Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Sisi Gelap Gemerlap Malam dan Amarah sang Tuan Muda
Begitu langkah kaki Chen dan Mei melewati pintu masuk, suasana riuh bar mewah itu langsung tersingkap. Musik berdentum rendah dengan estetika berkelas. Di area VIP tengah, Liu yang sudah memegang gelas minuman langsung melompat berdiri begitu melihat siluet Chen.
"Hahaha! Monster kecilku sudah datang!" seru Liu dengan sangat heboh, suaranya bahkan sempat mengalahkan dentum musik di sekitar mereka. Ia berlari kecil menghampiri Chen dan Mei tanpa memedulikan pandangan heran para tamu lainnya.
Namun, langkah Liu terhenti sejenak saat matanya menatap Mei. Ia mengerjap, lalu bertepuk tangan heboh. "Astaga, Chen! Jadi ini alasanmu terlambat? Kamu menyembunyikan seorang dewi! Cantik sekali! Perkenalkan, Nona, aku Liu, sahabat terbaik si kaku Chen ini. Selamat datang di tempatku, anggap saja seperti bar milikmu sendiri!"
Mei sempat tersentak kaget dan agak mundur karena keramahan serta kehebohan Liu yang meledak-ledak,ditambah dia sangat mengetahui siapa itu Tuan muda Liu apalagi di kampungnya kan ada anak cabang perusahaan milik keluarga Liu,Namun, melihat ketulusan yang polos dari wajah pemuda kaya itu, rasa takut Mei seketika mencair. Ia tersenyum manis dan membungkuk kecil. "Terima kasih, Tuan Liu. Saya Mei."
"Panggil Liu saja! Ayo, ayo duduk di sofa terbaik!" ajak Liu penuh semangat.
Kilasan Darah di Balik Retina
Mereka bertiga duduk di sofa beludru area VIP yang nyaman. Pelayan segera mengantarkan minuman dan camilan terbaik. Kebahagiaan dan tawa sempat menghiasi meja mereka selama beberapa menit saat Liu menceritakan betapa lucunya wajah Paman Feng saat mengakui kekalahan siang tadi.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Saat Chen sedang menuangkan minuman untuk Mei, sensasi hangat yang sangat pekat—bahkan cenderung membakar—tiba-tiba menjalar dari belakang kepalanya menuju kedua bola matanya. Pandangan Chen bergetar hebat, dan dalam sekejap, dunia di sekitarnya melambat menjadi hitam putih.
Wush!
Sebuah kilasan masa depan jangka pendek terproteksi kuat di retinanya. Chen melihat sekelompok pria berjaket kulit hitam dengan logo tengkorak—tiba-tiba berdiri dari meja pojok gelap. Mereka menarik pipa besi dan belati dari balik jaket, berteriak, lalu mulai memecahkan botol-botol minuman, membakar sofa, dan menyerang para pelayan hingga membuat bar berganti menjadi lautan kepanikan. Di akhir kilasan, salah satu dari mereka mengarahkan pecahan botol ke arah Liu.
Set!
Pandangan Chen kembali normal. Detik waktu kembali berjalan.
Chen langsung melirik ke sudut pojok kiri bar yang remang-remang. Menggunakan penglihatan tembus pandangnya, ia menembus jaket tebal yang dikenakan oleh lima pria berwajah sangar di sudut sana. Benar saja, di balik jaket mereka, tersembunyi senjata tajam dan pipa besi.
Chen meletakkan gelasnya dengan perlahan, wajahnya berubah sangat serius. Ia condong ke arah Liu dan berbisik dengan nada rendah namun penuh penekanan.
"Liu, musuh bisnismu... mereka bersenjata telah menyusup. Lima orang di meja pojok kiri bawah. Dalam waktu kurang dari dua menit, mereka akan mengacau, merusak bar mu, dan mengincar mu. Bergeraklah sekarang sebelum mereka mulai."
Amarah sang Naga Tersulut
Mendengar bisikan Chen, senyum ramah dan konyol di wajah Liu seketika lenyap tanpa bekas. Matanya menyipit, memancarkan aura dingin yang sangat pekat—aura asli dari seorang pewaris tunggal keluarga konglomerat yang tak boleh diusik. Liu tidak meragukan kata-kata Chen sedikit pun.
"Mei, tetap di sini bersama Chen ya. Ada sedikit urusan bisnis," ucap Liu dengan suara yang mendadak sangat lembut kepada Mei, sangat kontras dengan kilat amarah di matanya.
Liu berdiri, memberikan isyarat tangan rahasia kepada kepala keamanan bar.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh detik, belasan pria berbadan tegap dengan pakaian hitam-hitam muncul dari berbagai sudut tersembunyi, mengepung meja pojok kiri sebelum para anggota geng suruhan itu sempat menyadari bahwa rencana mereka telah bocor.
Brak! Bug! Akh!
Sebelum para anggota geng suruhan itu sempat berdiri atau menarik senjata mereka, pasukan Liu sudah menyerang terlebih dahulu dengan sangat brutal dan taktis. Pipa besi mereka direbut, wajah mereka dihantam ke meja, dan mulut mereka disumpal kain agar tidak berteriak dan mengganggu kenyamanan tamu lainnya. Perkelahian singkat itu terjadi di area remang-mesang sehingga sebagian besar pengunjung bar bahkan tidak menyadarinya.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah. Kamar interogasi," perintah Liu dingin kepada kepala keamanannya.
Liu menoleh ke arah Chen dan Mei. "Chen, jaga Mei di sini. Aku harus menyelesaikan 'hama' ini sebentar."
Sisi Kejam sang Tuan Muda
Di dalam ruang bawah tanah bar yang kedap suara dan berbau anyir besi, kelima anggota geng motor itu diikat di kursi besi dengan lampu sorot yang langsung menusuk mata mereka. Wajah mereka sudah babak belur.
Pintu besi terbuka, dan Liu melangkah masuk. Ia melepas jas mahalnya, menyampingkannya di kursi, lalu menggulung lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Wajah ramah yang tadi menyambut Mei telah menguap seutuhnya, digantikan oleh wajah seorang algojo dingin.
"Siapa yang menyuruh kalian? Saingan bisnisku dari Keluarga Wang, atau Geng Serigala Hitam?" tanya Liu datar, sambil berjalan perlahan mendekati pemimpin geng yang terikat.
"K-kami tidak akan bicara! Keparat kau, Liu—"
Plak! Krek!
Tanpa peringatan dan tanpa perubahan ekspresi di wajahnya, Liu menyambar sebuah botol kaca kosong di meja dan menghantamkannya tepat ke jari tangan pria itu hingga terdengar bunyi tulang patah yang mengerikan. Jeritan histeris langsung memenuhi ruangan kedap suara tersebut.
"Aku tidak suka mengulang pertanyaanku," bisik Liu, mendekatkan wajahnya yang dingin ke telinga pria yang sedang menangis kesakitan itu. "Kalian berani membawa senjata ke tempatku, berniat menumpahkan darah di depan sahabat dan tamuku. Jika dalam tiga detik mulutmu tidak menyebutkan satu nama... aku pastikan tangan kananmu tidak akan pernah bisa memegang setang motor lagi seumur hidupmu. Satu... dua..."
"Keluarga Wang! Tuan Muda Wang yang membayar kami untuk menghancurkan barmu malam ini! Ampun, Tuan Muda Liu! Ampun!" jerit sang pemimpin geng, langsung bertekuk lutut ketakutan melihat mata Liu yang tidak memiliki belas kasihan sedikit pun.
Liu menegakkan tubuhnya kembali, mengambil tisu untuk menyeka cipratan debu di tangannya, lalu berbalik menuju pintu.
"Patahkan kaki mereka semua, lalu buang di depan kediaman Keluarga Wang sebagai peringatan," perintah Liu dingin kepada para pengawalnya sebelum melangkah keluar dari ruangan interogasi, bersiap kembali ke atas untuk mengubah wajahnya menjadi sahabat yang hangat bagi Chen dan Mei.
👍😁