Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semalam di Lembah
Malam di bawah tanah tidak punya suara angin.
Tidak punya suara jangkrik, tidak punya suara daun yang bergerak, tidak punya satupun dari kebisingan kecil yang biasanya mengisi latar malam di atas sana tanpa pernah benar-benar diperhatikan sampai tidak ada.
Yang ada hanya suara nafas — empat makhluk di dalam ruangan batu bercahaya yang masing-masing bernafas dengan ritme yang berbeda tapi entah bagaimana membentuk sesuatu yang terdengar seperti satu ritme kalau didengarkan dari cukup jauh.
Rio duduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding batu yang dingin. Adrian duduk di kursi batunya yang sudah tiga belas tahun menjadi satu-satunya furnitur yang ia miliki. Wukong berbaring di antara mereka — bukan di pundak Rio, bukan di kaki Adrian, tepat di tengah-tengah dengan cara yang terasa seperti keputusan yang sangat disengaja.
Serigala masih di sudut, masih berjaga.
Di lekukan bahu kiri Rio, Abyssal Goddess Weaver tidak bergerak tapi delapan matanya aktif — mengamati Adrian dengan intensitas yang berbeda dari cara ia mengamati orang lain selama ini.
Lebih lama. Lebih dalam.
Seperti mengingat.
---
"Bapak kenal dia sebelumnya," kata Rio. Bukan pertanyaan.
Adrian menatap bahu kiri Rio — ke arah yang tidak bisa ia lihat langsung tapi bisa ia rasakan keberadaannya. "Iya."
"Siapa tuannya dulu?"
Adrian diam selama tiga detik.
"Bukan tuan." Suaranya pelan dan sangat hati-hati memilih kata. "Kami tidak punya hubungan kontrak. Tapi kami pernah berada di tempat yang sama dalam waktu yang sangat lama." Ia menatap Rio. "Delapan puluh empat tahun lalu, pemutusan paksa itu — saya tidak ada waktu itu. Tapi saya yang menemukan akibatnya. Dan saya yang memutuskan bahwa makhluk itu tidak boleh dibiarkan sendirian lebih lama dari yang sudah terjadi."
"Makanya Bapak titipkan ke Pak Darmawan."
"Dengan harapan bahwa suatu hari sistem ini akan menemukan pemilik yang benar." Adrian mengangguk pelan. "Pemilik yang tidak akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan tamer sebelumnya."
Rio menatap lekukan bahu kirinya.
Tiga belas tahun Adrian menyimpan makhluk itu dengan caranya sendiri sebelum menitipkannya. Delapan puluh empat tahun makhluk itu belajar bahwa dunia tidak aman. Dan tiga hari lalu ikatan jiwa terbentuk bukan melalui ritual apapun melainkan melalui dua kata pagi hari di toilet sekolah.
*Selamat pagi.*
---
"Serigala itu," kata Rio tanpa menoleh ke sudut tempat serigala berjaga. "Dia dulu kontrak sama Bapak."
Kali ini Adrian tidak menjawab langsung.
Ia menatap sudut ruangan di mana serigala abu-abu itu berbaring dengan punggung menghadap ruangan dan telinga terangkat ke arah tangga — postur yang sudah Rio kenali sebagai postur berjaga yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan saat tidur.
"Berapa lama dia sendirian sebelum kamu temukan?" tanya Adrian pelan.
"Tiga belas tahun," jawab Rio. "Saya temukan di rawa. Kakinya terjebak perangkap pemburu liar. HP-nya empat persen."
Adrian menutup matanya.
Satu ekspresi yang sangat kecil bergerak di sudut rahangnya — otot yang menegang sebentar kemudian dilepaskan dengan sangat sadar, cara seseorang yang sudah sangat terlatih mengendalikan respons fisiknya terhadap hal-hal yang menyakitkan tapi tidak cukup terlatih untuk mencegah otot itu menegang sama sekali.
"Saat Hana menyembunyikan saya," kata Adrian dengan suara yang keluar lebih pelan dari sebelumnya, "kontrak diputus paksa. Saya tidak punya pilihan lain — kalau kontrak dipertahankan, Hana bisa melacak lokasi saya melalui ikatan energi." Ia berhenti. "Saya pikir mereka akan baik-baik saja. Makhluk setingkat mereka seharusnya bisa bertahan sendiri."
"Dia bertahan," kata Rio. "Tapi tidak baik-baik saja."
Adrian tidak menjawab itu.
Tidak perlu dijawab.
---
Di sudut ruangan, serigala yang selama percakapan ini berdiri membelakangi semua orang tiba-tiba bergerak.
Berdiri dari posisinya. Berbalik menghadap ke ruangan untuk pertama kalinya sejak mereka turun ke sini.
Berjalan.
Bukan ke Rio. Bukan ke Wukong.
Ke Adrian.
Langkahnya pelan dengan cara yang bukan karena ragu-ragu melainkan karena memilih kecepatan itu secara sadar — setiap langkah diletakkan dengan tekanan penuh, kakinya yang sudah sembuh sempurna menapak lantai batu dengan distribusi berat yang merata dan stabil, tanpa kompensasi, tanpa sisa-sisa dari cedera yang dulu hampir membuatnya tidak bisa berjalan sama sekali.
Adrian menatap serigala yang mendekatinya tanpa bergerak dari kursi batunya.
Serigala berhenti tepat di depan kursi itu.
Mereka bertatapan — manusia yang sudah tiga belas tahun di bawah tanah dan serigala yang sudah tiga belas tahun sendirian di atas sana, dalam jarak yang cukup dekat untuk keduanya merasakan nafas masing-masing.
Kemudian serigala itu melakukan sesuatu yang dalam dua minggu Rio bersamanya tidak pernah ia lakukan kepada siapapun.
Ia menundukkan kepalanya.
Bukan rendah. Bukan dramatik. Hanya cukup — penurunan kepala yang sangat kecil yang dalam bahasa tubuh serigala mengandung sesuatu yang jauh lebih kompleks dari sekadar tunduk, sesuatu yang lebih dekat ke arah pengakuan antara dua makhluk yang sudah saling mengenal cukup lama untuk melewati semua prosedur perkenalan dan langsung ke inti dari apa yang perlu diakui.
*Kamu masih ada.*
Adrian mengangkat tangannya — tangan yang gemetar sangat sedikit, cukup untuk Rio perhatikan dari jarak ini — dan meletakkannya di atas kepala serigala dengan sangat pelan.
Serigala tidak mundur.
Tidak menegang.
Hanya berdiri sangat diam di bawah tangan itu dengan cara makhluk yang sudah sangat lama tidak menerima sentuhan dari seseorang yang dikenalinya.
---
Rio menatap lantai batu di depannya.
Ada sesuatu di dalam dadanya yang tidak bisa ia masukkan ke dalam kategori teknis apapun — bukan sedih, bukan senang, bukan marah. Sesuatu yang lebih lebar dari semua itu, jenis perasaan yang hanya muncul saat seseorang menyaksikan sesuatu yang sangat pribadi terjadi di depannya dan menyadari bahwa ia ada di sana bukan sebagai penonton melainkan sebagai bagian dari alasan mengapa hal itu bisa terjadi.
Kalau Rio tidak pergi ke rawa itu.
Kalau Rio tidak berlutut di depan perangkap besi yang berkarat itu dan memilih untuk membukanya dengan hati-hati alih-alih meninggalkannya.
Serigala itu mungkin tidak akan ada di sini malam ini.
Dan Adrian mungkin tidak akan pernah tahu bahwa makhluk yang ia putus kontraknya tiga belas tahun lalu karena tidak ada pilihan lain masih hidup dan masih bisa berdiri dengan empat kaki yang kokoh di lantai batu ruangan ini.
---
"Bapak," kata Rio pelan.
Adrian menoleh, tangannya masih di kepala serigala.
"Ibu meninggal waktu saya empat tahun." Rio menatap titik di lantai yang tidak ada apapun di sana tapi cukup untuk dijadikan titik fokus saat mengucapkan hal yang sudah sangat lama tidak ia ucapkan kepada siapapun. "Saya tidak ingat banyak tentang dia. Hanya satu hal."
Adrian menunggu.
"Dia sering duduk di depan jendela malam hari." Rio melanjutkan dengan nada yang sama seperti saat ia menyampaikan fakta tentang apapun — datar, tidak terburu-buru, tapi kali ini ada sesuatu di baliknya yang tidak ada di nada-nada lain. "Menatap ke luar. Tidak ngapa-ngapain. Hanya duduk dan menatap ke luar." Ia berhenti sebentar. "Waktu kecil saya kira itu kebiasaan aneh. Sekarang baru saya mengerti kenapa."
Adrian tidak berkata apapun selama beberapa detik.
"Dia menunggu saya pulang," kata Adrian akhirnya. Suaranya keluar dengan cara yang menunjukkan bahwa kalimat itu sudah ada di dalam kepalanya sejak lama, sudah diucapkan berkali-kali dalam keheningan ruangan ini, tapi baru pertama kali diucapkan kepada seseorang yang lain.
"Iya," kata Rio.
Hanya itu.
Dua orang yang masing-masing kehilangan orang yang sama dengan cara yang berbeda, duduk di ruangan batu di bawah lembah terpencil, tidak mencoba mengisi keheningan yang datang setelah itu dengan apapun karena keheningan itu sudah cukup penuh dengan sendirinya.
---
Wukong yang berbaring di tengah-tengah di antara mereka mengangkat kepalanya.
Menatap Adrian.
Menatap Rio.
Kemudian dengan sangat perlahan — dengan kehati-hatian yang tidak biasa dari makhluk yang biasanya bergerak dengan sangat sedikit pertimbangan terhadap ekspektasi sosial siapapun — Wukong bangkit dari posisi berbaringnya dan berjalan ke arah Rio.
Duduk tepat di samping Rio.
Bukan di pundak. Bukan di lantai dengan jarak yang biasanya ia pertahankan. Tepat di samping, dengan bahunya yang kecil menyentuh lengan Rio, dengan cara yang dalam bahasa tubuh Wukong adalah hal yang tidak pernah Rio lihat sebelumnya selama dua minggu ini.
Dan dalam satu sentuhan kecil yang sangat sederhana itu, Rio mengerti sesuatu yang tidak bisa ia temukan dalam tujuh fragment manapun, tidak bisa diberikan oleh sistem manapun, tidak bisa dijelaskan oleh Raymond atau Pak Darmawan atau siapapun yang sudah menceritakan apapun kepadanya tentang ayahnya atau sistemnya atau sejarah yang ia masuki tanpa pilihan.
Wukong tidak memilih Rio karena Rio adalah penerus Adrian.
Wukong memilih Rio karena Rio adalah Rio.
Dan bahwa keduanya kebetulan membawa energi yang sama, kebetulan memiliki kebiasaan yang sama, kebetulan mengucapkan dua kata yang sama setiap pagi kepada makhluk yang sama — itu bukan kebetulan yang menjelaskan pilihan Wukong.
Itu hanya konfirmasi dari sesuatu yang sudah Wukong putuskan jauh sebelum Rio tahu bahwa ada sesuatu yang perlu diputuskan.
---
"Bapak bilang di fragment terakhir," kata Rio setelah keheningan yang cukup panjang, "bahwa ada kelemahan Hana yang bahkan Raymond tidak tahu."
Adrian menarik napas. Kembali ke mode yang lebih terstruktur — bukan karena momen sebelumnya sudah selesai, melainkan karena ada hal lain yang juga perlu diselesaikan malam ini.
"Hana takut pada satu hal," kata Adrian. "Bukan kekuatan. Bukan sistem. Bukan makhluk immortal manapun yang bisa kamu kerahkan."
"Takut pada apa?"
Adrian menatap Rio dengan cara yang sudah sangat jarang ia gunakan sejak malam ini dimulai — cara yang mengandung kalkulasi, pertimbangan, keputusan tentang seberapa banyak yang siap dikatakan.
"Transparansi," jawab Adrian. "Hana membangun seluruh kekuasaannya di atas satu fondasi — bahwa publik percaya ia adalah pelindung mereka. Seluruh jaringannya, seluruh loyalitas orang-orangnya, seluruh otoritas yang membuatnya bisa melakukan apa yang ia lakukan selama ini — semuanya berdiri di atas kepercayaan itu."
"Kalau kepercayaan itu runtuh—"
"Ia tidak punya apa-apa." Adrian mengangguk. "Kekuatannya bukan kekuatan fisik, Rio. Kekuatannya adalah narasi. Dan narasi yang runtuh tidak bisa diperbaiki dengan kekuatan fisik apapun."
Rio memproses itu.
"Jadi kita tidak perlu mengalahkannya dalam pertarungan."
"Kita perlu membiarkan dunia melihat apa yang sebenarnya ia sembunyikan." Adrian menatapnya. "Dan untuk itu kita butuh bukti. Bukti yang tidak bisa ia bantah, tidak bisa ia hapus, tidak bisa ia rekayasa menjadi narasi lain."
"Di mana bukti itu?"
Adrian menjawab dengan satu kalimat yang membuat Rio duduk lebih tegak dari posisinya.
"Di dalam sistem yang kamu bawa."
---
Panel sistem menyala dengan biru tua.
---
**[Fragment Tersembunyi Terdeteksi — Diluar Tujuh Fragment Utama]**
**[Fragment 0 — Yang Disimpan Paling Dalam:]**
**["Sistem ini merekam segalanya, Rio. Setiap interaksi, setiap perintah, setiap keputusan yang pernah dibuat oleh siapapun yang pernah bersentuhan dengan sistem ini — termasuk Hana Soekarno, tiga belas tahun lalu, saat ia memberikan perintah yang menghapus namaku dari semua catatan resmi."]**
**["Rekaman itu ada di dalam sistemmu sekarang."]**
**["Dan sistem tidak bisa dibohongi."]**
---
Rio membaca fragment itu tiga kali.
Kemudian menutup panel sistem dengan sangat pelan.
Menatap Adrian yang menatap balik dengan ekspresi seseorang yang sudah tiga belas tahun menyimpan kartu ini dan baru malam ini bisa meletakkannya di atas meja di depan orang yang tepat.
Di pundak kirinya Abyssal Goddess Weaver berdenyut satu kali.
Di sampingnya Wukong tidak bergerak dari posisinya yang menyentuh lengan Rio.
Di sudut ruangan serigala kembali ke posisi berjaganya — tapi kali ini menghadap ke dalam ruangan, bukan ke tangga.
Karena yang perlu dijaga malam ini bukan dari ancaman luar.
Melainkan dua orang yang baru pertama kali duduk di ruangan yang sama dan masih punya sangat banyak waktu yang hilang yang tidak bisa dikembalikan tapi bisa — dengan sangat pelan, dengan sangat tidak sempurna, dengan semua yang tersisa dari malam ini dan malam-malam setelahnya — mulai diisi dengan hal-hal baru.
---
Rio menatap lantai batu di depannya sekali lagi.
"Besok kita keluar dari sini," katanya.
"Iya," jawab Adrian.
"Dan kita mulai dari Raymond."
"Iya."
Keheningan.
"Bapak," kata Rio satu kali lagi, dengan nada yang berbeda dari semua nada yang digunakan malam ini — lebih pelan, lebih tidak terkendali dari biasanya, lebih seperti suara seseorang yang usianya tujuh belas tahun dan bukan selalu harus terdengar seperti seseorang yang tidak pernah butuh apapun dari siapapun.
Adrian menunggu.
"Saya senang Bapak masih ada."
---
Adrian Albert — tamer pertama Mythical Immortal dalam sejarah negara ini, yang namanya dihapus dari semua catatan resmi, yang sudah tiga belas tahun hidup di ruangan batu di bawah lembah terpencil — tidak menjawab kalimat itu dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk.
Satu kali.
Dengan cara yang mengandung hal yang sama persis dari arah yang berlawanan.
Pagi pertama Adrian melihat langit setelah tiga belas tahun. Dan hal pertama yang ia lakukan setelah keluar dari tangga batu itu adalah berdiri diam di tepi sungai tembaga selama sangat lama, menatap airnya yang di pagi hari berwarna hijau muda kebiruan. Rio berdiri di sampingnya tanpa berkata apapun. Sampai Adrian mengucapkan satu kalimat yang membuat Rio mengerti bahwa perjalanan pulang ke kota — dan semua yang menunggu di sana — sudah bisa dimulai.*
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣