NovelToon NovelToon
Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Rapat Dadakan Menuju Pelaminan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Komedi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Mi

Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 6 Tentang Gavin

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Gavin Mahendra merasa lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena rapat.

Bukan juga karena fakta bahwa ia baru saja resmi menjadi calon suami dadakan seseorang yang selama ini lebih sering ingin melemparnya ke jurang profesional.

Melainkan karena keluarga Rania.

Pria itu menjatuhkan tubuh ke sofa apartemennya sambil membuka dua kancing atas kemeja.

Ponselnya langsung bergetar.

Grup chat:

TIGA PRIA TIDAK BERGUNA

Kevin:

Masih hidup?

Bimo:

Kalau masih hidup, kirim bukti.

Kevin:

Kalau udah meninggal, apartemen lo buat gue.

Gavin mendecak.

Gavin:

Saya menyesal berteman dengan kalian.

Balasan datang cepat.

Kevin:

OH BERARTI SELAMAT DONG CALON PENGANTIN

Bimo:

Gimana calon mertua?

Gavin mengetik lama.

Lalu berhenti.

Kemudian mengetik ulang.

Gavin:

Saya lebih takut ayah Rania daripada Theo Santoso.

Typing bubble langsung muncul.

Kevin:

HAHAHAHAHAHA

Bimo:

Impossible.

Kevin:

Bro takut direksi enggak. Takut papa pacar iya.

Gavin:

Itu bukan ayah. Itu dosen killer dalam wujud manusia.

Beberapa detik kemudian—

DING DONG

Bel apartemen berbunyi.

Gavin mengernyit.

Jam sudah hampir sembilan malam.

Saat membuka pintu—

Kevin langsung nyelonong masuk sambil membawa ayam goreng bucket.

Di belakangnya, Bimo datang membawa laptop.

“Kami datang untuk memastikan kamu belum kehilangan kewarasan,” kata Kevin santai.

“Atau justru makin parah,” tambah Bimo.

Gavin menatap dua sahabatnya datar.

“Kalian tidak punya kehidupan?”

“Kata laki-laki yang mau nikah tiga hari setelah lamaran,” jawab Kevin.

Valid.

Sangat valid.

Lima belas menit kemudian, mereka duduk di ruang tengah.

Kevin selonjoran di sofa.

Bimo sibuk membuka file.

Dan Gavin duduk diam sambil memijat pelipis.

“Oke,” kata Kevin sambil menunjuk Gavin pakai paha ayam. “Sekarang jujur.”

“Apanya?”

Alis Gavin naik.

“Kamu beneran waras?”

“Tidak.”

“Good. Setidaknya sadar diri.”

Bimo menggeser laptop ke tengah meja.

“Kontrak nikah udah final?”

“Sudah.”

“Ditandatangani?” tanya Kevin.

“Sudah.”

Kevin membeku.

Lalu menoleh pelan ke Bimo.

“Anjir.”

Bimo ikut diam.

“Anjir,” ulangnya pelan.

Sunyi dua detik.

Lalu—

“LO BENERAN NIKAH SAMA RANIA?!” teriak Kevin.

Gavin meringis.

“Tolong suaramu di kontrol jangan seperti orang kesurupan.”

Kevin berdiri.

“Bro! Itu Rania Azarina!”

“Iya.”

“Perempuan yang kalau meeting lihat lo kayak mau bunuh?”

“Iya.”

“Musuh bebuyutan lo?”

“Iya,” jawab Gavin lagi.

“Dan sekarang jadi istri?”

“Calon istri," koreksi Bimo.

Kevin duduk lagi perlahan.

“Gila.”

Bimo mengusap wajah.

“Gue pikir draft kontrak itu cuma simulasi kasus.”

“Saya juga awalnya berharap begitu,” jawab Gavin tenang.

Kevin menyipit.

Lalu ekspresinya berubah.

Curiga.

“Tunggu.”

Ia menunjuk Gavin.

“Lo serius dengan semua ini.”

“Memang.”

“Kenapa?”

Gavin terdiam beberapa saat.

Lalu menjawab pendek.

“Saya butuh posisi direktur.”

Kevin langsung mendengus.

“Bullshit.”

Bimo ikut mengangguk pelan.

“Kami kenal lo terlalu lama buat percaya sama jawaban formal begitu.”

Tatapan Gavin berubah tipis.

Kevin langsung tahu.

Ada sesuatu.

Dan itu serius.

“Apa ada hubungannya sama Daniel lagi?” tanya Bimo hati-hati.

Nama itu membuat ruangan mendadak terasa lebih sesak.

Gavin tertawa kecil.

Tapi hambar.

“Sejak kapan nggak ada hubungannya?”

Kevin mendecak pelan.

Benar juga.

Selama bertahun-tahun, semua keputusan Gavin selalu berujung pada satu hal:

Pembuktian.

Karena bagi Daniel Atmajaya—

Gavin tidak pernah cukup baik.

“Kalau Ethan masih hidup, semua ini nggak akan terjadi,” gumam Kevin pelan.

Jemari Gavin berhenti bergerak.

Nama itu selalu punya efek yang sama.

Seperti luka lama yang pura-pura sembuh.

Ethan Arseno Atmajaya.

Kakak laki-lakinya.

Pewaris sempurna keluarga Atmajaya.

Anak kebanggaan.

Orang yang selalu dipuji.

Orang yang selalu berhasil.

Dan orang yang mati terlalu cepat.

Gavin menunduk beberapa detik.

Lalu tertawa pendek.

“Ya. Tapi Ethan sudah tidak ada di sini.”

Kevin langsung menyesal mengungkitnya.

“Sorry, bro.”

“Sudah biasa.”

Namun nada suara Gavin terlalu tenang.

Dan justru itu yang membuat suasana terasa tidak nyaman.

Bimo akhirnya membuka suara.

“Daniel masih nyuruh orang buat ngawasin lo?”

Gavin tersenyum miring.

“Dia bahkan tidak percaya saya bisa naik jabatan tanpa nama belakang.”

Kevin mendecak kesal.

Bimo ikut menghela napas.

Di kantor—

tak ada yang tahu.

Tak ada satu pun.

Bahwa Gavin Mahendra sebenarnya adalah—

pewaris tunggal Atmajaya Corp.

Perusahaan induk raksasa yang membawahi puluhan anak perusahaan.

Termasuk—

PT Jaya Media.

Bahkan sebagian besar direksi tidak tahu.

Karena Gavin sendiri yang menyembunyikannya.

Sudah bertahun-tahun Gavin berhenti memakai nama belakang Atmajaya.

Karena setiap kali nama itu disebut—

orang selalu mencari Ethan.

Gavin masuk perusahaan memakai nama ibunya.

Bukan Atmajaya.

Tanpa privilege.

Tanpa koneksi keluarga.

Tanpa bantuan siapa pun.

Karena satu hal.

Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa berhasil—

tanpa belas kasihan Daniel.

Namun hasilnya?

Tetap saja diremehkan.

“Kalau Ethan masih hidup, posisi itu tidak akan pernah jatuh ke tangan kamu.”

Daniel bahkan tidak melihat ke arahnya saat mengatakan itu.

Seolah Gavin hanyalah pengganti darurat.

Cadangan dari anak yang gagal ia pertahankan.

Kalimat itu masih terlalu jelas di kepalanya.

Daniel Atmajaya selalu punya cara membuatnya merasa kecil.

Tak peduli sekeras apa Gavin bekerja.

Tak peduli seberapa tinggi pencapaiannya.

Ia tetap bayangan Ethan.

Selalu nomor dua.

Semua orang mencintai Ethan.

Bahkan setelah mati.

Dan kadang, Gavin membenci fakta itu.

Gavin bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.

Pertengkaran terakhir mereka—

masih jadi percakapan terakhir.

Kevin menghela napas.

“Makanya lo ngotot dengan posisi direktur?”

“Ya.”

Jawaban Gavin cepat.

Terlalu cepat.

Seolah sudah disiapkan.

Namun Bimo menyipit.

“Cuma itu?”

Gavin bersandar ke sofa.

Menatap langit-langit.

Lalu berkata pelan,

“Tidak.”

Kevin dan Bimo saling pandang.

Untuk pertama kalinya malam itu—

ekspresi Gavin berubah serius.

“Ada alasan lain.”

Bimo menutup laptop.

“Oke.”

Kevin ikut duduk tegak.

“Sekarang gue mulai takut.”

Gavin diam beberapa detik.

Lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya.

Sebuah foto lama.

Sedikit kusut.

Yang ditemukannya di kamar Ethan.

Kevin mengernyit.

Bimo membeku.

Karena di foto itu—

terlihat Ethan.

Sedang berdiri di samping seorang perempuan.

Perempuan yang mereka kenal.

Sangat kenal.

Rania Azarina.

Sunyi memenuhi ruangan.

Kevin berkedip.

Sekali.

Dua kali.

“Wait…”

Bimo langsung menatap Gavin.

“Jangan bilang…”

Tatapan Gavin tetap lurus pada foto itu.

Dingin.

Sulit dibaca.

“Sebelum Ethan meninggal,” katanya pelan, “nama Rania ada di semua file pribadinya.”

Jadwal. Catatan. Draft presentasi. Bahkan password laptop lama Ethan memakai kombinasi nama yang sama.

Rania.

Kevin tercekat.

“Saya belum tahu hubungan mereka apa,” lanjut Gavin.

“Tapi saya mau cari tahu.”

Kevin membeku.

Bimo ikut diam.

Lalu perlahan bertanya,

“…Dan karena itu kamu menikahi Rania?”

Gavin tak langsung menjawab.

Tatapannya tetap jatuh pada foto lama itu.

Wajah Ethan tersenyum di sana.

Bahagia.

Ekspresi yang bahkan Gavin sendiri jarang lihat.

Akhirnya ia berkata pelan—

“Hanya untuk memastikan satu hal.”

“Apa?”

Gavin tersenyum tipis.

Namun kali ini—

senyum itu tidak terasa hangat.

“Apakah Rania cuma kebetulan di hidup kakak saya…”

Gavin menatap foto itu lama.

Terlalu lama.

“Kenapa nama Rania ada di semua hal penting milik Ethan.”

Suaranya lebih pelan sekarang.

“Karena setelah Ethan meninggal… tidak ada satu pun jawaban yang masuk akal.”

Dan untuk pertama kalinya—

Kevin dan Bimo merasa,

pernikahan kontrak ini mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang mereka kira.

___

Tengah malam.

Apartemen kembali sepi.

Bimo dan Kevin baru pulang lima belas menit yang lalu.

Gavin berdiri di depan lemari kecil dekat ruang kerja.

Jemarinya membuka laci paling bawah.

Foto lama itu masih ada.

Ethan.

Dan Rania.

Tersenyum di sebuah tempat yang bahkan Gavin tidak tahu di mana.

Sudut foto mulai kusut karena terlalu sering disentuh.

“Apa sebenarnya hubungan kalian?”

Gumamnya pelan.

Karena semakin dekat pernikahan itu—

semakin besar rasa takut yang diam-diam mulai ia hindari.

Bagaimana kalau ternyata Ethan pernah mencintai Rania?

Dan lebih buruk lagi—

bagaimana kalau Rania juga pernah mencintai Ethan?

Dan untuk pertama kalinya—

Gavin mulai mempertanyakan dirinya sendiri.

Apakah menikahi Rania demi jawaban…

adalah keputusan paling egois yang pernah ia buat?

1
Evi Yolanda
Thor susulan nya jng LM apa Thor dah gak sabar nunggu saling bucin
MayAyunda
keren kak 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kak 👍
total 1 replies
cynth
Ninggalin jejak 👣
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak
total 1 replies
MayAyunda
keren 👍👍
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
Sahabat Oleng
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😄
Raihan
mampir juga di novel ku kelas arang nanti kita saling support 🙏
Azandis
Lanjut Thor
Azandis
Wkwkwk...
BDaska
Thor, banyakin update episode nya
Fabio
Lanjut thor
Sahabat Oleng: Siap 👍
total 1 replies
Evi Yolanda
ahhh udah lahhh Thor jd ky penagih utang .. bentar bentar intip dah up date blm
Fatan
Bagus ceritanya
Sahabat Oleng: Makasih kak 👍
total 1 replies
T28J
kak, kok tulisan yang ini beda sama yng sebelah ya 🙏
T28J: beda sama novel kakak yang satu lagi gaya tulisannya
total 2 replies
Evi Yolanda
seru dan buat penasaran setiap babnya
Sahabat Oleng: Makasih kakak 😍
total 1 replies
Raihan
halo kakak izin ayok mampir juga di novel ku "kelas arang"
Raihan
bagus cerita
Wawan
Hadir Rania 😍
cinta
Gavin dan Rania sama-sama lucu. 😂
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.
Sahabat Oleng: Jangan lupa tinggalkan jejak ya kakak 😘
total 1 replies
Susanti Santi
Cerita nya menarik
Sahabat Oleng: Terimakasih kakak 😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!