Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedalaman Cawan yang Menggigit
*"Kau tahu, Marie, ada satu hal yang membedakan predator dari mangsa: predator tidak pernah merasa takut saat jatuh, karena mereka sudah belajar cara mematahkan leher tanah yang akan menghantam mereka."*
Suara itu bergema di kepalaku—suara Julius, namun ia tidak sedang berdiri di hadapanku. Itu adalah sisa gema dari ingatan atau mungkin proyeksi sihir yang ditinggalkannya di otakku.
Aku tidak jatuh selamanya. Tubuhku menghantam sesuatu yang empuk namun berbau busuk. Lantai di bawah lubang itu bukan tanah, melainkan tumpukan sisa-sisa kain dan botol-botol kaca yang pecah, sisa dari eksperimen alkimia gagal yang dibuang ke bawah tanah *Black Cup*. Aku mendesis kesakitan, rasa nyeri menghantam pinggang dan bahuku. Cahaya merah darurat dari lorong di atas menyinari tempat ini dengan remang-remang, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari seperti hantu.
Aku bangkit, mengabaikan rasa sakit yang seolah merobek ototku. *Fokus. Analisis lingkungan.*
Ruangan ini adalah lab alkimia kuno yang terbengkalai. Aroma *Nectar* di sini sangat kuat, jauh lebih pekat daripada di ballroom tadi, hingga membuat kepalaku berdenyut kencang. Jika ini adalah tempat di mana ayah Marie dulu bekerja, maka aku mungkin telah menemukan tempat terlarang yang paling diburu di Oakhaven.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari balik tumpukan botol kaca. Aku merayap di balik dinding beton yang lembap, mencabut belati perak yang tersembunyi di sarung tangan gaun malamku.
*"Kau tidak bisa bersembunyi dari bau darahmu sendiri, Marie,"* suara itu bukan suara pelayan tanpa mata tadi, melainkan suara seorang pria tua yang parau, penuh kebencian.
Seorang pria tua muncul dari kegelapan. Dia mengenakan jubah abu-abu compang-camping, kulit wajahnya mengerut seperti buah yang membusuk karena paparan *Nectar* yang terlalu lama. Dia memegang tongkat kayu yang ujungnya bercahaya redup dengan sihir korup.
*"Siapa kau?"* tanyaku, suaraku bergema di ruangan luas itu.
*"Aku adalah salah satu dari mereka yang dibuang oleh ayahmu,"* desisnya. *"Ayahmu, alchemist yang sombong itu, berpikir dia bisa menciptakan Nectar yang memurnikan jiwa. Tapi dia salah. Dia justru menciptakan kutukan. Dan kau, sebagai pewaris darah Vance, harus membayar harga atas dosa-dosanya."*
Aku menyipitkan mata. *Jadi ini bukan rencana Julius, melainkan sisa-sisa dendam lama?*
*"Kau salah paham,"* kataku, mencoba mengulur waktu untuk mencari celah serangan. *"Aku tidak peduli dengan dosa ayahku. Aku hanya ingin bertahan hidup. Jika kau ingin membalas dendam, kenapa kau tidak pergi ke lantai atas dan menghadapi Julius Vance sendiri?"*
Pria itu tertawa, suara yang terdengar seperti gesekan logam. *"Julius? Dia adalah pelanggan terbesar kami! Dia adalah orang yang membiayai kehancuran ini! Dia menginginkan Nectar yang murni, tapi dia terlalu pengecut untuk mengambilnya dari tangan seorang alkemis asli. Dia membutuhkanmu untuk memurnikan cairan itu, Marie. Kau hanyalah filter hidup bagi monsternya."*
Darahku mendidih. Jadi, itu tujuannya? Julius bukan hanya ingin membantuku balas dendam; dia memposisikanku sebagai "penyaring" sihir agar dia bisa mengonsumsi *Nectar* tanpa harus membusuk?
Pria itu melesat ke arahku dengan kecepatan yang tidak wajar. Dia mengayunkan tongkatnya, dan gelombang kejut sihir hitam menghantam udara di depanku. Aku menghindar dengan teknik *evasi* yang kulatih dari kehidupan lamaku—setengah gulingan, setengah lompatan. Aku menendang tumpukan botol kaca ke arahnya, membuat pandangannya terganggu sejenak.
Itu kesempatanku.
Aku menerjang ke depan, menghujamkan belati ke bahunya. Namun, belati itu tidak menembus kulitnya; ia memantul seolah-olah dia memiliki pelindung sihir yang tebal. Dia menamparku dengan punggung tangannya, melemparku hingga tubuhku menghantam dinding batu.
*Uhuk!* Aku memuntahkan darah segar ke lantai marmer yang kotor. *Tubuh ini terlalu lemah,* kutukku dalam hati. *Aku butuh sesuatu untuk menyeimbangkan energi sihir ini.*
Tiba-tiba, instingku bereaksi terhadap genangan cairan hitam yang merembes dari dinding di dekatku. Cairan itu adalah *Nectar* mentah. Tanpa berpikir panjang, aku meraih botol pecah di dekatku dan menyerap cairan itu melalui telapak tanganku. Rasa terbakar yang luar biasa menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Itu menyakitkan, seperti menuangkan timah panas ke dalam nadi, namun bersamaan dengan itu, kekuatan magis yang tak terkendali meledak dari dalam diriku.
Mataku terasa panas. Penglihatanku berubah menjadi monokrom, dan aku bisa melihat aliran sihir yang mengalir di sekitar pria itu. Sihir itu tidak stabil—dia menggunakan *Nectar* yang sudah kadaluwarsa, yang berarti ada titik lemah di pusat energinya tepat di jantungnya.
*"Apa yang kau lakukan?!"* pria itu berteriak ketakutan saat melihat aura biruku berpendar terang.
*"Membayar hutang darah ayahku,"* jawabku dengan suara yang terdengar dingin, bukan suaraku, melainkan suara seseorang yang telah terbiasa mencabut nyawa.
Aku melompat, tidak lagi seperti gadis bangsawan yang ketakutan, melainkan seperti predator. Aku menghindari serangan tongkatnya, memutar tubuhku di udara, dan menghunjamkan belati perakku tepat ke pusat energi di dadanya. Pria itu menjerit, sebuah suara yang melengking hingga membuat seluruh ruangan bergetar. Sihir korup yang dia simpan di dalam tubuhnya mulai keluar, menghisap sisa-sisa hidupnya sendiri hingga dia berubah menjadi debu hitam dalam hitungan detik.
Aku berdiri di tengah ruangan, terengah-engah, dikelilingi oleh abu pria itu. Kekuatan Nectar tadi mulai surut, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa. Namun, aku merasa berbeda. Sesuatu di dalam diriku telah terbuka—sebuah gerbang sihir yang selama ini terkunci rapat oleh ketakutan Marie yang lama.
Aku menatap tanganku. Cahaya biru perlahan menghilang, namun sisa-sisa energi itu masih berdenyut di bawah kulitku.
*"Bagus,"* sebuah tepukan tangan terdengar dari arah tangga yang menuju ke ballroom.
Aku menoleh dengan cepat. Julius berdiri di sana, dengan setelan jas hitamnya yang sempurna, menatapku dengan senyum yang tidak bisa diartikan. Dia tidak tampak terkejut melihat aku baru saja membunuh seseorang, atau mungkin dia sudah tahu apa yang akan terjadi sejak awal.
*"Aku selalu tahu kau memiliki bakat untuk alkimia,"* ucapnya sambil berjalan mendekat, setiap langkahnya menggemakan ancaman. *"Kau menyerap Nectar itu dengan tangan kosong? Marie, itu adalah sesuatu yang bahkan seorang Dark Mage kelas atas pun akan ragu untuk melakukannya."*
Aku menatapnya tajam, belati masih berada di tanganku yang berlumuran abu. *"Kau sengaja membuangku ke sini, bukan? Untuk melihat apakah aku akan mati atau apakah aku akan berubah menjadi monster yang kau inginkan."*
Julius berhenti tepat di depanku. Dia menatap belati di tanganku, lalu beralih ke mataku. *"Aku tidak membuangmu, Marie. Aku memberimu kesempatan untuk berevolusi. Kau adalah istriku, dan aku tidak butuh istri yang lemah untuk memimpin Syndicate Black Cup bersamaku."*
Dia meraih tanganku, lalu dengan perlahan, dia mengambil belati itu dari genggamanku. Dia tidak melepaskan tanganku, melainkan menekannya ke dadanya sendiri.
*"Di dunia ini, setiap inci kekuatan memiliki harga,"* bisiknya, wajahnya kini begitu dekat hingga aku bisa merasakan hembusan napasnya yang dingin. *"Kau sudah membunuh satu musuh. Tapi di pesta itu, di atas sana, ada seratus orang yang menginginkan kepalamu. Apakah kau akan terus membunuh untukku, atau kau akan menusukkan belati ini ke jantungku?"*
Aku terdiam, menatap obsidian di matanya yang tak pernah menunjukkan sedikit pun rasa takut. Jika aku menusuknya sekarang, aku mungkin akan bebas. Tapi aku akan terkubur hidup-hidup di kota ini oleh Syndicate yang akan memburuku sampai ke ujung dunia.
*"Aku belum selesai dengan musuh-musuhku, Julius,"* kataku dingin. *"Aku tidak akan membuang senjata yang masih bisa kugunakan."*
Julius tertawa—tawa yang kali ini terdengar tulus, meski masih terasa sangat mengerikan. *"Pilihan yang cerdas."*
Dia menarikku ke dalam pelukannya—sebuah pelukan yang terasa seperti jeratan kawat berduri. Di saat yang sama, aku merasakan sebuah energi gelap mulai merayap dari pelukannya ke tubuhku, mengunci kontrak darah itu lebih dalam ke tulang rusukku.
Namun, di balik kegelapan itu, aku menyadari sesuatu yang membuat darahku membeku. Saat dia memelukku, dia membisikkan sesuatu yang tidak pernah kuduga.
*"Aku tahu kau bukan dia,"* bisiknya lembut, nyaris tak terdengar, namun cukup jelas untuk membuat seluruh tubuhku menegang. *"Kau bukan Marie Vance. Kau tidak memiliki kesedihannya, dan kau tidak memiliki ketakutannya. Jadi katakan padaku... siapakah sebenarnya yang sedang aku peluk saat ini?"*
Dunia di sekitarku seolah berhenti berputar. Jantungku serasa berhenti. Apakah dia tahu dari awal? Apakah selama ini aku hanyalah mainan yang sedang dia amati untuk melihat seberapa jauh aku bisa bertindak?
Dia melepaskan pelukannya, menatapku dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. *"Jangan khawatir, sayang. Rahasiamu aman bersamaku... selama kau tetap berguna."*
Dia berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan aku dalam kebingungan yang menyesakkan. Aku menatap punggungnya, menyadari bahwa permainan ini baru saja berubah menjadi perang saraf yang jauh lebih mematikan.
Aku tidak hanya harus membalaskan dendam Marie; aku harus memastikan diriku sendiri tetap hidup di hadapan pria yang mengetahui jati diriku, namun memilih untuk membiarkanku bermain di panggungnya sendiri.
*Sial,* pikirku, saat aku mendengar suara alarm pesta dansa yang berbunyi nyaring di atas. *Aku benar-benar terjebak.*
Namun, sebelum aku bisa melangkah untuk mengejarnya, dinding di belakangku tiba-tiba retak. Bukan karena ledakan, tapi karena seseorang sedang mencoba masuk dari luar tembok gudang. Seseorang yang memiliki kekuatan sihir yang sangat murni—sihir putih yang seharusnya tidak ada di distrik hitam Oakhaven ini.
Dinding itu meledak, dan seorang pria berjubah putih bersih masuk, wajahnya tertutup topeng perak berbentuk burung hantu. Dia menatapku, bukan dengan kebencian, melainkan dengan tatapan yang sangat... prihatin.
*"Marie Nahzfreo,"* ucapnya lembut, suaranya sangat familiar—sebuah suara yang membangkitkan ingatan yang terkubur dalam-dalam di dunia asalku. *"Akhirnya aku menemukanmu."*
Aku terbelalak. Dia menyebut namaku. Tapi bukan Marie Vance. Dia menyebut namaku di kehidupan sebelumnya.