Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Jejak Kayu Cendana
Sama seperti selimut itu.
Kalimat itu membuat Keira tidak tidur nyenyak semalaman.
Ia tidak takut pada hadiah mahal. Ia takut pada tangan yang bisa meletakkan hadiah itu di depan pintunya tanpa terlihat, takut pada mata yang mungkin sudah melihat lebih banyak dari yang ia izinkan, dan paling takut pada kemungkinan bahwa nama Kiara telah masuk ke rumah ini diam-diam.
Keesokan paginya, Keira bekerja seperti biasa.
Bayi Stephanie disusui sesuai jadwal. Jayden belajar membaca kata sederhana dari kartu daun yang kemarin mereka buat. Bola makan dengan lahap di kandangnya, sementara Jayden mengucapkan "klik dua kali" setiap kali menutup pintu kecilnya.
Tidak ada yang berubah di permukaan.
Di dalam kepala Keira, daftar kecil semalam terus bertambah.
Ia tidak akan bertanya langsung kepada Ethan. Terlalu berbahaya. Tidak kepada Jefri Tan juga, karena laki-laki itu bekerja untuk Ethan dan matanya terlalu tajam untuk pura-pura tidak paham. Bi Sari mungkin tahu, tetapi Bi Sari tidak akan membuka rahasia keluarga Ciu hanya karena Keira cemas.
Jadi Keira mulai dari benda.
Benda lebih jujur daripada manusia.
Siang itu, ketika Jayden tidur sebentar setelah makan, Keira meminta izin kepada pengasuh malam untuk mengambil udara di taman belakang. Ia membawa keranjang kecil berisi kain lap, seolah hendak mengecek mainan luar ruangan Jayden.
Taman belakang Kediaman Ciu selalu tampak rapi dengan cara yang mahal. Rumput dipotong rata, bunga tidak pernah layu di tempat yang terlihat, dan batu pijakan selalu bersih dari lumpur. Namun bagian dekat bangku batu di sisi paviliun samping berbeda. Tidak berantakan, tetapi hidup. Ada bekas orang duduk lama, bekas cangkir di permukaan batu, dan serpihan halus yang terlalu kecil untuk diperhatikan orang yang tidak mencari.
Keira berhenti di dekat tanaman kamboja.
Bangku batu itu kosong.
Tidak ada Kevin Ciu di sana.
Tetapi di sisi kaki bangku, di antara kerikil putih, ada sedikit serbuk berwarna pucat.
Keira berjongkok seolah membetulkan tali sandal.
Ia menyentuh serbuk itu dengan ujung kain lap. Teksturnya ringan, tidak seperti debu tanah. Bentuknya berupa serpih sangat halus, mirip dengan yang menempel di tepi kertas semalam.
Ia mengangkat kain itu ke dekat hidung.
Kayu cendana.
Tipis, bersih, tidak sekuat parfum, tetapi jelas.
Di atas bangku batu, ada bekas lingkaran kecil yang masih lembap. Bekas cangkir.
Keira menoleh ke arah meja kecil di bawah pergola.
Di sana, tersusun dua cangkir porselen putih yang baru dicuci dan ditelungkupkan di atas nampan. Bentuknya sederhana, dindingnya tipis, dengan garis biru pucat di bibir cangkir.
Dadanya menegang.
Cangkir yang sama.
Malam ketika teh dan biskuit pertama muncul di depan kamarnya, cangkir putih seperti itu berdiri di samping piring kecil, seolah seseorang sengaja memilih barang dari bagian rumah yang tidak akan dianggap milik staf biasa.
Satu kebetulan masih bisa diabaikan.
Dua kebetulan membuat orang waspada.
Tiga kebetulan adalah arah.
Keira tidak menyentuh cangkir. Ia hanya mengingat detailnya, lalu kembali ke area staf sebelum ada yang bertanya kenapa ia terlalu lama di taman.
Sorenya, setelah Jayden selesai menggambar Bola dengan tubuh sebesar bola nasi dan kaki seperti garis hujan, Keira mencari Bi Sari.
Perempuan itu sedang memeriksa daftar belanja mingguan di ruang kecil dekat dapur staf. Di meja ada buku catatan besar, kalkulator, dan beberapa bon dari pasar swalayan premium. Bi Sari menulis cepat, kacamata turun sedikit di hidungnya.
"Bi," panggil Keira.
Bi Sari tidak langsung mengangkat wajah. "Kalau tentang jadwal susu Nyonya Stephanie, sudah saya kirim ke dapur."
"Bukan itu."
Baru kali itu Bi Sari menatapnya.
Keira menutup pintu setengah, cukup sopan agar tidak tampak seperti bersekongkol, tetapi cukup rapat untuk menahan suara.
"Saya mau tanya soal Ko Kevin."
Tangan Bi Sari berhenti di atas buku catatan.
Diamnya terlalu cepat.
Keira melihat itu, menyimpannya.
"Ko Kevin biasanya dekat dengan siapa?" tanya Keira seolah santai. "Saya beberapa kali lihat beliau di taman. Saya hanya ingin tahu batasan supaya tidak salah menyapa."
Bi Sari meletakkan pulpen.
"Suster Keira," katanya pelan, "di rumah ini, tidak semua orang yang duduk sendiri berarti ingin ditemani."
"Saya paham."
"Ko Kevin tidak suka keramaian. Beliau lebih sering di taman, ruang kerja kecil, atau paviliun samping. Kalau tidak dipanggil, staf biasanya tidak mengganggu."
"Beliau sering membuat ukiran giok?"
Bi Sari menatapnya lebih lama.
"Kamu lihat?"
"Pernah. Dari jauh."
"Kalau begitu lihat dari jauh saja."
Nada itu bukan larangan keras. Lebih mirip perlindungan.
Keira menimbang sebentar, lalu memutuskan mendorong sedikit.
"Bi, kalau ada seseorang memberi hadiah tanpa nama kepada staf, tapi hadiah itu terlalu mahal untuk dianggap biasa, menurut Bi harus bagaimana?"
Wajah Bi Sari berubah halus.
Tidak kaget sepenuhnya. Lebih seperti orang yang akhirnya mendengar sesuatu yang sudah ia duga akan datang.
"Hadiah apa?"
"Sesuatu dari giok."
Bi Sari memejamkan mata sebentar.
Jawaban itu lebih keras daripada kata apa pun.
"Untuk saya," lanjut Keira, "atau mungkin untuk keluarga saya."
"Suster Keira."
Panggilan itu terdengar berat.
Keira menunggu.
Bi Sari berdiri, berjalan ke pintu, memastikan lorong kosong, lalu kembali. Gerakannya tenang, tetapi Keira melihat buku jarinya menekan tepi meja.
"Ko Kevin..." Bi Sari berhenti lama. "Dia orang baik. Terlalu baik untuk rumah ini."
Kalimat itu membuat ruangan kecil terasa lebih sempit.
"Jadi benar dari beliau?"
"Saya nggak bisa bilang."
"Bi."
"Saya nggak bisa bilang," ulang Bi Sari, kali ini lebih tegas. "Yang penting, dia nggak bermaksud buruk."
Keira menatap wajah perempuan itu. Ada sesuatu di mata Bi Sari yang jarang ia lihat ketika perempuan itu membicarakan keluarga Ciu. Bukan takut seperti saat menyebut sayap barat. Bukan hormat seperti saat menyebut Nyonya Besar.
Itu seperti iba yang dipaksa berdiri tegak.
"Kalau dia tidak bermaksud buruk, kenapa harus tanpa nama?"
Bi Sari tidak segera menjawab.
Dari luar ruang kecil, terdengar pelayan tertawa pelan, lalu suara itu menjauh. Kediaman Ciu tetap berjalan. Rahasia-rahasianya tetap bernapas di balik dinding.
"Karena di rumah ini," kata Bi Sari akhirnya, "niat baik sering disalahartikan kalau datang dari orang yang salah."
Keira teringat Darren di koridor gelap.
Orang yang salah tempat.
Sekarang Bi Sari berbicara tentang Kevin dengan kalimat serupa, tetapi rasa di baliknya berbeda.
"Saya tidak bisa menerima sesuatu yang menyangkut Kak Kiara tanpa tahu alasannya," kata Keira.
"Saya tahu."
"Kalau hadiah itu untuk menjebak saya?"
"Bukan."
Jawaban Bi Sari terlalu cepat.
Keira menangkapnya.
Bi Sari juga sadar ia bicara terlalu cepat. Ia menarik napas, lalu suaranya kembali datar.
"Saya hanya bilang, dia tidak bermaksud buruk. Lebih dari itu, tanya sendiri kalau kamu berani."
Keira keluar dari ruang kecil itu dengan lebih banyak jawaban, tetapi bukan jenis jawaban yang menenangkan.
Kevin Ciu hampir pasti pengirimnya.
Bi Sari tahu.
Dan ada alasan mengapa kebaikan Kevin harus bergerak seperti bayangan.
Menjelang senja, Keira kembali melewati taman belakang. Ia tidak berniat mencari Kevin. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri.
Bangku batu di bawah pergola kosong.
Alat pahat kecil tidak ada. Serbuk kayu juga sudah disapu bersih. Tidak ada sosok tenang dengan tangan beraroma kayu cendana.
Namun di atas bangku, ada secangkir teh.
Cangkir porselen putih dengan garis biru pucat.
Uapnya masih naik tipis ke udara senja.
Keira berhenti di jalur batu.
Teh itu masih panas.
Berarti beberapa saat lalu, seseorang duduk di sana.
Dan ketika Keira datang, orang itu memilih pergi.