NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Uji Pelemparan Shuriken

Matahari pagi mulai meninggi ketika seluruh penghuni Kelas 1-A Akademi Konoha digiring menuju lapangan latihan terbuka di area belakang gedung. Udara luar terasa sejuk, namun atmosfer di antara para murid baru justru menghangat oleh antusiasme. Di tengah lapangan, beberapa papan target kayu berbentuk lingkaran dengan titik merah di tengahnya sudah berjejer rapi. Wali kelas mereka, Iruka Umino, berdiri di depan barisan sambil memegang sebuah kotak kayu berisi puluhan senjata lempar standar.

​"Kalian semua sudah mempelajari teori dasarnya di dalam kelas. Sekarang, mari kita lihat bagaimana koordinasi fisik kalian," ujar Iruka lantang, mengambil satu buah shuriken keperakan. "Perhatikan posisi kaki, kunci target dengan pandangan kalian, gunakan jentikan pergelangan tangan untuk menciptakan rotasi, lalu lepas!"

​Wusss! Jleb!

​Shuriken yang dilempar Iruka meluncur mulus, membelah udara sebelum menancap tepat di lingkaran kedua dari dalam target. Sebuah demonstrasi standar yang cukup untuk memicu decak kagum anak-anak sipil.

​Namun, di barisan belakang yang redup, Ren sama sekali tidak memperhatikan gerakan Iruka. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik poni rambut acak-acakan justru bergerak konstan secara ritmis. Otak kalkulatifnya yang telah terintegrasi dengan data taktis veteran kini beroperasi layaknya sebuah prosesor data militer. Ren sedang memosisikan dirinya sebagai pengumpul data statis. Setiap kali seorang murid maju untuk melempar, mata Ren akan merekam trajektori, mencatat jumlah tancapan, dan memasukkan angka tersebut ke dalam matriks probabilitas untuk mencari nilai median dari total 30 murid di kelasnya.

​Ujian praktis pun dimulai satu per satu. Seperti yang sudah diprediksi oleh kalkulasi Ren, performa kelas langsung terbagi menjadi dua kutub ekstrem yang mencolok. Saat nama Sasuke Uchiha dipanggil, bocah itu melangkah maju dengan kepercayaan diri yang mutlak. Tanpa membuang waktu, jemari tangannya menjepit shuriken, lengannya mengayun membentuk busur kinetik yang sempurna.

​Jleb! Jleb! Jleb!

​Rentetan suara besi yang menghantam kayu terdengar berurutan tanpa jeda. Sepuluh shuriken melesat dengan percepatan sudut yang konstan, menembus hambatan balistik udara subuh, dan semuanya bersarang tepat di titik merah tengah target (Bullseye). Skor mutlak: 10 dari 10. Sorak-sorai kekaguman langsung meledak dari barisan murid perempuan. Sasuke kembali ke barisan dengan dagu terangkat, seolah hasil itu hanyalah formalitas harian yang membosankan bagi seorang Uchiha.

​Kontras yang mengerikan terjadi beberapa menit kemudian ketika nama Naruto Uzumaki dipanggil. Dengan penuh percaya diri dan berapi-api, Naruto berteriak bahwa calon Hokage akan memperlihatkan cara melempar yang benar. Dia melempar sepuluh shuriken secara brutal sekaligus, tanpa perhitungan mekanika tubuh maupun sudut pelepasan (release angle) yang benar.

​Hasilnya adalah bencana taktis. Delapan shuriken melesat liar—beberapa tertanam di tanah, sebagian menabrak pagar pembatas, bahkan satu shuriken melesat ekstrem ke arah kanan hingga hampir memenggal telinga Iruka yang langsung berteriak murka. Hanya dua shuriken yang menempel secara kikuk di tepi luar papan target. Skor: 2 dari 10.

​Di sela-sela dua kutub ekstrem tersebut, anak-anak klan lain bermain aman di zona nyaman mereka. Kebanyakan anak sipil bertumpuk di angka 3 hingga 5 karena kurangnya pelatihan privat. Sementara itu, Shikamaru Nara melempar dengan malas dan mendapatkan skor 6, dan Chōji Akimichi mencetak angka 7. Di dalam kesadaran Ren, sistem sains evolusi langsung mereduksi seluruh sampel data tersebut ke dalam satu kesimpulan numerik yang presisi.

​[Kalkulasi Sampel Data Kelas 1-A Selesai]

[Jumlah Murid: 30 | Skor Tertinggi: 10 | Skor Terendah: 2]

​[Distribusi Nilai Rata-rata Terkunci: Persentil ke-50 (Median Mutlak) berada secara presisi pada skor: 6 Tancapan]

​"Selanjutnya... Ren!"

​Mendengar namanya dipanggil oleh Iruka, Ren melangkah maju dengan bahu sedikit merosot, memalsukan postur tubuhnya menjadi selembut anak sipil yang tidak terlatih. Dia mengambil sepuluh shuriken usang dari kotak kayu. Senjata-senjata itu memiliki distorsi berat mikro di beberapa sisinya karena korosi, sebuah variabel acak yang bagi anak biasa akan mengacaukan akurasi, namun bagi Ren, itu hanyalah angka desimal tambahan dalam persamaannya.

​Ren berdiri di garis lempar. Pandangannya yang datar mengunci papan target di depannya. Di mata orang luar, dia tampak ragu dan tidak berbahaya. Namun di dalam sistem saraf optiknya, dunia nyata telah dilapisi oleh garis-garis vektor aerodinamika transparan. Kecepatan angin: 1.8 m/s arah barat laut. Kelembaban udara: 64%. Hambatan balistik shuriken terkorosi: +4.2% dari standar.

​Bagi seorang jenius, melempar dengan akurasi 100% adalah hal yang mudah—itu hanyalah masalah optimasi vektor lurus menuju target. Namun, melempar dengan kewajiban meleset tepat 40% secara natural tanpa memicu kecurigaan dari seorang instruktur Chūnin berpengalaman? Itu membutuhkan tingkat kendali kinestetik mikro yang jauh lebih mengerikan.

​Ren harus menyuntikkan kesalahan biomekanika buatan ke dalam rantai kinetik tubuhnya sendiri. Saraf otaknya bekerja keras memaksa serat otot lurik di lengannya untuk berkedut melambat sebanyak 0,04 milidetik dari refleks Genin aslinya. Dia mengonfigurasi torsi pergelangan tangannya, sengaja mengurangi tekanan pada jari manis sebesar beberapa Newton saat melempar, menciptakan skenario kegagalan terkontrol yang disimulasikan dengan sangat mulus.

​Wusss! Wusss! Wusss!

​Ren mulai melempar. Enam shuriken pertamanya meluncur dengan trajektori yang tampak agak goyah, namun berkat kalkulasi sudut pelepasan yang matang, keenam senjata itu berhasil menancap di area lingkaran luar papan target—bukan di tengah, melainkan di pinggiran kayu yang paling tidak mencolok.

​Kemudian, untuk mengunci target misi, Ren mengeksekusi empat lemparan sisa. Pada ayunan ketujuh hingga kesepuluh, Ren secara mikro mengendurkan koordinasi otot lengannya sekian milidetik lebih lambat untuk meniru kelelahan otot amatir. Empat shuriken terakhirnya melesat terlalu tinggi, berputar di udara, dan jatuh meluncur bebas ke tanah berdebu, meleset tipis beberapa inci dari tepi atas papan target.

​Plop. Plop.

​Dua shuriken terakhir bergulir di rumput. Ren menurunkan tangannya, lalu mengembuskan napas panjang dengan bahu yang naik-turun, berpura-pura kecewa dan lelah atas hasil kerja kerasnya.

​Iruka Umino, yang memiliki mata tajam seorang veteran perang, memperhatikan lintasan shuriken Ren dengan saksama. Namun, karena sistem evolusi Ren mengemulasikan kegagalan mekanika tubuh itu secara biologis dari dalam—bukan sekadar akting kaku—Iruka sama sekali tidak melihat adanya kejanggalan. Di mata Iruka, anak yatim piatu di depannya ini hanyalah anak sipil lemah pada umumnya yang memiliki sedikit keberuntungan untuk mencapai batas ambang kelulusan standar.

​"Ren... Skor: 6 dari 10. Lolos dengan nilai pas-pasan. Pertahankan fokusmu dan latih lagi kekuatan lenganmu," ujar Iruka dengan nada suara yang datar dan acuh tak acuh, langsung mengalihkan pandangannya untuk memanggil murid berikutnya.

​Nilai Ren dicatat di lembar dokumen tanpa dinamika apa pun—sebuah angka mati yang akan langsung terkubur di dalam tumpukan arsip Akademi. Saat melangkah kembali ke barisan belakang yang teduh, sebuah getaran frekuensi tinggi yang familier berdenyut halus di sudut mata Ren.

​[TING! Evaluasi Tahap Pertama: 'Ujian Praktis Shurikenjutsu' Berhasil Diselesaikan]

[Skor Inang: 6/10 | Posisi Kelas: Peringkat 15 (Persentil ke-50 Mutlak)]

​[Status Misi: Berhasil Mempertahankan Protokol Median Mutlak (1/3 Kelulusan Parameter)]

​Di balik poni rambutnya yang turun Menutupi pandangan, seulas senyuman sinis dan dingin terukir di wajah Ren. Sains eksak tidak pernah berbohong. Di sebuah dunia di mana semua orang berlomba-lomba memamerkan taring dan kejeniusan mereka demi mendapatkan pengakuan, sang anomali justru baru saja mendemonstrasikan tingkat kendali biologis tertinggi: bersembunyi secara presisi di titik tengah, menjadi hantu paling rata-rata yang mustahil untuk dideteksi oleh radar tirani Konoha.

1
Akbar Rifqi
typo
Axel
seringkih bubur itu apa thor?
Axel
dan kesaduran itu apa thor?
Akbar Rifqi: typo k
total 1 replies
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!