Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06• Pemeran Pengganti
Seminggu setelah makan siang itu.
Hujan turun pelan sejak sore. Kontrakan Naya kecil, lembab, dan baunya bercampur antara teh melati dan tanah basah dari jendela yang tidak rapat.
Arkan datang bawa map cokelat. Hendak bahas tanggal lamaran. “Biar cepet beres,” katanya waktu di telepon.
Naya menyeduh teh. Tangannya sibuk, padahal kepalanya kosong. Arkan duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuan. HP-nya ia taruh di meja kayu.
“Udah makan?” tanya Naya, mencoba mengisi suasana yang tampak sepi.
“Belum. Nanti aja,” jawab Arkan. Matanya nggak lepas dari layar laptop.
Brzzzt.
Getar HP itu pelan, tapi di ruangan sekecil ini, suaranya kayak petir.
Layar menyala.
Dewi: Malam ini jadi..
Cuma dua detik. Tapi cukup buat Naya nangkep namanya. Dewi.
Jantung Naya jatuh ke lantai.
Arkan bergerak cepat. Terlalu cepat. Tangannya menyambar HP, membaliknya, layar menghadap meja. Gerakan refleks.
Uap teh di tangan Naya naik ke wajahnya, panas, tapi ia tidak berani meniup.
“Siapa?” tanyanya. Suaranya pelan. Hampir tenggelam sama suara hujan.
Arkan mendongak. Kaget ketahuan. “Hah?”
“Notifikasi tadi. Siapa Dewi?”
“Ah…” Arkan mengusap tengkuknya. “Temen kantor. Ngurusin project.”
Naya naruh cangkir. Terlalu keras. Tehnya sedikit tumpah, merembes ke tisu di meja.
“Temen kantor kenapa harus dibalik HP-nya, Mas?”
“Karena nggak penting!” Nada Arkan naik setengah. Bahunya naik, turun cepat. “Kamu curiga mulu sekarang.”
“Aku nggak curiga. Aku nanya.” Suara Naya juga naik. Dinding kosnya tipis, ia nggak peduli kalau tetangga dengar. “Kenapa disembunyiin kalau emang nggak ada apa-apa?”
“Ya karena kamu pasti mikir aneh-aneh!” Arkan berdiri. Sofa bergeser, bunyinya nyaring. Ia jalan mondar-mandir di ruangan sempit itu, dua langkah maju, dua langkah mundur. “Kamu capek ya? Capek banget aku ngadepin kamu yang makin hari makin—”
“Makin apa?” Naya ikut berdiri. Kakinya gemetar. Ia pegang tepi meja biar nggak goyang. “Makin nuntut kejujuran?”
Hujan makin deras. Netes dari talang bocor, tok, tok, tok, berirama sama detak jantung Naya.
Hening. Cuma suara hujan dan laptop Arkan yang masih nyala.
Sampai akhirnya Naya bilang. Suaranya pecah di tengah.
“Kamu nggak niat nikahin aku, ya?”
Arkan berhenti. Wajahnya berubah. Kaget. Bersalah. Ada sesuatu yang lewat di matanya cepat, gelap sebelum ia tutupi. Bahunya turun.
“Niat,” katanya. Ragu. Pelan. Seperti orang yang dipaksa ngaku. “Aku niat, Nay.”
Naya menatapnya lama. Air hujan di jendela bikin bayangan Arkan jadi buram.
“Ya udah,” kata Naya akhirnya. Suaranya datar. Tapi tangannya masih gemetar. “Kalau kamu serius… nikahin aku. Secepatnya juga. Jangan nunggu nanti-nanti. Kalau kamu beneran niat, buktiin.”
Arkan terdiam. Nafasnya berat.
Di luar, hujan turun makin deras. Seperti menunggu jawaban.
......................
Satu bulan kemudian, resepsi megah yang diadakan Ibu Desy.
Satu bulan setelah malam hujan itu. Mereka akhirnya menikah dan dirayakan.
Gedung Grand Arsa dipenuhi bunga anggrek putih. Bau parfum mahal bercampur bau karpet baru. Kristal lampu gantung memantulkan cahaya ke lantai marmer sampai menyilaukan mata.
Ibu Desy turun tangan penuh. “Pernikahan anak saya harus pantas,” katanya ke vendor. “Undang semua relasi Arkan. Semua.”
Hasilnya ratusan tamu. Pejabat. Pengusaha. Teman kantor Arkan yang pakai jas rapi dan senyum politik. Kamera berkedip tanpa henti.
Naya berdiri di pelaminan sejak jam 10 pagi. Akad nikah sudah berlangsung dua jam yang lalu. Dan sekarang jam setengah empat. Kakinya sudah mati rasa.
Gaunnya putih gading, model mermaid, payet di dada dan lengan. Berat. Sesak. Penata rias bilang “harus glamour Mbak, biar nggak kalah sama Ibu Desy.”
Riasannya tebal. Alisnya tajam. Bibirnya merah. Naya tidak mengenal wajahnya sendiri di cermin.
Di sebelahnya, Arkan pakai jas hitam. Dasi kupu-kupu. Senyumnya nempel, tapi matanya kosong. Dari pagi mereka cuma sempat bertukar dua kalimat: “Udah makan?” “Belum.”
Setengah hari berdiri. Salaman. Foto. Salaman lagi. Senyum. Senyum. Senyum.
“Selamat ya, Nak.”
“Samawa, Mbak Naya.”
“Cantik banget gaunnya.”
Kata-kata itu lewat seperti angin. Naya mengangguk. Menjawab pelan. Tangannya dingin di dalam sarung tangan.
Lalu ia lihat dia.
Cewek itu masuk dari pintu samping, pakai dress pink pastel, rambutnya dikuncir rapi. Wajahnya familiar. Terlalu familiar.
Duh, ini kan…
Cewek yang nyambar mie cup terakhir di minimarket bulan lalu. Yang tidak minta maaf. Dan jalan pergi sambil lihat Naya dari ujung mata.
Deg.. Parfum yang familiar itu, apa aku pernah menciumnya di baju Arkan..?
Dewi.
Cewek yang namanya muncul di HP Arkan malam itu.
Dewi berjalan lurus ke pelaminan. Tidak lewat tamu biasa. Lewat jalur khusus. Berarti… kenal banget sama keluarga Arkan.
“Mas Arkan!” Suaranya cerah. “Akhirnya ya!”
Arkan langsung turun selangkah dari pelaminan. Senyumnya berubah. Bukan senyum formal ke tamu. Ini senyum beneran. Lega.
“Dew, makasih udah dateng,” kata Arkan. Tangannya terulur.
Mereka bersalaman. Lama. Terlalu lama buat sekadar “teman kantor.” Jari Dewi sempat menggenggam tangan Arkan sedetik lebih lama sebelum dilepas.
Ngobrol. Tertawa pelan. Kepala Dewi sedikit miring ke arah Arkan, seperti biasa kalau lagi akrab.
Naya berdiri kaku di atas pelaminan. Gaun beratnya tiba-tiba sesak banget. Riasan tebalnya terasa kayak topeng.
Dewi baru sadar ada Naya. Baru menoleh.
“Oh, ini Mbak Naya ya?” katanya. Suaranya tetap manis. “Selamat ya, Mbak.”
Salaman. Sekilas. Dingin. Tidak ada pertanyaan “sudah makan belum” atau “capek nggak berdiri lama.” Cuma salaman, lalu Dewi balik lagi ngobrol sama Arkan.
Tentang kerjaan. Tentang klien. Tentang sesuatu yang Naya tidak mengerti.
Naya tetap berdiri. Tetap tersenyum. Tapi di dalam, ada sesuatu yang menciut. Pelan. Sakit.
Ibu Desy lewat di belakangnya, berbisik. "Tahan, Nak. Tamu penting masih banyak.”
Hujan rintik mulai turun di luar gedung. Menampar kaca.
Naya menatap Arkan yang masih tertawa bersama Dewi. Dan untuk pertama kali sejak akad beberapa jam yang lalu, ia bertanya dalam hati Aku ini istrinya… atau cuma pemeran pengganti di pesta ini?