Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23 — Untuk Pertama Kalinya
Lorong rumah sakit terasa begitu sunyi.
Semua mata tertuju pada Reno setelah dokter mengatakan ayahnya ingin bertemu dengannya.
Pria itu berdiri diam beberapa detik.
Seolah masih sulit mempercayai apa yang baru saja ia dengar.Karena selama hidupnya, hubungan Reno dengan sang ayah tidak pernah benar-benar hangat.Ayahnya selalu melihat Reno sebagai penerus keluarga Mahardika bukan sebagai anak yang juga ingin dimengerti.
“Ayah manggil kamu,” bisik Alya pelan.
Tatapan Reno perlahan beralih pada wanita itu.Dan untuk pertama kalinya malam itu, Alya bisa melihat ketakutan nyata di mata Reno.
“Aku takut,” gumamnya lirih.
Deg.
Dada Alya langsung terasa sesak.
Karena pria yang selama ini selalu terlihat kuat kini tampak begitu rapuh.Alya perlahan menggenggam tangan Reno erat.
“Aku di sini." Ucap Alya.
Kalimat sederhana itu berhasil membuat Reno sedikit lebih tenang.Pria itu menatap Alya lama sebelum akhirnya mengangguk pelan lalu berjalan menuju ruang ICU.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya.
Dan Alya hanya bisa menunggu dengan jantung yang ikut berdebar tidak tenang.
Di dalam ruangan ICU, suara monitor jantung terdengar pelan memenuhi udara.
Ayah Reno terlihat jauh lebih lemah dibanding terakhir kali mereka berbicara.Namun saat melihat Reno masuk, pria itu perlahan membuka matanya.
“Yah…”
Reno mendekat pelan ke sisi ranjang.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Hubungan mereka terlalu rumit untuk memulai percakapan sederhana.
“Aku belum mati,” gumam ayahnya pelan meski napasnya terdengar berat.
Reno tertawa kecil hambar.
“Masih sempat marah berarti.”
Pria tua itu menatap putranya cukup lama.
Dan tatapan itu tidak lagi setajam biasanya.
“Duduk.”
Reno menurut perlahan.
Tangannya terasa dingin.
Entah kenapa, malam ini ia kembali merasa seperti anak kecil yang selalu takut membuat ayahnya kecewa.
“Aku dengar Alya datang,” ujar ayahnya lirih.
Reno langsung menegang.
“Kalau Ayah mau nyuruh aku ninggalin dia lagi”
“Aku capek.”
Kalimat itu membuat Reno terdiam.
Ayahnya memejamkan mata sesaat sebelum melanjutkan,
“Seumur hidup aku terlalu sibuk ngatur hidup kamu.”
Suasana mendadak sunyi.
Reno tidak pernah mendengar ayahnya berbicara selemah ini sebelumnya.
“Dan aku baru sadar…” pria itu tertawa kecil pahit, “ternyata anakku tumbuh jadi seseorang yang bahkan takut bicara jujur sama ayahnya sendiri.”
Deg.
Jantung Reno langsung terasa sesak.
Karena itu benar.
Selama ini ia selalu takut pada ayahnya.
Takut dianggap gagal.
Takut tidak cukup baik.
“Ayah.”
“Aku tahu kamu berubah karena perempuan itu.”
Tatapan Reno perlahan melemah.
“Aku cinta sama dia.”
“Aku bisa lihat.”
Ayahnya mengembuskan napas panjang.
“Mungkin cara kamu mencintainya memang berantakan.” Tatapannya perlahan menajam tipis. “Tapi setidaknya… kali ini kamu terlihat hidup.”
Mata Reno langsung memanas.
Karena itu pertama kalinya ayahnya mengakui sesuatu tentang dirinya tanpa tuntutan.
“Aku banyak salah sama Alya,” bisik Reno lirih.
“Aku tahu.”
“Aku takut kehilangan dia.”
Suasana kembali hening.
Lalu perlahan, ayah Reno mengangkat tangannya yang lemah.
Dan untuk pertama kalinya sejak Reno dewasa pria itu menyentuh kepala putranya pelan.Gerakan sederhana yang belum pernah Reno rasakan bertahun-tahun.
“Kalau kamu benar-benar mencintainya…” suara ayahnya mulai melemah, “jangan ulangi kesalahan yang sama.”
Air mata Reno akhirnya jatuh juga.
Dan malam itu untuk pertama kalinya, Reno menangis di depan ayahnya sendiri.
Di luar ICU, Alya duduk diam sambil menggenggam jemarinya sendiri gelisah.
Ibunya Reno duduk di sampingnya dengan wajah lelah.
“Kamu pasti capek ya menghadapi Reno,” ucap wanita itu tiba-tiba.
Alya langsung sedikit panik.
“Eh… nggak juga, Tante.”
Wanita itu tersenyum kecil.
“Reno keras kepala sejak kecil.” Tatapannya perlahan melembut. “Tapi dia nggak pernah membawa seseorang sejauh ini ke hidupnya.”
Deg.
“Ayahnya sebenarnya takut kehilangan Reno.” Suaranya pelan. “Makanya beliau terlalu menekan.”
Alya menunduk pelan.
Karena sekarang ia mulai memahami sedikit demi sedikit alasan di balik sifat Reno.
Pria itu tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan.Dan mungkin itulah sebabnya Reno dulu menjadi seseorang yang begitu kasar terhadap orang lain.
Tak lama kemudian, pintu ICU terbuka.
Reno keluar dengan mata merah.
Deg.
Alya langsung berdiri.
“Kamu nangis?”
Reno tertawa kecil malu sambil mengusap wajahnya kasar.
“Sedikit.”
Namun sebelum Alya sempat bicara lagi, Reno tiba-tiba menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
Erat sekali.
“Ayah aku…” suaranya serak, “akhirnya dengerin aku.”
Hati Alya langsung terasa hangat sekaligus nyeri.Karena ia tahu di balik sikap arogan Reno selama ini, ternyata ada luka besar yang selalu disembunyikan pria itu sendirian.
Alya membalas pelukan Reno perlahan.
Untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan yang terjadi, ia merasakan ketenangan kecil di antara mereka.
Meski luka masa lalu belum benar-benar sembuh, malam itu Alya bisa melihat sisi Reno yang selama ini tersembunyi.Rapuh,kesepian dan terlalu lama memikul semuanya sendirian.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Alya pelan sambil menatap wajah Reno.
Reno mengangguk kecil.
“Cuma… rasanya aneh.”
“Aneh gimana?”
Pria itu tertawa kecil hambar.
“Seumur hidup aku selalu pengen diakui sama Ayah.” Tatapannya menunduk sesaat. “Dan baru malam ini aku ngerasa benar-benar dianggap anak.”
Deg.
Dada Alya terasa sesak mendengarnya.
Karena Reno mengucapkannya dengan suara yang sangat pelan seolah pengakuan sederhana dari ayahnya adalah sesuatu yang paling ia tunggu sepanjang hidup.
Ibunya Reno yang melihat mereka dari kejauhan perlahan tersenyum tipis.
“Mungkin Papa kamu akhirnya sadar,” ucap wanita itu lembut, “kalau yang paling penting bukan perusahaan atau nama keluarga.”
Reno menatap ibunya diam.
“Tapi kebahagiaan anaknya sendiri.”
Suasana mendadak menjadi emosional.
Reno langsung memalingkan wajah sambil mengusap matanya kasar.
“Aku nggak nangis lagi,” gumamnya cepat.
Alya justru tersenyum kecil untuk pertama kalinya malam itu.
“Kamu lucu kalau panik.”
Reno menatap Alya beberapa detik sebelum akhirnya ikut tersenyum kecil.Dan senyum itu membuat hati Alya kembali berdebar.
Namun ketenangan kecil mereka tidak berlangsung lama.
Karena beberapa menit kemudian, salah satu perawat datang tergesa-gesa menghampiri keluarga Reno.
“Permisi…”
Semua langsung menoleh.
Perawat itu terlihat ragu sesaat sebelum berkata,
“Ada seseorang yang memaksa ingin bertemu Tuan Mahardika.”
Reno mengernyit.
“Siapa?”
Perawat itu menelan ludah pelan.
“Beliau bilang namanya… Pak Adrian.”
Deg.
Wajah ibunya Reno langsung berubah pucat.
Sementara Reno perlahan menegang.
Alya yang melihat perubahan ekspresi mereka langsung merasa tidak tenang.
“Siapa dia?” bisiknya pelan.
Namun Reno tidak langsung menjawab.
Tatapannya berubah dingin.Penuh kemarahan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Dan beberapa detik kemudian, seorang pria paruh baya berjalan masuk ke lorong rumah sakit dengan senyum tipis di wajahnya.
Tatapan pria itu langsung tertuju pada Reno.
“Sudah lama nggak ketemu,” ucapnya santai.
Rahang Reno langsung mengeras.Karena orang itu adalah pria yang paling dibencinya setelah dirinya sendiri.