Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?
Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.
Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.
Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.
Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.
Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.
Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.
Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Cara Modern
Napas Dimas tersengal, berbunyi grok-grok tertahan di dasar tenggorokan. Keringat sebesar biji jagung membanjiri dahi pucatnya. Tubuh mungil itu mengejang pelan di pelukan Sumarni.
Sumarni melompat dari kursi. Ia mendekap anak itu erat ke dadanya.
"Dimas!" Harjono setengah berdiri. Kopi tubruknya terguncang, tumpah menodai taplak meja putih berenda. Wajah keras pria itu menegang.
Sulastri terkesiap, buru-buru menutup mulut dengan punggung tangan. "Astaga, Mas! Anak ini pasti salah makan di paviliun kotor itu."
Istri pertama itu melangkah cepat mendekati Sumarni. Raut wajahnya dipenuhi kepanikan yang tertata rapi. "Mbok Darmi! Cepat lari ke ujung desa, panggil Mbah Suro! Suruh bawa parutan bawang merah dan minyak tanah. Dimas harus segera dikerok, dia masuk angin duduk!"
Dikerok? Demam setinggi ini dikerok?
Otak modern Sumarni menjerit keras. Menggesek paksa kulit anak yang sedang demam tinggi hanya akan memicu pelebaran pembuluh darah yang berbahaya. Suhu panasnya justru akan terperangkap di dalam. Itu resep paling cepat menuju kejang.
Sulastri menjulurkan kedua lengannya, berniat mengambil alih Dimas. "Sini, berikan padaku. Biar kubawa ke kamarku. Akan kuselimuti dia dengan kain tebal berlapis-lapis sampai dia berkeringat."
Tangan Sulastri baru saja menyentuh lengan Dimas.
Plak!
Sumarni menepis tangan itu sekuat tenaga. Gema tamparan kulit beradu kulit memecah udara ruang makan.
Para pelayan di sudut ruangan menahan napas.
Sulastri mematung. Matanya membelalak tak percaya menatap punggung tangannya yang memerah.
"Jangan sentuh dia." Mata Sumarni berkilat bengis. Instingnya mengambil alih kemudi secara absolut. "Menyelimutinya dengan kain tebal sama saja dengan memanggang anak ini hidup-hidup, Mbakyu."
"Marni!" Harjono menggebrak meja jati itu keras-keras. Cangkir kopinya berderak. "Jaga sopan santunmu! Serahkan Dimas pada Sulastri. Dia lebih paham mengurus anak sakit daripada perempuan sepertimu!"
Sumarni mendongak. Ia menatap lurus ke dalam bola mata suaminya. Tidak ada gurat ketakutan yang biasa menghiasi wajah istri kedua itu. Hanya ada ketegasan absolut seorang pemimpin.
"Anak ini butuh pelepasan panas, Mas. Bukan ditutup selimut tebal apalagi dikerok pakai bawang." Kalimat Sumarni meluncur tajam, runcing, dan penuh perhitungan logis. "Kalau Mas Harjono ingin melihat ahli waris pabrik ini kejang-kejang lalu mati, silakan ambil dia dariku."
Harjono tertegun. Mulutnya sedikit terbuka. Argumen itu begitu asing, namun diucapkan dengan keyakinan yang luar biasa kokoh. Laki-laki itu terbiasa melihat Marni menangis merengek.
Sumarni tak membuang waktu menunggu izin. Ia memutar tubuhnya, menggendong Dimas erat-erat, dan berlari kecil kembali menuju paviliun belakang.
"Mbok Darmi!" seru Sumarni tanpa menoleh. "Bawakan baskom isi air hangat. Ingat, air hangat suam-kuku, jangan air dingin! Bawa juga dua lembar handuk kecil yang paling bersih ke kamarku. Sekarang!"
Di paviliun belakang, Sumarni merebahkan Dimas di atas kasur tipisnya. Tangannya cekatan melepaskan kaus dekil dan celana pendek yang melekat di tubuh anak itu, membiarkan kulitnya terpapar udara segar dari jendela yang sengaja dibuka separuh.
Dada kurus Dimas naik turun dengan cepat. Bibirnya pecah-pecah.
Mbok Darmi muncul di ambang pintu, terengah-engah membawa baskom enamel berisi air hangat dan handuk bersih. Pelayan tua itu meletakkannya di lantai dengan tangan gemetar.
"Ini, Ndoro... tapi, apa tidak kedinginan Den Dimas kalau bajunya dilepas semua?" cicit Mbok Darmi cemas.
"Panasnya harus keluar, Mbok." Sumarni memeras handuk kecil itu.
Di era 80-an, mengompres orang sakit selalu menggunakan air dingin di dahi. Pengetahuan medis dari masa depan mengajarkan Sumarni sebaliknya. Air hangat akan membuka pori-pori dan membantu pembuluh darah melebar dengan aman, membiarkan panas tubuh menguap secara alami.
Sumarni menyeka lipatan ketiak Dimas perlahan. Lalu turun ke lipatan paha, leher, dan persendian. Titik-titik pembuluh darah besar.
"I-ibu..." Dimas mengigau lemah. Suaranya serak menyayat hati.
Tangan kecil yang kurus kering itu tiba-tiba meraba udara. Mencari pegangan. Jari-jari mungilnya akhirnya menemukan telunjuk Sumarni, lalu mencengkeramnya erat-erat. Genggamannya begitu rapuh, seakan memegang tali penyelamat terakhir di dunia.
Ada sesuatu yang hancur berkeping-keping di dalam dada Sumarni.
Di kehidupan sebelumnya, ia menolak memiliki anak. Ia menganggap anak sebagai beban yang akan mengganggu ekspansi perusahaannya. Waktunya dihabiskan untuk membaca grafik saham dan menandatangani kontrak miliaran rupiah.
Namun detik ini, genggaman tangan kecil yang bergetar ini terasa jauh lebih berharga dari seluruh aset yang pernah ia kumpulkan seumur hidupnya.
Tenggorokan Sumarni tercekat. Ia menunduk, mengecup dahi Dimas yang masih berkeringat. Matanya terasa panas.
"Ibu di sini," bisik Sumarni lembut. Suaranya sedikit bergetar, menahan tumpukan emosi yang tak terbendung. "Ibu tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Ibu janji."
Waktu merangkak pelan. Kompres hangat yang diulang terus-menerus mulai menunjukkan hasil. Napas Dimas tak lagi tersengal. Bahunya yang tegang pelan-pelan melemas. Suhu tubuh yang membakar kulit telapak tangan Sumarni berangsur-angsur turun menjadi hangat yang wajar.
Bocah itu akhirnya jatuh terlelap dalam damai, tanpa melepaskan genggamannya pada jari telunjuk ibu tirinya.
Sumarni menghela napas lega. Ia menyeka keringat di pelipisnya sendiri menggunakan punggung tangan yang melepuh ringan akibat racun semalam.
Tepat saat otot punggungnya mulai rileks, keheningan paviliun dirobek paksa.
Brak!
Daun pintu jati ditendang terbuka hingga menabrak dinding kayu.
Harjono melangkah masuk. Jas safarinya sudah disingkirkan. Lengan kemejanya digulung kasar sebatas siku. Urat di leher laki-laki itu menonjol jelas. Rahangnya terkunci rapat, memahat wajah kerasnya menjadi topeng kemarahan yang absolut.