Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Mi Instan Menjadi Saksi Bisu Penderitaan
Malam merayap semakin pekat, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke dalam sumsum tulang. Setelah kegagalan rencana pelarian yang tragis di gerbang terminal sore tadi, Alessa kembali dilemparkan ke dalam rumah terkutuk itu seperti seonggok barang rongsokan tak berharga. Rian membanting tubuh adiknya ke atas lantai ruang tamu, mencaci-maki sepuasnya hingga tenggorokannya kering, lalu mengunci pintu depan rapat-rapat dari luar. Monster itu pergi lagi bersama dua preman bertato untuk merundingkan detail "penjualan" Alessa sebagai jaminan utang judi yang tenggat waktunya tinggal menghitung jam.
Kini, Alessa terduduk lemas di lantai dapur yang berdebu. Sinar lampu jalan yang temaram menembus kaca jendela yang retak, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang meliuk menyeramkan di dinding. Sekujur tubuh Alessa mati rasa. Luka sabetan ikat pinggang semalam yang sempat mengering kini kembali robek dan mengeluarkan darah akibat seretan kasar Rian di aspal terminal. Kemeja biru pudar milik mendiang ayahnya tampak kotor oleh noda tanah hitam dan bercak darah yang merembes dari punggungnya.
Rasa perih di fisiknya luar biasa menyiksa, namun kekosongan di dalam perutnya jauh lebih mendesak. Sejak pagi, Alessa belum menelan makanan apa pun selain beberapa sendok bubur ayam pemberian Maya yang sudah dimuntahkannya kembali akibat syok di terminal tadi. Lambungnya terasa melilit, memompa asam yang membuat dadanya sesak dan kepalanya berputar hebat karena vertigo.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang tersisa di ujung jemarinya, Alessa merangkak perlahan menuju lemari gantung dapur yang sudah lapuk digerogoti rayap. Dia membuka pintunya dengan gerakan gemetar. Kosong. Hanya ada beberapa butir kotoran tikus dan botol kecap manis yang isinya sudah mengering hitam. Alessa beralih memeriksa laci bawah, meraba-raba di dalam kegelapan hingga jemarinya menyentuh selembar bungkus plastik yang berkerisik.
Jantungnya berdesir kecil. Dia menarik benda itu ke luar. Cahaya bulan mengekspos benda di tangannya: satu bungkus mi instan rasa kaldu ayam yang sudah agak remuk di bagian sudutnya. Di bawah logo merek mi instan tersebut, tertera tanggal kedaluwarsa yang menunjukkan bahwa makanan ini seharusnya sudah dibuang dua minggu yang lalu.
Alessa menatap bungkus mi instan itu dengan pandangan yang kosong. Air matanya, yang sempat mengering karena rasa takut, kembali menetes perlahan, meluncur di atas pipinya yang lebam dan jatuh tepat di atas logo plastik mi instan tersebut. Kesedihan yang teramat mendalam kembali mencengkeram jiwanya tanpa ampun. Dia mengingat bagaimana dulu, ketika ayah dan ibunya masih hidup, dapur ini adalah tempat yang paling sibuk dan penuh tawa. Ibunya yang berdarah Italia sering kali memasak pasta segar dari tepung terigu dengan saus tomat yang harum berlimpah.
"Mangia, Alessa, mangia! (Makan, Alessa, makan!)" Begitulah suara lembut ibunya selalu menggema di ruangan ini, menyuruh Alessa menghabiskan makanannya agar tumbuh menjadi gadis yang kuat dan cantik. Ayahnya kemudian akan duduk di meja makan sambil memotong buah, sementara Rian—saat masih menjadi kakak yang normal—akan berebut potongan terbesar dengannya sambil tertawa renyah.
Kini, tidak ada lagi pasta buatan ibu. Tidak ada lagi tawa ayah. Tidak ada lagi kakak laki-laki yang melindunginya. Sisa kehangatan keluarga itu telah menguap ke langit, meninggalkan Alessa sebatang kara di dapur yang dingin, menangisi sebungkus mi instan kedaluwarsa yang menjadi satu-satunya penyambung nyawanya malam ini. Rasa kehilangan yang masif dan amarah kepada takdir yang tidak adil bercampur aduk, membuat Alessa terisak pelan, memeluk bungkus mi instan itu erat-erat ke dadanya yang berdenyut nyeri.
"Kenapa kalian tinggalin aku..." bisik Alessa dengan suara parau yang nyaris habis, tenggelam dalam lautan emosi yang membakar dadanya. "Aku lapar, Bu... Alessa lapar banget..."
Namun, jeritan batinnya tidak membuahkan mukjizat. Perutnya kembali berbunyi dengan sangat nyaring, memutus untaian drama melankolis di dalam pikirannya. Alessa menghentikan isak tangisnya secara mendadak. Dia mengendus udara, lalu menatap bungkus mi instan di pelukannya dengan mata yang berkedip beberapa kali.
Mekanisme pertahanan otak Alessa yang penuh sarkasme kembali mengambil alih kemudi kesadarannya untuk menghalau depresi total. Dia menghapus air matanya dengan punggung tangan yang gemetar, lalu menegakkan duduknya bersandar pada kaki meja dapur.
"Gila ya," gumam Alessa, suaranya terdengar sengau dan datar. "Gue lagi berada di puncak fase penderitaan hidup—babak belur, mau dijual kakak sendiri ke muncikari, disekap di dapur—dan sekarang menu makan malam mewah gue adalah mi instan rasa kaldu ayam yang sudah lewat tanggal kedaluwarsa. Kurang estetik apa lagi coba penderitaan gue malam ini?"
Dia memeriksa segel plastik bungkus mi tersebut dengan teliti menggunakan cahaya bulan. "Dua minggu lewat dari tanggal expired... Ah, elah, aman lah ini. Anggap saja ini mi instan proses fermentasi ala kuliner Prancis kuno. Lagipula, bakteri di dalam bumbu mi ini pasti bakal mikir dua kali buat menyerang lambung gue kalau mereka lihat kondisi fisik gue yang sudah kayak zombi begini. Mereka pasti tahu diri dan milih buat mengalah."
Dengan gerakan pelan yang memicu rasa perih di punggungnya, Alessa menyeret tubuhnya menuju kompor gas satu tungku yang berkarat di atas meja dapur. Dia mengambil sebuah panci aluminium kecil yang sudah penyok di bagian bawahnya. Beruntung, saat dia memutar knop kompor, percikan api biru kecil masih mau menyala, meskipun disertai suara mendesis yang agak tersendat-sendat dari tabung gas melon di bawahnya.
Sambil menunggu air di dalam panci mendidih, Alessa duduk bersandarkan lantai dapur, mengamati gelembung-gelembung air yang mulai naik satu per satu. Uap panas yang mulai mengepul dari panci memberikan sedikit rasa hangat pada wajahnya yang pucat dan kaku.
Dia membuka bungkus mi instan tersebut, mengeluarkan balok mi yang sudah patah menjadi beberapa bagian, lalu memasukkannya ke dalam air yang bergolak. Detik berikutnya, aroma gurih buatan dari bumbu bubuk MSG, minyak sayur, dan daun bawang kering mulai menguar di udara dapur yang pengap. Aroma itu begitu pekat, seolah menjadi saksi bisu dari kesendirian dan penderitaan Alessa yang paling intim malam itu. Sebuah makanan murah meriah yang biasanya menjadi lambang kenikmatan instan bagi orang banyak, kini menjadi simbol dari batas akhir pertahanan hidup seorang gadis yatim piatu.
"Wanginya..." Alessa memejamkan mata, menghirup aroma tersebut dalam-dalam. "Kalau Ko Alung tahu gue makan mi instan kedaluwarsa di dapur gelap begini, dia pasti bakal menceramahi gue tentang bahaya kanker lambung selama tiga jam nonstop tanpa titik koma."
Setelah beberapa menit, mi tersebut melunak. Alessa tidak repot-repot memindahkannya ke dalam mangkuk karena semua mangkuk di rumah ini sudah pecah dilempar Rian beberapa bulan lalu. Dia mematikan kompor, lalu menggunakan selembar kain lap untuk mengangkat panci panas itu dan meletakkannya langsung di atas lantai ubin di depannya.
Menggunakan sepasang sumpit bambu yang sudah menghitam di bagian ujungnya, Alessa mulai meniup mi panas tersebut dan memasukkannya ke dalam mulut dengan perlahan. Rasa asin, gurih, dan hangat dari kuah mi instan itu seketika membasahi lidahnya, menjalar turun ke tenggorokan dan mengisi lambungnya yang kosong. Namun, setiap kali dia mengunyah, sudut bibirnya yang pecah kembali berdenyut perih karena terkena zat garam dari bumbu mi. Alessa mengaduh pelan, matanya berair karena kombinasi antara rasa panas, rasa perih di bibir, dan rasa sakit di punggungnya yang ketarik saat dia membungkuk di depan panci.
Pluk.
Satu tetes air mata Alessa kembali jatuh, kali ini tepat mendarat ke dalam panci, bercampur dengan kuah kaldu ayam yang sedang dia santap. Alessa berhenti mengunyah. Dia menatap pantulan wajahnya yang berantakan di permukaan kuah mi yang berminyak.
"Nah, kan. Sekarang kuah mi gue resmi bertambah asin karena dapet ekstra garam alami dari air mata keputusasaan," bisik Alessa dengan tawa getir yang tertahan di tenggorokannya. "Hebat banget kamu, Alessa. Bahkan untuk makan mi instan seharga tiga ribu perak pun, lu harus membayarnya dengan harga air mata dan darah."
Kemarahan yang dingin kembali merayap di sela-sela hatinya. Mengapa dia harus hidup seperti ini? Di luar sana, di kota yang sama, ada jutaan orang yang sedang makan malam mewah di restoran berbintang, tertawa tanpa beban, sementara dia di sini harus memperebutkan hak hidupnya dengan sebungkus mi kadaluwarsa di bawah ancaman perbudakan oleh kakak kandungnya sendiri. Ketidakadilan ini membakar dadanya dengan rasa amarah yang begitu pekat, memberikan sebuah kepastian baru di dalam pikirannya bahwa waktu yang dia miliki di rumah ini benar-benar sudah habis. Dia tidak boleh membiarkan Rian membawanya ke pelabuhan besok malam. Dia harus keluar dari rumah ini malam ini juga, tidak peduli meskipun dia harus merangkak di jalanan raya.
Setelah menghabiskan seluruh sisa mi dan mereguk kuah kaldu yang bercampur air matanya hingga tandas, Alessa meletakkan panci kosong itu dengan perlahan. Energi dari karbohidrat instan itu mulai menyebar ke dalam tubuhnya, memberikan sedikit kekuatan kosmik pada otot-ototnya yang tadinya lemas.
Dia berdiri secara perlahan, menahan erangan sakit saat punggungnya menegak. Alessa berjalan menuju jendela dapur, menatap ke luar arah gang yang gelap gulita. Angin malam berembus kencang, menggoyang dedaunan pohon mangga di halaman tetangga, seolah-olah sedang memberikan kode bahwa dunia luar sedang menunggunya dengan segala ketidakpastian yang kejam.
"Mi instan," kata Alessa sambil menoleh sekilas ke arah panci kosong di atas lantai dapur. "Lu sudah menjalankan tugas lu dengan sangat baik sebagai saksi bisu penderitaan gue malam ini. Sekarang, giliran gue yang harus menjalankan tugas gue untuk tetap hidup."
Dengan tekad bulat yang lahir dari rasa lapar yang terpuaskan secara darurat, Alessa melangkah kembali ke kamarnya. Dia tidak akan menunggu sampai esok malam. Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi barang dagangan judi Rian. Malam ini, di bawah perlindungan kegelapan total dan berbekal sisa energi mi instan kedaluwarsa, Alessa bersiap untuk mengambil langkah paling nekat dalam hidupnya: mendobrak jendela belakang dan berlari sekencang mungkin menuju takdir baru, tanpa pernah menoleh ke belakang lagi.