NovelToon NovelToon
AKSARA DI BALIK TATTO

AKSARA DI BALIK TATTO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Di mata Arum, Angkasa Wardana tampak seram badan tinggi besar, bertato ukiran Jawa di lengan kanan, dan berwibawa. Namun, di balik penampilan itu, tersimpan suara lembut dan tutur kata halus. Pertemuan tak sengaja si penulis novel dengan pengusaha sukses itu, perlahan mengungkap makna mendalam di balik setiap goresan tinta dan tato yang menghiasi lengan lelaki itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LUKA DAN RASA YANG SEMAKIN DALAM

Seperti biasa, hari ini Angkasa kembali berniat mendatangi rumah Pak Bimo. Sudah menjadi kebiasaannya belakangan ini, pasti ada saja alasan yang ia buat,mulai dari mengecek ulang data, menanyakan ketersediaan lahan, hingga sekadar lewat dan menyapa.

Padahal semua urusan kerja sama sudah beres dan aman, tapi bagi Angkasa, alasan apa pun sah dan wajar asalkan ia bisa bertemu Arum lagi.

Namun ada yang berbeda hari ini. Biasanya ia selalu datang dengan mobil hitamnya yang nyaman, tapi pagi ini Angkasa memilih menggunakan motor gede kesayangannya.

Sudah cukup lama motor itu terparkir di garasi, jarang ia gunakan karena kesibukan.

Hari ini rasanya ingin sekali merasakan angin jalanan, apalagi cuaca pagi sangat cerah dan mendukung. Mengenakan jaket kulit dan helm full-face, Angkasa melaju dengan santai, menikmati perjalanan menuju desa tempat tinggal Pak Bimo.

Jaraknya tidak terlalu jauh, sebentar lagi ia akan sampai. Motornya melaju pelan memasuki jalanan desa yang beraspal halus, di kiri kanan terhampar kebun-kebun milik warga dan pohon-pohon rimbun yang meneduhkan. Angkasa tersenyum sendiri di balik helmnya, membayangkan reaksi Arum nanti saat melihat kedatangannya.

Namun, tiba-tiba saja...

Mbeeeek!

Sesosok hewan berbulu putih cokelat melompat lincah dari balik semak-semak pinggir jalan, tepat di depan motor Angkasa. Seekor kambing milik warga yang entah bagaimana bisa lepas. Angkasa kaget bukan main. Refleks tangannya langsung memutar stang ke arah kiri dengan keras, ia tidak mungkin mengerem mendadak di kecepatan segini, dan ia sama sekali tidak berniat menabrak hewan tak berdosa itu.

Namun karena gerakan menghindar yang terlalu tiba-tiba, keseimbangan motor besar itu terguncang hebat. Ban depan selip menyapu aspal, dan dalam sekejap...

BRUKKKKK!!! BRAAAKKKKK!!!

Badan Angkasa beserta motornya jatuh berguling ke pinggir jalan, masuk sedikit ke pinggiran tanah dan rumput. Suara gaduh besi bergesekan dengan aspal terdengar nyaring memecah keheningan pagi.

Beberapa meter dari lokasi kejadian, ada seorang pekerja kebun buah milik Pak Bimo yang kebetulan sedang libur dan berjalan melewati situ sendirian. Pria itu sontak berhenti, kaget bukan kepalang melihat kecelakaan di depannya. Saat sosok itu bangkit perlahan dari tanah dan membuka helmnya, pekerja itu langsung mengenali wajah itu.

"Itu Mas Angkasa! Anak muda yang sering ke rumah Pak Bimo itu!" pikirnya kaget setengah mati. Ia sering melihat Angkasa berdiskusi dengan Pak Bimo, jadi wajah itu sangat melekat di ingatannya.

Tanpa buang waktu, pekerja itu langsung berlari secepat kakinya membawa kabar buruk itu ke rumah utama Pak Bimo yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Di rumah Pak Bimo, Pak Bimo dan Bu Saras sedang santai duduk di teras sambil menikmati minuman hangat. Hari itu cuaca sangat enak, jadi mereka berencana bersantai saja. Tiba-tiba napas terengah-engah dan suara langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Pekerja kebun itu datang dengan wajah pucat dan berkeringat.

"Pak! Pak Bimo! Cepat Pak... Mas Angkasa... Mas Angkasa kecelakaan di jalan dekat kebun!" seru pekerja itu sambil menunjuk ke arah jalan.

Pak Bimo dan Bu Saras serentak berdiri kaget, wajah mereka langsung berubah cemas.

"Apa?! Angkasa?!" seru Pak Bimo kaget berat. Tanpa menunggu lama, Pak Bimo langsung berlari mengikuti pekerja itu. "Ayo bawa saya ke sana, cepat!"

Tidak lama kemudian, Angkasa sudah dibawa ke rumah Pak Bimo dengan berjalan ditopang oleh Pak Bimo dan pekerja itu. Meski sempat jatuh cukup keras, untungnya Angkasa masih sadar sepenuhnya dan bisa berjalan, meski sedikit pincang dan menahan sakit.

Baru saja mereka masuk ke halaman dan suara langkah kaki gaduh itu terdengar, pintu kamar Arum yang ada di dekat ruang tamu langsung terbuka. Arum baru saja bangun tidur siang dan hendak keluar untuk minum. Namun langkah kakinya terhenti kaku di ambang pintu, matanya membelalak tak percaya saat melihat sosok yang dituntun ayahnya masuk.

"Mas Angkasa?!" jerit Arum lirih, wajahnya seketika memucat.

Baju jaket Angkasa kotor terkena debu dan tanah. Di lengan kanannya lengan yang bertato itu terlihat luka panjang yang agak parah, kulitnya terkelupas dan sedikit berdarah. Bibir bawahnya juga terluka, ada goresan dan lebam kecil bekas terbentur bagian dalam helm saat jatuh tadi. Wajah Angkasa sedikit pucat, tapi ia berusaha tetap tenang dan tersenyum tipis saat melihat Arum yang menatapnya dengan tatapan tak percaya dan panik.

"Ya ampun... Mas Angkasa kenapa?!" Arum langsung berlari mendekat, panik bukan main. Ia sama sekali tidak peduli pada orang lain, fokusnya hanya pada luka-luka di tubuh Angkasa.

"Enggak apa-apa, Mbak... cuma jatuh dikit," jawab Angkasa pelan, suaranya sedikit serak.

"Yang bener aja, Mas! Ini dikit namanya?!" seru Arum gemetar. Ia langsung berbalik lari masuk ke dalam, mengambil kotak P3K besar yang selalu tersedia di dinding. Ia kembali lagi dengan kotak obat terbuka di tangannya, wajahnya terlihat sangat cemas dan matanya sudah berkaca-kaca.

Pak Bimo melihat itu, lalu berkata pelan pada istrinya, "Bun, kita biarkan mereka dulu ya. Ayah mau bantu dorong dan benerin motor Angkasa di depan sana, sekalian tanya-tanya warga siapa yang lihat kejadiannya biar tau penyebabnya."

"Baik Pak. Bunda ke dapur dulu sekalian ya, kebetulan sudah jam makan siang, sekalian saya siapkan makan buat kita semua dan Mas Angkasa juga," jawab Bu Saras paham. Keduanya pun perlahan menjauh meninggalkan Angkasa dan Arum berdua saja di ruang tamu yang sepi.

Kini hanya ada mereka berdua. Arum duduk tepat di samping Angkasa, jarak mereka begitu dekat. Jantung Arum berdegup kencang sekali, bukan lagi karena malu, tapi karena campuran rasa khawatir dan perasaan aneh saat harus mengobati luka laki-laki itu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arum mulai membersihkan luka di lengan kanan Angkasa. Ia mengelap debu dan tanah yang menempel dengan kapas yang dibasahi cairan antiseptik. Gerakannya pelan, hati-hati sekali seolah takut melukai lebih dalam. Sepanjang waktu itu, mata Angkasa sama sekali tidak berkedip menatap wajah Arum. Tatapannya lekat, dalam, dan penuh rasa kagum. Ia tidak merasa sakit sedikit pun, rasanya justru senang sekali diperhatikan sedemikian rupa oleh gadisnya. ( ekh gadisnya? Emang udah jadian y mas? Hehe)

Arum di sisi lain, semakin lama semakin gugup. Aroma tubuh Angkasa, tatapan matanya yang tak pernah lepas, dan karna jarak mereka sedekat ini membuatnya semakin terpesona, sekaligus membuat hatinya terasa perih melihat luka-luka itu.

Setelah selesai di bagian lengan, tangan Arum bergerak naik, menuju bibir Angkasa yang terluka dan sedikit bengkak. Napas Arum tertahan. Ia tahu bagian ini pasti sangat perih.

"Maaf ya Mas... ini pasti sakit banget," bisik Arum pelan.

Ia mulai mengoleskan obat pelan sekali ke bagian sudut bibir yang lecet itu. Namun begitu kapas basah itu menyentuh kulit sensitif di sana, Angkasa tak bisa menahan desahan pelan.

"Ah... sstt..." Angkasa sedikit merintih dan mengerutkan kening menahan perih yang tajam itu.

Dan di detik itulah...

Mata Arum yang sedari tadi sudah berkaca-kaca, tumpah sudah. Air mata bening meluncur deras jatuh dari kedua pipinya, tanpa bisa ia tahan lagi. Arum memang orangnya tidak tegaan. Melihat Angkasa yang gagah dan kuat ini terluka, menahan sakit, apalagi karena hal yang sebenarnya sepele tapi berisiko... hatinya sakit rasanya.

Angkasa yang tadinya fokus menahan sakit, seketika kaget luar biasa saat melihat air mata itu jatuh. Ia langsung lupa sama sekali rasa sakit di bibir dan lengannya. Wajahnya berubah panik, tangannya yang terluka itu bergerak pelan, berusaha mengusap air mata Arum.

"Hei... loh? Kok nangis? Eh, kenapa nangis, Mbak? Saya yang sakit kok kamu yang nangis?" tanya Angkasa bingung dan khawatir setengah mati. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Arum sampai menangis sedemikian rupa.

Arum menggeleng-gelengkan kepalanya, air matanya makin deras keluar, ia menepis pelan tangan Angkasa dan malah membenamkan wajahnya sebentar, lalu menjawab di sela-sela isak tangisnya yang halus.

"Aku...hiks aku gak tega, Mas...hiks" ucap Arum lirih, suaranya terdengar sangat sedih dan tulus. "Aku gak tega liat Mas Angkasa luka gini... liat Mas kesakitan gini...hiks rasanya aku pengen gantiin aja lukanya itu ke aku... aku gak suka liat Mas sakit...hiks"

Mendengar jawaban itu, hati Angkasa seketika hangat. Rasa sakit di sekujur tubuhnya hilang tak berbekas, digantikan oleh rasa hangat yang memenuhi dadanya sampai sesak. Ternyata air mata itu jatuh bukan karena jijik, tapi karena rasa sayang yang begitu besar. Arum menangis karena tidak tega melihatnya terluka.

Angkasa tersenyum tipis, meski bibirnya terasa perih, senyum itu paling tulus yang pernah ia berikan.Dia membawa Arum kepelukannya membiarkan gadis itu menangis sejenak, membiarkan gadis itu meluapkan kekhawatirannya. Di ruang tamu yang sepi itu, di tengah suasana hening, hanya ada mereka berdua. Pak Bimo masih sibuk di depan, Bu Saras sibuk di dapur menyiapkan makanan.

1
Achmad
sudah tamat kah
Wulandari Ayuningtyas: belum masih berlanjut
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat✍️☕😍
Wulandari Ayuningtyas: iya bener banget....semangat juga buat kk y
total 1 replies
Achmad
menarik sekali Thor ceritanya
Wulandari Ayuningtyas: wah terimakasih
total 1 replies
Achmad
semangat Thor
Achmad
semangat sehat
Achmad
semangat Thor
Achmad
saya suka Thor lanjut semangat
Wulandari Ayuningtyas: ok semangattt😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!