NovelToon NovelToon
NEVER TRULY GONE

NEVER TRULY GONE

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Mengubah Takdir
Popularitas:133
Nilai: 5
Nama Author: Selene Mora

Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?

​Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.


!!!⚠️!!!

#BL

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Entah mendapat ilham atau bisikan dari mana, hari itu Luca tiba-tiba saja punya ide cemerlang: ia ingin memasak untuk Brant.

​Alhasil, di hari Minggu sore itu, mereka berdua terdampar di tengah supermarket yang terasa cukup padat. Luca dengan semangat yang menggebu-gebu mendorong troli belanjaan, matanya berbinar-binar menatap deretan bahan makanan. Sementara itu, Brant hanya bisa mengekor pasrah di belakang sang kekasih dengan wajah lelah, bersiap siaga menjaga agar Luca tidak salah membeli bahan atau membuat kekacauan di sana.

​"Kak, kita harus beli brokoli, dada ayam, sama lemon. Pokoknya hari ini aku mau masak makanan sehat buat Kakak! Resep rahasia dari Mama," ujar Luca penuh percaya diri.

​Brant menaikkan sebelah alisnya, menatap Luca sangsi.

"Resep rahasia atau resep bencana? Gue nggak mau ya besok malah berakhir di UGD karena keracunan masakan lo."

​"Ih! Aku udah pernah coba ya, dan enak!" Luca membela diri. "Ayo dong, Kak. Masak sehat biar otak Kakak encer ngerjain skripsinya."

​Brant menghela napas, pura-pura merogoh saku celananya. "Dompet gue lagi tipis, Ca. Saldo tinggal lima puluh ribu nih. Mending beli mi instan aja."

​Luca langsung menoleh, matanya memicing. "Pelit banget! Ya udah, tenang aja, kali ini biar aku yang bayar pakai uang tabunganku. Ayo cepat!"

​Saat mereka sedang asyik memilih bumbu dapur, seorang wanita cantik dengan pakaian modis dan aura seksi tiba-tiba berdiri di depan mereka. Senyumnya manis, namun tatapannya langsung tertuju pada Brant.

​"Brant? Long time no see," sapanya.

​Brant tertegun. Badannya sedikit kaku. Itu Lily, salah satu mantannya dari masa lalu. Dalam hati, Brant sudah waswas; dia takut Lily bakal membuat drama yang bikin Luca salah paham. Namun, di luar dugaan, Luca justru menatap Lily dengan binar kagum.

​"Wah... Kakaknya cantik banget," gumam Luca tanpa sadar.

​Lily tertawa kecil. Pandangannya turun ke bawah, melihat tangan Brant yang menggenggam erat tangan Luca di gagang troli. Dia langsung paham posisinya. "Ini pacar lo, Brant?"

​Belum sempat Brant menjawab, Lily sudah maju dan menjawil pipi Luca dengan gemas. "Ya ampun, Brant! Lo dapet di mana anak semanis ini? Kok bisa sih cowok se-kaku lo punya pacar yang gemesin kayak gini?"

​Brant menghela napas lega. "Kenalin, ini Luca. Ca, ini Lily... " Brant menjeda kalimatnya dan menatap Lily canggung. "temen lama."

​"Hai, Kak Lily!" sapa Luca ramah sambil tersenyum lebar, membuat Lily makin tidak tahan untuk tidak mencubit pipinya sekali lagi.

​"ya udah, maaf ya, Gue lagi buru-buru nih, duluan ya, Brant. Nice choice, seleramu sekarang makin oke," Lily mengedipkan sebelah matanya pada Brant, lalu melambaikan tangan ke arah Luca. "Bye-bye prety boy!"

​Luca hanya bisa tersenyum lebar sambil melambaikan tangan balik, matanya masih menatap kagum kepergian Lily. "Wah, Kak Brant,Kakak itu cantik banget—"

​TAK!

​Brant memukul pelan dahi Luca dengan jarinya. Tidak keras, tapi cukup sukses membuat Luca mengadu. "Nggak usah diliatin terus. Fokus ke troli aja," gerutu Brant dengan nada sedikit cemburu yang gagal dia sembunyikan.

​Luca mengelus dahinya sambil mengerucutkan bibir. "Dih, Kan aku cuma bilang dia cantik!"

​"Bawel. Ayo cepat bayar," potong Brant cepat, padahal dalam hati dia memang merasa sedikit tersinggol karena Luca malah terpesona sama mantannya.

Setelah drama mantan berakhir, mereka sampai di kasir. Saat Luca sudah siap mengeluarkan dompetnya, Brant dengan cepat menyodorkan kartu debitnya ke petugas.

​"Katanya saldonya habis?" sindir Luca.

​"Biarin. Uang lo simpan aja buat beli jajan nanti," jawab Brant datar, meski sebenarnya dia hanya tidak tega melihat uang tabungan Luca habis buat belanjaan dapurnya.

​Sampai di apartemen, suasana berubah menjadi "medan perang". Brant duduk di meja kerjanya, fokus menyelesaikan draf skripsi yang sudah dijilid dalam satu buku tebal. Dia sedang berkutat dengan angka-angka hipotesis yang bikin pening.

​PRANG! DUK! SRENG!

​Suara peralatan dapur yang dipakai Luca benar-benar menguji kesabaran Brant. Belum lagi, setiap sepuluh menit sekali, Luca muncul di samping mejanya sambil membawa sendok.

​"Kak, cicipin dulu! Ini garamnya kurang nggak? Atau kemanisan?"

​Brant mencicipinya dengan wajah datar. "Ca, ini ayam atau air laut? Asin banget."

Setelah tiga kali bolak-balik mengganggu ketenangan Brant demi meminta pendapat atas eksperimen kulinernya, Luca akhirnya menyerah. Pemuda manis itu kembali dari dapur dengan bahu merosot lesu, tampak pasrah dan angkat tangan terhadap hasil masakannya sendiri yang ternyata gagal total. Dan hasil akhirnya... bencana. Masakan sehat yang dijanjikan Luca terlihat seperti benda asing yang tidak layak konsumsi.

​"Tuh kan, apa gue bilang. Habis uang gue lima ratus ribu cuma buat masakan aneh begini," gerutu Brant, bukan marah, tapi karna lelah.

​Luca hampir menangis. Karena panik, dia langsung menelepon Mamanya. Beruntung, Mamanya baru saja selesai masak besar." Ya udah nanti mama kirim pake ojek ke sana, bilang ke brant kalau nggak habis simpan di kulkas,untuk sarapan nanti" pesan Mamanya di telepon.

Tak lama kemudian, ketukan di pintu terdengar. Brant segera bangkit untuk membukanya, mendapati seorang kurir yang membawa bungkusan besar kiriman mama Luca. Begitu melihat deretan wadah Tupperware familier yang ditempeli stiker nama kekasihnya, Brant hanya bisa menghela napas pasrah. Bungkusan makanan itu menjadi bukti sahih bahwa Luca benar-benar sudah mengadu pada mamanya.

"Lu bilang apa sama mama lu, Ca?" tanya Brant bingung sambil meletakan bungkusan itu di meja. Ia sama sekali tidak tahu kalau Luca diam-diam meminta makanan ke mamanya saat ia sedang ke kamar mandi tadi.

​"Aku bilang, aku tadi masak resep Mama tapi hancur," jelas Luca sambil tertawa kecil. "Jadi aku minta dikirimi makanan karena Kak Brant udah lapar banget," lanjut pemuda manis itu dengan wajah polos tanpa dosa.

"​Astaga, Luca!" Brant rasanya ingin menenggelamkan diri saat itu juga. Pake segala bilang ke calon mertua kalau dirinya kelaparan. Rasanya harga diri Brant sebagai seorang laki-laki langsung anjlok ke dasar bumi seketika.

​akhirnya mereka pun makan dengan lahap. Karna jujur, brant dan Luca sudah sangat kelaparan. Ini semua karna menunggu resep ajaib dari Luca tadi.

Perut kenyang rupanya membuat pertahanan Luca runtuh. Tak lama setelah makan, Luca yang tadinya berniat menemani Brant justru tertidur pulas di sofa dengan televisi yang masih menyala.

​Brant menoleh, melihat Luca yang tidur dengan mulut sedikit terbuka. Dia tersenyum tipis, rasa lelahnya mendadak menguap. Brant menyelimuti Luca, lalu kembali fokus ke laptopnya. Suasana sunyi itu akhirnya membuat Brant berhasil menyelesaikan drafnya hampir tengah malam.

Melihat Luca yang sudah tidur pulas dengan wajah tanpa beban.

​Brant mengambil ponselnya, ragu sejenak, lalu memberanikan diri menghubungi Mama Luca.

​"Halo, Tante... maaf mengganggu malam-malam. Ini Luca ketiduran di rumah saya karena kecapekan masak tadi. Apa boleh Luca menginap malam ini? Saya nggak tega banguninnya, tidurnya nyenyak banget," ucap Brant sesopan mungkin.

​Di seberang telepon, Mama Luca terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada santai namun mematikan.

​"Oh, ya sudah kalau memang begitu, Brant. Kasihan juga kalau dibangunin jam segini. Tapi Brant..."

​"Iya, Tante?"

​"Kalau di kamar kamu banyak nyamuk, jangan lupa pakaikan Luca anti nyamuk ya? Soalnya kulit Luca itu sensitif banget sama gigitan nyamuk. Takutnya besok pagi bangun-bangun ada bekas merah-merah lagi di leher atau lengannya. Mama kasihan liatnya," ucap Mama Luca dengan nada polos, tapi penuh sindiran halus.

​DEG.

​Brant langsung terdiam kaku di tempatnya. Wajahnya yang biasanya datar mendadak terasa panas sampai ke telinga. Dia teringat kejadian di mobil kemarin soal "nyamuk sebesar mulut Brant". Ternyata Mama Luca benar-benar memantau "nyamuk" macam apa yang sering menggigit anaknya.

​"I-iya, Tante. Nanti saya... saya perhatikan nyamuknya," jawab Brant terbata-bata sebelum akhirnya menutup telepon dengan perasaan malu yang luar biasa.

​Brant menatap Luca yang masih tidur tenang. "Ca... Mama lo beneran luar biasa," gumamnya sambil mengusap wajah, merasa seolah baru saja disidang oleh calon mertua lewat telepon.

Selesai menutup laptopnya , Brant perlahan memindahkan Luca ke atas ranjang. Sebelum ikut merebahkan diri dan terlelap, ia sempat mendaratkan kecupan lembut di kening pemuda manis itu. Rasa lelah akibat tugasnya dan rentetan kerepotan manis dari Luca hari itu, seketika menguap, membawa Brant ikut tertidur dengan perasaan jauh lebih tenang.

Pagi itu, Brant sudah bersiap di atas motor sport hijaunya. Sebelum berangkat, dia menelpon Luca. Benar saja, si "tuan putri" itu baru selesai mandi. Namun Begitu Brant sampai di depan pagar rumah Luca, cowok mungil itu sudah lari-larian keluar dengan tas yang melompat-lompat di punggungnya.

​Luca nyengir lebar, tipe cengengesan yang bikin Brant langsung waspada. Pasti ada maunya, batin Brant.

​"Kak Brant! Inget janji kan? Hari ini aku yang bawa motornya!" Luca langsung memasang pose memohon, bahkan hampir bersujud di depan ban motor. "Plisss, Kak! Sekali aja! Aku mau pamer ke teman- teman kampus!"

​Brant menghela napas panjang, menatap motor kesayangannya dan nyawanya sendiri secara bergantian. "Ca, ini motor gede. Kalau lo oleng sedikit, kita berdua jadi aspal."

​"Nggak bakal! Aku kan jago!" Luca meyakinkan dengan mata berbinar.

​Dengan berat hati dan doa yang tak putus dalam hati, Brant turun dan membiarkan Luca naik ke kursi kemudi.

Begitu mesin menyala, Luca langsung tancap gas tanpa aba-aba. Brant yang belum siap hampir saja terjungkal ke belakang kalau tidak segera memeluk pinggang Luca dengan erat.

​"LUCA! PELAN-PELAN!" teriak Brant di balik helm.

​"ASIIIIK! KITA TERBAAAANG!" sahut Luca girang. Dia malah asyik menyanyi kencang-kencang di balik helmnya, tidak peduli motornya sedikit oleng saat menyalip angkot.

​Puncaknya adalah saat Luca mau belok kanan tapi malah menyalakan lampu sein kiri. Brant sampai harus mengambil alih kemudi dengan tangannya sendiri dari belakang karena hampir ditabrak truk. Luca? Dia cuma tertawa tanpa dosa. "Hehe, sori Kak, jarinya kepeleset!"

Begitu motor hijau itu terparkir sempurna, Brant langsung mengembuskan napas lega. Akhirnya mereka sampai dengan selamat, meskipun sepanjang perjalanan tadi ia harus terus mengomeli Luca yang sangat keras kepala dan susah diberi tahu.

Mereka pun berpisah di parkiran itu, Brant harus menemui dosen pembimbingnya.

Sementara Luca langsung menuju ke ruanganya dengan gaya sok keren.

Begitu melangkah masuk, Luca langsung disambut oleh riuh kegaduhan kelas. Ternyata, dosen yang mengajar di jam pertama belum juga menampakkan diri.

​"Heh, Rose! Jidat lo mau gue timpa pakai potongan kuku?" Vin mengomel karena Rose asyik menggunting kuku di atas meja kelas, dan potongannya bertebaran ke mana-mana.

​"Sori, Vin. Selesai gunting kuku terakhir ini gue bersihin kok" sahut Rose santai.

​Luca bergabung, ikut duduk di meja. "Dosen nggak masuk ya?."

"Belum datang mungkin. Gue lihat di grup nggak ada pemberitahuan apa-apa dari dosen," sahut Elena malas. Sambil bersandar mager, ia menumpu dagu di atas kedua tangan yang terlipat di atas meja.

​Mereka mulai ngobrol random karna suasana yang menjemukan. mulai dari perkembangan kedekatan Rose dan Jack yang makin nggak jelas, sampai Elena yang bertanya soal tugas ekonomi yang hanya dijawab Luca dengan, "Hah? Emang ada tugas?" Respons super pasrah itu sukses di hadiahi jitakan sayang oleh Elena.

Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk ke kantin saja.

Di sisi lain kampus, setelah pintu ruang Dosen Pembimbing tertutup dengan bunyi klik yang dingin, Brant tidak langsung beranjak. Dia masih duduk diam di kursi panjang koridor kampus yang sepi. Di tangannya, tumpukan kertas draf skripsi itu terasa berat—bukan karena tebalnya, tapi karena coretan tinta merah di dalamnya.

​Dia menunduk, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. Tubuhnya lelah, benar-benar lelah. ​Tepat saat itu, ponselnya bergetar. Sebuah foto masuk dari Papanya. Foto ruangan kantor di London dengan dinding kaca besar yang menghadap ke jalanan kota yang asing.

​"ini akan menjadi tempatmu nanti. Jangan ada kegagalan."

​Brant menatap layar itu dengan tatapan kosong. Dia merasa seperti bidak catur yang sedang dipindahkan ke sana kemari oleh tangan ayahnya. Kini lelah di tubuhnya telah menjalar masuk di pikirannya dan mulai merembet ke Luca.

​"Apa pun yang terjadi... gue nggak bakal lepasin lo,ca " batin brant. Ia Meyakinkan dirinya, bahwa semua akan baik-baik saja.

​Kombinasi antara tuntutan masa depan dan lelah batin yang luar biasa, membuat kepala Brant terasa mau pecah. Dia butuh sesuatu untuk membungkam kebisingan di otaknya. Dia butuh melupakan—meski hanya sebentar.

​Dengan langkah gontai dan mata yang memerah karena menahan segala beban, Brant berjalan menuju kantin hanya untuk melihat wajah Luca sebagai "obat". Ia butuh bicara dengan Luca. Meski hanya mendengar suaranya ataupun basa basi aneh dari cowok kesayangannya itu.

Namun, yang dia temukan di sana...

Brant mematung di kejauhan. Amarah, cemburu, dan beban bercampur menjadi satu ledakan dingin di dadanya. Dia melihat Luca tertawa begitu lepas, tangan Luca bergerak lincah mengelap tangan seorang pria yang basah. Di mata Brant yang sedang kalut, itu bukan sekadar menolong, tapi sebuah tindakan yang berlebihan.

​Brant memejamkan mata sejenak, mengepalkan tangan, lalu berbalik. Dia tidak ingin melihat lebih lama lagi. Dia pergi dengan langkah cepat, membiarkan rasa sesak itu membakar habis sisa kesabarannya hari itu.

​Namun, hanya beberapa menit setelah Brant menghilang di balik tikungan koridor...

"Eh, udah dapet meja?" Suara Vin memecah suasana saat ia datang bersama Rose dan Elena membawa nampan makanan. Mereka baru datang setelah mengantre panjang, meninggalkan Luca hanya berdua dengan seorang pria yang bernama Bily.

​Billy sebenarnya adalah gebetan Elena dari universitas lain yang sengaja mampir ke kampus untuk menemuinya. Sialnya, Brant tiba di waktu yang salah; ia hanya melihat momen saat Luca bersama Billy, tepat sebelum Elena dan yang lainnya kembali. Tanpa tahu bahwa pria itu adalah tamu Elena.

Lampu bar yang remang-remang dan dentum musik bass yang pelan tidak cukup untuk menenangkan badai di kepala Brant. Di depannya, beberapa botol kosong sudah berjajar. Brant yang biasanya paling kuat minum, kali ini terlihat benar-benar hancur.

​"Brant, udah... lo udah minum terlalu banyak, Nyet," tegur Clay sambil mencoba menjauhkan gelas baru dari tangan Brant.

"Masalah skripsi lagi?

Brant tidak menjawab. Dia hanya menatap gelasnya yang telah berpindah itu dengan mata merah, lalu menenggaknya sekali habis.

​ "Sabar, Brant. Lo pasti bisa hadapi,"ucap rey menenangkan.

Brant tertawa sumbang, matanya merah dan sayu. "Lo tahu nggak? Papa gue... dia udah siapin kantor di London. Sebentar lagi,rey. Sebentar lagi....Gue nggak pernah minta. Gue nggak pernah ditanya gue mau apa," racau Brant lagi, suaranya serak dan bergetar. "Gue mau di sini. Gue cuma mau sama kehidupan yang sekarang. Tapi dunia narik gue paksa ke sana... gue takut, takut kalau gue pergi, semuanya bakal hilang."

Ketiga sahabatnya terdiam. Ini pertama kalinya Brant membuka mulut soal tekanan ayahnya. Selama ini mereka mengira Brant baik-baik saja dengan segala kemewahan itu.

Melihat Brant yang mulai meracau dan tidak mau berhenti minum, Rey menatap jack dan Clay dengan khawatir. "Nggak bener ini. Cuma satu orang yang bisa bikin dia berhenti."

Sementara itu, di kamarnya, Luca duduk di pinggir tempat tidur dengan ponsel di genggaman. Pikirannya sudah ke mana-mana. Kenapa Kak Brant nggak respon? Apa dia marah, tapi marah karna apa? Apa dia kecapekan ngerjain revisi? Tanya Luca pada dirinya sendiri.

Luca dirundung cemas. Setelah tadi siang dia ditinggal begitu saja di kampus. kini semua panggilan dan pesannya diabaikan begitu saja—hanya menyisakan centang dua abu-abu di layar ponsel tanpa ada tanda-tanda kabar dari Brant.

​Drt... drt...drt...

​Ponselnya berdering lama. Luca sempat bengong, overthinking-nya membuatnya lambat merespons sampai dering kesekian kalinya baru dia angkat.

​"Ha-halo?"

​"Ca, ini gue Rey! Buruan ke alamat yang gue kirim! Brant hancur banget, dia mabuk parah dan nggak mau berhenti minum. Cuma lo yang bisa bujuk dia sekarang," suara Rey terdengar mendesak di seberang sana.

​Jantung Luca serasa merosot ke perut. Tanpa pikir panjang, dia lari keluar kamar. Dia menemui Mamanya dengan wajah panik. "Ma! Kak Brant sakit sendirian di apartemennya, dia butuh bantuan Luca! Boleh Luca ke sana?" bohong Luca, suaranya hampir pecah karena takut.

​Mamanya yang melihat wajah serius Luca akhirnya memanggil Lea. "Lea, tolong antar kakakmu ke apartemenya Brant. pakai aja mobil Mama"

Lea hanya berdehem. Melihat Luca yang tampak tidak sabaran untuk segera pergi, ia langsung meraih kunci mobil di atas meja.

​Di dalam mobil, Lea melirik Luca yang terus-terusan meremas jarinya. "Ca, jujur sama gue. Brant kenapa?"

​Luca menoleh, wajahnya terlihat tegang. " kak Brant mabuk berat di bar, dan nggak mau di ajak Pulang.Tolong jangan kasih tahu Mama, tapi aku harus jemput dia sekarang. Plis, lea, bantu kali ini aja." Tatapan Luca memohon. " kamu bisa pulang setelah itu, supaya mama nggak cemas nunggunya, ya?"

​Lea sempat menghela napas berat, tidak setuju kakaknya berurusan dengan tempat seperti itu, apalagi ninggalin Luca di sana. Tapi melihat keseriusan dan ketulusan di mata Luca, Lea akhirnya mengangguk. "Sekali ini saja, Luca. Gue bantu lu.

Begitu sampai, Luca melangkah masuk ke dalam bar yang bising dan penuh asap, langkahnya sempat ragu. Matanya yang bulat mengerjap bingung melihat lampu warna-warni dan suasana yang belum pernah dia datangi seumur hidupnya.

​Di sudut ruangan, Clay, Rey, dan jack langsung terlonjak kaget melihat sosok mungil itu benar-benar muncul di sana.

​"Gila, beneran dateng si Luca," gumam Clay tak percaya. Selama ini mereka tahu Luca itu tipe anak yang harus dituntun kalau jalan-jalan karena gampang bingung, apalagi ke tempat "dunia malam" seperti ini.

​"Sori, Ca, gue terpaksa telepon lo," ucap rey saat menghampiri Luca. Ia membawanya sampai di meja mereka. "Brant nggak mau dibawa pulang. Tadi kita paksa, dia malah mau ngamuk dan hampir berantem sama satpam di depan. Dia cuma mau minum terus."

​Jack yang duduk di samping Brant menepuk bahu Luca pelan. "Brant lagi stres berat, Ca. Pikirannya kacau banget. Cuma lo satu-satunya orang yang bisa tenangin dia sekarang."

​Luca menatap Brant yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja di antara botol-botol kosong. Hati Luca mencelos. Tanpa rasa takut sedikit pun terhadap suasana bar yang asing, dia mendekat dan mengusap pundak Brant.

​"Kak Brant... ayo pulang sama aku," bisik Luca lembut.

​Meski suara bar begitu bising, Brant langsung mengenali suara Luca. Dia mengangkat kepalanya perlahan. Matanya sayu dan berair. Begitu fokusnya tertuju pada wajah Luca, amarah yang tadi berkobar di dadanya langsung padam seketika, digantikan oleh rasa rapuh yang amat dalam.

​"Luca...?" Brant menarik napas gemetar, lalu tiba-tiba menarik Luca ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Luca. "Gue pikir lo udah pergi..."

​Clay, Rey, dan Jack hanya bisa saling lirik. Mereka lega sekaligus terharu melihat singa yang tadi mengamuk, sekarang langsung jinak hanya karena satu sentuhan dari Luca.

Setelah memutuskan untuk bubar, mereka berpisah di parkiran bar. Atas arahan Jack , Clay membawa Luca dan Brant pulang dengan mobilnya.

Dalam keheniningan perjalanan, dari balik spion tengah, Clay bisa melihat bagaimana Brant terus menggenggam erat jemari Luca. Clay kini tau, hal terberat yang di rasakan Brant saat ini adalah perpisahan dengan Luca.

Setelah tiba di apartemen Brant, dengan bantuan Clay yang memapah tubuh beratnya, Brant akhirnya berhasil direbahkan di ranjang kamarnya. Tak lama, Clay pamit pulang dan meninggalkan mereka dalam keheningan. Luca hanya bisa terduduk diam di tepi kasur sambil menatap wajah lelah Brant yang memerah, menyadari bahwa di balik keangkuhannya, pria ini sedang hancur sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!