Bagi Adista, barang antik bukan sekadar benda mati; mereka memiliki jiwa, cerita, dan keindahan tersendiri. Hobinya mengoleksi barang-barang unik dan kuno selalu berhasil membawa kepuasan tersendiri, hingga suatu malam di sebuah ruang pelelangan rahasia, matanya terpaku pada sebuah mahakarya yang unik.
Sebuah lukisan tua berbingkai emas kusam yang menggambarkan sosok perempuan dengan air mata darah.
Ada daya tarik magis yang tak kasat mata, seolah lukisan itu sengaja memanggil namanya. Tergiur oleh keunikan dan aura mistisnya, Adista berhasil memenangkan lelang tersebut tanpa tahu harga yang harus ia bayar bukan sekadar uang.
Sejak lukisan itu tergantung di dinding rumahnya, atmosfer berubah mencekam. Langkah kaki misterius, bau anyir yang menguap di udara, hingga bisikan ghaib yang menyayat hati mulai meneror malam-malam Adista. Sosok perempuan dalam kanvas itu seolah hidup, dan tangisan darahnya perlahan mulai merembes keluar dari bingkai, menuntut balas yang mengerikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
Malam telah larut ketika mobil sedan tua milik Adista akhirnya berbelok memasuki halaman rumahnya yang sepi. Jarum jam di dasbor menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Kota sudah terlelap, menyisakan sunyi hanya suara jangkrik dan deru halus mesin mobil yang baru saja dimatikan. Namun, kontras dengan keheningan di sekitarnya, dada Adista justru bergemuruh hebat. Hatinya berbunga-bunga, dipenuhi oleh kepuasan yang luar biasa.
Malam ini, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Sebuah mahakarya yang luar biasa indah, ganjil, sekaligus menarik telah berhasil ia menangkan dalam sebuah acara pelelangan rahasia yang sengit.
Adista keluar dari mobil, mengabaikan angin malam yang menusuk kulit lengannya. Langkah kakinya bergegas menuju bagasi belakang. Dengan sangat hati-hati, seolah-olah sedang memindahkan bayi yang sedang tidur, ia mengangkat sebuah objek besar yang terbungkus kain penutup hitam tebal. Objek itu adalah sebuah lukisan.
Sebagai seorang wanita muda yang memiliki hobi unik—atau mungkin sebagian orang menganggapnya aneh—Adista selalu menyukai barang-barang antik. Kamar dan ruang tamunya dipenuhi oleh jam dinding kuno yang berdetak nyaring, cermin dengan bingkai kuningan yang mulai menghitam, hingga patung-patung kecil yang memiliki sejarah panjang. Baginya, barang antik memiliki jiwa. Mereka menyimpan rahasia dari masa lalu yang tidak bisa dijangkau oleh manusia modern.
Namun, dari semua koleksi yang pernah ia beli, tidak ada yang membuatnya sebergairah ini.
Sambil memeluk lukisan itu erat-erat, Adista melangkah masuk ke dalam rumahnya. Begitu pintu depan dikunci, ia tidak langsung menuju kamar tidur untuk beristirahat meskipun tubuhnya lelah setelah seharian beraktivitas. Rasa penasaran dan kekaguman yang membuncah mengalahkan rasa kantuknya. Ia membawa lukisan itu ke ruang tengah, tempat di mana sebuah dinding kosong sengaja ia siapkan sejak beberapa hari lalu, seolah-olah tempat itu memang ditakdirkan untuk mahakarya ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena antusias, Adista mulai membuka ikatan tali pengikat kain penutup tersebut. Lembar demi lembar kain hitam itu merosot ke lantai, menyingkap apa yang ada di baliknya.
Di bawah sinar temaram lampu ruang tengah, lukisan itu seolah memancarkan auranya sendiri.
Itu adalah lukisan seorang perempuan berambut panjang yang sangat cantik, namun memiliki raut wajah yang dipenuhi penderitaan mendalam. Bingkai kayunya yang berwarna emas kusam dipenuhi ukiran rumit bermotif tangkai tanaman mati. Namun, bagian paling magnetis sekaligus mengerikan dari lukisan itu adalah matanya. Sosok perempuan di dalam kanvas itu digambarkan sedang menangis, dan cairan yang mengalir dari pelupuk matanya bukanlah air mata bening, melainkan darah merah yang tampak begitu pekat dan nyata. Sang pelukis benar-benar jenius; detail guratan darah yang mengering di pipi wanita itu terlihat sangat bertekstur, seolah-olah darah itu baru saja keluar beberapa detik yang lalu.
"Indah sekali..." bisik Adista tanpa sadar. Jemarinya bergerak pelan, mengusap permukaan kanvas yang kasar dengan penuh kekaguman.
Saat menghadiri pelelangan tadi malam, perhatian Adista langsung tersedot sepenuhnya begitu lukisan ini dipajang di atas panggung. Ada sesuatu dari tatapan wanita di dalam lukisan itu yang seolah mencengkeram kesadarannya. Di tengah riuh rendahnya para kolektor kaya yang saling menawar dengan harga tinggi, Adista merasa lukisan itu sedang menatapnya langsung. Seolah-olah, sosok wanita menangis darah itu sedang memohon padanya untuk dibawa pulang. Adista bahkan rela merogoh hampir seluruh tabungannya demi memenangkan taruhan terakhir. Dan sekarang, benda itu resmi menjadi miliknya.
Setelah berhasil menggantung lukisan itu di tengah dinding, Adista mundur beberapa langkah. Ia melipat kedua tangan di dada, memandangi hasil buruannya dengan senyum kepuasan yang tak luntur. Di bawah pencahayaan yang minim, detail darah di wajah wanita itu justru terlihat semakin hidup. Warna merahnya tampak kontras dengan warna kulit si wanita yang pucat pasi, seperti mayat.
"Kamu aman di sini," ujar Adista pelan, berbicara pada benda mati tersebut, sebuah kebiasaan yang sering ia lakukan pada barang-barang koleksinya.
Namun, tepat setelah kata-kata itu keluar dari mulutnya, angin malam mendadak berembus kencang di luar rumah. Suara dahan pohon yang bergesekan dengan kaca jendela terdengar seperti cakar yang sedang menggaruk. Suhu di dalam ruangan itu mendadak turun drastis, membuat Adista merinding dan refleks memeluk tubuhnya sendiri.
Adista mengerutkan kening. Ia memeriksa ventilasi dan memastikan seluruh jendela telah tertutup rapat. Hanya perasaanmu saja, Adista, kamu terlalu lelah, batinnya menenangkan diri sendiri.
Ia memutuskan untuk segera membersihkan diri dan tidur. Namun, saat ia membalikkan badan untuk melangkah menuju kamar, sebuah suara halus menghentikan langkahnya.
...Tolong...
Suara itu sangat lirih, menyerupai desiran angin atau bisikan parau seorang wanita yang sedang kehabisan napas. Suara itu terdengar begitu dekat, seolah-olah ada seseorang yang berdiri tepat di belakang punggungnya dan berbisik langsung ke telinganya.
Jantung Adista mencelos. Seluruh bulu kuduk di lehernya berdiri tegak. Ia membeku di tempat selama beberapa detik, tidak berani bergerak. Suasana rumah yang tadinya terasa hangat dan nyaman, tiba-tiba berubah menjadi begitu asing dan mencekam. Keheningan malam kini terasa menekan dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Dengan keberanian yang dipaksakan, Adista memutar tubuhnya perlahan. Matanya langsung tertuju pada lukisan baru tersebut. Ruangan itu kosong, tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan lukisan wanita menangis darah itu.
Adista menatap lekat-lekat ke arah kanvas. Di bawah cahaya lampu yang samar, ia mendadak merasa ada yang aneh. Apakah itu hanya ilusi karena matanya yang mengantuk, ataukah memang posisi sudut bibir wanita di dalam lukisan itu sedikit berubah? Tadi, wanita itu tampak murni menderita. Namun sekarang, Adista merasa wanita itu seperti sedang menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin.
Lebih mengerikan lagi, Adista mencium aroma samar yang tiba-tiba menguar di udara ruangan tersebut. Itu bukan bau debu dari barang antik yang biasa ia cium. Ini adalah bau yang amis, pekat, dan tajam.
Bau darah segar.
Adista menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir pikiran-pikiran liar yang mulai meracuni otaknya. "Aku pasti sudah gila karena terlalu lelah. Lelang tadi benar-benar menguras energi," gumamnya dengan suara bergetar. Ia menolak mempercayai takhayul, meskipun ia mencintai barang-barang mistis.
Tanpa membuang waktu lagi, Adista bergegas berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam. Ia menyelimuti seluruh tubuhnya di atas ranjang, mencoba memejamkan mata dan meyakinkan diri bahwa besok segalanya akan kembali normal.
Namun Adista tidak pernah tahu, bahwa keputusan memboyong lukisan malam ini adalah awal dari bencana dan mimpi buruk yang menyeramkan.
soookorrr
apa ya g gmn gtu smpe teror siang hari pun ada lho
mau lwrtahanin lukisan mu apa mau buang dan bakar gtu
trus piye yo saiki