao He dengan nada tinggi penuh kemarahan.
Kasim Liu Ying dan Kasim Li Mu wen datang menghadap Ibu Suri Zhao He. Mereka melangkah maju, sambil melakukan salam hormat (Baoquan). Mereka mengangkat kedua tangannya ke atas dada. Telapak tangan kiri terbuka datar, sambil membungkus tangan kanan yang mengepal.
"Segera pergi, beritahukan kepada semua anggota pemerintahan agar bertemu di Aula Penegakan Hukum Kekaisaran. Kasim Li Mu wen, segera beritahukan Kaisar Jin Feng. Segera datang ke aula penegakan hukum kekaisaran!" perintah Ibu Suri Zhao He.
"Baik, Yang Mulia. Tugas segera kami laksanakan!" ucap kedua Kasim itu. Setelah kembali berdiri, mereka pun segera pergi untuk menjalankan tugas masing-masing.
* * * * *
Setelah semuanya berhadir di Aula Penegakan Hukum Kekaisaran. Suasana aula mendadak senyap. Wakil kehakiman maju selangkah , menyatukan kedua tangannya ke atas dada, dengan tangan kirinya terbuka datar sambil membungkus tangan kanan yang mengepal, sebagai penghormatan penuh tekanan politik kepada sang penguasa kerajaan Feng Ling.
"Hamba, menghadap Yang Mulia." suaranya menggema memecah keheningan di hadapan Ibu Suri Zhao He dan Kaisar Jin Feng.
Wakil menteri kehakiman menurunkan keduanya tangannya, setelah memberikan salam penghormatan. Pangeran kembar Jin Ling Jian dan Jin Lim Jian juga ikut berhadir dalam sidang itu.
Suasana aula penegakan hukum kekaisaran, seketika dingin senyap. Serasa ruangan itu sedang menghimpit dua orang wanita berbaju hanfu putih, yang kini dengan posisi tangan terikat kebelakang badan, mereka di posisi sedang berlutut di lantai marmer yang dingin.
Permaisuri Yan Shi mengepal jarinya dari balik jubah baju hanfu putihnya, yang terasa mencekik itu.
Dada terasa sesak, akibat menumpuknya rasa amarah yang bercampur kekesalan nya. Harga dirinya sebagai Ibu negara yang menolak runtuh dengan ketahuannya kejahatan mereka. Ia mulai mengangkat dagunya tinggi-tinggi, menatap lurus kearah kaisar Jin Feng, dengan pandangan mata berkaca-kaca. Namun pandangan kaisar padanya, hanyalah pandangan kemarahan.
Permaisuri kembali menatap wajah kaisar Jin Feng dengan penuh ketakutan dengan mulut tertutup rapat. Disamping nya Li Mei Feng, sudah gemetar di sekujur tubuh nya, peluh dingin membasahi pipinya, membuat riasan di wajahnya tampak luntur hanya terlihat wajah pucat nya. Detik demi demi ketakutan semakin mengancamnya. Ia merasa takut, jika algojo akan mengeluarkan bilah pedangnya, dan akan menebas lehernya, tentu ia akan tewas seketika.
Ibu Suri Zhao He berdiri dari kursi singgasana nya,, dan mulai mengatakan sesuatu.
"Kaisar Jin Feng! Harimau saja, tidak akan mau memakan anaknya sendiri. Ibu, tidak menyangka, di dalam istana yang megah ini, ada orang yang tega memberiku racun mematikan ke dalam sup hangat ku!"
Kaisar Jin Feng sangat menjunjung tinggi nilai-nilai hukum berbakti, dan nilai kejujuran di istana kerajaan Feng Ling. Kaisar Jin Feng sangat terkejut dan marah, saat mendengar perkataan dari Ibu Suri Zhao He. Dan yang lebih membuatnya marah dan kecewa adalah, pelaku yang tertangkap adalah istri nya seorang permaisuri dan Putri nya Li Mei Feng.
Seorang permaisuri dan putri mahkota Kerajaan Feng Ling, menginginkan kematian Ibu Suri Zhao He. Sungguh membuat hati Kaisar Jin Feng sangat meradang di penuhi amarah.
Wajah kaisar berubah, dengan wajah penuh amarah yang berapi-api. Kaisar bangkit dari tempat duduk singgasana Phoenix emas nya, berjalan menuju arah Ibu Suri yang berada di sampingnya. Ia segera berlutut di hadapan Ibunya.
"Ibu Suri! Maafkan Ananda. Ananda sudah lalai menjaga keselamatan Ibu Suri!" ucap Kaisar Jin Feng dengan penuh penyesalan.
"Berdiri lah, Nak!" ujar Ibu Suri Zhao He sambil meraih tangan Kaisar Jin Feng membawanya ikut berdiri.
"Mohon ampunan, Ibu Suri. Ananda sudah lalai menjaga keselamatan, Ibu Suri. Sudi kiranya, Ibunda Suri untuk mengampuni dan memaafkan Ananda," ujar Kaisar Jin Feng sambil melakukan salam hormat Baoquan.
"Mohon Izin, Ibu Suri. Biarlah masalah ini, Ananda yang mengurusnya. Ibu Suri, duduk dan beristirahat lah, mungkin..kondisi Ibu Suri masih lemah." ucap Kaisar Jin Feng sambil memohon.
Kaisar kembali duduk di singgasana Phoenix emas nya. Kaisar memikirkan hukuman bagi keduanya, sambil memainkan cincin giok di ibu jarinya. Sementara itu Menteri utama kehakiman, dan para wakilnya sedang berdiskusi untuk mencocokkan tindakan kejahatan pelaku dengan pasal yang tepat di perundang-undangan Kerajaan Feng Ling. Beliau mengangkat draf gulungan kertas di atas kepala nya.
"Melaporkan kepada Yang Mulia, Kaisar," ujar Menteri utama kehakiman dengan rasa hormat. " Berdasarkan hasil musyawarah kekaisaran, bahwa tindakan terdakwa putri Li Mei Feng dan Permaisuri Yan Shi telah terbukti melanggar hukum. Tindakan tersebut masuk dalam kategori Pelanggaran bakti atau Percobaan pembunuhan terhadap keluarga kerajaan terutama Ibu Suri Zhao He, selaku ibu dari Kaisar Jin Feng."
"Kami mengusulkan bahwa tindakan terdakwa putri Li Mei Feng adalah tindakan kejahatan. Maka dengan ini, kami Menteri Kehakiman mengusulkan agar putri Li Mei Feng di jatuhi hukuman mati atau di turunkan menjadi rakyat jelata. Sedangkan untuk permaisuri Yan Shi, kami mengusulkan pemecatan status permaisuri kepada Nyonya Yan Shi dan segera mengirimnya untuk diasingkan ke Paviliun Dingin, seperti Selir Ling Mei Rong." hasil rapat para menteri kehakiman dan para wakil nya.
"Tidak! Jangan! Jangan Yang Mulia, Ayahanda kaisar." lirih putri Li Mei Feng memohon.
Di luar ruang sidang itu, tampaknya Kasim Han tengah panik. Ia terlihat sangat mengkhawatirkan nasib Permaisuri Yan Shi dan Putri kandungnya Li Mei Feng. Sementara itu, Kasir memanggil Nona Tabib Cadar Putih, Ling Xie untuk di mintai keterangan mengenai kabar racun itu.
"Panggilkan Nona Tabib Cadar Putih, kemari!" perintah Kaisar Jin Feng, yang menyuruh bawahan nya.
Setelah Ling Xie di suruh masuk ke dalam ruang aula penegakan hukum kekaisaran, ia segera menghadap kaisar.
"Yang Terhormat Mulia Kaisar Jin Feng. Hamba menghadap," ucap Ling Xie dengan melakukan gerakan salam hormat Baoquan.
"Nona Tabib Cadar Putih, apa benar kau yang menyembuhkan Ibu Suri?" tanya Kaisar Jin Feng.
"Benar, Yang Mulia." sahut Ling Xie dengan lembut.
"Coba ceritakan bagaimana kau bisa mengetahui kalau ibu suri telah keracunan?" tanya Kaisar sekali lagi.
Ling Xie menegakkan tubuhnya kembali, namun kepalanya masih tertunduk.
"Melaporkan kepada Yang Mulia," suara Ling Xie terdengar lembut dan mengalir tenang seperti gaya bicara selir Agung Mei Rong.
"Hamba hanyalah tabib biasa. Melihat dari gejala luar nya saja. Seperti denyut nadi yang melemah, jantung yang debat dengan kencang, demam tinggi, bibir membiru, dan ujung kuku membiru, serta badan yang terasa lemah tak berdaya." jelas Ling Xie.
"Apa kau tahu jenis racun itu?" tanya Kaisar dengan penasaran.
"Racun bersarang di tubuh Ibu Suri adalah racun penjerat Sukma. Sejenis racun yang bekerja lambat, namun menyerang dari dalam tubuh. Hamba pernah mempelajari tentang racun ini. Racun ini hanya bisa di sembuhkan oleh akupuntur Jarum perak dan Ramuan dari akar bunga dewa. akar bunga dewa, hanya tumbuh 1 tahun sekali di daerah pegunungan batas terakhir wilayah kekuasaan kerajaan Feng Ling." jelas Ling Xie.
"Jika lambat menanganinya, maka nyawa Ibu Suri tidak akan tertolong lagi. Racun ini adalah racun termahal di kota Feng Ling." ujar Ling Xie kembali menjelaskan.
Suasana sidang makin mencekik. Permaisuri Yan Shi yang mencengkram ujung bajunya, agar tangan nya yang gemetar tidak terlihat.
Ling Xie memperlihatkan beberapa jarum perak akupuntur miliknya kepada Kaisar Jin Feng. Kaisar pun berdiri, dan mempersilahkan Nona Tabib Cadar Putih Ling Xie untuk kembali ke tempat nya.
Kaisar Jin Feng berdiri dengan jubah merah keemasan, yang berkibar di saat ia melangkah maju, berjalan menuju tangga altar pengadilan.
Kaisar menatap rendah ke arah dua wanita, yang selama ini diakuinya sebagai istri dan putri nya.
"Permaisuri Yan Shi, kau tega menyakiti Ibu Suri! Kau sudah menghancurkan kepercayaan ku! Mulai hari ini, Nyonya Yan Shi bukan lagi permaisuri kerajaan Feng Ling! Bawa dia ke Paviliun Dingin, untuk menerima hukuman! Bagiku dan seluruh penghuni istana kerajaan Feng Ling, kau bukan permaisuri lagi." ucap Kaisar Jin Feng dengan kemarahan yang memuncak.