Dalam setiap alur cerita novel ini, mengandung harapan dan doa baik untuk kehidupan author yang lebih bahagia ke depannya.
Di usia dua puluh lima tahun, Raya Nareswari masih berjuang mencari pekerjaan yang layak. Nasib membawanya bertemu Bram dan Sinta Mahendra setelah ia pingsan saat hendak melamar kerja di kota. Karena terpesona oleh ketulusan dan kepribadian Raya, Sinta mengangkat gadis berhijab itu sebagai karyawan di butik miliknya.
Seiring waktu, Bram dan Sinta berniat menjodohkan Raya dengan putra tunggal mereka, Juan Arsen Mahendra, seorang CEO tampan yang tak pernah sekalipun memperkenalkan wanita kepada keluarganya. Kedekatan Juan dengan asisten pribadinya bahkan membuat kedua orang tuanya curiga bahwa sang putra tidak tertarik pada perempuan.
Awalnya Juan menolak kehadiran Raya. Namun perlahan, ketulusan gadis desa yang sering diremehkan itu berhasil meluluhkan hati pria yang dikenal dingin dan sulit didekat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mau Terburu-buru
Saat membuka kotak beludru itu, mata Raya membulat. Di dalamnya terlipat rapi sebuah pakaian tidur berwarna burgandi dengan sentuhan renda yang anggun. Bahannya tampak lembut dan jatuh, memancarkan kesan elegan tanpa berlebihan.
Raya mengusap perlahan kain itu dengan ujung jarinya. Teksturnya begitu halus hingga membuat pipinya perlahan memerah. Ia langsung mengerti maksud hadiah dari ibu mertuanya. Bukan sekadar pakaian tidur, melainkan sebuah bentuk doa agar ia dan Juan semakin dekat sebagai pasangan suami istri.
Di dalam kotak itu terselip sebuah kartu kecil bertuliskan tangan.
"Untuk Raya, semoga kamu dan Juan selalu menjadi pasangan yang saling mencintai, saling menjaga, dan dikaruniai rumah tangga yang penuh keberkahan. Jangan sungkan menjadi diri sendiri di hadapan suamimu. Dengan kasih, Mama."
"Aku benar-benar diterima di keluarga ini," bisik Raya haru.
Malam semakin larut. Jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan, tetapi Juan belum juga pulang. Setelah cukup lama menimbang, Raya akhirnya mengenakan pakaian tidur pemberian Bu Sinta. Jantungnya berdegup tidak karuan. Ini pertama kalinya ia mengenakan pakaian seperti itu.
Merasa terlalu malu jika Juan langsung melihatnya, Raya segera menyelimuti tubuhnya hingga sebatas bahu. Sesekali ia membetulkan ujung selimut yang terasa terus bergeser.
Tak lama kemudian...
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Juan masuk dengan langkah lelah sambil membawa tas ransel dan sepatu futsal. Keringat masih membasahi pelipisnya.
"Bang..." sapa Raya pelan.
Juan menghentikan langkahnya. Keningnya berkerut saat melihat Raya hanya bersandar di kepala ranjang sambil membungkus diri dengan selimut.
Biasanya Raya selalu menyambutnya di depan pintu, membantu menyiapkan pakaian ganti, bahkan menyiapkan air hangat untuk mandi. Malam ini semua kebiasaan itu hilang.
Juan meletakkan tasnya di atas sofa, lalu mengambil pakaian ganti dari lemari.
"Bang... jangan mandi dulu. Badan Abang masih panas habis futsal. Takut masuk angin," ucap Raya lembut.
Juan menggeleng pelan.
"Gerah. Nggak enak kalau nggak mandi."
"Ya sudah... terserah Abang."
Juan kembali melirik ke arah istrinya.
Aneh... biasanya dia paling sibuk ngurusin aku. Kenapa malam ini malah diam di atas kasur? Apa dia sedang sakit?
"Ambilin handuk."
Raya langsung menunduk.
"Maaf, Bang... malam ini Raya agak kurang enak badan."
Juan mengangguk singkat tanpa banyak bertanya. Ia membawa pakaian gantinya lalu masuk ke kamar mandi.
Begitu suara pintu kamar mandi tertutup, Raya mengembuskan napas lega.
"Ya Allah... hampir saja."
Tak sampai lima belas menit kemudian, Juan keluar dengan kaus hitam dan celana tidur. Rambutnya masih sedikit basah.
Ia duduk di tepi kasur.
"Sakit?"
"Nggak kok, Bang."
"Terus kenapa dari tadi nyelimutan?"
Raya gugup.
"Bang... pakai selimut yang di lemari aja ya. Yang ini Raya pakai."
Juan semakin heran.
"Kenapa? Emang selimut ini kenapa?"
"Tolong, Bang..."
Juan yang penasaran akhirnya menarik perlahan ujung selimut itu.
Raya spontan memegangnya, tetapi tenaganya kalah.
Selimut itu pun tersibak.
Untuk beberapa detik, Juan membeku.
Tatapannya jatuh pada pakaian tidur elegan yang dikenakan Raya. Wajah istrinya telah semerah tomat matang. Raya buru-buru menundukkan kepala sambil memeluk kedua lengannya karena malu.
Juan menarik napas panjang lalu memejamkan mata sejenak.
"Maksudnya apa pakai baju begini?"
Raya memainkan ujung kain yang dikenakannya.
"Raya... kan istri Abang."
Jawaban polos itu justru membuat dada Juan terasa sesak.
"Ini pasti kerjaan Mama."
Raya hanya tersenyum kecil tanpa berani mengangkat wajah.
Juan menghela napas pelan. Ia berjalan ke arah lemari, mengambil sebuah kaus putih miliknya, lalu kembali menghampiri Raya.
Tanpa berkata apa-apa, ia menyampirkan kaus itu ke bahu Raya dan membantunya mengenakannya.
"Abang..."
"Aku nggak mau kita terburu-buru."
Suara Juan terdengar rendah, tetapi lembut.
"Aku ingin saat kita benar-benar menjadi suami istri seutuhnya, itu terjadi karena kita sudah saling mengenal, saling percaya, dan sama-sama memiliki rasa yang kuat. Bukan karena dorongan sesaat."
Raya mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata Juan yang kali ini terlihat begitu hangat.
Entah mengapa, justru sikap Juan malam itu membuat hati Raya semakin berdebar.
Di balik sikap dinginnya, laki-laki itu ternyata sedang berusaha menjaga perasaannya.
"Bang..." suara Raya bergetar pelan.
"Ada apa?"
"Tadi... Mama nangis."