Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tekad
Seketika wajah Alma terangkat, kala melihat seseorang berdiri di hadapannya, dan matanya yang sembab membelalak tak percaya.
"Danish...? Huwaaa....!"
Alma bangkit dari duduknya, lalu tanpa permisi menyenderkan kepalanya pada bahu lebar nan kokoh milik pemuda itu. Ia menangis tersedu-sedu menumpahkan segala rasa sakit, kecewa, dan hancur yang sejak tadi ditahannya sekuat tenaga. Semua airmata yang mendesak keluar, kini luruh sepenuhnya.
Danish hanya diam, tak menolak, tidak pula bertanya apa-apa. Ekspresi wajahnya dingin dan tetap berdiri tegak, membiarkan pundaknya menjadi sandaran. Persis seperti dulu yang selalu Alma lakukan setiap kali ia bersedih.
"Biarkan seperti ini, aku butuh bahumu untukku bersandar, please!" ujar Alma dengan suara parau.
Hati Danish berdenyut nyeri mendengar suara Alma yang begitu menyayat. Tangannya terangkat lalu menepuk-nepuk pelan pundak wanita itu berusaha menenangkan sahabatnya. Meski tak ada kata-kata yang terucap dari bibirnya.
Beberapa saat berlalu, tangisan Alma perlahan mereda dan hujan pun hanya menyisakan gerimis lembut. Ia mengangkat wajahnya menatap Danish dengan pandangan nanar. Melihat keadaan sahabatnya yang berantakan, pemuda itu segera mengambil saputangan bersih dari saku celananya lalu menyodorkannya pada Alma.
"Bersihkan wajahmu. Jelek banget tahu, nggak! Ingus dan bekas airmatamu itu ke mana-mana," ujarnya santai sambil tersenyum mengejek mencoba mencairkan suasana.
"Masa kamu nggak malu, ketemu sama pemuda setampan dan sekeren aku, tapi penampilanmu malah kacau begini?"
Alma langsung cemberut, ia merebut saputangan Danish dengan kasar, lalu menggunakannya untuk mengusap sisa airmata dan ingus di wajahnya. Setelah merasa cukup bersih, ia pun melipatnya kembali saputangan itu, lalu memasukkan sendiri ke dalam kemeja Danish di sebelah dada.
"Dasar laki-laki, semua sama saja! Kamu nggak tahu sih, kalau aku tuh, lagi sedih dan hancur!" gerutunya ketus, lalu secara reflek ia memukul bahu Danish gemas.
"Ralat, aku nggak termasuk lelaki yang kamu sebutkan barusan. Lagian mana aku tahu... kamu belum cerita malah sudah nangis bombay," kilah Danish, tak terima tuduhan Alma.
"Danish, bisa serius nggak, sih!" Sekali lagi Alma memukul pundak Danish.
Pemuda itu tersenyum kecil, dia memang selalu memasang wajah dingin pada orang lain. Namun, jika sama keluarga dan orang-orang terdekat, maka dia bisa bertingkah sebaliknya.
"Oke, sekarang katakan kenapa kamu bisa menangis sampai segitunya, bahkan langit pun ikut menangis."
"Nova, dia...dia ternyata lelaki bre*gs*k! Rupanya dia punya istri lain selain aku, Nish. Dan istrinya sedang melahirkan bayi mereka...huhuhu...! Aku benci dia...!"
Wajah Danish seketika berubah. Tangannya yang memegang gagang payung mencengkeram dengan erat sekali seolah ingin meremukkan. Sementara tangan kirinya mengepal erat di sisi tubuhnya, seakan ikut merasakan kemarahan yang Alma rasakan.
"Kamu serius?"
"Apakah wajahku kelihatan bercanda?" balas Alma sewot.
"Ayo, tunjukkan kamarnya di mana!" Danish langsung meraih tangan Alma dan membawanya pergi dari tempat itu. Alma hanya menurut saja, mengikuti langkah pemuda itu di sampingnya, tak ada lagi tenaga tersisa di tubuhnya untuk menolak atau melawan.
Namun, ketika hampir memasuki lobi, netra Alma kembali menangkap sosok Nova yang berjalan santai menuju parkiran dengan senyum puas terukir jelas di bibirnya.
Jantung Alma kembali berdenyut. Ia menatap tajam punggung suaminya yang hendak masuk ke dalam mobil. Ia lantas menoleh ke arah Danish dengan pandangan serius.
"Ikuti dia!" perintahnya tegas.
Tanpa banyak bertanya, Danish langsung membawa Alma ke mobilnya. Kemudian menyalakan mesin lalu melajukan kendaraannya pelan-pelan mengikuti mobil Nova yang mulai bergerak deng menjaga jarak aman, agar tak kehilangan jejak.
Sepanjang perjalanan, Alma hanya diam menunduk, tangannya saling mencengkeram erat di atas pangkuan. Di dalam kepalanya, semua kejadian yang dilihatnya tadi berputar ulang seperti rekaman film. Wajah bahagia Nova, wanita itu, tangisan bayi, serta kata-kata manis yang diucapkan suaminya untuk wanita lain. Semuanya terasa begitu nyata dan sangat menyakitkan.
Danish sesekali melirik Alma dari samping, hatinya ikut merasakan perih demgan masalah yang sedang sahabatnya hadapi. Dia tahu persis, Alma adalah wanita yang tulus, setia, dan mencintai sepenuh hati.
Mobil Nova akhirnya berbelok masuk ke sebuah kawasan perumahan elit. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah bangunan yang sangat megah. Danish menghentikan mobilnya di depan salah satu rumah, lalu menoleh ke arah Alma yang kini menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong ke rumah di depannya.
"Jadi, selama ini Nova tinggal di sini. Di rumah yang mewah, nyaman, dan indah... bersama istri dan anak mereka?" batin Alma tak terima.
Sementara ia sendiri diberikan hunian di cluster menengah. Dan selama ini dirinya selalu percaya pada suaminya yang selalu beralasan sibuk bila tak pulang. Entah, lembur kerja karena dikejar deadline atau proyek ke luar kota.
Dengan tangan gemetar, Alma merogoh saku blazernya lalu mengeluarkan ponselnya. Ia membuka daftar kontak dan menekan nomor suaminya itu.
Di sampingnya, Danish hanya diam mengawasi, memperhatikan setiap ekspresi yang terlukis di wajah Alma.
Tak lama, panggilan itu tersambung.
"Halo..." suara Nova terdengar santai dari seberang telepon.
"Apa kamu masih di luar kota?" tanya Alma dingin, tanpa salam seperti biasanya.
"Iya, Sayang. Sepertinya bakal molor lagi nih, proyeknya ada kendala teknis mendadak. Tapi, kamu jangan khawatir ya, nanti kalau sudah selesai, Mas pasti langsung pulang..."
"Baiklah."
Hanya satu kata itu saja yang terucap dari bibir Alma, lalu segera memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ponsel itu ia genggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Kata-kata bohong itu... masih sama, berulang-ulang, dan selama tiga tahun ia selalu menelannya mentah-mentah. Padahal kenyataannya, pria itu tidak sedang berada di kota lain atau sibuk bekerja, melainkan sedang berbahagia di rumah mewahnya bersama keluarga keduanya.
"Dia bilang dia masih di luar kota... ada kendala proyek katanya," ucap Alma lirih, senyum pahit tersungging di bibirnya.
"Selama ini dia menganggapku apa? Hanya persinggahan?" Airmata Alma semakin meluncur deras, ia lantas mengusapnya dengan kasar sambil sesenggukan.
Tangan Danish terulur, mengusap bahu Alma lembut. Dia mencoba tersenyum meskipun batinnya ikut merasakan lara mendalam melihat sahabat kecilnya itu hancur.
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanyanya hati-hati.
Alma mengangkat wajahnya, ia lantas mengusap pipinya dengan kasar masih sambil sesenggukan. Netranya menatap lurus ke arah gerbang yang tinggi itu penuh kebencian. Ia lalu menoleh dan menatap Danish dengan pandangan penuh arti. Matanya yang sembab kini berubah tajam, berkilat karena amarah yang meluap. Rasa sedihnya telah berganti menjadi tekad yang kuat.
"Aku ingin mengajukan gugatan cerai. Aku sudah muak dengan semua kebohongannya selama ini. Aku membencinya... tapi aku juga benci pada diriku sendiri yang terlalu mempercayainya!"
Danish menatap Alma lekat-lekat, matanya menyiratkan kekhawatiran sekaligus pertimbangan yang mendalam.
"Tapi, Al. Apa kamu sudah benar-benar mantap dengan keputusan ini? Yakin bahwa ini jalan terbaik yang kamu inginkan?"
Alma menarik napas panjang, seraya melipat bibirnya kuat-kuat lalu mengembuskannya perlahan, seolah melepaskan segala rasa sakit yang masih tersisa.
"Tentu saja...! Apa lagi yang harus aku pertimbangkan? Aku nggak mungkin diam saja, Nish. Aku mencintainya dengan tulus, mempercayai setiap kata yang dia ucapkan, bahkan memberikan segalanya—waktu, kesetiaan, dan hatiku. Tapi apa balasannya? Dia menipuku, mempermainkanku seolah aku ini nggak berarti apa-apa di matanya!" jawabnya tegas, meski suaranya terdengar bergetar.
"Lagian apa kamu rela... sahabatmu yang cantik jelita tiada tara ini, dimadu sama lelaki durjana itu?" Alma memanyunkan bibirnya seraya menatap Danish dengan sengit. "Tega kamu!"