Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.
Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.
Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 - Kecewa
Mendengar pengakuan itu, mata Baskara membelalak kaget. Jadi benar dugaan hatinya selama ini! Kiara memang sudah tahu semuanya, wanita itu sudah mengetahui betapa kejamnya perlakuan suaminya, namun ia tetap memilih bertahan, tetap memilih tinggal di rumah yang sama, tetap bersikap baik dan sopan di depan semua orang.
Rasa bingung, kecewa, sekaligus rasa sakit perlahan menyusup ke dalam hati Baskara. Ia menatap Kiara dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran antara rasa tidak percaya dan rasa putus asa.
"Maafkan Aku Kara, aku harus memohon pada mu, tolong jangan ikut campur dengan urusan pribadi ku, apalagi tentang pernikahan ku." Ucap Kiara dengan pelan, ia sama sekali tidak berani menatap mata Baskara yang sejak tadi menatap nya.
“Kamu sudah tahu?” ulang Baskara pelan, suaranya terdengar sedikit berat.
“Kamu sudah tahu semuanya, tahu bahwa dia mengkhianatimu, tahu dia tega menyakiti tubuh dan perasaanmu, tahu dia hanya memanfaatkan mu demi kekayaan dan kedudukan orang tuamu… tapi kamu tetap memilih untuk bersamanya? Kamu tetap memilih untuk memaafkan dan melupakan semua itu?, kamu disini begitu tenang duduk dengan bajingan itu dan seolah semua itu tidak pernah terjadi?." Ucap Baskara
Kiara terdiam sejenak, bibirnya terbuka hendak menjawab, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya sebelum sempat terucap. Ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Baskara, karena ia sangat ingin melakukan semua nya sendiri, membalas dengan kekuatan nya sendiri, agar ia puas Ferdi menerima karma nya, ia tidak ingin Baskara ikut campur dan merusak semua rencana nya.
Melihat keheningan itu, melihat sikap Kiara yang tidak mau melawan, tidak mau marah, dan tidak mau meninggalkan Ferdi meskipun sudah tahu betapa jahatnya pria itu, pemikiran yang salah pun tumbuh kuat di benak Baskara. Ia melihat betapa sopan dan akrabnya Kiara dengan Ferdi di meja makan tadi, melihat betapa tenangnya wanita itu saat membicarakan suaminya, dan hal itu membuatnya menyimpulkan sesuatu yang keliru di dalam hatinya.
Jawabannya hanya satu yaitu Kiara masih sangat mencintai Ferdi. Cinta wanita itu begitu besar, begitu dalam, hingga meskipun ia sudah disakiti, dikhianati, dan diperlakukan dengan sangat buruk sekalipun, ia tetap tidak sanggup untuk pergi dan memutuskan hubungan. Cinta itulah yang membuat Kiara bertahan, cinta itulah yang membuatnya diam saja, cinta itulah yang membuatnya memaafkan segala kesalahan besar yang sulit dimaafkan oleh siapa pun.
Rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk jantung Baskara. Selama ini ia berharap, ia yakin bahwa Kiara menderita karena ia terjebak dan tidak tahu harus berbuat apa, sehingga ia ingin datang untuk menyelamatkan dan melindunginya. Namun kenyataannya, Kiara sebenarnya sudah memilih jalannya sendiri. Wanita itu memilih untuk tetap berada di sisi pria yang ia cintai, tidak peduli seberapa buruk pria itu memperlakukannya.
Baskara menundukkan pandangannya perlahan, rasa kecewa yang mendalam membuatnya tidak sanggup menatap wajah Kiara lebih lama lagi. Cintanya yang ia simpan diam-diam selama bertahun-tahun, keinginannya untuk melindungi dan membahagiakan Kiara, semuanya seolah menjadi sia-sia. Karena hati wanita itu sudah tertanam sepenuhnya pada orang lain, bahkan orang lain yang sama sekali tidak pantas mendapatkannya.
"Apa Ayah dan ibu mu tahu tentang ini Kiara?." Tanya Baskara lagi.
"Tidak, mereka tidak tahu, aku mohon kara, aku tidak ingin mereka tahu dan bersedih, aku bisa mengatasi semua nya, ini adalah tentang hubungan ku dan Ferdi, aku bisa menyelesaikan sendiri. Aku mohon jangan memberitahu mereka." Kiara khawatir Baskara Akan memberitahu ayah dan ibunya, karena hal itu akan membuat ayah nya marah dan menghajar Ferdi.
Baskara mengangguk dengan wajah yang merah ingin marah, namun berusaha mengiyakan keinginan Kiara yang sangat tidak masuk akal.
“Maafkan aku, Kiara, aku tidak akan memberitahu orang tua mu, mereka hanya akan mendengar dari mulutmu saja,” ucap Baskara dengan suara yang pelan dan sedikit bergetar, berusaha menyembunyikan rasa sakit di dalam hatinya.
“Aku… aku kira kamu tidak tahu apa-apa, jadi aku berniat memberitahumu agar kamu bisa berhati-hati dan mengambil keputusan yang tepat. Ternyata kamu sudah tahu dan sudah menetapkan pilihanmu sendiri. Kalau begitu, aku tidak akan ikut campur lagi. Aku harap kamu benar-benar bahagia dengan keputusan yang kamu ambil. Kamu sudah dewasa Kiara, aku percaya pilihmu saat ini sudah kau pikirkan matang-matang sebelumnya."
Setelah mengucapkan itu, Baskara tidak menunggu jawaban lagi dari Kiara. Ia menganggukkan kepalanya singkat, lalu berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Kiara sendirian di depan pintu kamar mandi itu, dengan perasaan yang campur aduk dan penuh kekecewaan yang mendalam.
yang ada di dalam pikiran Baskara, Kita masih bersama Ferdi karena cinta Kiara sangat besar dan memaafkan Ferdi. Tanpa tahu kalau semua sudah di rencana Kiara.
Kiara yang ditinggalkan sendirian hanya diam terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung Baskara yang menjauh, lalu perlahan menghela napas panjang yang penuh makna air mata Kiara jatuh. Ia tahu Baskara salah paham, ia tahu pria itu mengira ia masih mencintai Ferdi dan memilih bertahan demi cinta. Namun, Kiara tidak bisa menjelaskan semuanya sekarang, belum waktunya. Ia biarkan Baskara berpikir begitu untuk saat ini, karena rencananya belum sampai pada tahap di mana ia bisa membuka semua kartu yang ia pegang. Kiara hanya berharap, nanti saat semua kebenaran terungkap, saat pembalasan yang ia siapkan sudah selesai dilaksanakan, Baskara akan mengerti dan memaafkan sikapnya yang selama ini penuh kepura-puraan.
"Maafkan aku baskara, aku hanya tidak ingin menyeret mu masuk ke dalam masalah ku, aku percaya aku bisa mengatasi semua nya, aku ingin Ferdi menerima balasan yang setimpal." batin Kiara saat melihat Pria itu berjalan pergi meninggalkan nya dengan perasaan marah, kecewa.
Dengan tekad yang kembali menguat, Kiara pun memperbaiki kerah bajunya, lalu kembali melangkah tenang menuju ruang makan, seolah-olah tidak ada apa-apa yang baru saja terjadi di antara mereka berdua.
Setelah kembali ke meja makan. Kedua nya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di belakang sana. Namun Baskara yang sudah tidak nyaman, segera mengakhiri makan malam nya. Ia perlu untuk menenangkan dirinya saat ini.
"Paman, Bibi, aku pamit pulang dulu, aku di hubungi sekretaris Ku, kalau ada kerjaan yang perlu Ku selesaikan."Ucap Baskara.
"Walah, malam-malam begini pun kamu masih sibuk Baskara, Saya salut sama kamu."Ucap pak Edward, mata Baskara melirik ke arah Kiara yang tertunduk tidak berani menatap nya.
Kiara tahu pasti alasan Baskara pamit karena Kecewa pada nya, namun ia hanya bisa menahan sembari menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan pada Baskara.