NovelToon NovelToon
INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

INVINCIBLE DIVINE EMPEROR NINE HEAVENS HAREM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Harem / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noxalisz

Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.

bonus langsung 10 episode pertama

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelayaran ke Utara

Fajar di atas lautan awan adalah pemandangan yang tidak pernah membosankan.

Dari dek atas Bintang Utara, matahari terbit seperti bola emas raksasa yang perlahan mendorong kegelapan ke bawah cakrawala. Awan-awan di bawah kapal berubah warna—dari abu-abu gelap menjadi ungu, lalu jingga, lalu putih bersinar. Udara pagi yang dingin menusuk kulit, tapi formasi penghangat di dek membuat suhu tetap nyaman.

Xiao Chen keluar dari kabin kapten saat langit masih setengah gelap. Jubah putihnya berkibar pelan, rambutnya yang panjang tergerai bebas. Dia menutup pintu di belakangnya dengan pelan—Freya masih tertidur di dalam, tubuh atletisnya yang telanjang terbungkus selimut bulu, rambut pirangnya tergerai di atas bantal.

Dia berjalan ke dek depan. Dua penjaga batu berdiri di sudut, mata keemasan mereka bersinar redup dalam kegelapan yang tersisa. Mereka tidak bergerak, tidak bersuara—hanya menunggu.

"Pagi."

Xiao Chen menoleh. Lin Yao berdiri di pintu menuju dek, jubah hijaunya diganti dengan jubah bulu tebal pemberian Liu Ruyan. Rambut hitamnya yang diikat setengah berkibar diterpa angin ketinggian.

"Kau bangun pagi," kata Xiao Chen.

"Aku selalu bangun pagi. Latihan tidak menunggu matahari." Lin Yao berjalan mendekat, berhenti di sampingnya. "Kau tidak tidur lagi?"

"Aku tidak butuh."

"Tapi kau menghabiskan malam di kabin kapten." Itu bukan pertanyaan.

"Ya."

Lin Yao tidak menjawab segera. Dia menatap lautan awan, ekspresinya tidak terbaca. "Freya kuat. Aku bisa merasakan kultivasinya. Pembentukan Inti tingkat 8."

"Kau memperhatikan."

"Aku selalu memperhatikan." Lin Yao menoleh, menatapnya dengan mata hijau zamrudnya. "Apa dia akan bergabung dengan kita? Secara permanen?"

"Aku tidak tahu. Itu keputusannya."

"Kalau dia memutuskan untuk bergabung?"

"Kalau dia mau, dia bisa."

Lin Yao mengangguk pelan. "Kuharap dia bisa. Kita butuh lebih banyak orang kuat."

Xiao Chen mengangkat alis. "Kau tidak cemburu?"

"Aku cemburu." Lin Yao menyilangkan lengannya. "Tapi aku praktis. Perjalanan ini semakin berbahaya semakin kita mendekati Alam Immortal. Semakin banyak kultivator kuat di pihak kita, semakin baik."

"Selalu praktis."

"Itu caraku."

Xiao Chen meraih tangannya, menariknya sedikit lebih dekat. "Dan bagian yang tidak praktis?"

Lin Yao membiarkan dirinya ditarik. "Bagian yang tidak praktis... ingin membunuhmu setiap kali kau tersenyum pada wanita lain."

"Kau tidak akan membunuhku."

"Aku tahu. Itu yang membuatku frustrasi."

Xiao Chen tertawa kecil, lalu mencium keningnya. "Kau luar biasa, Lin Yao."

"Aku tahu."

Ruang makan kapal sudah mulai ramai saat sarapan.

Bintang Utara memiliki ruang makan yang lebih kecil dari Bintang Pengembara, tapi lebih hangat—dinding kayunya dilapisi permadani tebal, dan perapian spiritual di tengah ruangan memancarkan kehangatan yang merata. Meja-meja panjang dari kayu ek diisi oleh penumpang dari berbagai kalangan: pedagang yang akan berdagang di Benua Utara, kultivator independen yang mencari petualangan, dan beberapa keluarga yang pindah.

Xiao Chen masuk bersama Lin Yao. Begitu dia melangkah, efeknya langsung terasa—percakapan di beberapa meja terhenti, sendok berhenti di udara, dan seorang pelayan perempuan menjatuhkan keranjang rotinya.

"Setiap pagi," gumam Lin Yao.

"Aku tidak bisa mengendalikannya."

"Kau tidak mencoba."

"Aku tidak mencoba."

Mereka duduk di meja yang sudah ditempati Wei Ling, Xu Mei, Liu Ruyan, dan Xiao Yu. Gadis kecil itu sudah melahap buburnya dengan semangat, pipinya menggembung seperti tupai.

"Ayah!" serunya dengan mulut penuh.

"Telan dulu, baru bicara."

Xiao Yu menelan dengan susah payah. "Ayah, Kak Wei Ling bilang kita akan belajar terbang hari ini!"

"Benarkah?" Xiao Chen menatap Wei Ling.

Wei Ling mengangguk. "Dia sudah bisa merasakan Qi-nya dengan stabil. Aku pikir sudah waktunya dia belajar teknik pergerakan dasar. Aku bisa mengajarinya."

"Aku juga mau ikut," tambah Xu Mei. "Aku jarang punya kesempatan mengajar anak-anak."

"Aku akan menonton," kata Liu Ruyan sambil menyesap tehnya. "Sudah ribuan tahun sejak terakhir kali aku melihat anak kecil belajar terbang."

"Pertunjukan gratis," tambah Lin Yao.

Xiao Yu menatap mereka semua dengan mata berbinar. "Aku akan belajar terbang! Lalu aku bisa ikut Ayah ke mana-mana!"

"Kau sudah ikut ke mana-mana," kata Xiao Chen.

"Tapi nanti aku bisa terbang sendiri! Tidak perlu digendong!"

"Itu... sebenarnya bukan masalah bagiku."

"Tapi aku ingin jadi kuat!"

Xiao Chen tersenyum, mengusap kepalanya. "Baiklah. Tapi jangan memaksa diri. Kultivasi itu perjalanan panjang."

"Aku tahu! Seperti perjalanan kita!"

Percakapan mereka terhenti saat Freya memasuki ruang makan.

Kapten Bintang Utara itu berjalan dengan langkah percaya diri, jubah bulu putihnya berkibar, rambut pirangnya diikat ekor kuda tinggi. Tidak ada tanda-tanda kelelahan dari malam sebelumnya—hanya sedikit rona di pipinya saat matanya bertemu dengan Xiao Chen.

"Selamat pagi," katanya, berhenti di samping meja mereka. "Aku harap kalian menikmati sarapan."

"Kapten Freya!" Xiao Yu melambai. "Duduk sini! Di samping Ayah!"

Freya ragu sejenak, lalu—dengan tatapan dari Wei Ling yang entah kenapa terasa seperti persetujuan—dia duduk di kursi kosong di samping Xiao Chen. "Terima kasih, anak kecil."

"Aku Xiao Yu! Putri angkat Ayah!"

"Aku tahu. Ayahmu..." Freya melirik Xiao Chen. "...sangat terkenal di kapal ini."

"Karena rambutnya yang putih?"

"Itu salah satunya."

Wei Ling menyodorkan sepiring roti ke arah Freya. "Makanlah, Kapten. Perjalanan masih panjang."

Freya menerimanya. "Terima kasih." Dia menatap Wei Ling, lalu Lin Yao, Xu Mei, dan Liu Ruyan. "Kalian semua... luar biasa. Aku belum pernah melihat rombongan seperti ini."

"Rombongan seperti apa?" tanya Lin Yao.

"Wanita-wanita kuat yang bepergian dengan satu pria. Biasanya..." Freya mencari kata-kata. "...biasanya ada lebih banyak konflik."

"Ada konflik," kata Xu Mei datar. "Hanya saja kami menyelesaikannya dengan cara yang berbeda."

"Berbeda bagaimana?"

Mereka semua saling menatap. Lalu Wei Ling menjawab, "Dengan menerima."

Freya mengangguk pelan, seolah memahami sesuatu yang dalam. "Menarik. Sangat menarik."

Setelah sarapan, latihan Xiao Yu dimulai di dek belakang yang telah dikosongkan.

Wei Ling berdiri di depan Xiao Yu, pedang kayu latihan di tangannya. "Terbang adalah tentang mengalirkan Qi ke telapak kakimu dan membuatnya menolak permukaan. Bukan melawan gravitasi—tapi bekerja sama dengannya."

Xiao Yu mengangguk serius, meskipun jelas dia tidak sepenuhnya mengerti.

"Coba dulu." Wei Ling mundur selangkah. "Rasakan Qi di perutmu. Lalu alirkan ke kakimu. Lalu... lompat."

Xiao Yu menutup matanya, berkonsentrasi. Wajahnya memerah, otot-ototnya menegang. Dia melompat—dan mendarat kembali di tempat yang sama.

"Aku tidak terbang!"

"Belum. Coba lagi."

Dia mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi. Setiap kali, dia melompat sedikit lebih tinggi, tapi tetap jatuh kembali.

Sementara itu, Xiao Chen, Lin Yao, Xu Mei, Liu Ruyan, dan Freya menonton dari bangku di pinggir dek.

"Dia berbakat," komentar Freya. "Untuk seseorang yang baru mulai kultivasi beberapa hari lalu, dia sudah bisa menggerakkan Qi dengan cukup baik."

"Dia punya guru yang baik," kata Xu Mei, menatap Wei Ling.

"Dan motivasi yang kuat," tambah Liu Ruyan. "Dia ingin membanggakan ayahnya."

Lin Yao tidak berkata apa-apa, tapi matanya mengikuti setiap gerakan Xiao Yu dengan perhatian.

"Kau memikirkannya," bisik Xiao Chen padanya.

"Memikirkan apa?"

"Mengajarnya pedang."

Lin Yao tidak menyangkal. "Dia punya postur yang baik. Dan matanya... dia punya api."

"Nanti. Biarkan dia belajar terbang dulu."

"Aku tahu."

Tiba-tiba, Xiao Yu melompat lagi—dan kali ini, dia tidak langsung jatuh. Dia melayang selama dua detik, tubuhnya menggantung di udara seperti daun yang tertiup angin, sebelum akhirnya mendarat dengan goyah.

"Aku terbang! Aku terbang!"

"Itu baru melayang," kata Wei Ling, tapi dia tersenyum. "Tapi bagus. Istirahat dulu."

Xiao Yu berlari ke arah Xiao Chen, wajahnya berseri-seri. "Ayah! Ayah lihat?!"

"Aku lihat." Xiao Chen menangkapnya dalam pelukan. "Kau luar biasa."

"Aku akan latihan lagi nanti! Sampai aku bisa terbang seperti Ayah!"

"Jangan terburu-buru. Nikmati prosesnya."

"Prosesnya lama?"

"Sangat lama. Tapi setiap detiknya berharga."

Xiao Yu memiringkan kepala, lalu mengangguk. "Aku percaya Ayah."

Malam harinya, setelah Xiao Yu tertidur karena kelelahan, Freya menemui Xiao Chen di dek depan.

Bintang-bintang di atas lautan awan sangat terang malam itu, dan bulan sabit menggantung rendah seperti senyuman perak. Angin ketinggian bertiup pelan, membawa aroma dingin yang semakin tajam seiring mereka mendekati Benua Utara.

"Kau tidak tidur," kata Freya.

"Aku tidak butuh."

"Itu yang selalu kau katakan." Freya berdiri di sampingnya, menyandarkan lengannya di pagar. "Aku sudah memikirkan tawaranmu."

"Tawaran?"

"Bergabung dengan rombonganmu. Secara permanen."

Xiao Chen menoleh, menatapnya. "Dan?"

"Aku tertarik. Tapi ada masalah."

"Apa?"

"Kapal ini. Bintang Utara adalah hidupku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Freya menatap lautan awan. "Tapi aku juga tidak bisa berhenti memikirkanmu. Setiap kali aku mencoba tidur, aku melihat wajahmu."

"Itu efek samping yang umum."

Freya tertawa kecil. "Kau benar-benar percaya diri."

"Aku realistis."

Mereka berdiri dalam keheningan. Lalu Freya berkata, "Aku akan tetap menjadi kapten sampai kita tiba di Benua Utara. Setelah itu... aku mungkin akan mencari pengganti. Seseorang yang bisa menjaga Bintang Utara selagi aku pergi."

"Kau yakin?"

"Aku belum pernah lebih yakin tentang apa pun dalam hidupku." Freya menatapnya. "Kau membuatku percaya bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari pekerjaan. Itu menakutkan."

"Kenapa menakutkan?"

"Karena aku tidak suka bergantung pada orang lain."

"Aku tidak memintamu bergantung. Aku memintamu bergabung. Itu berbeda."

Freya menatapnya lama. Lalu, tanpa peringatan, dia menariknya ke dalam ciuman—keras, penuh gairah, berbeda dari ciuman malam pertama mereka yang lebih hati-hati. Sekarang ada kepastian di sini. Keputusan.

"Aku akan bergabung," bisiknya di bibir Xiao Chen. "Tapi dengan satu syarat."

"Apa?"

"Kau harus mengalahkanku dalam pertarungan."

Xiao Chen mengangkat alis. "Kau yakin?"

"Aku tidak akan mudah menyerah. Aku kapten kapal ini. Aku sudah bertarung melawan badai dan bajak laut selama seratus tahun." Freya menyeringai. "Tunjukkan padaku apa yang kau bisa."

"Di sini? Sekarang?"

"Di sini. Sekarang."

Xiao Chen tersenyum—senyum nakal yang sudah sangat dikenal oleh para wanitanya. "Baiklah. Tapi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu."

1
TGT
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!