NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

POV: Devandra

Siang itu kami memutuskan pulang. Di dalam mobil, suasana hening cukup lama. Aku fokus menyetir, mencoba menata pikiranku. Aku kira semuanya akan baik-baik saja setelah ini. Ternyata aku salah.

“Dev.”

“Iya, Nara."

Suaranya terdengar hati-hati.

“Apa kamu juga melakukan itu, bersama Viona?”

Tanganku spontan mengerem mendadak. Mobil berhenti di pinggir jalan, mesin kumatikan dengan kasar.

“Apa maksudmu?” tanyaku tajam.

Nara terlihat terkejut.

“Aku hanya bertanya…”

“Sudah berapa kali aku katakan, Nara? Jangan ungkit masa lalu!” Suaraku meninggi tanpa bisa kutahan.

“Seharusnya itu menjadi hal terindah buat kita. Kenapa harus ungkit sana sini?”

Ia mengecil di kursinya.

“Aku cuma ingin tahu…”

“Lama-lama aku muak, Nara!” bentakku.

Suasana di dalam mobil menjadi sesak.

“Memangnya sekarang aku harus bagaimana?” lanjutku. “Menghilangkan masa lalu?Memangnya bisa?”

Ia tidak menjawab. Tangannya mencengkeram lengannya sendiri, wajahnya pucat. Aku melihat ketakutan di matanya. Namun entah kenapa, kali ini aku memilih mengabaikannya. Aku menyalakan kembali mesin mobil dan melaju tanpa berkata apa-apa lagi. Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku penuh. Kenapa ia selalu membandingkan dirinya dengan Viona? Apa ia merasa tidak cukup? Atau ia sebenarnya tidak percaya padaku? Aku sudah berusaha meninggalkan masa lalu. Aku memilih Nara. Bukankah itu cukup?

Tetapi pertanyaannya tadi terasa seperti tuduhan. Seolah-olah aku masih membawa bayangan orang lain di antara kami. Aku kesal. Bukan hanya karena ia menyebut nama itu. Tetapi karena ia membuatku merasa bersalah atas sesuatu yang sudah lewat. Apa ia tidak sadar bahwa setiap kali ia mengungkitnya, ia justru membuatku semakin ingin membuktikan bahwa ia berbeda? Bahwa ia lebih baik. Lebih pantas. Dan mungkin, tanpa kusadari, aku terlalu keras dalam cara membuktikannya.

Mobil akhirnya berhenti di depan rumah. Aku turun tanpa menoleh padanya. Dalam hati aku berkata,

Nara, jika kamu terus melihat ke belakang, bagaimana kita bisa berjalan maju?

Namun ada satu hal yang tidak ingin kuakui—

mungkin bukan hanya Nara yang belum benar-benar selesai dengan masa lalu. Mungkin aku juga belum sepenuhnya lepas darinya.

...***...

POV: Nara

Aku melihatnya dari balik pintu. Dev duduk sendirian di taman samping rumah, tepat di tepi kolam kecil yang biasanya menjadi tempatnya menenangkan diri. Sinar matahari sore jatuh miring di bahunya. Ia terlihat tenang, tetapi rahangnya mengeras. Tatapannya kosong, seperti sedang memikirkan sesuatu yang jauh.

Aku tahu itu tentangku.

Tentang pertanyaanku di mobil tadi. Tanganku masih terasa gemetar saat mengingat bagaimana ia membanting setir dan berteriak. Aku belum pernah melihat Dev semarah itu. Ada sisi dirinya yang terasa asing. Namun rasa takut itu tidak menghapus rasa penasaran yang menggerogoti dadaku.

Viona.

Nama itu seperti duri kecil yang terus menancap. Aku berbalik dari pintu, berjalan perlahan menuju kamar Dev. Pintu tidak terkunci, seperti biasa, ia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku. Atau mungkin ia tidak pernah merasa perlu menyembunyikan. Aku masuk dengan napas tertahan. Kamarnya rapi, aroma maskulin yang khas masih memenuhi ruangan. Mataku langsung tertuju pada lemari kecil di sudut ruangan.

Album itu ada di sana. Album foto yang kemarin tak sengaja kulihat. Foto-foto lama, wajah Dev yang lebih muda, dan perempuan dengan senyum percaya diri di sampingnya. Aku menarik album itu dengan tangan dingin. Jantungku berdegup keras. Jika Dev benar ingin melangkah maju, kenapa semua ini masih disimpan?

Aku memeluk album itu ke dadaku, lalu keluar rumah menuju taman. Langkahku cepat. Hampir seperti orang yang sedang menantang takdir. Dev menoleh ketika mendengar suara langkahku.

Aku berdiri tepat di depannya, lalu tanpa peringatan melemparkan album itu hingga hampir menyentuh wajahnya sebelum jatuh ke tanah.

“Buang semua tentang dia,” kataku, suaraku lebih bergetar daripada yang kuinginkan. “Jika kamu tidak ingin aku mengungkit lagi.”

Dev menatapku, lama. Tatapannya sulit kubaca.

Ia tidak membela diri, tidak marah tidak menyangkal—Ia hanya berdiri. Tanpa sepatah kata, ia melangkah menjauh meninggalkanku.

Aku tercekat. Apakah ia akan mengambil album itu dan menyimpannya kembali?

Beberapa menit terasa seperti jam. Aku berdiri membeku di sana, menatap album yang tergeletak di tanah.

Lalu Dev kembali. Di tangannya ada tong kecil dari besi. Ia meletakkannya di tengah taman, lalu mengambil korek api dari sakunya.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku pelan.

Ia tetap diam. Api kecil menyala di dalam tong itu. Dev membungkuk, mengambil album dari tanah. Ia membukanya, membalik halaman demi halaman dengan ekspresi datar. Aku bisa melihat sekilas foto-foto itu sebelum ia mencabutnya satu per satu.

Foto bersama Viona, tawa mereka, liburan mereka, pelukan mereka. Semua kenangan yang bukan milikku. Dev memasukkan foto pertama ke dalam api. Kertas itu melengkung, menghitam, lalu berubah menjadi abu.

Satu per satu, tanpa ragu, tanpa ekspresi apapun. Hanya suara kertas terbakar yang terdengar di antara kami. Aku tidak tahu kenapa dadaku justru terasa sesak melihatnya. Bukankah ini yang kuinginkan?

Setelah foto terakhir habis terbakar, Dev menutup tong itu dengan kakinya, memastikan apinya padam. Lalu ia berjalan ke arahku. Tatapannya berbeda sekarang. Lebih tajam. Ia berhenti tepat di depanku. Tangannya terangkat, lalu tiba-tiba mencengkeram leherku—tidak menyakitkan, tetapi cukup kuat untuk membuatku mendongak.

“Gimana?” tanyanya rendah.

Aku tidak bisa menjawab. Bibirku terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Tatapannya mengunci mataku. Dan tiba-tiba ia menciumku—Ciuman itu bukan seperti biasanya. Lebih kasar seolah menuntut. Tangannya masih di leherku, membuatku tetap menengadah. Bibirnya menekan bibirku seolah ingin menghapus semua pertanyaan yang pernah kuucapkan.

Aku terkejut, tetapi tidak mendorongnya. Tanganku terangkat, mencengkeram kemejanya tanpa sadar.

“Dev…” bisikku di sela napas.

Ia tidak berhenti. Tangannya turun ke pinggangku, menarikku lebih dekat. Tubuh kami saling menempel tanpa celah.

Aku bisa merasakan emosinya di sana—marah, kecewa, dan sesuatu yang lebih dalam. Seolah ia sedang membuktikan sesuatu. Tiba-tiba ia mengangkat tubuhku. Aku terkesiap refleks, tanganku melingkar di lehernya. Ia duduk di bangku taman dan menempatkanku di pangkuannya, berhadapan langsung dengannya.

Aku bisa melihat jelas wajahnya sekarang. Rahangnya tegang, napasnya berat.

“Masih mau mengungkit?” bisiknya di bibirku.

Aku menggeleng pelan. Namun ia kembali menciumku, lebih dalam. Tanganku tanpa sadar membelai rambutnya, sementara ia menahan pinggangku erat agar aku tetap di sana. Semakin lama, ciuman itu semakin intens. Tidak ada lagi ruang untuk berpikir. Hanya detak jantung yang saling beradu.

Aku tahu ini berbahaya. Bukan karena tempatnya, bukan karena siapa yang mungkin melihat. Tetapi karena emosinya. Kami tidak sedang berciuman karena cinta yang tenang. Kami berciuman karena ego, karena luka, karena keinginan untuk menang.

Tangannya menyusuri punggungku, menarikku semakin dekat hingga aku hampir kehilangan napas. Aku menahan wajahnya sesaat.

“Dev… cukup.”

Ia menatapku. Tatapannya masih panas, tetapi sedikit melunak. Untuk beberapa detik kami hanya saling memandang. Dan di dalam hatiku, sesuatu berubah.

Aku lelah... lelah bertanya tentang masa lalu. Lelah membandingkan diriku dengan bayangan perempuan yang bahkan sudah tidak ada lagi di hidupnya. Jika aku terus seperti ini, aku hanya akan menghancurkan diriku sendiri.

Mungkin Dev benar. Seharusnya itu menjadi hal terindah untuk kami. Namun aku yang terus merusaknya dengan pertanyaan. Aku menarik napas panjang. Dalam hati aku berjanji—Aku tidak akan mengungkitnya lagi.

Bukan karena takut ia marah. Bukan karena takut ia pergi. Tetapi karena aku ingin berhenti menyakiti diriku sendiri. Jika Dev sudah membakar masa lalunya di depan mataku, maka aku juga harus belajar membakar keraguanku sendiri.

Aku menyentuh pipinya pelan. “Aku tidak akan menyebut namanya lagi,” kataku lirih.

Dev menatapku beberapa saat, seolah mencoba memastikan kesungguhanku.

“Pastikan itu, Nara.”

Aku mengangguk. Meski jauh di dalam hati, aku tahu melupakan tidak semudah membakar foto. Abu bisa terbang hilang. Tetapi ingatan? Ia tinggal lebih lama.

Namun untuk pertama kalinya sejak pertengkaran itu, aku memilih diam. Dan mungkin, untuk sementara, itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!