NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15: Jerat Balas Dendam

Kabut tipis masih menyelimuti ufuk timur saat Nara membuka mata. Cahaya matahari pagi yang biasanya hangat dan menyejukkan, pagi ini terasa dingin dan menyakitkan. Di kamarnya yang sederhana, tumpukan pakaian sudah terkemas rapi di dalam dua koper tua. Tidak banyak barang yang ia bawa, hanya kebutuhan sehari-hari dan beberapa kenangan kecil yang tak ternilai harganya baginya. Ia harus pergi, seperti yang ia janjikan semalam. Ia harus menjauh, demi keselamatan ayah, ibu, dan adik-adiknya. Demi Arkan juga, meski rasa sakit karena harus meninggalkan pria itu terasa seolah ada ribuan jarum yang menusuk ulu hatinya.

Nara berdiri di depan cermin, menatap bayangan dirinya sendiri. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah karena semalaman menangis dalam diam agar tidak didengar orang tuanya. Ia menghela napas panjang, berusaha menguatkan hati. Sudah, Nara. Semuanya akan baik-baik saja asal kamu jauh dari mereka. Asal kamu tidak ada di sana, Kirana tidak akan marah lagi. Arkan akan aman, keluargaku akan aman.

Pintu kamar diketuk pelan. Ibu masuk membawa secangkir teh hangat, wajahnya tampak sedih dan berat, sama seperti perasaan Nara. Ibu berjalan mendekat, meletakkan teh di meja, lalu memeluk putri sulungnya erat-erat.

"Nak... apa kau benar-benar harus pergi? Tidak bisakah kita bicara lagi? Ayahmu bilang dia tidak takut pada ancaman siapa pun. Dia rela melakukan apa saja asalkan kau bahagia di sini," bisik Ibu dengan suara bergetar, menahan tangis agar tidak semakin membuat hati Nara remuk.

Nara membalas pelukan itu, air matanya kembali menetes di bahu ibunya. Ia melepaskan pelukan itu dan mengusap lembut pipi keriput wanita yang paling ia cintai itu.

"Ibu, percayalah... ini satu-satunya cara. Kirana bukan orang yang main-main. Dia punya kuasa, dia punya banyak uang dan koneksi. Kalau aku tetap di sini, dia akan menghancurkan usaha Ayah, dia akan membuat kita semua malu dan menderita. Aku tidak sanggup melihat kalian terluka gara-gara aku. Aku akan pergi ke kota lain, cari pekerjaan baru, hidup tenang. Nanti kalau semuanya sudah reda, aku akan kabari Ibu. Janji," ucap Nara tegas, berusaha meyakinkan ibunya, meski ia sendiri tak yakin apakah badai ini akan benar-benar berlalu hanya dengan kepergiannya.

Ayah mengetuk pintu dan masuk. Wajah Pak Haris tampak tua dan lelah pagi itu. Ia memegang selembar amplop tebal, lalu menyodorkannya pada Nara.

"Ini sedikit uang simpanan Ayah, Nak. Tidak banyak, tapi cukup untuk bertahan beberapa bulan sampai kau dapat pekerjaan baru. Jangan pelit pada dirimu sendiri. Kalau ada apa-apa, apa saja, telepon kami. Ingat, di mana pun kau berada, rumah ini tetap rumahmu. Kami selalu menunggumu pulang," kata Pak Haris, suaranya berat namun berwibawa. Ia berusaha tersenyum, tapi matanya menyiratkan betapa hancur hatinya harus melepaskan anak perempuannya pergi sendirian ke tempat yang jauh dan asing.

Nara mengangguk pelan, menerima uang itu dengan tangan gemetar. Ia memeluk kedua orang tuanya bergantian, lalu mencium tangan mereka dengan hormat dan penuh bakti. "Maafkan Nara ya, Pak, Bu... Maaf karena Nara jadi beban selama ini."

"Jangan bicara begitu, Nak. Kau bukan beban. Kau kebanggaan kami," jawab Pak Haris sambil mengusap kepala putrinya lembut.

Ketiganya berjalan keluar rumah. Suasana pagi itu terasa begitu kelabu. Nara berjalan menuju gerbang, koper di tangan terasa berat, namun beban di hatinya jauh lebih berat lagi. Ia berjanji tidak akan menoleh ke belakang, karena jika ia menoleh, ia tahu ia akan lari kembali masuk dan menolak pergi. Ia harus kuat.

Namun, baru saja ia melangkah keluar pagar, sebuah mobil hitam besar berhenti tepat di depan rumah mereka. Mesinnya mati, dan dari dalam turun dua orang berpakaian rapi, mengenakan kemeja putih dan dasi. Wajah mereka serius, dingin, dan tanpa ekspresi. Di belakang mereka, ada satu lagi sosok yang turun dari kursi belakang—Kirana.

Wan itu tersenyum manis, senyum yang sudah sangat dikenal Nara, senyum yang menyembunyikan niat jahat di baliknya. Ia berjalan mendekat dengan langkah anggun, seolah ia adalah pemilik tunggal dunia ini. Di belakangnya, ada dua orang lagi yang tampak seperti petugas pengadilan atau penagih utang, membawa berkas-berkas besar di tangan mereka.

Jantung Nara seakan berhenti berdetak. Ayah dan Ibu segera berdiri di samping Nara, melindungi putri mereka dengan tubuh mereka sendiri.

"Kirana... Apa maksud semua ini? Kau belum puas menghancurkan hati anakku sampai kau harus datang ke sini pagi-pagi sekali?" tanya Pak Haris dengan nada marah namun berusaha tetap tenang. Ia tidak takut, tapi ia khawatir. Ia tahu kehadiran wanita ini tidak pernah membawa kebaikan.

Kirana tertawa kecil, suara tawanya terdengar begitu menusuk di telinga semua orang yang ada di sana. Ia melangkah maju, melewati Pak Haris, dan berhenti tepat di depan Nara. Ia menatap gadis itu dari atas ke bawah, menatap koper yang sudah siap di samping kakinya, lalu tersenyum makin lebar.

"Ah, indah sekali pemandangannya. Aku dengar kau mau pergi, Nara? Mau lari? Mau bersembunyi di pojok dunia agar Arkan tidak bisa menemukanmu? Kasihan sekali... Kau pikir semudah itu kau bisa lepas dari tanggung jawabmu? Kau pikir cukup dengan pergi, semua masalah selesai?"

Nara mengerutkan kening, bingung dan mulai merasakan kecemasan yang luar biasa. "Apa maksudmu? Aku sudah berjanji. Aku sudah berjanji akan pergi, tidak akan pernah bertemu Arkan lagi, tidak akan pernah mengganggu hidup kalian. Kau sendiri yang menginginkannya, kan? Kenapa kau datang lagi?"

Kirana menggeleng pelan, seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti apa-apa. Ia menoleh ke arah dua orang pria yang dibawanya, mengangguk pelan sebagai isyarat. Salah satu dari mereka melangkah maju dan menyerahkan selembar surat resmi berstempel besar kepada Pak Haris.

"Maaf, Pak. Kami dari kantor hukum dan kuasa hukum keluarga Adhitama. Kami datang untuk menyampaikan surat peringatan resmi dan denda ganti rugi atas pelanggaran perjanjian pernikahan yang dilakukan oleh Nara Salsabila," ujar pria itu datar dan kaku.

Pak Haris menerima surat itu dengan tangan gemetar. Ia membacanya sekilas, dan wajahnya seketika berubah pucat pasi. Kakinya lemas seolah tidak bertulang. Ia menatap Kirana dengan mata terbelalak, tak percaya.

"Denda... satu miliar dua ratus juta rupiah? Ini... ini mustahil! Apa maksudnya ini? Nara tidak melakukan kesalahan apa pun! Perjanjian itu... itu kan cuma perjanjian untuk saling membantu..." seru Pak Haris dengan suara bergetar, marah namun bingung.

Kirana melipat tangannya di dada, menatap mereka dengan pandangan menang. "Oh, Pak Haris yang terhormat... di atas kertas, hukum tetaplah hukum. Di dalam perjanjian tertulis sangat jelas: jika pihak Nara yang mengajukan pemutusan hubungan atau pergi meninggalkan Arkan Adhitama sebelum masa perjanjian berakhir, maka ia wajib mengembalikan seluruh dana bantuan yang pernah diterima, ditambah ganti rugi atas kerugian materiil dan immateriil yang diderita oleh pihak kami. Dan lihatlah... pagi ini aku datang, dan apa yang aku lihat? Nara sedang membawa koper, bersiap pergi. Itu sudah cukup menjadi bukti dia melanggar perjanjian itu."

Kirana mendekat ke arah Nara, berbisik rendah namun tajam di telinganya, agar hanya Nara yang mendengar.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dengan tenang, gadis bodoh? Kau pikir aku akan membiarkanmu hidup tenang di tempat lain sambil Arkan tetap memikirkanmu? Tidak, Nara. Kau tidak akan kemana-mana. Kalau kau tidak bisa menjadi milik Arkan, dan tidak bisa kusingkirkan dengan cara halus... aku akan pastikan kau dan keluargamu terikat selamanya pada kami. Kau harus membayar. Kau harus membayar mahal karena berani menyentuh apa yang milikku."

Nara terhuyung mundur, koper di tangannya terjatuh. Dunia seolah berputar di sekelilingnya. Ia tidak mengerti hukum, ia tidak mengerti isi perjanjian itu secara rinci saat ia menandatanganinya dulu—saat ia hanya berpikir itu cara untuk menyelamatkan ayahnya dari penjara. Dan sekarang, hal yang sama yang menyelamatkan mereka dulu, kini menjadi jerat maut yang mengancam akan menghancurkan mereka.

"Satu miliar... kami tidak punya uang sebanyak itu..." bisik Nara lemah, air matanya jatuh kembali, kali ini bukan karena sedih, tapi karena ketakutan yang luar biasa. "Kami cuma orang miskin, Kirana. Kau bisa saja membunuh kami, kami tidak akan sanggup membayarnya."

"Kalau tidak mampu bayar..." Kirana mengangkat bahu santai, seolah sedang membicarakan harga sayur di pasar. "...maka pengadilan akan menyita rumah ini, tanah ini, dan segala yang kalian punya. Dan kalau masih kurang? Hukum akan berjalan. Penjara adalah tempat yang sangat cocok untuk orang yang ingkar janji, bukan? Ayahmu yang sudah tua, atau mungkin kau sendiri, Nara? Aku rasa Arkan akan sangat senang melihat kekasihnya di balik jeruji besi."

"Kau iblis!" teriak Bu Inah yang baru saja datang membawa belanjaan, berjalan tergesa-gesa mendekat. Ia melihat semua yang terjadi, dan rasa marah membuatnya berani berbicara. "Kau tidak punya hati! Mereka orang baik! Apa salah mereka padamu?!"

Kirana hanya melirik Bu Inah dengan pandangan jijik. "Dasar pembantu campur aduk. Jangan ikut campur atau kau akan ikut merasakan akibatnya."

Di saat suasana menjadi kacau dan penuh ketegangan itu, suara mobil lain terdengar mendekat. Kali ini bukan satu, tapi dua mobil hitam melaju kencang dan berhenti mendadak tepat di belakang mobil Kirana. Pintu terbuka, dan Arkan melompat keluar secepat kilat, wajahnya pucat, napasnya memburu, dan matanya menyala dengan amarah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya. Di belakangnya ada supir dan beberapa orang kepercayaan Arkan yang ia bawa.

Arkan melihat segalanya. Ia melihat Nara yang gemetar, melihat ayah Nara yang memegang surat itu dengan tangan gemetar, melihat air mata ibunya, dan melihat senyum kemenangan Kirana yang mengerikan itu.

Ia berjalan cepat, mendorong orang-orang yang dibawa Kirana minggir, lalu berdiri di depan Nara dan keluarganya, melindungi mereka sama seperti dulu mereka melindungi Nara.

"Arkan..." panggil Kirana terkejut, senyumnya hilang seketika. Ia tidak menyangka Arkan akan sampai di sini secepat ini. "Kamu... apa yang kamu lakukan di sini? Aku cuma membereskan masalah yang berhubungan dengan perusakan nama baik dan keuangan keluargamu. Aku melakukan ini demi kita."

Arkan menatap Kirana. Tatapan itu dingin, tajam, dan penuh kebencian. Tatapan yang membuat Kirana mundur selangkah karena takut.

"Demi kita? Kau sebut ini demi kita?" suara Arkan rendah namun bergema, penuh tekanan. Ia mengambil surat tuntutan itu dari tangan Pak Haris, membacanya sekilas, lalu merobek kertas itu menjadi dua, empat, hingga berkeping-keping di depan mata Kirana yang terbelalak kaget. "Kau menggunakan namaku, menggunakan kekayaan keluargaku, untuk mengancam dan memeras orang yang tidak bersalah? Kau benar-benar tidak punya rasa kemanusiaan sedikit pun, ya?"

"Arkan, kau tidak mengerti! Dia yang mau pergi! Dia yang melanggar perjanjian! Aku hanya menegakkan aturan yang ada!" seru Kirana mencoba membela diri, mulai panik.

"Aturan? Hah! Aturan yang kau bengkokkan sesuka hatimu? Aku yang menandatangani perjanjian itu. Aku yang berhak menuntut atau memaafkan! Dan aku katakan padamu sekarang... tidak ada tuntutan apa pun! Tidak ada denda! Dan tidak ada satu pun yang berhak mengusir atau menyakiti keluarga ini selama aku masih bernapas!"

Arkan berbalik menghadap Nara. Ia menatap mata gadis itu, mata yang penuh ketakutan dan kebingungan. Perlahan, Arkan mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Nara dan menghapus air mata di sana dengan lembut—kontras dengan amarah yang meledak di seluruh tubuhnya.

"Maafkan aku, Nara. Maaf aku terlambat. Aku tahu semuanya. Aku tahu dia mencuri berkas itu, aku tahu dia berniat menghancurkan kalian. Aku berlari secepat mungkin agar dia tidak sempat berbuat kejam. Maafkan aku karena membuatmu merasa tidak aman sedetik pun."

Nara menatap Arkan, matanya membelalak. Ia tidak mengerti bagaimana Arkan bisa tahu, bagaimana ia bisa datang tepat waktu ini, tapi satu hal yang ia pahami: pria ini tidak menyerah. Arkan tidak membiarkan dia jatuh sendirian.

"Tapi... Kirana bilang... kalau aku tidak pergi, dia akan menghancurkan semuanya..." bisik Nara lirih.

Arkan tersenyum, senyum tegas dan penuh keyakinan. Ia merangkul bahu Nara, memeluknya dekat ke dadanya di depan semua orang—di depan orang tuanya, di depan Bu Inah, dan di depan Kirana yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah meluap.

"Biarkan dia mencoba. Mulai detik ini, aku tidak lagi bersembunyi. Aku tidak lagi takut, dan aku tidak lagi buta. Kirana, dengar baik-baik," Arkan menoleh kembali menatap wanita itu, suaranya menggelegar penuh wibawa. "Kau pikir memegang selembar kertas saja sudah cukup? Kau pikir dengan ancaman kau bisa menguasai segalanya? Kau salah besar. Kau telah membangun kebahagiaan di atas penderitaan orang lain, dan sekarang waktunya kau membayar semuanya. Aku akan batalkan semua ancaman itu. Aku akan pastikan kau tidak punya kuasa lagi untuk menyentuh sehelai rambut pun dari keluarga Nara. Dan aku akan buktikan... semua kebusukanmu, semua kebohonganmu selama lima tahun ini, akan aku bongkar satu per satu sampai kau tidak punya tempat lagi di dunia ini."

Kirana mundur selangkah demi selangkah. Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan. Arkan yang lembut, Arkan yang sabar, Arkan yang dulu ia kendalikan sesuka hati... sudah hilang. Di hadapannya sekarang adalah Arkan Adhitama yang lain—pria yang terbangun dari tidur panjangnya, pria yang berjuang bukan lagi untuk ambisinya sendiri, tapi untuk melindungi cinta sejatinya.

"Kamu... kamu berani melawanku demi dia? Kamu rela kehilangan semua kekayaan, nama baik, dan posisimu demi gadis miskin ini?" desis Kirana, berusaha bertahan.

"Kehilangan semua itu demi Nara? Demi kebenaran?" Arkan tersenyum tipis, menatap Nara dengan pandangan penuh cinta. "Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk itu. Karena bagiku, memiliki Nara di sisiku jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan dunia yang kau inginkan itu."

Arkan berbalik menghadap orang tuanya Nara. "Pak, Bu, maaf atas semua kesusahan yang disebabkan oleh wanita ini dan karena hubunganku dengan Nara. Mulai hari ini, saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kalian lagi. Dan Nara..."

Arkan berlutut sedikit, menatap wajah gadis itu tepat di mata.

"Kau tidak pergi ke mana-mana. Kau tidak perlu lari lagi. Karena aku di sini. Aku akan berdiri di depanmu, menahan segala pukulan, segala ancaman, dan segala kejahatan yang datang. Percayalah padaku satu kali lagi. Aku akan membebaskan kita berdua dari semua ini."

Di jalanan itu, di bawah sinar matahari pagi yang mulai terang, pertarungan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kirana menyadari bahwa senjatanya telah tumpul, dan Arkan telah berubah menjadi musuh terberat yang pernah ia hadapi. Sementara itu, Nara menyadari bahwa meski badai semakin mengamuk, ia tidak lagi sendirian. Di sampingnya berdiri pria yang siap berperang melawan dunia demi memegang tangannya tetap erat.

Kirana mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku menancap ke telapak tangan. Ia belum kalah. Belum. Masih ada satu kartu terakhir yang tersisa di tangannya, satu rahasia besar yang belum ia ungkapkan—rahasia yang bisa membuat Arkan jatuh lebih dalam dari yang dibayangkan siapa pun.

"Kita lihat saja, Arkan..." bisiknya pelan, berbalik dan masuk kembali ke mobilnya. "Kau pikir kau sudah tahu segalanya? Tunggu saja sampai kau tahu kebenaran tentang apa yang terjadi di luar negeri lima tahun lalu. Saat itu nanti, kau akan berlutut memohon padaku."

Mobil Kirana melaju pergi, meninggalkan debu dan ancaman yang menggantung di udara. Namun kali ini, suasana di depan rumah itu tidak lagi penuh ketakutan. Ada harapan. Ada kekuatan. Dan ada cinta yang siap berjuang sampai titik darah penghabisan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!