Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Yang Berantakan
Malam itu, Shana tidak bisa tidur, padalah ia sudah mematikan lampu kamar sejak sejam yang lalu. Sudah memeluk bantal, menarik selimut, memejamkan mata berulang kali. Namun bukannya mengantuk, tapi pikirannya terus berputar dan memutar ulang kejadian siang tadi.
Saat ia salah memberikan dokumen hingga akhirnya ia teringat dengan ucapan Evan saat mereka di dalam mobil.
"Semua orang bisa melakukan kesalahan."
Shana membalikan tubuhnya, lalu membalik lagi. Menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
"Astaga.. kenapa aku memikirkan dia." Protesnya sendiri.
Ia memukul bantal pelan, dan ia sangat kesal sendiri. Akibatnya Shana baru bisa tidur pukul tiga pagi.
"AHHHH.. "
Shana langsung bangun saat melihat jam, waktu sudah menujukan pukul tujuh. Padahal ia sudah harus sampai di kantor pukul delapan.
"Apa yang bisa aku lakukan dalam waktu satu jam?" Tanyanya sendiri dan tampak panik.
"Mati aku..! "
Ia langsung melompat dari tempat tidur. Bersiap secepat mungkin.
Empat puluh menit kemudian, Shana berlari memasuki lobby kantor. Tas di tangan kanan, dan ponsel di tangan kiri. Rambutnya tampak tak baik-baik saja.
"Permisi! Permisi!"
Ia terus berlari menuju lift yang hampir tertutup.
"Tungguuu.." Teriaknya, dan lift itu terbuka kembali.
Shana langsung masuk ke dalam, tanpa melihat siapa yang ada di dalam lift bersamanya . Ia masih terlalu sibuk mengatur napasnya yang masih begitu cepat.
"Syukurlah.."
Setelah merasa lega, Shana baru menyadari satu hal, bahwa lift terasa lebih sepi dari biasanya. Ia perlahan menoleh, dan hampir berhenti bernapas saat melihat Evan yang tengah berdiri di sampingnya.
"Selamat pagi Pak." Ucap Shana sambil menunduk menyapanya.
"Pagi."
Hening
"Sudah sarapan?"
Shana berkedip.
"Hah..?"
"Kamu seperti baru saja berhasil menyelamatkan diri dari bencana."
Shana langsung merapikan rambutnya dan Evan kembali menahan senyum saat itu.
Shana dan Evan melangkah ke ruang kerja masing-masing. Karena datang terlambat, membuat Shana tidak banyak persiapan dalam menyelesaikan pekerjaannya saat ini. Kali ini ia tampak terburu-buru saat membawa berkas yang diminta Evan untuk diantar ke ruanganya.
Tanpa sengaja...
"Bruk..!"
Shana menabrak seseorang, lebih tepatnya ia menabrak Evan, bosnya itu. Yang tiba-tiba saja ada di hadapannya.
Berkas- berkas yang tadinya ada di genggamannya, kini berserakan di lantai.
Shana memejamkan matanya.
"Pak, sumpah ini tidak disengaja."
Evan menatapnya beberapa detik, lalu berkata..
"Saya tahu.."
Shana menatap Evan yang tengah sibuk membantu merapikan berkas-berkas itu dan kemudian menyerahkannya kembali ke Shana. Evan melanjutkan langkahnya meninggalkan ruang kerjanya.
Siang hari pun tiba, Shana membawa secangkir kopi hangat ke ruang kerja Evan. Suasana kantor cukup terlihat sibuk, banyak karyawan berlalu lalang di koridor. Sementara pikirian Shana masih belum sepenuhnya fokus.
Hal ini dikarenakan, semalam ia tidak bisa tidur, paginya ia tampak kacau, banyak hal-hal buruk terjadi pada dirinya. Dan itu semua terjadi karena Evan hadir di pikirannya.
"Kenapa aku memikirkannya terus sih." Gumamnya pelan.
Karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Shana tidak memperhatikan langkahnya. Ada ujung karpet yang sedikit terlipat di ruang kerja Evan.
Saat kakinya menginjak bagian itu, dan..
"Akh!"
Tubuhnya kehilangan keseimbangan, cangkir kopi hampir terlepas dari genggamannya, Shana refleks memejamkan matanya.
Siap menerima kenyataan bahwa kopi itu akan segera tumpah, dan dirinya akan jatuh dan sangat memalukan.
Namun, hal itu tidak terjadi. Ada seseorang yang dengan sigap meraih dirinya, satu tangan menahan bahunya satu tangan lagi menahan pergelangan tangannya yang memegang secangkir kopi.
Tubuh Shana berhenti tepat sebelum benar-benar jatuh. Ia membuka mata perlahan. Dan mendapati Evan berdiri sangat dekat dengan dirinya.
Terlalu dekat.
Bahkan ia dapat mencium aroma parfum yang biasa digunakan pria itu.
Untuk beberapa detik, tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Shana bahkan lupa bagaimana cara bernapas dengan normal.
"Kamu baik-baik saja." Suara Evan terdengar rendah dan tenang.
Shana menggeleng, sedangkan Evan menyipitkan sudut matanya.
"Maksudku.. Iya, aku baik-baik saja."
"Yakin..? "
Shana mengangguk cepat, bahkan terlalu cepat. Hingga membuat rambutnya berantakan.
"Kopinya selamat."
Shana berkedip.
"Apa?"
"Kamu hampir terjatuh, tapi yang kamu lindungi malah kopi."
Shana menunduk malu. "Maafkan saya."
Evan kembali tersenyum menatapnya. Dan pandangan mereka bertemu kembali. Rasanya ini tidak benar, kenapa jantung Shana makin cepat berdetak. Rasanya ke dua pipinya terasa panas sekali. Mungkin saat ini pipinya sudah seperti kepiting rebus yang merona.
Dalam hitungan detik, mereka baru menyadari satu hal. Bahwa Evan masih memegang lengannya, dan jarak yang masih terlalu dekat.
Buru-buru mereka menjauhkan diri satu sama lain.
"Kamu harus lebih hati-hati."
"Iya Pak."
"Sepertinya kamu kurang tidur."
Shana langsung membeku, bagaimana ia bisa tahu?
Evan mengangkat sebelah alisnya.
"Saya benar?"
"Tidak juga."
"Kamu baru menjawab setelah lima detik."
Shana langsung menghela napas putus asa. Ternyata bosnya ini sulit untuk dibohongi.
"Saya hanya tidur agak larut."
"Hmm.. "
Evan mengambil cangkir kopi yang masih digenggaman Shana, lalu meminumnya dan meletakannya di atas meja.
"Shana."
"Ya pak.."
"Kalau ada sesuatu yang menggangu tidurmu, sebaiknya jangan disimpan sendirian."
Shana terdiam, bagaimana ia mengungkapkannya. Hal yang membuatnya tidak bisa tidur justru adalah bosnya sendiri.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭