NovelToon NovelToon
Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Sistem 2bit: Dari Sampah Jadi Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Action / Sistem / Harem / Komedi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: HAMBALANGVERSE

Raka Pratama pernah menjadi kebanggaan keluarganya.

Bakat luar biasa. Masa depan cerah. Tunangan idaman.

Sampai sebuah misi menghancurkan meridiannya.

Kultivasinya mandek. Pertunangannya dibatalkan. Keluarganya membuangnya ke gubuk tua di pinggir desa.

Saat semua orang menganggap hidupnya telah berakhir, sebuah warisan kuno terbangun.

Sistem 2Bit.

Sistem murahan yang mengaku dirinya kelas dua.

Tapi bagi yang sudah kehilangan segalanya, kesempatan sekecil apa pun sudah cukup.

Mereka mengira kisah Raka telah berakhir.

Padahal baru dimulai.


━━━━━━━━━━━━━━━

⚔️ ORIGINAL HAMBALANGVERSE ⚔️

Genre:
#Cultivation
#System
#Action
#Fantasy
#Harem
#Revenge
#Survival
#Hambalangverse.


🗓️ Jadwal update:
Sampai Matahari Padam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMBALANGVERSE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Raka tidak tahu sudah berapa lama dia tergeletak.

Yang dia rasakan hanyalah gelap. Dingin. Dan suara samar di kejauhan.

"Raka. Bangun."

Suara Laras. Tidak sedih. Tidak panik. Hanya datar. Seperti orang yang sudah lelah menunggu.

Raka mencoba membuka mata. Kelopaknya berat. Seperti diikat tali ke bawah.

[!] Host sadar. Tingkat energi: 12%. Kondisi kritis.

Sistem. Suaranya berbeda. Lebih pelan. Seperti radio yang baterainya hampir habis.

[!] Deteksi kehadiran eksternal. Jarak: 5 meter.

Raka mendengar suara lain. Satu langkah kaki yang dikenalnya. Berat. Tenang. Penuh kepercayaan diri.

Dia mengenali langkah itu. Dulu langkah itu membuatnya takut. Sekarang? Hanya ada kewaspadaan dingin.

Raka membuka mata.

Cahaya matahari menyilaukan. Dia mengerjapkan mata sampai fokus.

Langit-langit kayu. Atap bocor. Dinding berlubang. Gubuknya.

Raka berbaring di lantai tanah. Tikar tipis di bawahnya. Di samping, Laras duduk. Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tapi tidak basah. Air matanya sudah kering.

Berapa lama dia pingsan? Laras tidak terlihat seperti orang yang baru menangis. Dia terlihat seperti orang yang sudah berhenti berharap.

"Laras."

Gadis itu tersentak. Matanya terbuka lebar. "Raka?"

"Iya."

"Kamu sadar?"

"Sepertinya."

Laras tidak memeluknya. Tidak berteriak. Dia hanya menghela napas panjang. Seperti beban yang akhirnya lepas.

"Dua hari," katanya.

Raka mencoba duduk. Tubuhnya lemas. Tangannya gemetar. Tangan kanan masih terbungkus perban kotor.

"Dua hari?"

"Kamu pingsan dua hari." Laras meraih botol air di sampingnya. Membantu Raka minum. "Aku sudah habiskan semua Akar Berduri Emas untuk obatmu."

Raka meminum air itu perlahan. Tenggorokannya terbakar. "Tanganku?"

"Bengkak. Mungkin patah. Aku tidak tahu. Aku hanya bisa membalutnya."

Raka melihat tangannya. Perban lusuh. Bekas darah mengering. Rasa sakitnya tumpul, tapi hadir.

[!] Scan lokal: Tulang metakarpal retak halus. Jaringan lunak rusak parah. Fungsi motorik: Terbatas.

[!] Saran: Istirahat total minimal 7 hari.

Raka mendengus. Tujuh hari. Di dunia ini, tujuh hari adalah waktu yang cukup untuk mati tiga kali.

Laras memegang lengan Raka. Tangannya dingin.

"Raka."

"Apa?"

"Aku sudah dua hari di sini. Tidak pulang." Laras menatap lantai tanah. Jari-jarinya memilin ujung bajunya yang kusut. "Karena aku tidak punya rumah."

Raka menatapnya.

Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan. Tapi berat dampaknya.

Raka tidak bertanya. Dia tidak menanyakan kenapa. Tidak menanyakan keluarganya.

Orang yang benar-benar tidak punya tempat pulang biasanya tidak suka ditanya. Pertanyaan hanya mengingatkan mereka pada apa yang hilang.

Jadi Raka hanya diam. Menatap Laras. Mengakui keberadaan rasa sakit itu tanpa menyentuhnya.

Laras melanjutkan, suaranya lebih pelan. "Aku mencari buah di sekitar. Kadang mendapat umbi. Kemarin ada warga baik yang memberi nasi bungkus." Ia menunjuk ke sudut gubuk. Bekas bungkusan daun pisang. "Aku mengganti perbanmu. Membersihkan lukamu."

Jeda sebentar.

"Aku hampir pergi kemarin malam."

Raka mengangkat alis. "Kenapa tidak jadi?"

Laras tersenyum pahit. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Karena aku tidak tahu harus ke mana."

Satu kalimat itu. Itu saja.

Itu bukan kesetiaan buta. Itu bukan cinta romantis. Itu adalah kenyataan seorang gadis yang tersesat, yang menemukan satu-satunya titik tetap di dunia yang kacau ini.

Raka merasa dadanya sesak. Bukan karena luka. Tapi karena pengakuan itu.

Sebelum Raka bisa menjawab, udara di depan gubuk berubah.

Tekanan.

Halus. Tapi mencekik. Seperti tangan raksasa yang perlahan meremas paru-paru.

Laras memucat. Napasnya tercekat. Matanya melebar ketakutan.

Raka menegang. Otot-ototnya yang sakit berteriak protes.

Di depan pintu, kain lapuk yang berfungsi sebagai tirai tersibak. Bukan oleh angin. Tapi oleh tekanan aura.

Seorang laki-laki berdiri di sana.

Jubah hitam berkualitas tinggi. Wajah dingin. Mata tajam yang menatap Raka seperti melihat serangga.

Bima.

Sepupunya itu tidak masuk. Dia hanya berdiri di ambang pintu. Tapi kehadirannya memenuhi seluruh ruangan kecil itu.

Bima melirik ke dalam, matanya singgah sekilas pada Laras yang gemetar. Lalu kembali ke Raka.

"Jadi rumor itu benar," kata Bima. Suaranya lembut. Terlalu lembut untuk seseorang dengan aura seberat ini. "Rupanya anak buah yang lolos sudah melapor. Ada yang bilang kamu selamat setelah bentrok di Hutan Terlarang."

Raka tidak menjawab. Dia mengatur napasnya. Melawan tekanan aura yang membuat tulangnya nyeri.

"Aku datang melihat sendiri." Bima tersenyum tipis. Senyum yang tidak hangat. "Tidak buruk untuk sampah. Masih bernapas."

"Kamu datang sendiri?" tanya Raka. Suaranya serak, tapi stabil.

"Melihat-lihat. Memastikan." Bima melangkah maju. Satu langkah.

DUAR!

Tanah di bawah kakinya bergetar halus. Debu berjatuhan dari atap gubuk.

Laras menahan napas.

Bima berhenti. Dia mengangkat tangan kanannya. Menepuk tiang kayu utama penyangga gubuk itu. Sekali. Pelan. Seperti menepuk bahu teman.

KREK.

Suara kayu retak terdengar jelas. Retakan memanjang dari atas ke bawah, membelah tiang setebal paha manusia. Gubuk itu bergoyang halus.

Jika Bima mau, dia bisa merobohkan seluruh struktur ini dengan satu tinju. Dan mereka di dalamnya.

Bima menurunkan tangannya. Membersihkan debu imaginier dari jubahnya.

"Aku dengar kamu hampir mati di hutan," kata Bima. Matanya menatap Raka. Dingin. Menghitung. "Kabar bagus."

"Kamu juga terlihat sehat," balas Raka.

Bima tertawa kecil. Tawa yang kering. "Kamu masih keras kepala. Sifat buruk yang tidak pernah hilang dari garis keturunan ayahmu."

Dia berbalik. Tapi tidak pergi.

"Aku datang memberi tawaran. Kembali ke keluarga. Sebagai budak."

Raka menghela napas. Tekanan aura sedikit berkurang, tapi ketegangan tetap ada.

"Keluarga butuh kuli. Tubuhmu masih kuat. Lumayan untuk pekerjaan kasar." Bima tidak menoleh. "Atau kamu bisa menolak. Dan minggu depan, aku akan datang lagi. Bukan untuk menawari. Tapi untuk membersihkan sampah yang membandel."

"Tidak," kata Raka.

Bima berhenti. Bahunya menegang sesaat.

"Pikirkan lagi. Kamu dan gadismu butuh makan. Di gubuk reot ini, kalian akan mati kelaparan sebelum musim hujan berakhir."

"Aku bilang tidak."

Bima menghela napas. Kekecewaan yang pura-pura. "Kamu menyebalkan, Raka."

"Kamu juga."

Bima berbalik sepenuhnya. Matanya menyipit.

"Aku beri waktu satu bulan."

Dia tidak menoleh lagi.

"Jika saat aku datang lagi kamu masih di sini... aku tidak akan membawa tawaran. Aku akan membawa pemakam."

Bima pergi. Langkahnya ringan. Tekanan aura menghilang perlahan, meninggalkan keheningan yang berdenging di telinga.

Laras menghembuskan napas panjang. Kakinya lemas. Dia duduk kembali di lantai, gemetar.

Raka menatap tiang yang retak. Retakan itu dalam. Nyata.

[!] Analisis ancaman: Target 'Bima'. Estimasi Level: Tahap 5.

[!] Perbedaan kekuatan: Sangat Besar.

[!] Probabilitas kemenangan Host dalam konfrontasi langsung: 0%.

Raka menutup mata.

"Host," suara Sistem. Dingin. Data-driven.

"Apa?"

[!] Kesimpulan: Host memiliki kecenderungan tinggi untuk mengabaikan rekomendasi keselamatan.

[!] Pola perilaku terkonfirmasi: Host menolak 92% saran sistem sejak aktivasi.

Raka tersenyum tipis. Senyum lelah.

"Aku tahu."

"Lalu kenapa Host tidak menerima tawarannya?" tanya Sistem. Bukan penasaran. Tapi pencatatan data.

Raka melihat tangannya. Perban kotor. Darah kering. Lalu menoleh ke Laras. Gadis itu sedang memandangi retakan di tiang, wajahnya masih pucat.

"Karena aku tidak mau jadi budak," gumam Raka.

[!] Data dicatat. Preferensi Host: Kemerdekaan > Kelangsungan Hidup.

Laras menggenggam tangan Raka. Pelan. Tangannya masih dingin.

"Raka."

"Apa?"

"Aku tidak tahu cara balas dendam. Aku tidak tahu cara bertarung." Laras menatap Raka. Matanya jujur. Takut. Tapi tegas. "Tapi aku akan tetap di sini. Sampai kamu sembuh. Sampai kamu kuat."

Raka menatap Laras.

"Kita baru kenal."

"Kamu satu-satunya orang yang memperlakukan aku seperti manusia."

Raka tidak menjawab. Tapi dia tidak melepaskan tangan Laras. Genggaman itu erat. Bukan romantis. Tapi perjanjian.

Di luar, angin berhembus. Daun-daun berguguran. Gubuk ini reot. Dingin. Tiangnya retak.

Tapi untuk pertama kalinya sejak lama, Raka tidak merasa sendirian.

[!] Status Host: Stabil.

[!] Saran: Pemulihan prioritas utama.

Raka memejamkan mata. Laras tidak melepas tangannya.

Mereka berdua diam. Menunggu malam berlalu. Menunggu satu bulan yang akan menentukan apakah mereka hidup atau mati.

Bersambung.

1
Chen Haoran
Bagus toh sistem nya lucu
KZ2: Kalau gw tulis sejarahnya sistem 2bit bakalan jadi 10 bab🚬🗿🤣.
thanks udah mampir
total 1 replies
Chen Haoran
menurut ku ini menarik di setiap kata-katanya ada dialog yang interaktif dan tidak kelihatan kaku🙏
Chen Haoran: yap euy
total 2 replies
Chen Haoran
lucu euy sistem nya bisa becanda 🤣
KZ2: wkwkkw emang novel absurd
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!