NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:398
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Balik Senyuman

Dua minggu telah berlalu sejak restu diam-diam dari Rani dan Pak Wahyu. Bagi Viona dan Zidan, dunia terasa lebih ringan. Mereka tidak perlu lagi bersembunyi dalam bayang-bayang kekhawatiran akan penolakan keluarga inti. Namun, mereka sepakat untuk tetap menjaga kerahasiaan hubungan mereka dari publik dan lingkungan sosial yang lebih luas. Stigma tentang hubungan kakak-adik tiri masih menjadi tembok tebal yang belum siap mereka hancurkan dengan terburu-buru.

Zidan kembali tenggelam dalam kesibukan kantornya. Proyek gedung pemerintahan itu akhirnya berjalan lancar, bahkan mendapat pujian dari menteri terkait karena efisiensi desainnya. Reputasi Zidan sebagai arsitek muda berbakat semakin melambung. Ia sering diundang ke berbagai acara gala, seminar, dan pertemuan bisnis elit.

Viona, di sisi lain, mulai membantu mengelola yayasan sosial kecil milik keluarga yang fokus pada pendidikan anak-anak kurang mampu. Ini adalah passion-nya yang selama ini tertimbun oleh rasa khawatir terhadap kesehatan ibunya. Ia merasa hidupnya memiliki tujuan baru, sesuatu yang memberinya kepuasan batin di luar peran domestiknya.

Namun, kedamaian itu terusik ketika sebuah undangan resmi datang ke rumah mereka. Pameran Arsitektur Nasional akan diadakan di Grand Ballroom Hotel Mulia, dan Zidan diwajibkan hadir sebagai pembicara kunci. Undangan itu juga mencantumkan nama "Pasangan Pendamping" untuk sesi foto pers dan networking.

"Maksudnya apa ini?" tanya Viona saat membaca undangan itu di meja makan sore hari. Ia menatap Zidan yang sedang menyeruput kopi.

Zidan meletakkan cangkirnya dengan hati-hati.

"Protokol standar acara bergengsi. Mereka ingin menampilkan sisi humanis dari para profesional sukses. Biasanya, kami membawa istri atau pasangan hidup."

Viona merasakan dingin menjalar di punggungnya. "Jadi... Kakak harus membawa siapa? Atau Kakak pergi sendiri?"

Zidan menghela napas. "Jika aku pergi sendiri, media akan bertanya-tanya. Jika aku membawa teman kerja, akan ada spekulasi asmara palsu. Tapi jika aku membawa kamu..." Ia terdiam, menatap Viona lekat-lekat. "Kita belum siap mengumumkan status kita. Orang-orang akan bingung melihat 'adik tiri' duduk di sampingku sebagai pasangan utama."

Viona menunduk, memainkan ujung taplak meja. Rasa cemburu irasional muncul di dadanya, meskipun ia tahu itu tidak logis. Ia tidak ingin Zidan terlihat bersama wanita lain, bahkan hanya untuk pencitraan. Tapi ia juga tidak ingin memaksa Zidan mengambil risiko karirnya.

"Aku mengerti," ucap Viona pelan, mencoba tersenyum meski hatinya sesak.

"Kakak bisa minta salah satu rekan wanita senior untuk menemani. Itu aman secara profesional."

Zidan menggeleng tegas. "Tidak. Aku tidak mau berpura-pura dengan orang lain. Itu tidak jujur padamu, dan tidak jujur pada diriku sendiri."

"Lalu apa solusinya, Kak?" tanya Viona, suaranya sedikit naik karena frustrasi.

Zidan berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berhenti di belakang kursi Viona. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Viona, memijat lembut otot-ototnya yang tegang.

" Aku bawa kamu," ucap Zidan datar.

Viona menoleh kaget.

"Apa? Tapi—"

"Dengar dulu," potong Zidan tenang. "Secara teknis, kamu adalah anggota keluarga. Tidak ada aturan yang melarang adik menghadiri acara kakaknya. Kita tidak perlu menyebutmu sebagai 'pasangan'. Kita sebut saja sebagai 'manajer yayasan keluarga' yang mendampingi saya karena keterlibatan yayasan dalam proyek CSR perusahaan saya. Itu fakta, bukan kebohongan."

Viona mengerutkan kening, memikirkan logika itu. "Itu... cukup masuk akal. Tapi orang-orang akan bertanya kenapa aku yang menemani, bukan istri atau pacar."

"Biarkan mereka bertanya," jawab Zidan, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Viona. Matanya berbinar penuh keyakinan. "Aku akan menjawab dengan cara yang membuat mereka berhenti bertanya tanpa harus mengungkapkan rahasia kita. Aku akan menunjukkan bahwa kamu adalah prioritas utamaku, tanpa perlu label romantis di depan umum. Apakah kamu percaya padaku?"

Viona menatap mata Zidan. Di sana, ia melihat keteguhan, kecerdasan, dan cinta yang mendalam. Ia mengangguk perlahan.

"Aku percaya."

Malam pameran tiba. Grand Ballroom Hotel Mulia dipenuhi oleh elit sosial, politisi, dan selebriti. Lampu kristal bercahaya megah, musik orkestra mengalun halus. Zidan tampil memukau dalam setelan tuxedo hitam klasik, sementara Viona mengenakan gaun malam berwarna navy blue sederhana namun elegan, dengan potongan yang sopan dan rambut diikat rapi. Ia terlihat anggun, bukan sebagai pusat perhatian, tapi sebagai pendamping yang berkelas.

Saat mereka masuk, kamera flash langsung menyala. Para wartawan dan tamu lainnya memperhatikan kehadiran Viona. Bisik-bisik mulai terdengar.

"Siapa gadis itu? Adiknya?"

"Kenapa Zidan tidak membawa pacarnya yang dulu sering digosipkan?"

"Dia terlihat sangat dekat dengan Zidan."

Zidan mengabaikan semua itu. Ia menggandeng tangan Viona dengan santai, bukan dengan romantis yang berlebihan, tapi dengan perlindungan yang jelas. Saat seorang jurnalis tabloid terkenal, Bu Ratna, mendekati mereka dengan mikrofon, Zidan berhenti dan tersenyum tipis.

"Tuan Zidan, siapa wanita cantik di samping Anda?" tanya Bu Ratna tajam, mengarahkan kamera ke wajah Viona.

Zidan menatap Bu Ratna, lalu menoleh pada Viona sejenak sebelum menjawab dengan suara lantang dan jelas agar semua orang di sekitar mendengar.

"Ini Viona, adik saya dan manajer Yayasan Cahaya Harapan," ucap Zidan tenang. "Dia mendampingi saya malam ini karena proyek gedung pemerintah yang saya kerjakan memiliki program CSR yang dikelola oleh yayasannya. Kehadirannya adalah bentuk dukungan profesional dan keluarga."

Jawaban itu singkat, padat, dan menutup celah spekulasi liar. Ia tidak menyebut "pacar", tidak menyebut "istri", tapi ia juga tidak meremehkan Viona. Ia menempatkan Viona sebagai mitra setara dalam konteks profesional dan keluarga.

Bu Ratna tampak sedikit kecewa karena tidak mendapatkan gosip panas, tapi terpaksa menerima jawaban itu.

"Oh, jadi urusan pekerjaan ya? Menarik. Terima kasih, Tuan Zidan."

Saat Bu Ratna pergi, Viona menghela napas lega. Ia menatap Zidan dengan kekaguman.

"Kakak hebat. Kakak berhasil membuat mereka diam tanpa berbohong."

Zidan tersenyum miring, mendekatkan bibirnya ke telinga Viona seolah hendak membisikkan sesuatu, namun sebenarnya hanya berkata pelan, "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kamu memang bagian terpenting dari hidupku, baik secara profesional maupun pribadi. Mereka hanya tidak tahu seberapa dalam 'pribadi' itu."

Viona tersipu, jantungnya berdebar kencang di tengah keramaian pesta. Ia merasa bangga bukan hanya karena Zidan melindunginya, tapi karena Zidan menghargainya.

Malam itu berlanjut dengan presentasi Zidan yang brilian. Saat ia berada di atas panggung, matanya selalu mencari Viona di antara kerumunan. Setiap kali pandangan mereka bertemu, Viona merasa seperti satu-satunya orang di ruangan itu.

Setelah acara selesai, saat mereka berjalan menuju mobil di parkiran lobi bawah tanah yang sepi, Zidan tiba-tiba berhenti. Ia menarik Viona ke balik pilar beton, jauh dari pandangan CCTV utama.

"Ada apa, Kak?" tanya Viona bingung.

Zidan tidak menjawab. Ia hanya menatap Viona dalam-dalam, lalu mengecup bibirnya dengan cepat namun penuh gairah. Ciuman curi-curi di tengah bahaya ketahuan.

"Untuk keberanianmu malam ini," bisik Zidan serak. "Dan untuk kesabaranmu menunggu dunia siap menerima kita."

Viona tersenyum, membalas pelukan Zidan erat-erat. "Aku akan menunggu selamanya, Kak. Asalkan Kakak tetap menjadi rumahku."

Mereka berdua masuk ke dalam mobil, meninggalkan gemerlap pesta di belakang. Di dalam keheningan mobil yang bergerak menyusuri jalan kota malam, mereka menyadari satu hal: tantangan terbesar bukanlah opini orang lain, melainkan konsistensi mereka sendiri untuk tetap setia pada janji yang telah dibuat. Dan malam itu, mereka membuktikan bahwa mereka kuat enough untuk menghadapinya, bersama-sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!