Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28. Tawaran tinggal seatap
Ubay dan Nadia duduk di dalam koridor Puskesmas kecamatan, yang beraroma obat dan minyak kayu putih.
Setelah mengantri hampir satu jam di antara ibu-ibu hamil lainnya, nama Nadia akhirnya dipanggil oleh perawat dari balik pintu ruang Kesehatan Ibu dan Anak.
"Ibu Nadia," panggil perawat itu.
Nadia langsung berdiri, merapikan terusan longgarnya dengan gugup. Ia menoleh ke arah Ubay yang sedang duduk bersandar di kursi besi, melipat kakinya dengan tampang lempeng. "Mas Ubay, saya masuk dulu ya..."
"Ya. Gue tunggu di sini," sahut Ubay pendek.
Nadia melangkah masuk ke dalam ruangan. Di dalam, seorang dokter kandungan wanita paruh baya menyambutnya dengan ramah. Namun, baru saja Nadia duduk di kursi pemeriksaan, dokter itu melirik berkas dan bertanya, "Suaminya nggak ikut masuk, Mbak Nadia? Ini kan jadwal USG trimester kedua, bagus kalau suaminya lihat perkembangan bayinya langsung."
"Eh... suami saya menunggu di luar, Dok. Nggak apa-apa, biar saya sendiri saja," jawab Nadia sungkan.
Dokter itu malah menggelengkan kepala. Ia berdiri, berjalan ke arah pintu, lalu membukanya sedikit. Mata dokter langsung tertuju pada sosok Ubay, satu-satunya pria gondrong berjaket jeans belel yang tampangnya paling sangar di antara bapak-bapak lain di koridor.
"Mas, suaminya Mbak Nadia ya? Ayo masuk, Mas. Nggak usah malu, ini mau diperiksa USG, suaminya wajib nemenin," seru dokter itu dengan suara tegas khas seorang ibu.
Ubay seketika mengerjap. Anak-anak pangkalan pasar boleh saja gemetar kalau Ubay sudah angkat suara, tapi di depan perintah mutlak seorang dokter kandungan, nyali sang preman jalanan mendadak ciut. Mau tidak mau, dengan langkah kaku dan canggung, Ubay berdiri dan melangkah masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
"Duduk di sini, Mas, di samping ranjang," titah dokter itu lagi.
Nadia sudah berbaring di atas ranjang periksa. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat bukan karena takut diperiksa, melainkan karena ada Ubay yang kini berdiri tepat di samping tempat tidurnya.
"Mbak Nadia, bajunya diangkat sedikit ya sampai bawah dada, biar perutnya kelihatan," kata dokter sembari menyiapkan alat transduser dan gel bening.
Nadia menelan ludah, dengan tangan sedikit gemetar ia menaikkan bagian bawah baju terusannya.
Detik itu juga, pandangan mata Ubay terkunci pada perut Nadia.
Sebagai preman pasar yang hidupnya keras di jalanan, Ubay tentu tidak pernah dan tidak akan pernah lancang untuk melihat lekuk tubuh Nadia selama mereka tinggal berdampingan. Ini adalah kali pertama Ubay melihat kulit perut Nadia secara langsung. Perut gadis itu kini sudah tidak rata lagi, bentuknya sudah membulat utuh, membuncit dengan indah, menandakan ada kehidupan nyata yang tumbuh subur di dalamnya. Kulit perut itu tampak begitu putih, halus, dan terlihat sangat rapuh.
Deg... deg... deg...
Seketika, seisi ruangan itu rasanya mendadak senyap di telinga Ubay. Sebuah sensasi asing yang luar biasa aneh mendadak menjalar ke seluruh tubuh sang preman. Dadanya terasa bergemuruh, dan sekujur tubuhnya mendadak terasa panas dingin. Ada rasa takjub, haru, sekaligus guncangan batin yang hebat yang menghantam sisi kelakian Ubay.
Perut bulat yang ada di depannya ini adalah bukti nyata dari malam jahanam yang menghancurkan hidup Nadia. Namun di sisi lain, perut bulat inilah yang sekarang secara hukum dan takdir jalanan berada di bawah perlindungan namanya. Ada rasa ngeri sekaligus hormat yang mendalam saat Ubay menyadari betapa sucinya tugas yang sedang ia emban.
"Nah, kita kasih gel dulu ya, agak dingin sedikit," ucap dokter, memutus lamunan magis Ubay.
Dokter mulai menempelkan alat pemindai itu ke atas perut buncit Nadia, lalu menggerakkannya perlahan. Seketika, layar monitor tabung di samping ranjang menyala, menampilkan visual hitam putih yang bergerak-gerak samar.
Dug-dug-dug-dug-dug...
Suara detak jantung yang sangat cepat dan nyaring tiba-tiba menggema dari speaker alat USG tersebut. Suara itu begitu bersih, begitu hidup, memecah keheningan ruang pemeriksaan.
"Wah, denger ya Mas, Mbak... ini suara detak jantung bayinya. Sangat kuat, normal sekali. Posisinya juga bagus," jelas dokter dengan senyum sumringah.
Nadia langsung meneteskan air mata, menatap layar monitor itu dengan binar seorang ibu yang luar biasa bahagia.
Sementara Ubay? Pria gondrong itu membeku di tempatnya. Matanya menatap lekat-lekat siluet kecil di dalam layar monitor hitam putih tersebut, lalu beralih kembali ke perut buncit Nadia yang sedang diusap alat dokter. Suara ‘dug-dug-dug’ itu rasanya menembus langsung ke dalam dada Ubay, berdenyut selaras dengan jantung berandalannya yang hari ini mendadak melunak total.
Tangan Ubay yang biasanya keras menghantam balok kayu di pasar, kini mengepal erat di dalam saku jaket jeansnya, menahan getaran emosi asing yang membuatnya ingin ikut menangis. Hari ini, Ubay sadar sepenuhnya, dia bukan lagi sekadar preman yang sedang berpura-pura jadi suami siaga. Jiwanya sudah terikat mati untuk melindungi ibu dan anak di depan matanya ini dari badai apapun yang akan datang menghadang.
Setelah semua sesi pemeriksaan selesai, Ubay langsung mengajak Nadia pulang.
**
Deru mesin RX-King melandai, lalu mati sepenuhnya saat standar motor terketuk di halaman samping rumah tua. Sepanjang jalan pulang dari Puskesmas, keheningan yang aneh menyelimuti Ubay dan Nadia. Suara detak jantung yang nyaring dari layar monitor USG tadi seolah masih menggema di kepala mereka masing-masing, menciptakan sekat canggung yang jauh lebih tebal dari biasanya.
Nadia turun dari boncengan, bergerak pelan mengelus perut buncitnya yang masih terasa dingin sisa gel dokter. "Terima kasih banyak ya, Mas Ubay, sudah ditemani periksa hari ini," ucapnya lembut sembari menyerahkan helm merah.
"Ya," sahut Ubay pendek.
Ia menerima helm itu, namun kakinya tidak langsung bergerak menuju pintu depan seperti biasanya. Ubay berdiri mematung di samping motornya, menatap lurus ke arah tanah. Jemarinya mengetuk-ngetuk setang motor secara ritmis, sebuah gestur yang sangat jarang ditunjukkan Ubay kecuali dia sedang memikirkan sesuatu yang amat berat dan membingungkannya.
Nadia yang hendak melangkah menuju paviliun belakang menghentikan langkahnya. Ia menatap Ubay dengan dahi mengernyit halus. "Mas Ubay... ada yang mengganjal?"
Ubay berdehem pelan, mencoba membersihkan kerongkongannya yang mendadak terasa kering. Ia melepas jaket jeans hitamnya, menyampirkannya di jok motor, lalu menatap Nadia dengan pandangan yang tidak selempeng biasanya. Ada keraguan yang sangat nyata di balik mata elang pria gondrong itu.
"Nad... gue mau ngomong sesuatu," ujar Ubay, suaranya merendah, terdengar agak ragu-ragu.
Nadia membalikkan badan sepenuhnya, memeluk tasnya di depan dada. "Iya, Mas. Ngomong saja."
Ubay menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian yang entah kenapa rasanya lebih berat daripada menghadapi belasan preman pasar. "Gini... mulai besok, lu nggak usah lagi tidur di paviliun belakang."
Nadia seketika tertegun, matanya melebar kecil. Jantungnya mencelos, mengira dirinya telah melakukan kesalahan hingga Ubay ingin menjauhinya. "M-Maksud Mas Ubay? Saya... saya disuruh pindah ke mana?"
Melihat wajah Nadia yang mendadak pias, Ubay buru-buru mengibaskan tangannya ke udara. "Bukan! Maksud gue bukan ngusir lu dari rumah ini, bukan!" seru Ubay agak panik, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Maksud gue... lu pindah tidur ke dalam rumah depan sini. Rumah tua ini kan lumayan luas, ada dua kamar kosong di lantai bawah. Lu boleh pilih kamar yang mana saja yang lu suka. Asalkan... jangan kamar yang di lantai atas," lanjut Ubay, nadanya mulai kembali tegas namun sarat akan nada protektif.
Nadia berkedip beberapa kali, masih mencoba mencerna maksud suaminya. "Tapi, Mas... di paviliun belakang kan sudah nyaman, lagipula…"
"Gak ada tapi-tapi, Nadia," potong Ubay cepat, melangkah satu tindak mendekati Nadia hingga jarak mereka mengikis. Ubay menatap langsung ke arah perut buncit di balik terusan longgar itu.
"Kehamilanmu itu makin hari makin besar. Tadi lu lihat sendiri kan di monitor? Perut lu sudah gak bisa bohong lagi. Kalau lu tetap nekat tidur di paviliun belakang, terus malam-malam ada apa-apa... atau tiba-tiba lu ngerasa mual, pusing, atau bahkan ketuban lu pecah... gue yang tidur di rumah depan gak bakal tahu. Jaraknya kepotong selasar, suara lu ndak bakal kedengeran sampai depan."
Ubay menjeda kalimatnya, tatapannya melembut, memancarkan rasa khawatir yang teramat tulus dari lubuk hatinya. "Gue gak mau ambil resiko. Kalau lu di dalam rumah depan, seenggaknya kalau ada darurat tengah malam, lu tinggal ketuk pintu kamar gue. Paham?"
Mendengar penjelasan panjang lebar dari Ubay, dada Nadia mendadak bergemuruh hebat. Ada kehangatan luar biasa yang merayap naik, menyelimuti hatinya yang selama ini selalu merasa sepi dan terbuang. Pria di hadapannya ini, yang status suaminya hanyalah sebuah sebagai pelindung di atas kertas, ternyata memikirkan keselamatannya dan bayinya sedetail itu.
Nadia menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyuman haru sekaligus rona merah yang perlahan terbit di kedua pipinya. "Iya, Mas Ubay... kalau begitu, besok saya rapikan barang-barang saya untuk dipindah ke kamar bawah."
"Gak usah besok. Sore ini biar gue yang angkat barang-barang lu. Lu tinggal tunjuk aja," sahut Ubay lempeng, berusaha menyembunyikan rasa lega yang amat sangat karena tawarannya tidak ditolak.
Ubay berbalik, berjalan mendahului Nadia masuk ke dalam rumah untuk membukakan pintu.
Nadia melangkah di belakang punggung tegap itu dengan perasaan yang mulai berubah rasa. Di tengah kepungan dinding rumah tua yang sunyi, kebersamaan yang dipaksakan oleh nasib tragis ini perlahan-lahan mulai menumbuhkan benih lain. Mustahil bagi dua manusia yang saling menjaga dalam satu atap untuk terus menjaga jarak hati mereka tetap hambar, saat perhatian demi perhatian tulus mulai meruntuhkan batas-batas kecanggungan, yang akan mengubah rasa hormat menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dan tak kasat mata.
****
untuk Axel aku tunggu karna untuk keluargamu