*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1. Anomali di atas granit
Di puncak Yudhistira Tower, waktu bergerak di bawah kendali mutlak Arsenio Yudhistira. Sebagai CEO muda yang memimpin Yudhistira Group, Arsenio adalah definisi dari perfeksionisme ekstrem yang berbatasan dengan gangguan kepribadian narsistik (NPD). Baginya, dunia ini adalah papan catur di mana dia adalah sang raja yang tak tertandingi. Siapa pun yang berurusan dengannya di meja negosiasi selalu berakhir kalah, diperas habis hingga tidak bersisa.
Baru saja, di ruang rapat utama yang kedap suara, Arsenio kembali menghancurkan karier salah satu direktur senior. Hanya karena pria tua itu salah menampilkan angka desimal pada laporan keuangan, Arsenio langsung memotong presentasinya tanpa belas kasihan.
"Jika Anda tidak mampu mengelola angka sesederhana ini, silakan kemas barang-barang Anda sebelum matahari terbenam. Saya tidak membayar orang bodoh untuk mengotori tim saya," ucap Arsenio dengan suara baritonnya yang tenang namun sedingin es. Tidak ada bantahan. Lawan bicaranya hanya bisa menunduk dengan wajah pucat pasi.
Selain gila kuasa, Arsenio adalah seorang *germaphobe* akut yang sangat gila kebersihan. Setelah direktur malang itu keluar, Arsenio segera mengeluarkan tisu antiseptik khusus dari saku jasnya untuk mengelap permukaan meja marmer hitam yang sempat tersentuh tangan orang lain. Ia memiliki ritual sanitasi ketat yang membuat seluruh sekretaris dan asisten pribadinya stres tujuh turunan. Baginya, kebersihan dan keteraturan adalah harga mati yang tidak bisa ditawar sedikit pun.
Setelah memastikan tangannya kembali steril, Arsenio melangkah keluar menuju lift privat untuk turun ke lobi utama. Langkah tegapnya yang dibalut setelan jas pesanan khusus bernilai ratusan juta rupiah terlihat begitu berwibawa, memancarkan aura intimidasi yang membuat para staf di lobi refleks menunduk hormat saat pintu lift terbuka.
Namun, di saat yang bersamaan, kekacauan justru sedang terjadi di pintu masuk utama gedung mewah tersebut.
Kiera sedang mengalami hari paling sial dalam hidupnya. Sebagai seorang lulusan baru yang butuh pekerjaan, hari ini dia mendapatkan panggilan untuk mengantarkan langsung kekurangan berkas fisik lamaran kerjanya di Yudhistira Group. Sialnya, dalam perjalanan menuju gedung, tali tas kainnya mendadak putus, membuat map draf lamaran kerja dan seluruh barang bawaannya sempat berantakan di trotoar.
Dengan penampilan yang teramat seadanya karena buru-buru merapikan diri—mengenakan jaket denim longgar untuk menutupi kemeja magangnya yang kusut, celana jins robek di bagian lutut, dan rambut acak-acakan yang hanya dicepol asal-asalan—Kiera terpaksa setengah berlari memasuki lobi gedung. Tangan kanannya repot memegang segelas besar *iced coffee* penahan kantuk dengan tumpukan es batu yang sudah mulai mencair, sementara tangan kirinya sibuk merogoh-rogoh bagian dalam tas kainnya yang lecek.
"Duh, mana sih map cokelatnya? Jangan sampai hilang, dong. Bisa gagal aku kerja di sini," gumam Kiera panik. Fokusnya benar-benar tersedot ke dalam tas untuk memastikan draf lamaran kerjanya aman, membuat sepasang matanya sama sekali tidak melihat ke arah depan.
Kiera terus melangkah cepat tanpa menyadari adanya perbedaan tinggi lantai antara ubin luar dan karpet besar di lobi utama. Tepat saat ia melangkah lebar, ujung sepatu ketsnya tersangkut di lipatan karpet lobi yang tebal.
"Eh—eh, copot!" pekik Kiera histeris saat tubuhnya mendadak limbung ke depan.
Arsenio yang baru beberapa langkah keluar dari lift sebenarnya memiliki refleks tubuh yang cepat. Namun, kali ini, otaknya sempat membeku selama satu detik penuh karena terkejut melihat adanya makhluk asing berantakan yang meluncur cepat lurus ke arahnya.
*BRUKK!*
Tabrakan keras itu tak terhindarkan lagi. Tubuh mungil Kiera menghantam dada bidang Arsenio dengan telak, membuat sang tiran narsistik yang selalu berdiri tegak itu kehilangan keseimbangan. Arsenio jatuh tersungkur telentang ke atas lantai granit lobi yang dingin, dengan tubuh Kiera yang langsung menindihnya tepat di atas.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Seluruh staf lobi, resepsionis, dan petugas keamanan menahan napas berjamaah. Mereka mematung seperti patung lilin melihat pemandangan paling horor abad ini: Bos besar mereka yang anti-kotor, kini terkapar di lantai dan tertindih oleh seorang wanita asing berpenampilan kumal.
Arsenio membuka matanya yang menyalang, rahangnya mengatup rapat dengan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Baru saja ia hendak membentak wanita di atasnya untuk segera menyingkir dari tubuhnya, Kiera yang panik setengah mati malah refleks melepaskan cengkeraman tangannya pada gelas plastik yang ia bawa.
Gelas plastik berisi cairan *iced coffee* yang sempat melayang di udara itu kehilangan gravitasinya.
*SPLASSHHH!*
Tepat beberapa detik setelah mereka jatuh, cairan kopi dingin, pekat, dan lengket itu mendarat dengan akurasi seratus persen. Kopi itu mengguyur tepat ke atas wajah tampan Arsenio Yudhistira. Cairan berwarna cokelat gelap itu mengalir dari dahi, melewati pangkal hidungnya yang mancung, meresap ke kerah kemeja putih mahalnya, dan mengotori seluruh jas Tom Ford seharga ratusan juta rupiah tersebut tanpa sisa.
Suasana lobi yang megah itu seketika berubah mencekam, sedingin kuburan. Sang tiran Jakarta baru saja dinodai secara harfiah oleh segelas kopi murah.