Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar kos Arga tepat pada pukul delapan.
Arga terbangun dengan perasaan sangat segar dan dada yang terasa lapang.
Hari ini adalah langkah pertamanya secara resmi terjun ke dunia bisnis kelas atas ibu kota.
Dia segera mandi air hangat dan mengenakan kemeja biru tua berlengan pendek yang dipadukan dengan celana bahan hitam lurus.
Penampilannya hari ini terlihat rapi namun tetap mempertahankan gaya kasual yang nyaman baginya.
Tepat pukul sepuluh pagi, sebuah mobil keluarga mewah berwarna hitam mengkilap berhenti di depan gerbang kos.
Seorang pria berkacamata dengan setelan jas abu-abu sangat rapi turun dari mobil tersebut.
Pria itu menanyakan nama Arga kepada Mas Yanto yang sedang menyapu halaman di dekat pos penjagaan.
Mas Yanto langsung menelepon nomor Arga untuk memberitahu bahwa ada tamu penting yang mencarinya.
Arga segera turun ke lantai dasar membawa tas selempang kecil berisi dompet dan dokumen perusahaannya.
"Selamat pagi Bapak Arga, perkenalkan saya Bagas, asisten pribadi Bapak Haris Kusuma," sapa pria berkacamata itu dengan posisi tubuh sedikit membungkuk.
"Pagi Mas Bagas, panggil Arga aja gak usah pakai bapak segala biar kita ngobrolnya lebih santai," balas Arga menjabat tangan asisten tersebut dengan hangat.
"Baik Mas Arga, Bapak Haris mengutus saya secara khusus untuk menemani Mas meninjau lokasi ruko di Menteng hari ini," jelas Bagas sambil tersenyum profesional.
"Semua dokumen serah terima bangunan dan sertifikat hak milik asli juga sudah saya bawa lengkap di dalam tas kerja ini."
"Oke Mas Bagas, kita berangkat sekarang aja biar jalanan Jakarta belum terlalu macet siang ini," ajak Arga melangkah menuju mobil SUV miliknya.
"Saya bawa mobil sendiri aja, Mas Bagas jalan duluan di depan nanti saya ikutin dari belakang ya."
Bagas mengangguk paham dan segera melangkah masuk kembali ke dalam mobil mewahnya.
Arga menyalakan mesin mobil SUV hitamnya dan melaju perlahan mengikuti laju kendaraan Bagas keluar dari kawasan kos.
Perjalanan menuju kawasan elit Menteng memakan waktu sekitar empat puluh lima menit karena sedikit kepadatan lalu lintas di area perempatan.
Mobil Bagas akhirnya berbelok memasuki sebuah kompleks komersial baru yang penjagaannya terlihat sangat ketat dengan palang pintu otomatis.
Arga mengikuti dari belakang dan memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan ruko tiga lantai yang tampak sangat megah.
Bentuk luar ruko itu didominasi oleh kaca besar transparan yang tebal dan dinding batu alam berwarna abu-abu gelap.
Bagas turun dari mobilnya dan menghampiri Arga yang sedang berdiri menatap takjub ke arah bangunan kokoh tersebut.
"Ini adalah unit ruko paling besar di kompleks Menteng ini Mas Arga, posisinya tepat di sudut jalan utama sehingga aksesnya sangat strategis," jelas Bagas menunjuk ke arah ruko.
"Lantai dasarnya memang dirancang khusus oleh pengembang untuk ruang pameran atau galeri seni dengan sistem pencahayaan ganda yang premium."
"Ini ukurannya jauh lebih mewah dari bayangan gue Mas Bagas," ucap Arga jujur tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya.
Arga dan Bagas berjalan masuk ke dalam ruko yang udara di dalamnya sudah terasa sangat sejuk karena pendingin ruangan sentralnya terus menyala.
Lantai marmer putih bersih menghampar luas tanpa ada sekat dinding pembatas memberikan kesan ruangan yang sangat lapang.
"Di lantai dua ada ruang kantor pribadi yang luas dan lantai tiga bisa langsung digunakan sebagai gudang penyimpanan barang atau ruang istirahat," lanjut Bagas memandu langkah Arga berkeliling ruangan.
"Sistem keamanan di bangunan ini juga terhubung langsung dengan pusat komando kepolisian setempat selama dua puluh empat jam penuh."
"Pak Haris beneran totalitas banget ngasih hadiahnya ke gue," gumam Arga menggelengkan kepalanya pelan karena tidak percaya.
Mereka berdua berjalan menaiki tangga ke lantai dua yang sudah dilengkapi dengan meja kerja kayu jati besar dan beberapa sofa kulit untuk tamu.
Bagas meletakkan sebuah map dokumen tebal di atas meja kerja tersebut dan membukanya perlahan.
"Ini sertifikat hak milik bangunan, kunci akses sidik jari digital, dan semua dokumen pajak bumi yang sudah dilunasi penuh atas nama Mas Arga," kata Bagas menyodorkan sebuah pulpen tinta.
"Silakan Mas Arga tanda tangan di sebelah kolom bawah ini sebagai bukti serah terima resminya di mata hukum."
Arga membaca sekilas lembaran dokumen tersebut dan membubuhkan tanda tangannya dengan tangan yang sedikit bergetar karena antusias.
Dia kini resmi menjadi pemilik properti komersial bernilai puluhan miliar rupiah di jantung ibu kota Jakarta.
"Terima kasih banyak atas waktunya ya Mas Bagas, tolong sampaikan rasa terima kasih saya yang terdalam buat Pak Haris," pesan Arga setelah selesai menyerahkan kembali pulpen itu.
"Pasti akan langsung saya sampaikan kepada beliau Mas Arga, kalau begitu saya pamit undur diri dulu karena ada jadwal rapat di kantor pusat," pamit Bagas membungkukkan badannya sopan.
Arga berjalan mengantar Bagas sampai ke pintu kaca depan lantai dasar dan melihat mobil asisten itu melaju pergi meninggalkan kompleks.
Kini Arga berdiri sendirian di tengah ruangan lantai dasar ruko barunya yang masih kosong dan sunyi.
Dia membuka sistem gaibnya dan mengeluarkan Jimat Pelindung Ruangan dari dalam kotak ruang inventaris.
Jimat itu berbentuk sekeping kayu mahoni kecil yang diukir dengan simbol aneh berwarna keemasan di bagian tengahnya.
'Sistem, gimana cara pakai jimat kayu ini buat ngelindungin seluruh bangunan ruko gue?' tanya Arga di dalam pikiran.
"Host hanya perlu menempelkan jimat tersebut pada permukaan dinding tepat di atas pintu masuk utama bangunan," jawab sistem dengan suara mekanisnya yang khas.
Arga mengambil sebuah kursi kayu kecil yang ditinggalkan oleh pekerja pembersih ruangan dan memanjat ke atasnya.
Dia menempelkan jimat kayu itu dengan kuat di atas kusen logam pintu kaca utama rukonya.
Seketika itu juga, jimat tersebut mencair menjadi cahaya keemasan tipis yang menyebar cepat menutupi seluruh permukaan dinding dan atap bangunan.
Arga bisa merasakan kualitas udara di dalam ruko menjadi jauh lebih segar dan membuat dadanya terasa sangat rileks.
"Aura pelindung berhasil diaktifkan sepenuhnya hari ini, bangunan Host sekarang kebal terhadap niat pencurian dan energi kutukan tingkat menengah," lapor sistem memberikan konfirmasi.
Arga melompat turun dari kursi dengan perasaan sangat puas karena markas utama perusahaannya kini sudah terjamin keamanannya.
Langkah paling mendesak selanjutnya adalah mendapatkan modal uang tunai dalam jumlah besar untuk mulai mengisi ruko ini dengan berbagai etalase pajangan.
Arga memanggil kembali layar inventarisnya dan mengeluarkan Guci Keramik Dinasti Song Utara yang dia dapatkan dari dasar danau semalam.
Guci keramik berukuran kecil itu diletakkannya dengan sangat hati-hati di atas lantai marmer.
Dia mengambil beberapa foto detail guci tersebut menggunakan kamera ponselnya untuk dokumentasi berjaga-jaga.
Arga lalu membungkus guci berharga itu menggunakan kain tebal yang halus dan memasukkannya ke dalam tas selempangnya dengan rapat.
Dia mengunci pintu kaca rukonya dari luar menggunakan akses sidik jari digital baru dan berjalan masuk ke dalam mobil.
Tujuan Arga siang ini adalah Balai Lelang Nusantara yang letaknya berada di kawasan pusat bisnis Sudirman.
Balai lelang itu terkenal sebagai tempat transaksi barang seni paling bergengsi di seluruh Indonesia yang kliennya adalah para pengusaha besar.
Arga memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang sinar mataharinya mulai terasa menyengat kulit di siang hari.
Sekitar setengah jam kemudian, dia tiba di depan sebuah gedung bertingkat yang desain arsitekturnya bergaya pilar eropa klasik.