Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: Dansa di Atas Belati
Genggaman tangan Arsen di jemari Arunika terasa kian mengunci saat melangkah membelah lautan manusia di aula utama. Bunyi denting sendok perak yang mengetuk gelas kristal bersahut-sahutan, memicu tawa-tawa formal yang terdengar renyah namun hambar. Di bawah guyuran cahaya lampu gantung raksasa yang berpijar keemasan, setiap sudut ruangan dipenuhi oleh aroma asap cerutu Kuba yang pekat, parfum mahal berselubung intrik, dan ketegangan politik yang sewaktu-waktu bisa meledak.
"Tetap pasang wajah tenangmu, Arunika," bisik Arsen lagi tanpa merombak senyuman tipis di bibirnya yang kaku. Pria itu menyapa beberapa kepala keluarga mafia dari faksi barat dengan anggukan kepala yang lugas, seolah ancaman pembunuhan yang baru saja dia sebutkan hanyalah bumbu pemanis malam.
Arunika mencoba mengatur napasnya yang mendadak terasa pendek. Gaun beludru merah marun yang membalut tubuhnya terasa kian berat, seakan-akan kain itu menyerap seluruh atmosfer mencekam di dalam aula ini. Di bahu kirinya yang terbuka, tatapan-tatapan sinis berselimut rasa ingin tahu dari para tamu terasa seperti ratusan jarum yang menusuk kulitnya. Mereka semua sedang memandangi tanda lahir bulan sabit merah miliknya—sebuah stempel berdarah dari masa lalu sang ibu yang kini menyeretnya ke pusat pusaran maut.
"Tuan Arsen Valentino," sebuah suara bariton yang berat menyela langkah mereka.
Seorang pria paruh baya dengan rambut klimis abu-abu dan setelan jas abu-abu gelap berdiri menghalangi jalur menuju panggung utama. Di lehernya, samar-samar terlihat ujung tato kalajengking yang menyembul dari balik kerah kemeja—identitas mutlak dari faksi Volkov yang menguasai jalur penyelundupan utara. Di tangan kanannya, dia memegang segelas wiski tua yang diguncang perlahan hingga es batunya berdenting pelan.
"Selamat atas pernikahanmu yang... sangat mengejutkan ini," ucap pria itu, matanya perlahan bergulir dari wajah Arsen menuju bahu kiri Arunika. Kilatan kepuasan yang kejam melintas di sepasang manik matanya yang keruh. "Aku tidak menyangka kau akan memelihara anak harimau di dalam rumahmu sendiri. Bukankah tanda itu terlalu familier bagi kita semua yang berada di ruangan ini?"
Arsen tidak mundur setapak pun. Dia justru menarik Arunika sedikit lebih rapat ke sisi tubuhnya, menampilkan gestur protektif yang mutlak sekaligus penuh kepemilikan. "Dunia bawah tanah selalu bergerak dinamis, Dmitri. Apa yang dulunya menjadi ancaman, terkadang bisa berubah menjadi aset yang sangat berharga jika berada di tangan orang yang tepat."
Dmitri Volkov terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti gesekan amplas pada kayu kering. "Aset? Atau bom waktu yang sengaja ditaruh di atas ranjangmu? Faksi Volkov hanya ingin mengingatkanmu, Arsen. Darah sang pembantai tidak akan pernah bisa dijinakkan dengan selembar cincin pernikahan."
"Aku tidak pernah berniat menjinakkannya, Dmitri," sahut Arsen, nadanya mendatar namun mengirimkan gelombang ancaman yang kuat hingga membuat kepulan asap cerutu di sekitar mereka seolah membeku. "Aku memegangnya. Dan siapa pun yang mencoba menyentuh apa yang sudah berada di dalam genggamanku, mereka tahu persis bagaimana cara berhadapan dengan moncong senjataku."
Dmitri menaikkan sebelah alisnya, lalu mengangkat gelas wiskinya ke udara sebagai bentuk penghormatan palsu sebelum berbalik dan melebur kembali ke dalam kerumunan tamu.
Arunika merasakan telapak tangannya sendiri basah oleh keringat dingin. Percakapan singkat itu menegaskan satu hal: dia benar-benar berada di tengah medan perang terbuka. Setiap orang di ruangan ini tahu siapa ibunya, dan setiap orang di ruangan ini sedang menunggu waktu yang tepat untuk melihatnya hancur—atau menggunakannya untuk menghancurkan Arsen.
"Jangan melirik ke belakang," tegur Arsen dengan suara rendah saat merasakan tubuh Arunika sedikit menegang. "Musik dansa sudah dimulai. Ini waktunya kita memberikan pertunjukan utama untuk mereka."
Alunan musik klasik bertempo lambat mulai mengalun dari panggung orkestra di sudut aula. Para tamu bergerak mundur secara teratur, mengosongkan area tengah lantai dansa yang melingkar besar di bawah sorotan lampu utama. Arsen membawa Arunika ke tengah lingkaran tersebut.
Arsen meletakkan tangan kanannya di pinggang ramping Arunika, sementara tangan kirinya menggenggam jemari gadis itu yang masih gemetar. Arunika, mengikuti insting dasarnya yang pernah mempelajari dansa formal saat sekolah, meletakkan tangan kanannya di atas bahu tegap Arsen.
Ketika tubuh mereka merapat, aroma parfum kayu cedar yang maskulin dari tubuh Arsen kembali mengurung indra penciuman Arunika.
Untuk sesaat, ketegangan masif di aula itu seolah teredam oleh debar jantung Arsen yang bergerak stabil di balik tuksedo hitamnya. Pria ini begitu tenang, seolah-olah berurusan dengan bahaya adalah hal yang paling natural baginya,
Mereka mulai bergerak mengikuti irama musik.
Langkah kaki Arsen begitu tegas dan menuntun, memaksa Arunika untuk mengikuti setiap lekuk gerakannya tanpa celah untuk melakukan kesalahan. Gaun merah marun Arunika berputar indah, menciptakan siluet kontras yang memukau di atas lantai marmer hitam yang mengkilap.
"Siapa pria di barisan belakang yang mengirimkan ancaman itu?" tanya Arunika dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik di dada Arsen saat pria itu membawanya berputar.
"Kau terlalu banyak memperhatikan sekeliling," jawab Arsen tanpa mengalihkan pandangannya dari sepasang mata Arunika. "Fokus saja pada langkah kakimu. Jika kau terjatuh di lantai ini, reputasiku akan cacat, dan itu berarti kau mempercepat eksekusi ayahmu di ruang bawah tanah."
Mendengar ancaman tentang ayahnya, Arunika menggigit bibir bawahnya erat-erat. Rasa benci dan tidak berdaya kembali bergejolak di dalam dadanya. Pria ini menyelamatkan nyawa ayahnya, namun di saat yang sama juga memegang kendali atas napas pria tua itu seperti seorang dewa yang kejam.
Dansa terus berlanjut. Dari sudut penglihatannya, Arunika bisa melihat Marco berdiri di dekat pilar utama aula bersama tiga orang tim intelijen berjas hitam, mata mereka terus bergerak waspada memindai setiap pelayan yang mengantarkan makanan dan minuman. Ketegangan sunyi itu terasa kian menebal seiring dengan tempo musik yang perlahan-lahan mulai naik.
Tiba-tiba, saat musik mencapai puncak melodi pertamanya dan Arsen membawa tubuh Arunika berputar dalam jarak yang cukup lebar, sebuah kilatan cahaya aneh memantul dari arah balkon lantai dua yang remang-remang. Itu bukan pantulan dari lampu gantung kristal. Itu adalah kilatan dari lensa sebuah teleskop senapan runduk.
Jantung Arunika mendadak berhenti berdetak. Kilatan itu mengarah tepat ke arah dada kiri Arsen.
"Arsen! Di atas balkon!" pekik Arunika refleks.
Tanpa menunggu hitungan detik, mengikuti insting bertarungnya yang luar biasa tajam, Arsen tidak mencoba menghindar sendirian. Pria itu justru merengkuh tubuh Arunika sepenuhnya ke dalam pelukannya, menggunakan berat tubuhnya sendiri untuk menjatuhkan mereka berdua ke atas lantai marmer sambil berputar kasar.
*Sret! Blar!*
Suara desingan peluru berkecepatan tinggi merobek udara malam, disusul suara hantaman keras pada lantai marmer tepat di posisi kaki Arsen berdiri sedetik yang lalu. Pecahan batu marmer berhamburan ke udara, menyayat sedikit ujung gaun beludru milik Arunika.
Aula yang tadinya dipenuhi oleh kemegahan formal seketika pecah menjadi kericuhan massal. Suara jeritan para wanita bergaun mewah melengking kencang, disusul suara seretan kursi dan meja yang roboh saat para tamu aliansi mencoba menyelamatkan diri. Para penjaga berjas hitam dari faksi Valentino langsung mencabut senjata otomatis mereka dari balik jas, membentuk barisan tameng manusia mengelilingi posisi Arsen dan Arunika.
"Amankan area atas! Sektor dua, tutup semua pintu keluar!" teriak Marco melalui alat komunikasi di telinganya, suaranya menggelegar membelah kepanikan.
Arsen bangkit berdiri dengan gerakan cepat, menarik Arunika ikut berdiri di belakang punggung lebarnya. Wajah tampan raja mafia itu kini benar-benar bersih dari senyuman palsu tadi, digantikan oleh ekspresi dingin yang sarat akan hasrat membantai. Pria itu merogoh senjata api berkaliber besar dari balik tuksedonya, mengarahkannya ke arah balkon lantai dua yang kini sudah kosong ditinggal sang penembak jitu.
"Tuan Arsen! Faksi Volkov mencoba bergerak keluar lewat pintu barat!" seru salah satu anak buah dengan panik.
Arsen melirik ke arah sudut ruangan, tempat Dmitri Volkov dan beberapa pengawalnya sedang melangkah cepat menuju pintu keluar darurat dengan ekspresi wajah yang tampak terlalu tenang untuk situasi sekacau ini.
"Marco, tahan mereka," perintah Arsen, suaranya rendah namun bergetar oleh amarah yang tertahan. "Jangan biarkan satu pun anjing Volkov meninggalkan mansion ini hidup-hidup sebelum aku mendapatkan jawaban."
Arunika berdiri gemetar di belakang Arsen, kedua tangannya mencengkeram erat bagian belakang tuksedo pria itu. Badai kekacauan ini terlalu besar untuk dia hadapi. Di sekelilingnya, suara letusan senjata mulai terdengar bersahut-sahutan dari arah luar mansion, menandakan bahwa serangan ini bukan sekadar aksi penembak jitu tunggal, melainkan sebuah invasi terencana yang melibatkan pasukan masif di luar pagar besi.
Namun, di tengah-tengah suara tembakan dan teriakan panik para penjaga, sebuah aroma yang sangat asing tiba-tiba tercium oleh hidung Arunika. Bau asap yang keluar bukan berasal dari mesiu senjata api, melainkan bau manis yang memuakkan yang mendadak keluar dari saluran ventilasi udara di langit-langit aula utama.
Kepala Arunika mendadak terasa sangat berat, dan pandangannya mulai berbayang kelabu. Dia melirik ke arah para penjaga berjas hitam di sekeliling mereka, dan satu per satu dari pria bertubuh kekar itu mulai ambruk ke lantai sambil memegangi leher mereka yang kejang.
"Arsen..." bisik Arunika lemah, suaranya nyaris habis saat tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan. "Udaranya... ada yang salah..."
Arsen menoleh dengan cepat, mendapati wajah Arunika yang sudah seputih kertas dengan sudut bibir yang sedikit membiru. Pria itu segera menyadari situasi gawat yang sedang terjadi. "Gas tidur. Sialan, mereka menggunakan sistem ventilasi."
Arsen mencoba menahan napasnya sendiri, lalu menyambar tubuh Arunika ke dalam gendongannya. Dia melangkah lebar melewati tumpukan tubuh anak buahnya yang mulai pingsan di atas lantai marmer, mencoba menuju ke arah pintu keluar rahasia di balik panggung orkestra yang memiliki jalur udara terisolasi.
Namun, baru tiga langkah Arsen bergerak, pintu kayu besar di balik panggung itu mendadak hancur berkeping-keping akibat ledakan bom tempel kecil. Dari balik kepulan asap hitam yang tebal, muncul sekelompok pria dengan pakaian taktis serba hitam dan topeng gas yang menutupi seluruh wajah mereka. Mereka memegang senapan serbu laras pendek, mengarahkannya langsung ke arah Arsen yang sedang menggendong Arunika tak berdaya.
Salah seorang dari pria bertopeng gas itu melangkah maju, memegang sebuah alat pelempar granat kejut kecil. Dia menatap Arsen dari balik lensa kacanya yang hitam, lalu meluncurkan sebuah tabung perak tepat ke arah kaki sang raja mafia.
*Blam!*
Kilatan cahaya putih yang membutakan dan gelombang suara frekuensi tinggi menghantam indra pendengaran Arsen, memaksa pria perkasa itu berlutut di lantai sambil melepaskan cengkeramannya pada tubuh Arunika.
Arunika terjatuh ke atas lantai marmer yang dingin, kesadarannya sudah berada di titik nadir akibat pengaruh gas manis yang memenuhi ruangan. Sebelum matanya sepenuhnya terpejam dan kegelapan total merenggut jiwanya, dia sayup-sayup melihat sosok bertopeng gas itu mendekatinya, lalu mencengkeram bahu kirinya dengan kasar—tepat di atas tanda lahir bulan sabit merah miliknya.
Sosok itu membungkuk, lalu membisikkan sebuah kalimat pendek di dekat telinga Arunika yang mulai kehilangan fungsi pendengarannya, sebuah kalimat dengan suara yang sangat dia kenali dari masa lalunya yang damai.
"Selamat datang kembali ke rumah... Valeria kecil."
_____________________________
**Bersambung ke Bab 8...**
*Siapakah sebenarnya sosok di balik topeng gas yang menyebut Arunika dengan nama kakaknya, Valeria? Apakah tanda lahir bulan sabit merah di bahu Arunika menyimpan konspirasi identitas yang jauh lebih besar dan mengerikan dari apa yang diketahui oleh Arsen Valentino selama ini? Dan bagaimanakah nasib sang raja mafia yang kini terkapar tak berdaya di tengah kepungan gas maut musuh-musuhnya? Ikuti terus badai teka-teki dan pertempuran berdarah dunia hitam di bab berikutnya!*