NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terbalaskan

Juragan kaya di desa tersebut pun akhirnya tewas di tempat setelah kepalanya terlepas dari badannya.

Melihat Wira bisa menghindari serangan ayahnya dengan cukup mudah, Jaya langsung menyerang pemuda itu dengan pedang yang sudah tergenggam di tangannya. Meskipun sudah tidak bertemu Wira selama setahun lebih, tapi Jaya masih menganggap pemuda yang dulu sering bisa dihajarnya itu bisa dengan mudah dikalahkannya.

Namun keyakinannya ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan. Serangannya bahkan tidak sekalipun mengenai tubuh Wira.

"Ada yang perlu kau tahu, Jaya. Kau hanyalah sosok lemah yang hanya bisa mengandalkan kekuasaan ayahmu. Namun hari ini, aku akan membuat ayahmu menderita dengan melihatmu terbunuh!" Wira menangkis serangan Jaya dengan sangat kuat, hingga pedang di tangan anak Kepala Desa itu terlepas dan terlempar jauh.

Jaya memekik keras. Tangan kirinya memegang dengan kuat pergelangan tangan kanannya yang terasa ngilu luar biasa. Bahkan setelah pedangnya terlepas, getaran hebat itu masih terasa menjalar. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa dalam waktu satu tahun saja, Wira yang dulu sering menjadi sasaran latihannya, kini sudah berubah sangat jauh.

"Tapi aku tidak akan langsung membunuhmu. Kau akan aku buat menderita terlebih dahulu!" lanjut Wira seraya melepaskan pukulannya tepat ke arah ulu hati Jaya.

Meski berstatus anak dari ketua perguruan silat di desanya, nyatanya Jaya tidak memiliki kemampuan yang mumpuni. Ia hanya sesekali berlatih, itupun karena disuruh ayahnya. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bersenang-senang bersama anak buahnya.

Pukulan Wira mendarat dengan telak dan membuat Jaya langsung terjatuh ke tanah. Ia meringkuk memegangi ulu hatinya yang terasa sangat perih. Darah segar langsung terlontar keluar dari mulutnya.

Sebuah tendangan keras pun dilayangkan Wira ke arah perut Jaya dan kembali mengena tepat sasaran. Tubuh putra Subadra itu bahkan terdorong mundur beberapa langkah karena kekuatan serangan itu.

Jaya tak kuasa menahan rasa sakit yang menyiksa. Ia berteriak keras, hingga menarik perhatian Subadra yang masih tertegun memandang tubuh Pratama yang sudah tergeletak tak bernyawa.

"Anakku!" teriak Subadra seraya melesat cepat mendekati Jaya. Ia langsung menangkis tendangan Wira yang sudah melayang menuju perut putranya.

Wira melompat mundur beberapa langkah. Ia merasakan sedikit nyeri di tulang kakinya karena berbenturan dengan kaki Subadra. Wira sempat menyesal hanya mengeluarkan sebagian kecil tenaga dalamnya saat menyerang Jaya. Andai ia tahu Subadra akan turun tangan, tentu saja ia akan menggunakan tenaga penuh sejak awal.

"Jangan cengeng, Jaya! Kau adalah anakku dan akan menjadi penerusku!" ucap Subadra mencoba menenangkan putranya yang sudah menitikkan air mata kesakitan.

Pandangannya kemudian beralih kepada puluhan murid dan anggotanya yang hanya berdiri diam menyaksikan semua kejadian itu.

"Kenapa kalian hanya berdiri di situ seperti patung! Cepat bunuh pemuda sialan itu!" bentaknya memberi perintah.

Namun puluhan murid itu hanya saling memandang tanpa bergerak sedikit pun. Mereka tampak kecewa dan hilang rasa hormat kepada gurunya setelah mengetahui perbuatan tercela yang telah dilakukan Subadra.

"Serang dia, atau aku akan membunuh kalian semua!" bentakan Subadra kembali terdengar keras dan menggelegar. Ia sangat geram karena tidak ada satu pun muridnya yang berani maju menghadapi Wira.

"Apa kau takut padaku, sehingga harus menyuruh orang lain untuk menyerangku?" ejek Wira dengan nada dingin.

"Aku tidak takut pada siapa pun, apalagi pada pemuda ingusan sepertimu!" sahut Subadra cepat. Tanpa menunggu lagi, lelaki tua itu langsung melesat menyerang dengan kecepatan tinggi.

Pukulannya terarah menuju kepala Wira dengan kekuatan yang dahsyat. Namun Wira tidak menghindar, ia justru memberi tangkisan yang tak kalah kuat. Seusai menangkis, ia langsung melesakkan serangan cakar ke arah rusuk Subadra yang terbuka lebar setelah melakukan serangan.

Dengan sigap, lelaki tua itu menarik tubuhnya ke samping sambil melepaskan pukulan balasan dengan cepat.

Wira sempat terkejut melihat kelincahan Subadra menyerang sambil menghindar. Namun berbekal latihan keras bersama Arisuta, ia segera menguasai keterkejutannya dan menundukkan tubuhnya secepat kilat. Pukulan Subadra pun melintas di atas kepalanya tanpa menyentuh sedikit pun.

Serangan Subadra tadi ternyata membuka celah pertahanannya sendiri. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan Wira. Ia langsung melepaskan jurus Pukulan Tapak Naga Suci yang mengena tepat di perut lelaki tua itu.

Subadra mengerang pelan. Beruntung ia memiliki tenaga dalam yang cukup kuat, sehingga lukanya tidak menjadi lebih parah. Ia segera memusatkan tenaga dalamnya untuk meredakan rasa sakit dan memulihkan tenaganya.

"Ternyata hanya sampai di situ saja kemampuanmu, manusia biadab," ejek Wira dengan senyum menghina. "Kekuatanmu ternyata tidak sebesar mulutmu yang pandai berbicara!" tambahnya.

Subadra mengeram marah. Harga dirinya sebagai Kepala Desa sekaligus ketua perguruan silat benar-benar hancur dan terinjak-injak di depan penduduk desa serta murid-muridnya.

Lelaki tua itu segera mencabut pedangnya dan mengarahkan ujungnya tepat ke arah Wira. "Aku pastikan nyawamu melayang saat ini juga!"

"Terlalu banyak bicara, manusia busuk. Buktikan saja jika kau mampu melakukannya!" Wira pun mencabut pedang pusaka yang tergantung di pinggangnya. Sekilas ia memandang bilah pedang itu yang memancarkan cahaya lembut berwarna-warni. Dalam sekejap, bayangan wajah kedua orang tuanya terlintas jelas di pikirannya.

"Ayah, Ibu ... aku akan membalaskan kematian kalian. Setelah ini, kalian bisa beristirahat dengan tenang," batin Wira.

Ia pun mengangkat pedangnya dan menyambut serangan Subadra yang sudah melesat mendekat.

Pertarungan sengit pun segera terjadi di hadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan. Penduduk desa dan murid-murid Subadra segera menjauh, takut terkena dampak dari benturan tenaga kedua pendekar itu.

Subadra melepaskan serangan demi serangan dengan jurus-jurus terbaiknya. Kecepatan dan keahliannya memainkan pedang membuat Wira untuk sementara waktu hanya bisa bertahan dan menghindar tanpa sempat menyerang balik. Ia masih mencari celah pertahanan yang cukup aman untuk melancarkan serangan.

Seiring berjalannya waktu, gerakan Subadra justru semakin cepat. Puluhan kali serangannya tidak membuahkan hasil membuat lelaki tua itu semakin tergesa-gesa. Wira mulai terdesak, namun tidak satu pun tebasan pedang Subadra yang berhasil menggores kulitnya.

Untuk mengimbangi kecepatan lawannya, Wira mulai menggunakan ilmu meringankan tubuh yang telah dipelajarinya. Ia sadar, jika hanya mengandalkan tenaga biasa, lama-kelamaan ia akan kelelahan dan bisa terbunuh.

Peningkatan kecepatan Wira membuat Subadra terkejut. Bahkan dalam waktu singkat, posisi pertarungan berbalik: yang tadinya tertekan kini menjadi yang menekan. Subadra terpaksa mundur dan bertahan dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya melompat mundur cukup jauh untuk mengambil napas.

Wira tidak terburu-buru mengejar. Ia menunggu sambil memusatkan tenaganya untuk menyiapkan jurus andalan Pedang Seribu Cahaya Suci.

Subadra menarik napas panjang beberapa kali, lalu memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke bilah pedangnya. Tiba-tiba saja, energi dahsyat memancar keluar dari pedang itu, disertai dengungan suara yang keras seperti ribuan kepakan sayap kumbang.

Sesaat kemudian, ia melompat maju sambil mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaga.

"Pedang Raja Kumbang!" teriak Subadra keras.

Wira pun segera menebaskan pedangnya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Ia sadar serangan ini tidak bisa dilawan dengan setengah hati.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!