Rara Wijaya, seorang perawat muda berbakat di RS Bunda, hidup dengan luka yang dalam akibat kehilangan kedua orang tuanya. Ibu yang berhati lembut meninggal karena penyakit langka, sementara ayahnya, seorang dokter, tewas dalam kecelakaan mobil saat menolong korban tabrakan. Meskipun penuh dendam, Rara tumbuh menjadi perawat yang sangat berdedikasi.
Namun, kehidupannya berubah total ketika RS Bunda mendatangkan dokter spesialis bedah baru, dr. Arkan Pratama. Dokter muda ini dikenal dingin dan perfeksionis, yang sering meremehkan perawat. Awalnya, Rara dan Arkan selalu bertikai, sampai suatu hari Rara mengetahui bahwa Arkan adalah putra dari dokter yang menyebabkan kematian ayahnya 15 tahun lalu.
Konflik mereka memuncak ketika mereka harus bekerja sama menangani pasien kritis. Di tengah badai, mereka terjebak di rumah sakit tua yang sudah tidak terpakai - tempat yang sama di mana ayah Rara terakhir kali bekerja. Di sana, rahasia keluarga mereka terbongkar satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Rintangan Baru
"Masuk ke mobil," ujar dr. Hanif dengan nada datar. Rara melihat seorang pria bertubuh besar keluar dari kendaraan, bersiap menangkapnya jika dia melawan.
Hatinya berdegup kencang, menyadari bahaya yang mengintai. Dengan tangan gemetar, dia mencoba mengirim pesan singkat kepada Arkan sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil dr. Hanif. Ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi selanjutnya menghantui pikirannya.
Rara merasakan getaran pintu mobil yang tertutup rapat di belakangnya. Dia kini terjebak dalam ruang sempit bersama seorang pria yang menyimpan dendam bertahun-tahun. Tiba-tiba, Rara sadar: ini bukan soal pekerjaan atau rumah sakit, apalagi tentang ayah mereka.
Ini tentang kebencian lama dari seseorang yang merasa dikhianati oleh dunia. Ketika mobil melaju menjauh dari rumah sakit, meninggalkan Arkan, dan kehidupannya yang biasa, Rara menutup mata dan berdoa dalam hati.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun satu hal dia yakini: Arkan pasti mencarinya. Arkan akan datang. Kali ini, mereka berdua menghadapi semuanya bersama—tanpa rahasia atau kebohongan.
Dr. Hanif memacu mobilnya cepat-cepat meninggalkan kawasan rumah Ny. Sumiati, membawa Rara yang duduk kaku di kursi belakang sambil menggenggam ponselnya dengan tangan gemetar. Untungnya, dia sudah berhasil mengirim pesan singkat kepada Arkan: "Diculik Hanif. Tolong."
"Serahkan ponselmu," kata dr. Hanif sambil menoleh ke belakang. Pandangannya tajam, terasa mengancam.
Rara ragu sejenak, lalu akhirnya memberikan ponselnya. Dia berharap Arkan sudah membaca pesannya.
"Kamu benar-benar bodoh," dr. Hanif berkata sambil mematikan ponsel Rara. "Apa yang membuatmu berpikir kamu bisa menyelidiki ku?"
"Saya tidak..." Rara mencoba berkelit.
"Jangan coba-coba membohongiku," potong dr. Hanif dengan nada tinggi. "Aku tahu kamu bersekongkol dengan dr. Arkan."
"Dia tidak terlibat," Rara buru-buru membela Arkan. Namun, dia langsung menyesal karena tanpa sengaja mengungkapkan bahwa Arkan mengetahui investigasi mereka.
"Ah, jadi kamu mengaku?" dr. Hanif berkata dengan senyum mengejek. "Sejak awal, aku sudah curiga kalian sering bertemu diam-diam."
"Kami tidak..." Rara mengulang lagi.
"Diam!" dr. Hanif membentak, lalu memandang sopirnya. "Antar dia ke gudang lama di belakang rumah sakit."
Suaranya bergetar saat Rara bertanya, "Apa yang akan terjadi padaku?" Ketakutan jelas terdengar, meski ia berusaha menahan air mata.
"Itu semua bergantung pada keputusan Arkan," ujar dr. Hanif dengan senyuman yang terasa dingin. "Kalau dia bersedia bekerja sama, kamu akan baik-baik saja."
Rara, yang paham betul sifat keras kepala Arkan, langsung menanggapi, "Dia pasti tidak akan menuruti keinginanmu."
Namun, dr. Hanif hanya menyeringai dan berkata, "Kita lihat saja nanti. Aku punya cara untuk membuat orang mengikuti kemauanku."
Saat mobil berhenti di belakang rumah sakit tua yang sudah tak terpakai—tempat terakhir ayah Rara bekerja—jantung Rara berdegup kencang. Pria besar pengemudi mobil itu memaksanya masuk ke gedung gelap tersebut.
"Tunggu di sini," dr. Hanif menyuruh sebelum menelepon seseorang. "dr. Arkan? Kita harus bicara."
Rara tidak sengaja mendengar dr. Hanif bicara di telepon. Dokter itu menyuruh Arkan datang menemui dirinya. Jika Arkan menolak, dr. Hanif mengancam akan mencelakainya.
Jangan sakiti dia, ucap dr. Hanif sebelum mematikan telepon. Dia pasti datang.
Apa mau Dokter darinya? tanya Rara pelan. Ia takut, tapi ingin tahu rencana dr. Hanif.
"Dia akan mengakui kalau operasi Ny. Sumiati gagal karena kesalahannya," kata dr. Hanif dengan tenang. "Dan kamu akan bersaksi bahwa memang dia yang salah."
"Kami takkan melakukannya," jawab Rara tegas meskipun kakinya gemetar ketakutan.
"Kamu akan menurut," ujar dr. Hanif sambil tersenyum sinis dan mengeluarkan pisau bedah dari sakunya, "kalau tidak mau celaka."
Bersambung...