"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35
happy reading guys
------------------------------
Bab 35: Anak Kandung yang Terbuang
Layar gawai di genggaman Arthur Mahendra yang memancarkan pendaran cahaya biru redup itu seketika mengubah atmosfer ruang isolasi steril menjadi medan intimidasi psikologis yang teramat kejam. Di balik sekat kaca tebal yang menampilkan visual panggilan video dari pinggiran dermaga Jakarta, sesosok wanita tua dengan pakaian lusuh tampak terduduk lemas dengan kedua tangan terikat rantai besi di dalam kabin van hitam yang berguncang.
Wajah wanita tua itu—meski telah digilas usia dan penderitaan puluhan tahun—memiliki garis struktur rahang dan bentuk kelopak mata yang sangat identik dengan Devan Mahendra.
"Saraswati..." desis Rian dari sudut pintu, suaranya tercekat di tenggorokan dengan sepasang mata yang seketika memerah sempurna menahan getaran horor rahasia masa lalu. Asisten pribadi paruh baya itu langsung mengenali sosok wanita yang tiga puluh tahun lalu dinyatakan tewas terbakar oleh konspirasi Martha Mahendra. "Nona Saraswati... Anda... Anda masih hidup...?"
Devan Mahendra mematung seutuhnya di atas ranjang perawatan. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga memicu alarm pendek beruntun dari alat pacu jantung mekanis di dadanya. Pria itu mencengkeram kuat sisi pembatas besi ranjang dengan jemari yang memutih tanpa sepeser pun darah. Sepasang netra elangnya menatap lurus ke arah layar gawai Arthur, menyaksikan ibu kandung yang selama tiga puluh tahun ini ia kira telah membusuk di dalam tanah, kini justru sedang berada di ujung tanduk kematian sebagai sandera.
"Bagaimana, Devan Mahendra?" Arthur menyunggingkan senyuman tipis yang teramat licik, memajukan tubuh tegapnya demi menikmati keputusasaan di wajah mantan sang CEO. "Kamu mungkin memiliki hak milik mutlak atas tanah rumah sakit ini secara hukum privat. Namun, nyawa wanita jalang yang telah melahirkanmu ke dunia ini sekarang berada di bawah ketukan jemariku."
Arthur menggeser dokumen penyerahan hak milik tanah dan pembatalan seluruh dana perwalian si kembar ke atas meja nakas medis. "Tandatangani dokumen ini sekarang juga menggunakan sidik jari digitalmu! Jika dalam waktu sepuluh detik instruksi pemindahan aset ini tidak masuk ke peladen bursa efek, orang-orangku di dermaga utara akan langsung menenggelamkan van hitam itu ke dasar laut bersama seluruh sisa napas ibumu!"
Martha Mahendra tertawa parau dari balik tongkat peraknya, menatap Devan dengan tatapan mata yang dipenuhi racun kemenangan. "Darah haram Saraswati membuang dirinya sendiri tiga puluh tahun lalu, dan hari ini, sejarah itu akan terulang kembali jika kamu tetap mempertahankan ego bodohmu, Devan!"
Anastasia Wijaya mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di balik jas blazer hitamnya, mencoba sekuat tenaga menstabilkan detak jantungnya agar akal sehatnya tidak runtuh. Naluri taktisnya sebagai pimpinan tertinggi Wijaya Corps bergerak kilat secara kronologis. Sembari membelakangi posisi Arthur, Anastasia diam-diam menurunkan tangan kanannya ke balik saku celananya, menekan tombol interkom nirkabel terenkripsi khusus untuk mengirimkan sinyal gelombang pendek kepada Sekretaris Hendra yang berdiri di dekat pintu.
‘Hendra... lacak koordinat IP satelit dari panggilan video Arthur sekarang juga...’ batin Anastasia mendiktekan perintah senyap melalui frekuensi radio khusus yang terhubung ke jam tangan pintarnya.
Hendra yang tanggap segera memundurkan tubuh tegapnya satu langkah ke balik bayangan dinding pilar, jemarinya bergerak dengan kecepatan luar biasa di atas layar komputer tablet digitalnya. Sistem forensik siber Wijaya Corps yang memiliki akses satelit militer mandiri mulai melakukan pelacakan lokasi (geolocating) secara senyap menembus jaringan enkripsi Swiss yang digunakan Arthur.
"Waktu berjalan, Devan Mahendra! Tiga detik tersisa!" bentak Arthur penuh penekanan mutlak, jemari tangan kanannya bersiap menekan tombol pemicu perintah di layar gawainya.
Devan Mahendra menarik napas panjang secara perlahan, menahan denyut perih yang luar biasa membakar dari jahitan luka operasi di perut kirinya. Di bawah kepungan maut psikologis itu, Devan perlahan mengangkat tangan kanannya yang gemetar, mengarahkan ibu jarinya mendekati sensor pemindai sidik jari digital di dokumen Arthur. Kepasrahan seorang anak yang menolak melihat ibunya dibantai untuk kedua kalinya membuat wibawa Devan tampak begitu rapuh malam itu.
Namun, tepat di detik ke-sembilan sebelum ibu jari Devan menyentuh kaca sensor, Sekretaris Hendra mendadak menegakkan tubuhnya, melangkah maju dua langkah secara kronologis mendekati posisi Anastasia dengan binar mata cerdas yang berkilat tajam.
"Nona Anastasia! Titik koordinat lokasi van hitam sudah berhasil dikunci secara akurat seutuhnya!" bisik Hendra dengan nada suara yang mantap namun sarat akan ketegasan taktis. "Para pelaku tidak berada di dermaga utara Jakarta! Arthur memalsukan latar belakang video menggunakan layar pemancar digital darurat! Lokasi van hitam yang sesungguhnya saat ini berada di dalam kompleks gudang logistik kosong milik Mahendra Group di area pelabuhan tikus sektor barat, hanya berjarak sepuluh menit dari rumah sakit ini!"
Duar!
Laporan siber dari Hendra laksana godam besi yang menghancurkan seluruh rencana intimidasi hukum Arthur dalam sekejap mata. Wajah Arthur Mahendra yang semula dipenuhi keangkuhan seketika berubah menjadi pias tanpa sepeser pun darah, sementara Martha mencengkeram tongkat peraknya dengan getaran kepanikan yang amat sangat. Kebohongan taktis mereka telah dibongkar habis oleh teknologi satelit Wijaya Corps.
"Hendra! Perintahkan dua tim taktis elit kita yang bersiaga di luar untuk langsung merangsek maju ke gudang sektor barat!" perintah Anastasia dengan suara melengking tinggi yang menggema tenang penuh dengan dominasi mutlak seorang ratu bisnis yang memegang kendali permainan. "Lakukan penyelamatan malam hari sebersih mungkin! Jangan biarkan ada satu pun anak buah Arthur keluar dari area gudang itu dalam kondisi bernapas!"
"Baik, dimengerti, Nona Anastasia! Unit helikopter taktis darurat juga sudah mengudara menuju lokasi!" Hendra berseru lantang sembari menekan tombol eksekusi militer pada tabletnya.
Devan Mahendra yang mendengar ibunya berada dalam jangkauan penyelamatan langsung menarik kembali tangannya dengan sentakan yang tajam. Sepasang netra elangnya kembali berkilat memancarkan pendaran kemurkaan seorang singa bisnis yang siap mencabik mangsanya seumur hidup. Pria itu menyambar pistol Glock-19 milik Rian di atas meja nakas, mengarahkannya lurus tepat di antara sepasang mata Arthur Mahendra dengan pergelangan tangan yang mendadak kokoh laksana batu.
"Permainan gertakanmu sudah selesai, Arthur," desis Devan dengan suara baritonnya yang merendah hingga ke titik beku. "Sekarang... kalian berdualah yang saat ini berada di dalam genggaman maut saya."
Arthur mundur dua langkah dengan tubuh yang gemetar hebat, para pengawal kejaksaan di belakangnya pun langsung mengangkat tangan mereka ke udara, tidak berani memicu pertumpahan darah melawan barikade bersenjata Wijaya Corps yang telah mengepung lorong luar koridor secara ketat.
Namun, tepat di tengah jalannya pembalikan keadaan yang luar biasa tegang tersebut, Alta yang sejak tadi diam di sudut sofa tiba-tiba menarik ujung daster Anastasia dengan sentakan yang teramat kuat. Wajah tampan bocah berusia empat tahun itu mendadak dipenuhi oleh gurat kecemasan taktis yang sangat pekat, sepasang matanya menatap lekat-lekat ke arah layar jam tangan pintarnya yang memancarkan lampu peringatan siber berwarna kuning menyala.
"Mami... Ayah..." suara Alta terdengar bergetar pelan, memotong seluruh ketegangan senjata di dalam ruangan medis itu. "Ada yang tidak beres dengan data manifes gudang sektor barat yang baru saja dibuka oleh Paman Hendra."
Anastasia menoleh dengan cepat, dahinya berkerut dalam menatap putranya. "Ada apa, Alta?"
"Gudang logistik itu... ternyata tidak kosong," ucap Alta, suaranya yang cempreng mendadak sarat akan logika horor yang nyata seumur hidup takdir mereka. "Sistem siber jam tanganku baru saja mendeteksi bahwa lima menit lalu, Arthur telah memasang sistem peledak bom waktu plastik darurat berskala besar (C4) di seluruh tiang pondasi gudang tersebut. Sistem peledak itu terhubung langsung dengan sensor detak jantung (heart-rate sensor) di pergelangan tangan Arthur! Jika detak jantung Arthur berhenti, atau jika tim taktis Mami mencoba mendobrak pintu baja gudang itu secara paksa dari luar... seluruh kompleks bangunan logistik itu akan meledak hancur berkeping-keping bersama tubuh Nenek Saraswati di dalam van hitam!"
------------------------------