NovelToon NovelToon
Menggembala CEO Pemalas

Menggembala CEO Pemalas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Konglomerat berpura-pura miskin / Romantis
Popularitas:485
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!

Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.

Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesepakatan di Balik Layar

Tiga minggu pertama Aulia Putri bekerja di KALUMPERRI CORP dapat diringkas dalam satu kata yang melelahkan: perburuan.

Sebagai lulusan terbaik kelas manajemen, Aulia tidak pernah membayangkan bahwa keahlian riset dan analisis statistiknya yang unggul akan dialokasikan untuk memetakan "pola tidur siang" seorang miliarder berusia dua puluh delapan tahun. Namun, kenyataan berkata lain. Dalam waktu kurang dari sebulan, Aulia telah bertransformasi menjadi detektif swasta spesialis pelacak CEO.

Khatyr Ali Fatih, dengan segala kejeniusan yang berbanding lurus dengan tingkat kemalasannya, terus mencoba mencari celah baru untuk tidur. Namun, Aulia selalu selangkah lebih maju.

Ketika Khatyr mencoba bersembunyi di dalam lemari pantry VIP lantai 42 di balik tumpukan karung kopi arabika impor, Aulia menemukannya hanya dalam waktu tujuh menit berkat aroma parfum maskulin kayu cendana khas Khatyr yang terlalu pekat untuk udara pantry yang pengap.

Ketika Khatyr menyamar dengan mengenakan jaket hoodie hijau khas kurir makanan ojek daring dan tertidur di sofa lobi lantai dasar, Aulia mengendus penyamaran itu karena melihat jam tangan Patek Philippe seharga satu miliar rupiah masih melingkar manis di pergelangan tangan sang kurir palsu.

Bahkan ketika Khatyr nekat turun ke basemen B4 dan mengunci diri di dalam kursi belakang mobil sedan mewah Maybach miliknya yang ber-AC menyala, Aulia berhasil membongkar taktik itu setelah menyuap Pak Ujang, sopir pribadi Khatyr, dengan sekotak martabak manis rasa keju pandan kesukaan pria paruh baya tersebut.

"Pak Ujang itu setia pada saya, Aulia! Bagaimana bisa kamu merusak loyalitas puluhan tahun hanya dengan martabak?!" protes Khatyr sore itu, wajah tampannya cemberut total saat ia terpaksa menandatangani tumpukan berkas audit di mejanya.

"Loyalitas Pak Ujang memang tidak ternilai, Pak Khatyr. Tapi perut lapar di jam macet sore hari adalah variabel yang sangat mudah dimanipulasi," jawab Aulia tanpa mengalihkan pandangan dari layar tablet kerjanya. "Lagi pula, martabak itu saya beli menggunakan uang saku Anda sendiri."

Khatyr mendengus dramatis, melemparkan pena Montblanc-nya ke atas meja kayu jati dengan pasrah. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap Aulia dengan pandangan mata elangnya yang kini tidak lagi mengantuk, melainkan tampak sedang menimbang sesuatu dengan sangat serius.

Hujan deras di luar sana mulai membasahi kaca-kaca besar ruang kerja CEO, menciptakan suasana temaram yang sunyi di lantai 42. Jam dinding menunjukkan pukul 16.30 WIB. Sebagian besar staf divisi lain sudah mulai bersiap-siap untuk pulang, menyisakan keheningan yang intim di ruangan luas tersebut.

"Aulia," panggil Khatyr, kali ini dengan nada suara bariton yang tenang, bebas dari nada manja atau malas yang biasanya ia gunakan untuk merengek.

Aulia menghentikan ketukan jarinya di atas layar tablet. Ia mendongak, menyadari perubahan atmosfer di dalam ruangan. "Ya, Pak Khatyr? Ada dokumen lain yang membutuhkan tanda tangan?"

"Letakkan tabletmu. Tutup pintu ruangan ini, dan silakan duduk di kursi depan meja saya," perintah Khatyr lembut namun sarat akan wibawa yang jarang ia tunjukkan.

Aulia sempat ragu selama satu detik sebelum akhirnya bangkit berdiri. Ia melangkah menuju pintu ganda kayu jati ruang kerja CEO, mendorongnya hingga tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, lalu berjalan kembali untuk duduk di kursi kulit di hadapan Khatyr.

Jantung Aulia berdegup sedikit lebih cepat. Apakah ia terlalu keras dalam menggembala bosnya? Apakah Khatyr akhirnya merasa privasinya terganggu dan memutuskan untuk memecatnya sore ini?

Khatyr menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan, menatap Aulia lurus-lurus. "Tiga minggu ini benar-benar seperti neraka bagiku, Aulia. Aku tidak pernah merasa sefrustrasi ini sejak menyelesaikan tesis masterku di MIT."

Aulia menegakkan punggungnya, bersiap defensif. "Saya hanya menjalankan tugas saya sesuai dengan apa yang kita sepakati saat wawancara kerja, Pak. Memastikan Anda melakukan tugas Anda sebagai wajah dari Kalumperri Corp."

"Dan kamu melakukannya dengan sangat baik. Terlalu baik, malah," potong Khatyr dengan seulas senyum tipis yang sulit diartikan. "Kamu pintar, detail, dan yang paling mengerikan adalah kamu bisa menebak pola pikirku dengan akurasi sembilan puluh persen. Tapi tahukah kamu apa masalah terbesarnya? Kita berdua sama-sama membuang-buang energi yang sangat besar untuk hal yang tidak produktif. Aku lelah berlari dan bersembunyi, dan aku yakin kamu juga lelah naik-turun tangga darurat sambil memakai sepatu hak tinggi hanya untuk menangkapku."

Aulia terdiam. Apa yang dikatakan Khatyr memang ada benarnya. Otot betisnya terasa luar biasa pegal setiap malam akibat aksi kucing-kucingan mereka.

"Lalu, apa yang Anda usulkan, Pak? Apakah Anda ingin saya melonggarkan pengawasan? Dewan direksi, terutama Pak Haryo, tidak akan senang jika Anda kembali bolos rapat," ujar Aulia.

Khatyr memajukan tubuhnya, menatap Aulia dengan binar mata yang mendadak berubah menjadi sangat tajam, binar mata seorang pebisnis ulung yang sedang melihat sebuah peluang investasi emas.

"Aku ingin menawarkan sebuah kesepakatan baru. Sebuah kesepakatan rahasia di bawah tangan, hanya antara aku dan kamu," bisik Khatyr pelan.

Aulia mengerutkan dahi, merasa waspada. "Kesepakatan seperti apa?"

Khatyr meraih laci mejanya, mengeluarkan sebuah map kulit berwarna merah marun yang tampak sangat privat. Ia membukanya, memperlihatkan beberapa lembar dokumen yang diketik dengan rapi tanpa logo resmi perusahaan.

"Mari kita analisis situasinya secara logis, Aulia," ujar Khatyr dengan nada persuasif. "Sebagai lulusan terbaik manajemen, kamu memiliki kemampuan analisis strategis yang luar biasa. Kamu paham pasar, kamu mengerti membaca laporan audit, dan kamu sangat jeli melihat detail yang terlewat oleh tim analis kita yang lain. Sementara aku? Aku adalah orang yang mendesain sistem otomatisasi Kalumperri Corp. Aku benci politik kantor. Aku benci harus duduk selama tiga jam di ruang rapat hanya untuk mendengarkan para direktur tua berdebat tentang ego mereka masing-masing, padahal data keputusannya sudah jelas ada di tabletku sejak pagi."

Khatyr mengetuk dokumen merah marun itu dengan ujung jarinya.

"Jadi, inilah tawaranku, Aku ingin kamu menjadi CEO Bayangan-ku."

Aulia tersentak, matanya membelalak lebar. "Maaf? CEO Bayangan? Pak Khatyr, apakah Anda sudah kehilangan akal sehat karena kurang tidur?!"

"Dengarkan dulu sampai selesai, Sekretaris Galak," sela Khatyr sambil terkekeh pelan. "Skemanya sangat sederhana namun sangat efisien. Mulai besok, setiap ada dokumen analisis, proposal ekspansi, atau laporan keuangan yang masuk ke mejaku, kamu yang akan mempelajarinya terlebih dahulu. Kamu yang menyusun rekomendasinya, membuat ringkasan eksekutifnya, dan menentukan keputusan apa yang harus diambil. Kamu adalah 'otak' di balik layar."

Aulia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Itu gila. Itu adalah pelanggaran tata kelola perusahaan yang sangat berat! Saya tidak memiliki otoritas untuk mengambil keputusan strategis Kalumperri Corp!"

"Kamu tidak mengambil keputusan secara legal, Aulia. Aku yang tetap akan menandatanganinya," jelas Khatyr dengan sabar. "Tugasmu hanya menganalisis dan memberikan rekomendasi mutlak padaku. Sebelum setiap rapat dimulai, kita akan melakukan sesi pengarahan privat selama lima belas menit. Kamu menjelaskan padaku apa inti masalahnya, solusi apa yang kamu susun, dan argumen apa yang harus aku gunakan untuk membungkam dewan direksi. Setelah itu, aku yang akan maju ke ruang rapat. Dengan karisma, kemampuan komunikasi, dan posisiku sebagai CEO, aku akan mempresentasikan keputusanmu di depan publik seolah-olah itu adalah ideku sendiri."

Aulia tertegun. Otaknya mencoba memproses implikasi dari proposal gila ini. "Lalu, apa keuntungan yang didapatkan oleh masing-masing pihak dari kerja sama ilegal ini?"

Khatyr tersenyum lebar, menyadari bahwa Aulia mulai berpikir secara analitis alih-alih langsung menolak.

"Keuntungan untukku? Sangat besar. Aku tidak perlu lagi membuang waktu berhargaku untuk membaca dokumen ratusan halaman yang membosankan atau berdebat dengan Paman Haryo. Aku bisa mendapatkan waktu tidur siang yang tenang dan teratur di ruang istirahat pribadiku tanpa perlu takut dicari olehmu, karena semua pekerjaan dan keputusan krusial sudah kamu selesaikan dengan sempurna."

Khatyr kemudian menunjuk ke arah Aulia.

"Dan keuntungan untukmu? Pertama, aku akan menaikkan gajimu menjadi tiga kali lipat dari gajimu yang sekarang yang artinya, kamu bisa membeli apartemen mewah di daerah Senopati dalam waktu satu tahun, bukan sekadar membayar sewa kosan sempit. Kedua, kamu akan mendapatkan akses langsung untuk mempelajari bagaimana sebuah konglomerasi raksasa dijalankan dari sudut pandang tertinggi. Dan ketiga..."

Khatyr menatap Aulia dengan tatapan yang sangat bersungguh-sungguh.

"...aku memberikan jaminan tertulis bahwa dalam waktu dua tahun, setelah sistem otomatisasi kita stabil dan reputasiku di mata direksi berada di puncak berkat kinerjamu, aku akan mempromosikanmu langsung menjadi Direktur Operasional Kalumperri Corp. Kamu akan melewati sepuluh anak tangga karier yang biasanya membutuhkan waktu lima belas tahun bagi orang biasa. Bagaimana? Apakah itu terdengar seperti kesepakatan yang buruk bagi seorang wanita muda ambisius sepertimu?"

Aulia Putri merasa tenggorokannya mendadak sangat kering. Penawaran Khatyr bukan sekadar menggiurkan, itu adalah jalan pintas menuju puncak impian karier yang selalu ia dambakan sejak masih menjadi mahasiswa baru yang miskin.

Tiga kali lipat gaji eksekutif? Promosi menjadi Direktur Operasional dalam waktu dua tahun? Itu adalah penawaran yang hanya datang sekali seumur hidup.

Namun, sisi pragmatis dan moralitas di dalam diri Aulia masih mencoba bertahan. "Bagaimana jika kita ketahuan? Bagaimana jika Pak Haryo atau dewan direksi curiga mengapa keputusan Anda tiba-tiba menjadi sangat... metodis dan detail?"

"Mereka tidak akan curiga," jawab Khatyr santai, bersandar kembali ke kursinya. "Mereka semua tahu aku ini jenius sejak kecil. Mereka hanya mengira aku akhirnya mulai 'dewasa' dan serius bekerja karena memiliki sekretaris sehebat kamu. Dan untuk memastikan kesepakatan ini aman, kita akan menyusun beberapa aturan sakral."

Khatyr menyodorkan selembar kertas dari dokumen merah marun tersebut yang berisi daftar aturan:

Jadwal Tidur Siang Sakral: Pak Khatyr diperbolehkan tidur siang tanpa gangguan hanya pada pukul 13.00 hingga 15.00 WIB di ruang istirahat pribadinya, hanya jika seluruh tugas harian di bawah kendali Aulia telah selesai dianalisis.

Karantina Darurat: Jika terjadi situasi krisis atau panggilan darurat dari investor utama, hak tidur siang dibatalkan seketika tanpa kompromi.

Rahasia Mutlak: Kesepakatan ini hanya diketahui oleh Khatyr Ali Fatih dan Aulia Putri. Kebocoran informasi dari pihak mana pun akan membatalkan seluruh jaminan promosi dan bonus finansial.

Aulia membaca poin-poin aturan tersebut dengan saksama. Matanya menyipit saat membaca poin pertama. Ia mengambil pena dari atas meja, lalu mencoret angka "13.00 hingga 15.00" dan menggantinya dengan tulisan tangannya yang rapi.

"Maksimal satu setengah jam, Pak. Pukul 13.00 hingga 14.30. Pukul 14.30 Anda harus bangun untuk meninjau hasil ringkasan rapat sore," ujar Aulia tegas.

Khatyr cemberut, menatap coretan itu dengan sedih. "Satu setengah jam? Tidakkah itu terlalu singkat untuk pemulihan sel-sel otakku yang lelah?"

"Satu setengah jam atau saya akan menelepon Ibu Besar sekarang juga untuk menanyakan apakah beliau ingin minum teh sore bersama Anda di kantor," ancam Aulia dengan senyum manisnya yang kembali muncul.

Khatyr menghela napas panjang, meratapi nasibnya yang lagi-lasar harus kalah bernegosiasi dengan sekretarisnya sendiri. "Baiklah, baiklah! Satu setengah jam. Kamu benar-benar negosiator yang kejam."

Aulia meletakkan kertas itu kembali ke meja. Ia menatap Khatyr dengan pandangan yang kini penuh dengan tekad yang bulat. "Ada satu syarat lagi dari saya, Pak Khatyr."

"Apa itu?"

"Anda harus berjanji untuk tetap membaca ringkasan eksekutif yang saya buat sebelum Anda masuk ke ruang rapat. Saya tidak ingin Anda terlihat bodoh di depan para investor karena Anda terlalu malas untuk menghafal tiga poin argumen utama yang sudah saya susun dengan susah payah."

Khatyr terkekeh, sepasang mata gelapnya berkilat penuh rasa kagum yang tulus pada kegigihan asistennya. "Kesepakatan tercapai, Partner."

Khatyr mengulurkan tangan kanannya di atas meja jati yang mewah tersebut. Aulia menatap tangan kokoh itu selama beberapa detik, menyadari bahwa detik ini juga, ia telah resmi melangkah masuk ke dalam aliansi rahasia yang paling berbahaya sekaligus paling menarik di KALUMPERRI CORP.

Aulia mengulurkan tangannya, menjabat tangan hangat Khatyr dengan genggaman yang mantap dan penuh percaya diri.

"Kesepakatan tercapai, Pak Khatyr. Mulai besok pagi, mari kita tunjukkan pada dewan direksi bagaimana cara menjalankan perusahaan ini dengan benar," ucap Aulia Putri dengan senyum kemenangan yang kini sepenuhnya tulus.

Di balik jendela kaca besar, gerimis sore di Jakarta perlahan mereda, menyisakan pemandangan lampu-lampu gedung pencakar langit yang mulai menyala satu per satu, menjadi saksi bisu atas lahirnya kekuatan baru yang akan mengendalikan Kalumperri Corp dari balik bayang-bayang.

1
falea sezi
nyimak klo bagus q ksih hadiah thor🤭
Althea Shalmaira: semoga suka kak/Smile//Whimper/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!