NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Ancaman di Balik Bayang-Bayang

Deru mesin jet pribadi Arkananta Group terdengar konstan di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, siap membawa Haena dan Kaelen Arkananta kembali bertolak menuju Kupang demi menuntaskan cetak biru megaproyek Smart Port. Langit Jakarta siang itu tampak cerah, seolah ikut merayakan kemenangan mutlak Haena atas kejatuhan Nyonya Rosalind di ruang sidang beberapa jam lalu.

Namun, ketenangan itu hancur berantakan di dalam kabin tunggu VIP bandara.

Pak Baskara melangkah masuk dengan napas terengah-engah. Wajah sekretaris senior yang biasanya selalu tenang dan rapi itu kini dipenuhi peluh dingin. Tangannya yang bergetar menyerahkan sebuah amplop hitam tanpa identitas pengirim kepada Haena.

"Nona Haena... Tuan Kaelen... ini gawat," ucap Pak Baskara, suaranya tercekat di tenggorokan.

"Amplop ini ditinggalkan secara misterius di atas kursi roda Ibu Aminah sesaat setelah kita meninggalkan gedung pengadilan. Saya baru sempat membukanya di dalam mobil."

Haena menerima amplop tersebut dengan gerakan yang sangat tenang. Setelan blazer formal desainer berwarna hitam pekat yang dikenakannya masih memancarkan aura dominan seorang penguasa baru Dirgantara Corp. Dari balik kacamata dengan bingkai transparan yang membingkai sepasang matanya yang jernih, Haena mengeluarkan isi amplop: sebuah foto satelit beresolusi tinggi dan secarik kertas dengan pesan ketikan pendek.

Foto itu menampilkan koordinat garis bujur dan lintang dari vila peristirahatan privat Ibu Aminah di pinggiran kota Jakarta. Di atas gambar atap bangunan vila, terdapat sebuah tanda silang merah besar yang digambar dengan kasar. Sementara itu, kertas ketikan di bawahnya berbunyi:

"Kemenangan di ruang sidang tidak bisa menyelamatkan nyawa ibumu dari hulu ledak jarak jauh milik organisasi sisa sekutu asing Tuan Agharna yang baru saja aktif."

Atmosfer di dalam kabin mewah itu seketika drop hingga ke titik beku. Aura pembunuh yang pekat dan dingin mendadak memancar dari tubuh Haena. Jari telunjuk tangan kirinya mulai mengetuk pelan tahi lalat kecil di bawah dagunya dengan ritme yang cepat dan konstan sebuah indikasi bahwa otak jeniusnya sedang melakukan komputasi taktis darurat untuk memetakan skala ancaman baru ini.

Kaelen Arkananta yang berdiri di samping Haena langsung merebut foto satelit tersebut. Sepasang mata elangnya berkilat penuh murka yang luar biasa masif. Dia meremas pinggiran kertas itu hingga hancur.

"Sisa jaringan asing Selat Ombai... Mereka tidak sekadar berniat menyabotase jalur laut kita, mereka memiliki akses terhadap sistem persenjataan taktis darat!"

Kaelen langsung berbalik menatap Gavin dan Clarissa yang berdiri siaga di dekat pintu masuk kabin.

"Gavin! Hubungi unit komando bayangan satu dan dua di Jakarta sekarang juga! Perintahkan mereka untuk memperketat perimeter vila Ibu Aminah menjadi radius tiga kilometer! Jangan biarkan ada kendaraan atau objek terbang tidak dikenal mendekati area tersebut!"

"Siap, Tuan Kaelen!" jawab Gavin tegas, langsung merogoh gawai taktisnya dan melangkah keluar ruangan dengan cepat.

"Clarissa, periksa tanda tangan digital dari foto satelit ini," perintah Haena, suaranya terdengar sangat jernih, dingin, dan stabil, menolak untuk dikendalikan oleh kepanikan emosional. Mental bajanya membuat setiap keputusan yang keluar dari bibirnya tetap terukur.

"Foto beresolusi tinggi seperti ini hanya bisa diambil oleh satelit komersial privat atau sistem radar militer yang diretas. Cari tahu gerbang enkripsi mana yang mereka gunakan untuk mengakses koordinat vila ibuku."

Clarissa langsung duduk di depan laptop khususnya, jemarinya bergerak dengan kecepatan ekstrem di atas papan ketik mekanis, membelah barisan kode biner yang rumit.

"Sedang melacak, Nona Haena. Sinyal metadata dari foto ini dilapisi oleh tujuh lapisan dinding api (firewall) proksi asing, tetapi jejak distorsi frekuensinya mengarah pada server bayangan yang berbasis di pangkalan logistik lepas pantai Laut Cina Selatan."

Sementara itu, di dalam sel tahanan darurat sementara Gedung Pengadilan Negeri yang belum sempat dipindahkan, Nyonya Rosalind duduk bersandar pada dinding beton yang dingin dengan kedua pergelangan tangan terikat borgol besi. Rambutnya yang semula disanggul rapi kini berantakan, dan gaun mahalnya tampak kusam terkena debu lantai sel.

Vanya duduk bersimpuh di sudut lain sel yang sama, terus menangis histeris sembari memeluk lututnya sendiri. Jaket denim longgarnya basah oleh air mata kekecewaan.

"Ini semua karena Ibu! Jika Ibu tidak memaksa untuk memalsukan dokumen kesehatan Ibu Aminah, kita tidak akan berakhir di tempat menjijikkan ini! Papa sudah membuang kita... kita tidak punya apa-apa lagi!"

"Diam kamu, Vanya!" bentak Nyonya Rosalind dengan sisa-sisa suaranya yang serak akibat histeria sidang tadi. Sepasang matanya yang merah menatap kosong ke arah langit-langit sel, sebelum akhirnya beralih menjadi sebuah senyuman kejam yang penuh kegilaan.

"Kita belum kalah... hahahaha! Jalang kecil berkacamata itu mengira dia sudah memenangkan segalanya di depan hakim. Dia tidak tahu bahwa Tuan Agharna telah mengaktifkan protokol pembersihan terakhir sebelum dia tertangkap oleh Kaelen!"

Nyonya Rosalind mencengkeram jeruji besi sel saat mendengar langkah kaki mendekat.

"Haena... kamu boleh mengambil saham Dirgantara Corp, tapi kamu akan menerima abu jenazah ibumu sebagai gantinya!"

Kembali ke kabin VIP bandara, Kaelen mendekati Haena yang masih menatap layar monitor komputer Clarissa. Jarak di antara keduanya begitu dekat hingga aroma maskulin Kaelen yang khas terasa menenangkan di tengah situasi genting ini. Kaelen meletakkan tangannya di atas meja, mengunci pandangan matanya pada Haena dengan tatapan yang sarat akan komitmen protektif yang mendalam.

"Aku bisa menunda penerbangan kita ke Kupang, Haena," ucap Kaelen, suara baritonnya yang berat terdengar sangat rendah dan intim.

"Kita bisa membawa Ibu Aminah masuk ke dalam bunker bawah tanah milik kediaman utama Arkananta yang dilengkapi dengan sistem pelindung rudal balistik tingkat tinggi."

Haena mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata elang Kaelen dari balik kacamata transparannya.

"Menunda penerbangan berarti menunjukkan kepada musuh bahwa ancaman mereka berhasil mengguncang kita, Kaelen. Otoritas bursa efek Jakarta sedang mengawasi setiap gerak-gerikku setelah sidang tadi. Jika direktur utama baru Dirgantara Corp mendadak bersembunyi di dalam bunker, saham kita yang baru mulai stabil akan kembali anjlok ke titik terendah."

Jari lentik Haena menunjuk ke arah salah satu anomali grafik frekuensi yang berhasil dibongkar oleh Clarissa di layar monitor.

"Lihat ini. Hulu ledak jarak jauh yang mereka sebutkan dalam pesan ini bukan rudal balistik militer konvensional yang diluncurkan dari silo darat. Itu adalah Loitering Munition pesawat nirawak (drone) bunuh diri taktis jarak pendek yang disembunyikan di dalam salah satu kontainer truk logistik di sekitar pinggiran kota Jakarta. Mereka membutuhkan pemancar sinyal darat (ground telemetry) lokal untuk mengunci laser pemandu ke arah vila Ibu Aminah."

Otak jenius Haena telah menyelesaikan kalkulasi matematis mutlaknya dalam waktu kurang dari lima menit.

"Artinya, sang eksekutor pembawa pemancar laser itu saat ini sedang bergerak mendekati perimeter vila dalam radius dua kilometer."

"Gavin!" Kaelen berteriak memanggil tangan kanannya yang baru saja kembali ke ruangan.

"Apakah tim perimeter sudah mendeteksi adanya pergerakan mencurigakan di sekitar vila?"

Gavin membungkuk hormat, wajahnya tegang.

"Lapor Tuan Kaelen, tim satu baru saja mengadang sebuah van hitam tanpa pelat nomor yang mencoba menerobos palang pintu masuk kompleks vila. Terjadi kontak senjata singkat. Pengemudi van tewas di tempat, namun sistem radar portabel kami mendeteksi ada satu objek drone taktis yang sudah terlanjur diluncurkan dari bagian belakang van tersebut sebelum pengemudinya dilumpuhkan!"

"Sial!" desis Kaelen, tangannya memukul meja marmer dengan keras.

"Clarissa, alihkan kendali satelit privat Arkananta untuk melakukan intercept frekuensi penjelajah drone tersebut," perintah Haena dengan ketenangan ekstrim yang luar biasa memukau, membuat Pak Baskara yang berdiri di sudut ruangan hanya bisa menahan napas takjub melihat mental baja sang nona muda.

"Kaelen, jam tangan berlianku masih memegang cip induksi pulsa elektromagnetik cadangan yang kita gunakan di Selat kemarin. Kita bisa membalikkan fungsi radar lokal vila untuk memicu ledakan prematur pada drone tersebut di udara sebelum menyentuh bangunan."

"Tapi Haena, melakukan *override* frekuensi drone bunuh diri dari jarak sejauh ini membutuhkan waktu sinkronisasi data yang sangat presisi. Jika meleset satu mikrodetik saja, drone itu akan mendeteksi gangguan dan mempercepat akselerasi jatuhnya!" Kaelen memperingatkan, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam untuk keselamatan ibu angkat gadis itu.

"Maka aku tidak akan meleset," jawab Haena datar, tatapannya begitu suci, dingin, dan tak tersentuh oleh keraguan.

Haena melepas jam tangan berlian di pergelangan tangan kirinya, lalu menghubungkannya langsung ke port data laptop Clarissa menggunakan kabel serat optik khusus. Jemari tangannya yang sangat stabil mulai mengetik rangkaian baris kode enkripsi baru untuk melakukan pembajakan massal terhadap sinyal pandu laser drone musuh dari jarak jauh.

Di layar monitor besar, sebuah titik merah kecil yang merepresentasikan drone bunuh diri milik sisa faksi Tuan Agharna tampak bergerak dengan kecepatan seratus lima puluh kilometer per jam, menukik turun menembus awan tipis pinggiran kota Jakarta, langsung menuju ke arah vila tempat Ibu Aminah sedang beristirahat di bawah perlindungan tim medis.

Jarak drone ke target 800 meter... 600 meter... 400 meter.

Jari telunjuk Haena mengetuk tahi lalat di bawah dagunya untuk terakhir kali seiring dengan selesainya baris kode komputasi taktis terakhirnya.

"Sistem pengunci frekuensi diaktifkan. Ledakkan sirkuitnya sekarang, Clarissa."

Clarissa menekan tombol eksekusi utama.

BZZZZZZT!

Melalui satelit privat Arkananta yang memantulkan sinyal pulsa elektromagnetik lokal dari antena pemancar vila, gelombang kejut frekuensi tinggi menghantam langsung ke arah hidung drone bunuh diri yang sedang menukik tajam tersebut. Sistem navigasi internal drone mengalami distorsi arus balik seketika, membuat motor penggeraknya terkunci dan memicu hulu ledak kimia di dalamnya secara prematur di ketinggian dua ratus meter di atas hutan karet kosong pinggiran kota.

BOOM!

Sebuah ledakan bola api besar membubung di langit pinggiran Jakarta, jauh dari atap vila Ibu Aminah yang tetap berdiri kokoh tanpa ada kerusakan sedikit pun. Sinyal merah di layar monitor Clarissa seketika lenyap, berganti dengan tulisan hijau TARGET NEUTRALIZED.

Pak Baskara langsung terduduk lemas di kursi dengan perasaan lega yang luar biasa masif, sementara Gavin mengepalkan tangannya tanda kemenangan taktis.

Kaelen Arkananta mengembuskan napas panjang, menatap Haena dengan senyuman misterius yang sarat akan rasa kagum yang tak terbatas. Pemuda itu maju satu langkah, meraih kembali jam tangan berlian Haena dan memasangkannya kembali ke pergelangan tangan kiri gadis itu dengan gerakan yang sangat lembut dan intim.

"Sekali lagi... kamu membuktikan bahwa tidak ada satu pun konspirasi di dunia ini yang bisa menandingi kecepatan otak jeniusmu, Putri Haena," bisik Kaelen dengan suara baritonnya yang rendah dan hangat, menatap lekat-lekat ke dalam mata jernih di balik kacamata transparan itu.

Haena merapikan lengan blazernya yang elegan, kembali menampilkan ekspresi dingin profesionalnya sebagai direktur utama Dirgantara Corp.

"Ancaman internal dan eksternal di Jakarta telah dibersihkan sepenuhnya sampai ke akar-akarnya, Kaelen. Sekarang, beri tahu pilot untuk segera lepas landas. Panggung pembangunan pelabuhan pintar telah menanti aliansi kita yang sesungguhnya."

Dengan langkah yang mantap dan memancarkan aura kekuasaan mutlak yang tak tergoyahkan, Haena berjalan menuju pintu keluar kabin VIP untuk naik ke atas jet pribadi, siap menyongsong fajar baru imperium bisnisnya di wilayah timur Nusantara.

(Cliffhanger)

"Dua jam kemudian, saat jet pribadi Arkananta Group berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki di atas Laut Jawa, seluruh layar kendali kokpit mendadak menampilkan pesan interupsi video terenkripsi dari nomor satelit rahasia milik Tuan Bramasta di Swiss. Layar itu memperlihatkan wajah Tuan Bramasta yang dipenuhi luka memar dan darah, dengan latar belakang sebuah ruangan interogasi baja gelap, sementara sebuah suara asing dengan aksen asing terdengar dingin dari balik kamera: "Haena Dirgantara... kamu berhasil menyelamatkan ibumu di Jakarta, tetapi ayah kandungmu sekarang berada di tangan sindikat utama kami di Jenewa. Batalkan merger proyek Kupang dalam waktu dua puluh empat jam, atau Papa-mu akan dikirimkan kembali kepadamu dalam potongan-potongan kecil."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!