Setelah berhasil melarikan diri dari siksaan Om dan Tantenya, Bella Claudia remaja (13 tahun) tidak sengaja bertemu dengan sosok Andrew Permana (25 tahun) saat wanita itu ingin mengakhiri hidupnya di usia muda. namun Andrew menghalangi dan menolong Bella pada saat itu, pertemuan di antara mereka tersebut membuat Bella jatuh cinta kepada Andrew saat pandang pertama. hingga beranjak dewasa, tepatnya saat usia Bella menginjak 23 tahun. perasaan itu tumbuh semakin besar untuk pria yang selama 10 tahun dia panggil dengan sebutan paman Andrew tersebut, di saat wanita itu ingin melupakan perasaannya kepada Andrew tiba-tiba sebuah insiden panas di antara mereka terjadi dan membuat mereka terpaksa menikah. semenjak menikah sikap Andrew berubah dingin dan galak kepada Bella, namun wanita itu tidak menyerah dia akan membuat pria itu berbalik mengejarnya dan mencintainya pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indrie Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : 10 tahun berlalu
10 tahun berlalu, kini terlihat seorang wanita cantik berambut gelombang dengan setelan kantor yang begitu anggun dan modis sedang duduk di ruangan kerja pribadinya. wanita itu menjabat sebagai manager pemasaran di sebuah perusahan besar padahal usianya baru menginjak 23 tahun dan baru satu tahun bekerja di sana setelah lulus kuliah.
wanita itu adalah Bella, gadis yang sempat terpuruk 10 tahun yang lalu. kini wanita itu sudah bangkit dan terlihat begitu sukses dengan jabatan yang telah ia milik saat ini.
Tok! Tok! Tok! terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Silahkan masuk saja." Sahut Bella sedang fokus membaca laporan keuangan bulan lalu.
"Maaf Bu Bella sudah waktunya meeting bersama dewan direksi dan staf yang lain." Ucap Diana salah satu bawahan Bella dan salah satu sahabat baik wanita itu.
"Baiklah Dian saya akan segera kesana, terima kasih telah mengingatkan saya yang sering lupa waktu ini" Ucap Bella tersenyum ke arah Dian.
Dian hanya membalas senyum Bella singkat dan segera keluar dari ruangan itu, Dian sudah sangat sering bolak balik masuk ke dalam ruangan atasan sekaligus temanya itu. karna Bella sering lupa waktu jika sudah begelut dengan pekerjaan.
*****
Sementara di ruang rapat seorang pria jangkung dengan body bak model sedang menjelaskan sesuatu di depan podium. padahal usianya sudah memasuki 35 tahun namun ketampanan dan kharismanya tidak pernah luntur sedari dulu.
apalagi wajah pria itu tidak tampak tua seperti umurnya, sampai orang-orang berasumsi jika pria yang menjabat sebagai presiden direktur di tempat mereka bekerja itu keturunan vampire yang tidak akan pernah menua.
"Pesona pak Andrew begitu menyilaukan, dia seperti Edward dalam twilight versi dunia nyata." Ucap salah satu pegawai wanita.
"Iya benar dia tidak pernah berubah sama sekali tetap tampan seperti dulu." Sahut karyawan lain.
Bea yang mendengar obrolan para wanita ganjen itu hanya terkekeh pelan sambil bergumam.
"Keturunan vampire? kalian tidak tahu saja jika beberapa hari yang lalu aku sempat menemukan uban putih di rambut pria yang kalian anggap Edward itu hihihi." Kekeh Bella pelan berusaha menahan tawanya sendiri yang hampir pecah jika mengingat kejadian itu.
Sementara di depan podium Andrew terus menjelaskan proyek baru mereka, namun tiba-tiba matanya menangkap basah Bella yang terlihat sedang terkekeh seorang diri dan tidak memperhatikan penjelasannya di depan.
"Apakah anak nakal itu sedang menertawakan ku?" Batin Andrew menaikan sebelah alisnya heran.
NONA BELLA, TOLONG FOKUS MENDENGARKAN PENJELASAN SAYA DI DEPAN! tegur Andrew menatap dingin ke arah wanita itu.
Mendengar namanya di tegur sontak saja Bella langsung terkejut menoleh ke arah depan menatap pria yang baru saja memanggil namanya.
"Maaf pak saya tidak fokus."
Bella terlihat segera meminta maaf dan menunduk sekilas, namun tatapan karyawan yang lain terus menatap tajam ke arahnya. mereka seperti kesal karena dirinya telah membuat bos mereka itu marah di tengah-tengah meeting kali ini.
"Baiklah saya maafkan, kedepanya jangan di ulangi lagi."
Kini Andrew kembali melanjutkan apa yang sempat ia jelaskan di depan tanpa peduli wajah kesal wanita yang sedang menatap tajam ke arahnya saat ini.
"Sial banget aku hari ini, lagian kenapa juga paman Andrew malah negur segala!" Gerutu Bella dalam hati.
Meeting sudah selesai satu persatu staf dan karyawan mulai keluar dari ruangan rapat begitu pula dengan Bella, namun saat wanita itu akan keluar tiba-tiba saja Andrew melewati tubuhnya terlebih dahulu dan berbisik.
"Segera ke ruangan ku." Perintah Andrew.
Bella hanya bisa menghela nafasnya pelan dan terlihat mengaggukan kepala tanda mengiyakan ucapan pria jangkung yang memerintah dirinya itu.
"Semoga saja kali ini ia tidak akan mengoceh panjang." Bisik Fatir berada di belakang Andrew saat melewati Bella.
Bella yang mendengar bisikan dari salah satu paman nya itu semakin kesal.
"Dasar mereka berdua sama saja!" Gerutu Bella segera keluar dari ruangan meeting.
Tok! Tok! Tok!
Bella mengetuk ruangan direktur dan tanpa menunggu jawaban ia segera masuk ke dalam.
Kini Bella bisa melihat dua orang pria yang sedang berbicara membahas sesuatu tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kemarilah anak nakal!" Sentak Andrew setelah melihat kehadiran Bella.
Seketika wajah Bella bertambah suram, masa iya ia akan di omeli panjang lebar karena ketahuan tertawa seorang diri saat di ruang meeting. menurut nya itu sangat berlebihan.
Perlahan ia mulai berjalan ke arah dua pria itu dengan ekspresi wajah memelas.
"Paman apa tidak terlalu berlebihan memarahi ku karena tidak fokus saat meeting berlangsung, lagi pula paman telah menegur ku di hadapan semua orang itu membuat ku sangat malu. anggap saja itu sudah impas untuk menghukum ku." Ucap Bella terus mengoceh.
Andrew dan Fatir hanya terdiam melihat wanita yang ada di hadapan mereka itu sedang berbicara panjang lebar.
Bruk!
Andrew melepar sebuah map di atas meja kerjanya sendiri dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Buka dan lihat sendiri isi map tersebut, kamu akan tahu kenapa aku memangil mu ke sini." Ucap Andrew menatap lurus ke arah Bella.
"Apa isi di dalamnya paman?" Tanya Bella terlihat heran namun tetap mengambil map yang ada di atas meja.
"Lihat saja sendiri!" jawab Andrew dingin.
Sementara Fatir yang sedari tadi berdiri di samping Andrew hanya diam tanpa berniat membantu Bella karena dia telah di peringati oleh Andrew sebelumnya agar tidak membela wanita itu.
Bella yang sudah sangat penasaran segera membuka isi map tersebut, namun seketika matanya membulat sempurna dan refleks menutup mulutnya sendiri karena tercengang saat melihat isi dari map tersebut adalah foto-foto saat ia pergi ke party 2 hari lalu dan terlihat mabuk bersama teman pria nya dan hampir saja di cium.
"Astaga!, kenapa pria itu bisa tahu! Batin Bella seakan tidak percaya.
"Sekarang sudah tahu kesalahan mu apa?"
Tanya Andrew sambil melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Bella.
"Haisshhh.... sial sekali aku!" Gerutu Bella namun masih bisa di dengar oleh Andrew.
pria itu hanya bisa terkekeh pelan mendengar gerutuan yang di lontarkan oleh wanita yang ada di hadapanya.
Kini Bella mulai menormalkan ekspresi wajahnya dan menatap ke arah sang paman dengan wajah memelas.
"Hehehehe.... paman sudahlah jangan di besar-besarkan, lagi pula aku sudah 23 tahun jadi wajar jika pergi ke sebuah party dan minum." Ucap Bella watados.
"Aku tidak mempermasalahkan jika kamu pergi ke party dan minum, tapi kamu harus tahu aturan jangan terlalu dekat dengan pria apalagi sampai pria itu hampir saja mencium mu!" Ujar Andrew tajam dan terlihat kesal.
DAM! SHIT! SIAL!
itulah kata-kata yang ingin Bella keluarkan saat ini juga, karena tanpa sepengetahuan dirinya sang paman telah menyuruh seseorang untuk memata-matainya lagi. padahal ia sudah sempat mengamuk dulu karena paman nya itu selalu mengagalkan percintaannya.
"Paman ku yang tampan dan baik, asal kamu tahu saja bibir ku ini masih suci gara-gara kelakuan paman yang selalu mengusik percintaan ku!" Ucap Bella geram namun ia masih bisa mengontrol emosinya.
"Bagus lah jika masih suci, karena harusnya seperti itu. kamu harus memberikanya kepada calon suami mu kelak maka dari itu aku berusaha menjaga dan melindungi mu sesuai janji ku 10 tahun lalu. sebagai hukuman nya selama 1 bulan kamu di larang keluar malam." Ucap Andrew begitu santai.
"Tapi paman...."
"Tidak ada tapi-tapian jika kamu tidak menurut aku akan menurunkan jabatan mu jadi tukang bersih-bersih." Ucap Andrew mengancam.
Bella hanya bisa diam pasrah, karena paman nya itu tidak akan main-main dengan ucapanya. kini ia sekilas melirik ke arah Fatir untuk meminta pertolongan, namun pria tersebut hanya mengelengkan kepalanya pelan tanda tidak bisa membantu Bella.
"Sialan!, mentang-mentang punya jabatan tinggi jadi semena-mena. Paman Fatir juga ngeselin lagi malah diem saja kaya patung kuda pancoran!" Gerutu Bella dalam hati.
Karena sudah terlanjur kesal Bella segera keluar dari ruangan sang paman dengan membanting map yang sedang ia pegang di atas meja kerja sang paman, seperti memberitahukan jika ia sangat marah saat ini.
Setelah kepergian Bella kini terlihat Fatir yang sudah siap mengomel.
"Bro, gua pikir tindakan Lo ke Bella agak berlebihan. dia sudah dewasa bukan lagi anak remaja yang harus Lo lindungi dan atur sesuka hati Lo lagi." Ucap Fatir menasehati sahabatnya itu.
Andrew terdiam, ucapan Fatir barusan memang ada benarnya juga. namun ia tidak suka dan tidak tenang jika Bella sedang dekat dengan seorang pria, apalagi pria itu seperti hanya ingin bermain-main saja dengan keponakannya itu. Ia hanya tidak ingin sampai Bella sakit hati, ia ingin gadis itu menemukan jodoh yang tepat.
"Gua seperti ini demi kebaikan Bella sendiri, karena dalam waktu dekat kakek dan nenek akan memperkenalkan seorang pria muda dan mapan kepada Bella. aku hanya tidak mau pria itu kecewa jika calon istrinya tidak di jaga dengan baik." Ujar Andrew dengan ekspresi wajah agak aneh.
Seketika raut wajah Fatir begitu terkejut saat mengetahui jika Bella akan di jodohkan.
"Siapa pria yang akan di jodohkan dengan Bella?" Tanya Fatir penasaran.
"Entahlah aku pun belum mengetahui pasti orangnya siapa, yang aku dengar dari kakek dan nenek pria itu sangat sukses di luar negeri." Jawab Andrew seadanya.
Kini Fatir semakin penasaran siapa sosok pria itu, tanpa di ketahui Fatir secara diam-diam Andrew sudah menyuruh seseorang untuk menyelidiki dan mencari tahu sosok pria yang akan di jodohkan dengan Bella. karena pria itu tidak mau sampai Bella menikah dengan orang yang salah.
*****