Hanya karena sebuah kecelakaan, Sophia terjebak dengan Damian -- pria kaya, dingin, arogan, dan sangat posesif.
Damian memaksa Sophia menjadi tunangan palsunya demi kepentingan keluarga. Sebagai gantinya, utang besar Sophia akan dianggap lunas.
Awalnya Sophia pikir itu hanya sandiwara sementara.
Sampai Damian mulai ikut campur dalam hidupnya. Mengatur siapa yang boleh dekat dengannya. Dan perlahan memperlakukannya seperti miliknya sendiri.
“Kalau sudah tahu tidak bisa kabur… berhentilah melawan.”
Di saat Sophia mulai kehilangan kendali atas hidupnya, Arkan -- pria yang selama ini selalu ada untuknya, justru menyimpan rahasia yang menghancurkan semuanya.
Kini Sophia terjebak di antara pria yang terlalu ingin memilikinya… dan pria yang tak pernah benar-benar bisa ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tunangan Palsu - Chapter 6
****** Happy Reading guys! ******
Di sepanjang perjalanan, tak satu pun dari mereka membuka suara.
Sophia duduk di dekat jendela, sengaja menjaga jarak sejauh mungkin. Tubuhnya sedikit merapat ke sisi pintu mobil, seolah itu bisa memberinya rasa aman. Di sisi lain, Damian juga duduk diam. Lelaki itu sama sekali tidak terlihat berniat memulai percakapan.
Hening.
Dan anehnya, semakin lama terasa semakin menyesakkan.
Beberapa kali Sophia melirik pintu mobil. Jujur saja, sempat terlintas di pikirannya untuk kabur begitu saja saat ada kesempatan. Namun ia juga tidak sebodoh itu.
Rumah Damian dipenuhi pengawal.
Bukan satu atau dua orang.
Jumlah mereka cukup banyak hingga membuat Sophia curiga rumah itu sebenarnya bukan rumah, melainkan markas rahasia.
Mereka bisa membobol apartemennya dengan mudah. Apalagi hanya untuk menangkapnya lagi. Itu perkara yang mudah.
Sophia mengembuskan napas pelan sebelum diam-diam melirik Damian dari sudut matanya.
Lelaki itu sedang menatap lurus ke depan. Wajahnya tenang seperti biasa. Terlalu tenang, malah. Melihat wajah datar itu, Sophia tiba-tiba teringat kejadian kecelakaan beberapa Minggu yang lalu.
Kalau dipikir-pikir, dia memang aneh.
Orang biasa yang mengalami kecelakaan seperti itu mungkin akan trauma. Setidaknya syok. Mungkin tidak ingin bicara atau masih terlihat ketakutan.
Tapi dia?
Lelaki itu bahkan masih sempat mengumpat orang lain.
Orang seperti itu ... siapa yang tahan hidup bersamanya? Tanpa sadar Sophia membayangkan kalau menikah dengannya.
Beberapa detik kemudian ia buru-buru menggeleng kecil.
"Apa yang akan aku katakan pada orang tuamu?" tanya Sophia hati-hati, akhirnya memecah keheningan.
Damian akhirnya menoleh. Tatapannya datar, nyaris tanpa emosi.
"Kau tidak perlu mengatakan apa pun."
Sophia langsung mengernyit.
"Aku bukan orang bisu. Jelas aku harus bicara."
Tatapan Damian kembali lurus ke depan. Rahangnya nyaris tak bergerak saat menjawab.
"Kalau begitu bicara saja."
Sophia membuka mulut, lalu terdiam.
Beberapa detik berlalu.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa."
Damian bersandar santai sambil menutup mata sejenak, seolah percakapan itu terlalu melelahkan untuk diladeni.
"Kalau begitu tidak usah bicara."
"..."
Sophia menatap Damian tidak percaya, kemudian mengerucutkan bibirnya kesal. Baik! Bagus. Sangat bagus. Kalau lelaki itu memintanya diam, maka ia akan diam.
Lagipula ia sedang apa sekarang?
Bekerja secara gratis? Tidak. Bukan bekerja.
Dipaksa lebih tepat.
Ia dipaksa ikut terlibat dalam semua kekacauan ini. Jadi kenapa ia harus repot memikirkan semuanya? Damian hanya membutuhkan kehadirannya, bukan? Kalau begitu ia tinggal mengikuti kemauan lelaki itu.
Sophia menyilangkan tangan di depan dada. Kali ini ia benar-benar berniat diam.
Satu menit berlalu.
Dua menit.
Tiga menit.
Lalu ia menoleh lagi.
"...Ngomong-ngomong," ucapnya pelan. Tatapannya beralih pada Damian. "Apa ibumu galak?"
*****
"Nona Sophia tidak ada."
"Apa yang kau katakan?"
Suara Arkan berubah tajam seketika. Tubuhnya yang semula bersandar di sofa langsung menegak. Tatapannya mengeras, sementara tangan yang memegang ponsel perlahan mengepal tanpa sadar.
Di seberang sana, lelaki itu buru-buru menjelaskan.
"Aku sudah mengeceknya tadi. Tidak ada orang di dalam apartemen. Aku juga sudah bertanya pada beberapa orang, tapi tidak ada yang melihat keberadaannya. Sedangkan CCTV di lantai apartemenmu... mati."
Arkan mengernyit.
Rahangnya mengeras.
"Kau sudah mengecek CCTV yang lain?"
"Sudah. Mungkin aku kurang teliti. Nanti akan aku periksa lagi. Bisa saja ada bagian yang terlewat."
Setelah mengatakan itu, panggilan berakhir.
Ruangan mendadak terasa hening.
Arkan menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang. Pelipisnya terasa berdenyut hebat. Dengan gerakan kasar, ia memijat keningnya, mencoba meredakan rasa pusing yang mendadak datang.
Brak.
Handphone itu ia lempar ke atas sofa dengan kesal.
Biasanya Sophia tidak seperti ini.
Gadis itu memang menyebalkan, keras kepala, dan terlalu banyak bicara. Namun ada satu hal yang selalu konsisten darinya, ia cepat membalas pesan.
Sangat cepat.
Bahkan terkadang terlalu cepat.
Namun sekarang? Empat jam. Sudah empat jam dan tidak ada satu balasan pun. Arkan sudah mencoba menghubunginya berkali-kali. Panggilan selalu gagal. Ponselnya mati. Saat ia melacak lokasi terakhir Sophia, posisi ponselnya masih berada di apartemen.
Namun pintu apartemen itu terbuka.
Hal kecil itu justru membuat dadanya terasa semakin tidak nyaman.
Arkan menundukkan kepala sambil mengusap wajahnya kasar.
Apa Sophia diculik? Pikiran itu muncul begitu saja. Namun beberapa detik kemudian ia langsung mengerutkan kening. Siapa yang akan menculik anak yatim seperti Sophia?
Dia tidak punya harta.
Tidak punya keluarga berpengaruh.
Tidak punya apa pun yang bisa dijadikan alasan.
Lalu ... Arkan mendadak terdiam.
Tubuhnya menegang.
Tatapannya membeku.
Ia teringat sesuatu.
Perjanjian Damian dan Sophia. Ingatan itu muncul begitu cepat hingga membuat wajah Arkan berubah suram.
Damian?
Apa lelaki itu yang membawa Sophia? Arkan mengusap rambutnya kasar sambil berdecak kesal.
Mengingat sifat Sophia yang keras kepala, gadis itu jelas bukan tipe orang yang akan mengikuti seseorang secara sukarela. Kalau benar Damian yang membawanya...
Maka kemungkinan besar mereka menggunakan cara paksa.
Arkan mengembuskan napas berat.
Sepertinya Damian benar-benar serius dengan ucapan gilanya waktu itu.
Dan entah kenapa, bagian yang paling sulit diterimanya justru hal lain.
Bagaimana mungkin Sophia menarik perhatian lelaki bajingan seperti Damian?
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Suara lembut itu membuat Arkan tersadar. Ia mengangkat kepalanya.
Seorang wanita berdiri di sana sambil membawa secangkir teh hangat. Dengan langkah pelan, ia menghampiri meja lalu meletakkan cangkir itu dengan hati-hati.
Aroma teh perlahan memenuhi ruangan.
Wanita itu lalu menunduk, berniat mengambil tas Arkan yang tergeletak di samping sofa. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh benda itu, Arkan menahan pergelangan tangannya.
Gerakannya membuat wanita itu terdiam sesaat.
Namun anehnya, ia tidak marah. Dia hanya tersenyum kecil, seolah sudah memahami sesuatu.
"Kalau kau memiliki seseorang yang kau sukai..." ucapnya pelan sambil menatap Arkan, "...kau bisa mengatakannya padaku."
Tatapannya menurun perlahan.
"Aku tidak akan mempermasalahkannya. Lagi pula..."
Kalimatnya menggantung. Namun Arkan memotong cepat.
"Apa yang kau katakan?" Nada suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. "Aku tidak memiliki siapa pun di sisiku."
Tatapannya menghindar.
"Jangan terlalu banyak berpikir."
Setelah mengatakannya, Arkan segera berdiri. Ia mengambil tasnya dengan gerakan tergesa, seolah ingin mengakhiri percakapan itu secepat mungkin.
Tanpa menoleh lagi, ia langsung berjalan menuju kamar.
Pintu tertutup.
Meninggalkan keheningan yang terasa semakin sesak.
Wanita itu masih berdiri di tempat yang sama.
Matanya perlahan menatap ke arah pintu kamar yang telah tertutup rapat, kemudian tangannya bergerak pelan, mengusap perutnya yang masih rata. Ada senyum kecil di wajahnya. Namun senyum itu terasa pahit.
*****
Siapa yang mengatakan orang kaya itu pelit? Kalau ada yang mengatakannya di depan Sophia sekarang, ia mungkin akan menelan ucapan itu mentah-mentah.
Sejak datang ke rumah ini, pikirannya sudah berkali-kali dibuat kacau.
Sophia duduk di ruang tamu dengan punggung tegak dan tangan yang bertumpu sopan di atas lutut, berusaha menjaga citranya agar tetap terlihat tenang. Meski begitu, sorot matanya terus bergerak ke sana kemari, memperhatikan setiap sudut rumah yang terasa jauh berbeda dari tempat yang biasa ia tinggali.
Rumah ini terlalu besar.
Terlalu mewah.
Dan terlalu membuatnya sadar bahwa dunia orang kaya memang benar-benar berbeda.
Di hadapannya, Nyonya Sarah terlihat begitu antusias mengajaknya mengobrol. Wanita paruh baya itu tampak hangat dan mudah akrab. Sejak tadi ia terus bercerita sambil memperlihatkan koleksi barang-barangnya satu per satu, mulai dari syal, perhiasan, jam tangan, hingga tas-tas bermerek yang harganya cukup membuat Sophia merasa dunia sedang mempermainkannya.
Awalnya Sophia hanya tersenyum dan mengangguk sopan.
Namun semakin lama, senyumnya mulai terasa kaku.
Sebab angka-angka yang disebutkan Nyonya Sarah sudah jauh melewati batas yang bisa dicerna otaknya.
Tangannya bergerak pelan mengusap tas yang sekarang berada di pangkuannya. Gerakannya begitu hati-hati, seolah benda itu terbuat dari kaca dan bisa hancur kapan saja.
Matanya berbinar.
Bagaimana tidak?
Tas yang kini berada di tangannya itu bernilai ratusan juta.
Ratusan juta.
Bahkan setelah menghitungnya dalam hati beberapa kali, Sophia masih merasa angka itu tidak masuk akal.
Jika ia menjual tas ini, hutangnya kepada Damian mungkin bisa langsung lunas. Tidak, mungkin masih ada sisa uang yang bisa ia gunakan untuk menambah tabungan ayamnya.
Dan yang lebih mengejutkan lagi, semua itu bukan sekadar khayalan.
Nyonya Sarah benar-benar memberikannya begitu saja.
Tanpa syarat.
Tanpa ragu.
Seolah benda semahal itu hanyalah barang biasa.
Dengan berat hati Sophia mengangkat tas itu menggunakan kedua tangannya, lalu menyodorkannya kembali.
"Apa Nyonya yakin?" tanyanya pelan sambil menatap tas itu penuh penyesalan. "Aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak terbiasa memakai barang mahal seperti ini."
Jujur saja, mengembalikannya terasa menyakitkan.
Hatinya bahkan seperti ikut tertarik bersama tas itu.
Namun Nyonya Sarah justru langsung menggenggam tangan Sophia dengan hangat.
"Kenapa tidak?" tanyanya lembut. "Aku masih punya banyak yang lain. Kalau tidak suka yang ini, kau bisa memilih yang lain."
Sophia tersenyum kaku.
Memilih lagi?
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di telinganya, kalimat itu terasa seperti petir di siang bolong.
Memangnya ini rak diskon minimarket? Pilih lagi katanya. Nyonya Sarah bahkan menambahkan dengan nada santai bahwa benda itu bukan barang langka. Menurutnya, tas seperti itu cukup cocok digunakan Sophia untuk pergi bekerja.
Sophia langsung merasa dadanya tertusuk.
Kasir mana yang pergi bekerja membawa tas semahal itu? Kalaupun ia nekat membawanya, orang-orang pasti akan mengira tas itu barang palsu. Walaupun begitu, barang palsu pun tetap ada harganya.
Dan Sophia sendiri tidak pernah tertarik membeli barang seperti itu. Selain karena terlalu mahal, menurutnya fungsi jauh lebih penting daripada harga.
Tas ya tas.
Yang penting bisa dipakai membawa barang.
Selesai.
"Aku hanya seorang kasir," jawab Sophia sambil menundukkan kepala kecil. "Kurasa... aku tidak pantas memakai barang seperti ini."
Awalnya Sophia mengira kejujurannya akan membuat Nyonya Sarah menjaga jarak. Bagaimanapun juga, perbedaan status mereka terlalu jauh.
Namun siapa sangka, ekspresi wanita itu justru berubah.
Tatapannya dipenuhi rasa prihatin.
"Apa Damian tidak memanjakanmu?" tanyanya lembut. "Kenapa kau bekerja sebagai kasir? Kau bisa masuk ke perusahaan kami."
Lalu sesaat kemudian, ia kembali bertanya, "Pendidikanmu apa?"
"SMA."
Sophia mengusap ujung matanya pelan dengan ekspresi sendu.
"Aku tidak cukup pintar untuk mendapat beasiswa. Jadi aku tidak bisa kuliah karena tidak punya uang."
Ucapan itu membuat Nyonya Sarah benar-benar terdiam. Matanya membesar menatap Sophia, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sangat menyedihkan.
Beberapa detik kemudian, Sophia mendadak ditarik ke dalam pelukan hangat.
"Sayangku..." suara wanita itu terdengar begitu sedih. "Bagaimana mungkin kau mendapatkan perlakuan seperti itu?"
Sophia membeku.
Tangannya terangkat sedikit, bingung harus membalas pelukan itu atau tidak.
Jujur saja, sekarang ia juga bingung harus mengatakan apa.
Pelan-pelan ia mengangkat kepala dan melirik Damian.
Lelaki itu duduk bersama ayahnya di sisi lain ruangan. Aneh sekali melihat mereka berdua. Sejak tadi tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang saling menoleh.
Keduanya diam.
Suasananya seperti perang dingin tanpa suara.
Sementara Sophia yang tadi berjanji akan diam malah sudah bicara sepanjang ini.
Ia menatap Damian tajam.
Lelaki sialan.
Apa dia tidak punya niat sedikit pun menyelamatkannya dari situasi ini?
Bagaimana bisa dia membiarkan ibunya larut dalam kebohongan sebesar ini?
Nyonya Sarah melepaskan pelukannya lalu menoleh pada Damian dengan tatapan tidak setuju.
"Kenapa kau tidak membantu Sophia kuliah?"
Damian mengangkat pandangannya perlahan. Wajahnya tampak memasang raut tak peduli.
"Tanya saja padanya. Apa dia mau kuliah."
Nyonya Sarah kembali menoleh cepat.
"Sophia, kau mau kuliah?"
Jelas mau! Sangat mau. Tapi bukan seperti ini caranya.
Sophia tersenyum kecil.
"Nyonya tidak perlu khawatir. Kalau tabunganku sudah cukup, aku akan kuliah sendiri. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun."
Namun Nyonya Sarah langsung menggeleng.
"Merepotkan? Kau tidak merepotkan."
Tatapannya perlahan melembut.
"Ini pertama kalinya Damian membawa seorang wanita pulang."
Sophia berkedip.
"Biasanya dia hanya membawa asisten laki-lakinya. Bahkan orangnya sering berbeda-beda. Itu membuatku khawatir"
Sophia nyaris tersedak.
Entah kenapa, kalimat itu terdengar berbahaya.
"Aku benar-benar tidak bisa menerima kebaikan ini," ucap Sophia cepat. "Aku akan merasa sangat terbebani."
Wajah Nyonya Sarah perlahan berubah sedih.
"Aku hanya punya satu anak, dan itu Damian."
Tatapannya menatap Sophia lekat.
"Apa kau merasa kami kurang baik... sampai kau tidak mau menjadi menantu kami?"
Sophia panik.
Sangat panik.
Sejujurnya, demi tabungan ayamnya, ia benar-benar menyukai Nyonya Sarah.
Wanita ini terlalu baik.
Terlalu hangat.
Terlalu membuatnya nyaman.
Justru karena itu Sophia takut.
Takut jika terus seperti ini, ia benar-benar akan tergoda mengatakan iya. Namun sedetik kemudian ia menoleh ke arah Damian.
Ekspresinya berubah datar. Tidak! Lebih baik melajang seumur hidup daripada hidup bersama lelaki menyebalkan itu.
"Kenapa diam?" tanya Nyonya Sarah pelan. "Apa Damian tidak pernah memperhatikanmu... sampai kau tidak mau aku menjadi ibumu?"
B e r s a m b u n g .....
Jangan lupa tinggalkan jejak, yah (^^)