NovelToon NovelToon
Jebakan Manis untuk Sang CEO

Jebakan Manis untuk Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Healing / Putri asli/palsu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Pagi berikutnya, Keira menemukan sesuatu yang aneh.

Richard berlari di treadmill.

Ruang fitness Villa Awan biasanya terlalu rapi untuk disebut ruang yang benar-benar dipakai. Semua alat tersusun seperti pajangan showroom, handuk putih dilipat dengan sudut yang sama, botol air mineral berjajar tanpa label menghadap salah arah. Tetapi pagi itu, layar treadmill menyala. Richard berdiri di atasnya dengan kaus hitam, napas teratur, rambut sedikit basah di pelipis.

Keira berhenti di depan pintu kaca.

Pemandangan itu tidak masuk rencana.

Ia datang hanya untuk mengambil air hangat dari pantry kecil sebelah ruang fitness. Ia masih memakai kardigan tipis, wajah dibuat sedikit pucat supaya kesan pasien belum hilang. Tetapi melihat Richard berlari membuat semua dialog yang sudah ia siapkan berhenti di ujung lidah.

Richard melihat pantulannya di kaca. "Kenapa berdiri di situ?"

"Om olahraga?"

"Kamu melihat apa?"

"Saya kira Om tidak perlu."

Treadmill melambat. Richard menoleh.

Keira menggigit bibir, seolah sadar ia bicara terlalu jujur. "Maksud saya, Om sudah... sehat."

"Kemarin kamu bilang aku bicara seperti om-om."

Keira hampir tersedak.

Jadi itu alasannya?

Pria yang bisa membuat direksi gemetar, yang memutus kerja sama ratusan miliar tanpa berkedip, pagi-pagi berlari karena satu kalimat kecil dari gadis dua puluh dua tahun?

Ia ingin tertawa.

Ia juga ingin menyimpan kejadian itu di tempat paling rahasia dalam dirinya.

"Saya tidak bilang Om tua," kata Keira cepat.

"Kamu bilang aku cerewet seperti om-om."

"Karena Om memang cerewet kalau saya sakit."

"Itu berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

Richard mematikan treadmill. Ia mengambil handuk dan mengusap lehernya. Gerakan sederhana itu membuat Keira mengingat tangan yang semalam menahan pinggangnya. Ia menunduk, pura-pura melihat gelas di tangannya.

"Jangan berkeliaran kalau belum pulih," kata Richard.

"Saya cuma ambil air."

"Minta staf."

"Kalau semua harus minta staf, nanti saya benar-benar jadi tamu."

Richard diam.

Keira sengaja membiarkan kalimat itu menggantung. Ia tahu Richard tidak suka mendengar kata tamu untuk dirinya. Sejak malam listrik dan hujan, pria itu mulai memperlakukan Villa Awan seperti tempat yang harus membuatnya betah, bukan sekadar tempat aman.

"Kamu bukan tamu," kata Richard.

Keira tersenyum kecil. "Baik, Om."

Hari itu berjalan terlalu tenang. Keira kembali bekerja dari kamar, memeriksa dokumen proyek yang dikirim Siska. Richard pergi ke kantor lebih siang dari biasanya. Jason mengirim pesan bahwa Pak Dharma terlihat semakin tidak sabar karena Keira belum masuk lantai proyek.

Keira membaca pesan itu sambil minum obat.

Pemangsa yang lapar biasanya ceroboh.

Ia hanya perlu kembali pada waktu yang tepat.

Malamnya, Richard pulang sebelum jam makan. Itu juga aneh. Biasanya pria itu baru muncul setelah langit benar-benar gelap, masih membawa aroma kopi hitam dan dokumen yang belum selesai. Kali ini ia duduk di meja makan dengan kemeja lengan digulung, tanpa jas, tetapi wajahnya tetap seperti orang yang baru selesai memenangkan perang diam-diam.

Keira duduk di seberangnya.

Sup ayam hangat, ikan kukus, tumis brokoli, dan bubur kecil untuk Keira tersaji di meja. Menu rumah sakit berkedok fine dining.

"Dokter Handoko bilang kamu boleh makan nasi besok," kata Richard.

"Om bahkan tanya soal nasi saya?"

"Aku tanya soal pemulihanmu."

"Nasi bagian dari pemulihan."

Richard meliriknya.

Keira tersenyum. "Maaf."

Makan malam itu seharusnya ringan. Tetapi setelah beberapa suap, Richard meletakkan sumpit.

"Kamu bermimpi tentang apa?"

Sendok Keira berhenti.

Ia tahu pertanyaan itu akan datang. Richard bukan orang yang melihat pintu kamar terbuka tengah malam, tubuh basah keringat, suara gemetar, lalu melupakannya. Tetapi ia belum ingin memberi kartu mimpi profetik. Terlalu mahal. Terlalu berbahaya.

"Saya lupa," jawab Keira.

"Kamu tidak lupa."

"Mimpi buruk biasanya memang kabur setelah bangun."

"Kamu bertanya apakah mimpi buruk termasuk darurat."

Keira menunduk. "Karena rasanya begitu."

Richard memperhatikan wajahnya terlalu lama. Keira bisa merasakan setiap detik seperti jari yang meraba kebohongan di kulit. Ia harus mengalihkan, tetapi tidak boleh terlalu jelas.

"Om pernah mimpi buruk?" tanyanya.

"Pernah."

"Tentang apa?"

"Orang yang tidak bisa kuselamatkan."

Keira terdiam.

Untuk sesaat, topengnya retak bukan karena strategi, melainkan karena ia mendengar sesuatu yang terlalu dekat dengan namanya sendiri. Orang yang tidak bisa diselamatkan. Dalam mimpi profetiknya, ia adalah orang itu. Di kehidupan ini, ia sedang memaksa Richard menjadi tangan yang menariknya keluar.

Richard melihat perubahan wajahnya.

"Keira."

Ia mengangkat mata.

"Kamu sedang memikirkan Kevin?"

Kalimat itu jatuh seperti gelas pecah.

Keira hampir tidak percaya. Kevin? Di antara semua kemungkinan, Richard memilih nama Kevin. Bukan DNA, bukan rumah sakit, bukan Charles, bukan Pak Dharma. Kevin.

Kecemburuan Richard ternyata bisa sebodoh itu.

Dan semanis itu.

Keira menurunkan bulu mata. Ketika ia bicara, suaranya dibuat kecil. "Saya pernah bertunangan dengan dia, Om."

Wajah Richard langsung dingin.

"Itu bukan jawaban."

"Kalau saya bilang tidak, Om percaya?"

"Aku sedang bertanya."

Keira meletakkan sendok. Tangannya bergerak pelan ke lengan Richard yang berada di atas meja, jari-jarinya mencengkeram ujung manset kemeja.

"Saya hanya takut," bisiknya. "Kadang orang yang dulu dekat dengan kita bisa menjadi orang yang paling mudah menyakiti."

Itu bukan bohong.

Kevin memang menyakitinya.

Hanya saja bukan alasan ia terbangun semalam.

Richard menatap tangan Keira di lengannya. Selama beberapa detik, ia tidak bergerak. Keira merasa urat di bawah kain itu menegang.

"Kamu masih sedih karena dia?"

"Tidak semua sedih berarti masih cinta," jawab Keira.

"Tapi kamu belum bilang tidak."

Tekanan di meja makan berubah. Pelayan yang sempat masuk membawa teh jahe langsung mundur tanpa suara. Keira melihat itu dari sudut mata. Bahkan staf Villa Awan tahu kapan udara di sekitar Richard berubah terlalu tajam untuk disentuh.

"Om ingin saya membenci Kevin?" tanya Keira.

"Aku ingin kamu berhenti memberi dia tempat."

Kalimat itu membuat sendok di tangan Keira hampir jatuh. Bukan karena ia terkejut pada maknanya, tetapi karena Richard mengatakannya seperti sedang meminta sesuatu yang ia sendiri belum berani namai.

"Om mau saya jawab apa?"

"Yang benar."

Keira mengangkat wajah. Matanya sengaja dibuat basah, tetapi dadanya benar-benar terasa sesak. "Saya tidak tahu."

Tangan Richard tiba-tiba menghentak mundur.

Jari Keira terlepas dari lengan bajunya.

Suara kursi bergeser pendek.

Keira membeku.

Richard berdiri, wajahnya tanpa ekspresi, tetapi matanya gelap.

"Makanmu habiskan."

Ia pergi sebelum Keira bisa menjawab.

Di meja makan yang terlalu besar, Keira menatap tangannya yang kosong.

Untuk pertama kalinya, Richard menolak sentuhannya. Bukan karena jijik. Bukan karena tidak peduli.

Karena ia cemburu.

1
aku
up
aku
🌹🌹 semangat up
aku
jangan smpe nikah key. pas acara tunangan aja ksih bom nya
aku
jelas bukan ko jason 🤣🤣
aku
staf yg bawa troli si jason 🤣🤣🤣
aku
cembokur pak lim 😃😃
aku
wow key, cerdas!!
aku
terharu aku key...😭😭😭 ayo key semangat 😁😁
aku
kei 😭😭 ayo andalkan dirimu sendiri kei. jgn lagi pke perasaan. biar gk sakit lg hatimu 😭😭
aku
pak hasan jawi pundhi?? kulo jawa timur 😁😁
aku
di sinopsis namanya LIM RENATA tor. disini LIM RICHARD 🤔 jd yg mana?? 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!