Valencia Adelia atau Cia selalu menjadi korban perundungan Amora Luca Alessandro, ratu sekolah sekaligus putri keluarga terkaya di kota. Bertahun-tahun dihina dan disakiti membuat Cia menyimpan dendam yang mendalam.
Sadar tak akan pernah bisa mengalahkan Amora secara langsung, Cia memilih cara yang tak terduga. Ia mendekati Dixon Luca Alessandro, ayah Amora yang kaya dan berkuasa, hingga berhasil menjadi istrinya.
Kini, Cia bukan lagi gadis lemah yang bisa diinjak sesuka hati. Ia telah menjadi ibu tiri Amora. Dari dalam rumah yang sama, Cia mulai menjalankan balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Siang itu, matahari bersinar terik di atas langit ibu kota. Di dalam kediaman mewah Alessandro, Cia menghela napas panjang sembari menatap langit-langit ruang tengah. Rasa bosan mulai merayapinya setelah berjam-jam hanya duduk diam di rumah sebesar istana ini. Alih-alih membuang waktu dengan percuma, otaknya yang cerdas kembali merangkai sebuah taktik baru.
Ia melangkah ke dapur luas berbahan marmer, lalu dengan cekatan menyiapkan makan siang khusus untuk Dixon. Sebuah kotak bekal premium berwarna hitam elegan kini telah terisi penuh dengan masakan rumah yang harum dan menggugah selera. Ini adalah alasan paling sempurna untuk mendatangi wilayah kekuasaan suaminya.
Sebelum berangkat, Cia berjalan ke kamar utama untuk bersiap-siap. Ia berdandan dengan sangat rapi dan anggun, namun sengaja dibuat tidak terlalu kentara agar tidak memancing kecurigaan bahwa ia sedang mencoba pamer. Cia memilih mengenakan blouse sutra berwarna putih tulang dengan potongan kerah yang sopan, dipadukan dengan rok prisket berwarna pastel yang jatuh dengan indah di bawah lututnya. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai rapi dengan rias wajah minimalis yang segar. Penampilannya tampak sangat berkelas, memancarkan aura cantik alami yang begitu tenang.
"Antar saya ke gedung Luca Group," perintah Cia dengan nada lembut namun tegas kepada Pak moko, sopir pribadi kediaman Alessandro yang kini menunduk patuh padanya.
Mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di pelataran megah gedung pencakar langit Aethelgard Group, pusat dari seluruh gurita bisnis milik Dixon. Cia melangkah turun dengan anggun, mendekap kotak bekal di dadanya, lalu berjalan melewati pintu kaca otomatis yang tinggi menuju area lobi utama yang sangat sibuk.
Begitu kakinya melangkah mendekati meja resepsionis marmer yang luas, sesosok wanita muda yang mengenakan seragam rapi perusahaan seketika menoleh. Wanita itu adalah Fanya, salah satu resepsionis senior di gedung ini sekaligus mantan rekan kerja Cia saat ia masih menjadi pegawai rendahan di sini.
Fanya yang awalnya sedang mengetik di komputer mendadak membeku. Sepasang matanya membelalak sempurna, menatap Cia seolah-olah baru saja melihat hantu di siang bolong.
"V-Valencia?!" pekik Fanya dengan suara tertahan, buru-buru berdiri dari kursi kerjanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja, menatap Cia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan wajah penuh kepanikan. "Astaga, Cia! Lo ngapain di sini? Bukannya beberapa hari lalu lo... lo dipecat secara sepihak sama Direktur Utama? Kok lo berani banget menampakkan diri lagi di gedung ini?"
Melihat reaksi syok dari temannya, Cia hanya menyunggingkan senyum manis yang sangat tenang. Ia sengaja menahan diri, tidak ingin membocorkan status barunya sebagai istri sah dari sang pemilik perusahaan. Permainan ini akan jauh lebih menarik jika rahasianya terungkap secara bertahap.
"Tenang dulu, Fanya. Jangan panik begitu," ucap Cia dengan nada santai, memiringkan kepalanya sedikit. "Ada banyak hal yang terjadi dalam beberapa hari ini sampai aku harus menemui direkturmu sekarang juga di ruangannya."
Fanya mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap kotak bekal mewah di tangan Cia dengan sejuta pertanyaan yang berputar di kepalanya. "Ada banyak hal yang terjadi? Maksud lo apa, sih? Terus itu lo bawa apa? Jangan bilang lo mau nekat protes atau demo ke ruangan Pak Dixon karena nggak terima dipecat?"
Cia terkekeh pelan melihat imajinasi temannya yang terlalu jauh. Ia merapikan sedikit letak tas selempangnya, lalu menatap Fanya dengan tatapan jenaka seolah mereka hanya sedang mengobrol di kantin.
"Nggak usah mikir yang aneh-aneh. Aku ke sini cuma mau mengantarkan ini untuknya," jawab Cia sembari menepuk pelan kotak bekal hitam di pelukannya.
Fanya semakin melongo, menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Mengantarkan makanan untuk Pak Dixon? Lo serius? Cia, lo tahu sendiri 'kan gimana kejam dan dinginnya pak bos kita itu? Salah sedikit aja, lo bisa didepak keluar gedung sama satpam!" Fanya jeda sejenak, lalu menatap Cia penuh selidik. "Tunggu... emangnya lo udah bikin janji sama sekretarisnya di atas?"
Mendengar pertanyaan itu, Cia menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan sebuah senyuman misterius yang sarat akan kemenangan tersembunyi.
"Fanya... kalau aku nggak punya janji atau ikatan khusus dengannya, aku nggak bakal berani menginjakkan kaki di sini lagi," jawab Cia dengan nada bicara yang teramat santai namun penuh teka-teki, membuat Fanya semakin dibuat kebingungan setengah mati di tempatnya berdiri.
Cia melangkah keluar dari lift khusus eksekutif yang membawanya langsung ke lantai teratas gedung Aethelgard Group. Lorong menuju ruangan Direktur Utama begitu sunyi, dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Di depan pintu eksekutif, Asher yang sedang memeriksa beberapa dokumen tampak terlonjak kaget melihat kehadiran Cia. Namun, sebelum asisten pribadi itu sempat bersuara, Cia memberikan isyarat pelan dengan jarinya di depan bibir, memintanya untuk tetap diam.
Cia menarik napas dalam-dalam, menata kotak bekal hitam di pelukannya, lalu mengetuk pintu kayu jati besar itu sebanyak tiga kali.
"Masuk," terdengar suara bariton yang berat, dingin, dan sarat akan otoritas dari dalam ruangan.
Cia memutar kenop pintu perlahan lalu melangkah masuk. Begitu pintu terbuka, ia memasang senyum paling merekah, manis, dan sehangat mentari pagi—sebuah ekspresi yang sangat kontras dengan atmosfer ruangan Dixon yang selalu tegang.
Dixon yang sedang fokus menatap berkas di mejanya mengerutkan dahi, merasa tidak asing dengan aroma parfum mawar yang tiba-tiba menyeruak masuk. Begitu pria berusia 39 tahun itu mendongak, sepasang mata elangnya seketika membelalak kaku.
"Valencia? Sedang apa kamu di sini?" tanya Dixon, suara baritonnya langsung mendingin, ketat oleh rasa terkejut dan canggung yang bercampur aduk.
Cia tidak memedulikan tatapan mengintimidasi itu. Ia melangkah maju dengan santai, meletakkan kotak bekal premium di atas meja kerja marmer milik Dixon, tepat di samping tumpukan dokumen penting.
"Aku merasa bosan di rumah, jadi aku berinisiatif membuatkan makan siang untukmu, Mas," ucap Cia dengan nada suara yang teramat merdu, menggunakan panggilan 'aku-kamu' yang telah disepakati subuh tadi. "Ini masakan rumah, masih hangat."
Dixon melirik kotak bekal itu, lalu kembali menatap Cia dengan rahang yang mengeras sempurna. Ego dan sifat kaku sang konglomerat mendadak berontak. Ia merasa privasi dan dunianya di kantor telah diganggu.
"Bawa kembali makanan ini dan pulanglah, Valencia," usir Dixon dingin tanpa perasaan, sepasang matanya menatap tajam seolah menolak kehadiran Cia di sana. "Aku tidak punya waktu untuk ini, dan aku bisa meminta sekretaris membelikan makan siang. Jangan lancang membawa urusan rumah ke kantor."
Mendengar pengusiran dingin itu, Cia tidak mundur atau menangis seperti biasanya. Alih-alih patuh, ia justru mengambil langkah berani. Cia memutari meja kerja Dixon, berdiri tepat di samping kursi kebesaran pria itu. Dengan gerakan yang telaten, ia membuka tutup kotak bekal tersebut hingga aroma daging tumis bumbu rempah dan nasi hangat yang harum seketika memenuhi ruangan, menggoda indra penciuman Dixon yang memang belum diisi sejak pagi.
"Aku tidak mau pulang sebelum melihatmu memakannya, Mas," paksa Cia dengan nada manja namun tegas, menyodorkan sepasang sumpit ke depan tangan kekar Dixon. "Kamu sudah bekerja keras dari pagi, setidaknya hargai usahaku yang sudah memasak ini di dapur."
Dixon menatap sumpit di tangan Cia, lalu beralih menatap wajah cantik istrinya dari jarak dekat. Keberanian dan pemaksaan lembut dari gadis muda ini entah mengapa meruntuhkan tembok es di dadanya. Setelah perang batin yang singkat dengan egonya sendiri, Dixon akhirnya mengembuskan napas berat. Pria tegap itu menerima sumpit tersebut dengan kasar namun kaku, lalu mulai mengambil suapan pertama.
Melihat Dixon akhirnya luluh dan mulai mengunyah makanannya dalam diam, Cia menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan pria itu. Ia menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap lekat-lekat wajah tampan Dixon yang terpahat tegas di usianya yang matang.
Saat menatap guratan lelah namun berwibawa di wajah suaminya, sebuah perasaan asing mendadak menyelinap masuk ke dalam lubuk hati Cia yang paling dalam. Untuk pertama kalinya, kilat dendam di matanya meredup, digantikan oleh tatapan yang jujur dan tulus.
Di dalam keheningan itu, batin Cia berbisik dengan sangat luhur. “Jujur... aku tidak pernah ingin menggunakanmu sebagai alat balas dendamku, Mas Dixon. Kamu pria yang baik, pria bertanggung jawab yang terjebak di antara kelicikan putrimu.”
Cia terus menatap Dixon yang makan dengan tenang. Jantungnya berdegup dengan ritme yang berbeda. Sebuah janji tak kasatmata mendadak terukir di dalam hatinya yang terluka.
“Jika nanti... saat semua rahasia ini terbongkar, dan kamu memilih untuk tetap berdiri di sampingku, membelaku, dan menerima segala masa laluku yang kelam dibandingkan membela Amora... maka aku berjanji, aku akan melupakan seluruh dendam itu. Aku akan melepaskan topeng iblis ini, menyerahkan seluruh hatiku padamu, dan hidup mengabdi bersamamu selamanya sebagai istrimu yang sesungguhnya.”
Namun, Cia dengan cepat menggelengkan kepalanya samar, mengusir kabut emosi yang sempat melemahkannya. Segala keputusan kini berada di tangan Dixon. Permainan catur ini telah berjalan, dan sang singa tanpa sadar sedang berjalan di atas titian takdir yang telah Cia siapkan.
selanjutnya rencana lebih menantang lagi Thor, mungkin buat dia belajar beladiri dikit lah
saran thor
biar dia yg tercia dan ga bisa jauh sama kamu
ayo cia kamu harus kuat
balas semua rasa sakitmu ke Mora..
kamu jangan gegabah tarik ulur si duda karatan biar dia penasaran sama kamu
lanjut yu ka up nya bagus loh cerita kamu
biar si duda karatan kelabakan