NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Ehem, Permisi Paket!

"Pegangan tangan gigi kamu!" semprot Sael. Ia merampas kembali sisa bungkus keripik singkong di tangan kembarannya, lalu melangkah lebar memasuki teras rumah.

"Halah, bohong banget!" Kael mengekor di belakang Sael . "Kalau gak ada apa-apa, kenapa pas turun tadi mukamu mirip kepiting rebus begitu? Ngaku nggak kamu! Kak Aeros ngomong apa aja?"

"Apaan sih, Kael! Cuma ngobrol biasa! Wajahku kan emang kaya gini"

"Masa? Cuman ngobrol biasa?" Goda Kael, langsung memotong jalur jalan Sael di depan pintu rumah dengan merentangkan kedua tangannya. "Nggak bisa, nggak bisa. Sebelum kamu cerita detailnya, pintu masuk ini disegel!"

Sael menghela napas pasrah, menatap kembarannya dengan tatapan lelah. "Kael, mending kamu minggir sebelum aku laporin ke Mama kalau kamu yang kemarin nggak sengaja mecahin vas bunga di ruang tamu."

Mendengar ancaman itu, seringai jahilnya berubah menjadi kedipan mata panik. "Eh, eh! Kok bawa-bawa vas bunga? Nggak asyik nih mainnya ancam-ancaman!"

Tepat saat Kael menyingkir, pintu rumah terbuka dari dalam. Mama muncul dengan 𝘢𝘱𝘳𝘰𝘯 yang masih terikat di pinggang, ia baru saja selesai menyiapkan makan malam.

"Eh, Sael udah pulang?" tanya Mama hangat, lalu beralih menatap Kael yang masih masam. "Kamu juga, Kael, kenapa berdiri di depan pintu kayak satpam begitu?"

"Ini lho, Ma. Anak kesayangan Mama baru diantar pulang sama pangeran sebelah rumah, tapi pelit banget nggak mau bagi cerita," adu Kael dramatis, langsung berlindung di balik punggung Mama.

Mama seketika menoleh ke arah Sael dengan mata berbinar penasaran. "Oh ya? Aeros yang antar? Wah, kebetulan banget. Tadi Mama masak ayam goreng mentega agak banyakan. Sael, ganti baju dulu sana, habis itu tolong antar semangkuk ke rumah Aeros, ya?"

Mendengar perintah Mama, Sael rasanya ingin tenggelam ke dalam lantai saat itu juga, sekarang harus mengantarkan makanan lagi?

Sementara di belakang Mama, Kael sudah membekap mulutnya sendiri, berusaha menahan tawa sekuat tenaga sambil menaik-turunkan alisnya ke arah Sael, seolah ingin berkata: 'Tuh kan, semesta aja mendukung kamu modus, Saell!'

Sael mendengus pasrah. Dengan langkah gontai, ia naik ke kamarnya untuk ganti baju. Di tangga, ia masih bisa mendengar tawa tertahan Kael yang terdengar sangat menyebalkan.

Sepuluh menit kemudian, Sael sudah kembali ke bawah dengan kaus oblong santai dan celana kulot. Di tangannya, ia membawa semangkuk ayam goreng mentega yang masih mengepulkan uap hangat, ditutup rapat dengan 𝘱𝘭𝘢𝘴𝘵𝘪𝘤 𝘸𝘳𝘢𝘱.

"Jangan lama-lama di rumah tetangga, Sael! Inget, belum sah!" teriak Kael dari ruang tengah, yang langsung dibalas Mama dengan tepukan pelan di lengannya.

Sael mengabaikan kembarannya. Ia berjalan melintasi halaman samping dan mengetuk pintu rumah Aeros. Tidak butuh waktu lama sampai pintu kayu itu terbuka, menampilkan Aeros yang kini sudah mengganti kemejanya dengan kaus rumahan santai. Kacamata bacanya kembali bertengger di hidungnya.

"Sael? Ada apa lagi?" tanya Aeros, senyumnya otomatis terkembang.

"Ini... dari Mama, Kak. Tadi Mama masak ayam goreng mentega kebanyakan, jadi disuruh antar ke sini," ujar Sael sambil menyodorkan mangkuk itu.

Aeros menerima mangkuk itu, lalu melihat penampilan Sael yang sudah rapi dan wangi. "Wah, makasih ya. Pas banget, aku baru mau masak nasi. Mau masuk dulu? Di luar banyak nyamuk."

Sael sempat ragu, akhirnya ia mengangguk. "Boleh deh, Kak. Bentar aja."

Rumah Aeros selalu terasa tenang dan rapi. Sael mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, sementara Aeros berjalan ke dapur untuk menaruh makanan. Tak lama kemudian, Aeros kembali dengan dua gelas teh manis hangat dan meletakkannya di meja.

Aeros melepas kacamatanya, lalu duduk di sofa yang sama. Jarak yang cukup dekat itu mendadak membuat suasana terasa berbeda.

"Gimana badan kamu? Beneran udah nggak lemes?" tanya Aeros, sembari menatap Sael dengan perhatian.

"Udah segar banget kok, Kak. Kan obat dari Kakak manjur," jawab Sael agak malu-malu, jemarinya memainkan ujung kausnya.

Aeros terkekeh pelan. "Bukan karena obatnya, mungkin karena kamu makannya lahap." Pemuda itu kemudian menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit sejenak sebelum kembali menatap Sael. "Sael... makasih ya."

"Hah? Buat ayamnya? Kan itu dari Mama—"

"Bukan," potong Aeros lembut. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Sael, "Makasih karena udah masakin kari kemarin. Dan makasih... aja buat semuanya."

Jantung Sael berdegup dua kali lebih cepat. Atmosfer di ruang tamu itu mendadak terasa begitu senyap. Manik mata Aeros yang jernih seolah mengunci pandangannya, membuat Sael tidak bisa berpaling.

"A-aku kan cuma balas budi, Kak," cicit Sael.

"Kalau balas budinya keterusan, boleh nggak?" tanya Aeros dengan nada santai, namun binar matanya sama sekali tidak menunjukkan main-main. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat semburat merah kembali muncul di pipi Sael.

Aeros mengulurkan tangannya, perlahan merapikan beberapa helai rambut Sael yang jatuh di samping pipinya, menyelipkannya ke belakang telinga gadis itu. Sentuhan jemari Aeros yang hangat di kulit telinganya membuat Sael meremang.

"Kak Aeros..." bisik Sael,

"Kenapa? Jantungnya maraton lagi?" goda Aeros pelan, mengingat ledekan Kael tadi siang. Tapi kali ini, tatapannya begitu dalam.

Sentuhan lembut jari Aeros di belakang telinganya masih menyisakan rasa hangat yang menjalar cepat hingga ke tengkuk.

"Kak Aeros ih! Malah ikut-ikutan Kael," cicit Sael akhirnya, sengaja memalingkan wajahnya ke arah gelas teh hangat di atas meja demi menyembunyikan senyum yang ia tahan.

Aeros tidak langsung menarik tangannya. Jemarinya sempat mengusap sekilas pucuk kepala Sael sebelum akhirnya kembali bertumpu di sandaran sofa. Ia tertawa kecil,

"Habisnya kembaran kamu kalau bikin istilah suka akurat," ujar Aeros santai, kini ikut meraih gelas teh manisnya. "Tapi serius, Sael. Aku senang kamu sudah sembuh. Kemarin lusa pas Kael telepon pagi-pagi bilang kamu sakit, aku rasanya mau mendobrak pagar pembatas rumah kita."

Sael menoleh kembali, menatap Aeros yang kini sedang menyesap tehnya. "Masa sih, Kak? Kak Aeros panik banget ya waktu itu?"

"Banget," Aeros menaruh kembali gelasnya, lalu menatap Sael lurus-lurus. Tatapannya kembali melembut. "Makanya pas kamu sudah sadar dan malah meluk tangan aku... jujur, aku yang hampir kena serangan jantung di tempat."

Sael merasa malu. Ingatan tentang dirinya yang mendekap lengan Aeros erat-erat ke dadanya saat setengah sadar kembali berputar di kepalanya.

"I-itu kan... refleks, Kak! Aku nggak sadar karena efek obat penurun panas," bela Sael terbata-bata, menangkupkan kedua telapak tangannya yang mendadak dingin ke pipinya yang panas.

"Iya, aku tahu," Aeros mengangguk-angguk dengan senyum yang makin lebar, sangat menikmati pemandangan di depannya. Ia mencondongkan sedikit badannya ke arah Sael, menurunkan suaranya menjadi setengah berbisik. "Tapi kalau nanti kamu sudah sadar sepenuhnya begini... masih boleh nggak?"

"B-boleh apa?" Sael mengerjapkan mata, mendadak lemot.

"Peluk tangan yang waktu itu," ucap Aeros langsung.

Sael sukses kehilangan kata-kata. Belum sempat ia memikirkan jawaban atau mencari cara untuk kabur dari sofa itu, mendadak terdengar suara dehaman yang sangat keras dan dibuat-buat dari arah jendela teras luar rumah Aeros.

"EHEM!!! PERMISI!!! PAKET!!! IBU PERI DICARIIN MAMA, DISURUH PULANG KARENA AYAM GORENGNYA MAU DIHABISIN SAMA KAEL JAHAT!!!"

Suara cempreng Kael yang menggelegar dari balik jendela kaca langsung memecah 𝘮𝘰𝘮𝘦𝘯𝘵 di antara mereka. Sael tersentak tegak, sementara Aeros langsung mengusap wajahnya sambil tertawa geli, menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah tetangganya.

Sael yang merasa terselamatkan sekaligus super gemas langsung berdiri dari sofa. "K-Kak, aku pulang dulu ya! Kael bener-bener minta diulek!"

"Iya, Sael. Silakan diamankan kembarannya," kata Aeros sambil berdiri, mengantar Sael sampai ke depan pintu "Makasih ya buat ayam gorengnya. Dan... pertanyaan aku yang tadi nggak usah dijawab sekarang. Disimpan saja dulu."

Sael hanya bisa mengangguk kilat, lalu secepat kilat membuka pintu dan langsung menerjang Kael yang sedang nyengir di luar pagar teras.

Malam itu, kompleks perumahan mereka kembali ramai dengan aksi kejar-kejaran si kembar, diiringi tatapan penuh arti dari Aeros yang menyaksikannya dari ambang pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!