Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 — Jejak di Balik Reruntuhan
Archive Zero
Bab 12 — Jejak di Balik Reruntuhan
Sinar matahari pagi semakin tinggi, menyebarkan kehangatan ke seluruh penjuru Elarion yang kini terbuka langitnya. Suara tawa dan sorakan kemenangan penduduk kota masih terdengar bergema, memenuhi ruang-ruang yang selama seribu tahun terasa sunyi dan menindih. Bagi sebagian besar orang, hari ini adalah hari kelahiran kembali, hari di mana mimpi dan kebebasan akhirnya kembali menjadi milik mereka.
Namun, di antara tumpukan puing bekas Ruang Asal yang belum tersentuh siapa pun, suasana masih terasa dingin dan sunyi. Debu cahaya peninggalan energi purba masih melayang pelan, berkilauan seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi.
Ren berdiri diam di samping lubang besar bekas inti energi itu. Ia seharusnya merasa lega, seharusnya merasa bahwa semuanya sudah selesai. Tapi sejak tadi, ada rasa ganjil yang menggelitik sanubarinya. Sesuatu yang tertinggal. Sesuatu yang belum selesai sepenuhnya.
Ia mengusap lengan kirinya lagi dan lagi. Simbol ungu itu memang sudah hilang, tak lagi bersinar, tak lagi terasa panas. Namun di bawah kulitnya, di dalam aliran darahnya, ia masih bisa merasakan denyutan halus. Bukan lagi denyutan kekuatan, melainkan denyutan pengingat. Seperti ada pesan yang belum selesai disampaikan.
"Kau belum puas ya?"
Suara Kai terdengar dari belakang. Pemuda itu berjalan mendekat sambil memeriksa sisa-sisa alat di pergelangan tangannya yang sudah rusak parah, lalu menyimpannya ke dalam saku dengan senyum masam.
"Padahal kita sudah berhasil mengalahkan Dewan, menghancurkan sistem pengendalian, dan membuka langit. Menurutku itu sudah skor sempurna untuk petualangan seumur hidup," candanya, meski matanya menatap Ren dengan tajam dan mengerti.
Ren menggeleng pelan, matanya terus meneliti setiap sudut puing-puing di sekitar lubang inti.
"Aku juga berpikir begitu, Kai. Tapi... ada yang salah. Ingat kata-kata Aran? Dia bilang kunci itu ada dua. Satu untuk mengunci, satu untuk membuka. Kita sudah menghancurkan kunci pengunci milik Dewan, dan aku sudah melepaskan tugasku sebagai kunci pembuka..."
Ren berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah dasar lubang yang gelap di bawah sana.
"Tapi benda asli kuncinya... benda fisik yang Elara tunjukkan padaku di awal... aku tidak melihatnya hancur. Aku tidak melihatnya di mana pun. Dan lebih aneh lagi... tubuh Dewan Tengah, sisa-sisa mereka... semuanya lenyap, tapi tidak ada jejak yang jelas. Seolah mereka tidak benar-benar musnah, hanya... berpindah tempat."
Di sisi lain, Anya berdiri diam di dekat sepotong dinding kaca yang masih utuh. Ia sedang menatap pantulannya sendiri di sana. Warna merah di matanya sudah memudar, kembali menjadi cokelat gelap alami, dan kekuatan es di dalam dirinya sudah tidak lagi liar, kini mengalir tenang seperti sungai yang menemukan muaranya.
Namun, jari-jarinya perlahan menyentuh permukaan kaca itu, dan alisnya berkerut.
"Ren... kemari. Lihat ini."
Ren dan Kai segera menghampiri.
Di permukaan kaca yang sudah retak-retak itu, terukir tulisan halus yang tidak terhapus oleh ledakan atau hancurnya ruangan. Tulisan itu bukan bahasa umum Elarion, dan bukan pula bahasa kuno Aran. Itu adalah simbol-simbol rumit yang melengkung, membentuk pola lingkaran yang saling berkait.
Dan di tengah lingkaran itu, ada satu gambar kecil: Sebuah Mata yang Terbuka.
"Aku pernah melihat pola ini," gumam Anya pelan, suaranya serius. "Di catatan-catatan lama yang disembunyikan warga Kawasan Bayang. Dulu kami mengira itu hanya mitos, cerita menakut-nakuti anak kecil agar tidak keluar dari kawasan."
Anya menoleh ke arah Ren.
"Ini bukan simbol Aran. Bukan pula simbol Dewan. Ini... simbol kelompok lain. Kelompok yang konon ada sebelum Elarion dibangun. Kelompok yang menyebut diri mereka 'Penjaga Keseimbangan' sejati."
Ren merasakan bulu kuduknya meremang. Potongan-potongan teka-teki yang tadinya terasa lengkap, kini kembali berantakan.
"Aran bilang dia dan rekan-rekannya membangun kota ini setelah perang besar. Tapi kalau ada orang yang ada sebelum mereka... siapa mereka? Dan apa yang mereka lakukan saat sistem Archive berjalan?"
Kai, yang sejak tadi diam mengamati pola itu dengan tatapan analitis, tiba-tiba berseru pelan. Ia mengeluarkan selembar kertas kecil dari saku jaketnya — kertas yang ia ambil diam-diam dari meja Elara sebelum mereka pergi. Di atas kertas itu ada sketsa kasar yang sama persis dengan pola di kaca itu.
"Kalau begitu..." kata Kai perlahan, suaranya berubah serius. "Kalau begitu Elara sudah tahu. Dia tahu ada hal lain di balik semua ini. Itu sebabnya dia tidak ikut bersama warga lain ke permukaan. Itu sebabnya dia membiarkan kami pergi sendirian."
Ren langsung menatap ke arah jalan keluar yang mengarah ke Kawasan Bayang, arah di mana mereka meninggalkan wanita tua itu untuk menahan serangan Penjaga Inti.
"Kita harus kembali ke sana," kata Ren tegas. "Sekarang juga."
Perjalanan kembali ke bawah tanah terasa jauh berbeda. Dulu, lorong-lorong ini terasa gelap, mencekam, dan penuh bahaya. Kini, cahaya matahari sudah mulai menembus masuk lewat celah-celah yang terbentuk saat runtuhan terjadi, menerangi jalan mereka. Udara di sini juga sudah berubah, terasa lebih bebas dari tekanan energi sistem.
Namun, semakin jauh mereka masuk ke dalam, semakin terasa keanehan.
Tidak ada teriakan, tidak ada suara sorakan. Kawasan Bayang yang dulu selalu riuh rendah meski kumuh, kini terasa hening mencekam. Bangunan-bangunan di sana sebagian besar runtuh tertimpa puing-puing dari atas, tapi anehnya... tidak ada korban berjatuhan. Tidak ada jejak darah, tidak ada tanda perjuangan terakhir. Semuanya kosong. Seolah seluruh penduduk kawasan itu lenyap begitu saja.
"Elara!" Ren memanggil lantang, suaranya bergema di antara bangunan yang rusak. Tidak ada jawaban.
Mereka berlari menuju ruangan tempat mereka pertama kali bertemu wanita tua itu, ruangan yang penuh buku dan peninggalan kuno. Pintu ruangan itu terbuka lebar. Di dalamnya masih berantakan sama seperti dulu, debu masih menebal di mana-mana.
Dan di tengah meja besar di ruangan itu, duduk seorang sosok yang mereka cari.
Elara.
Wanita tua itu duduk tenang di kursi kayu tuanya, punggungnya tegak, wajahnya damai. Di depannya, benda kunci besar yang dulu ia tunjukkan pada Ren kini tergeletak di sana. Namun, ada yang berbeda. Benda itu tidak lagi berkilau ungu. Warnanya kini berubah menjadi hitam pekat, dan di tengah ukirannya, mata yang sama persis dengan di kaca Ruang Asal kini terbuka dan menatap lurus ke arah mereka.
"Kau akhirnya sampai kembali, anakku," suara Elara terdengar lembut, sama seperti dulu, tapi ada nada yang lebih dalam dan misterius di sana.
Ren berhenti tepat di ambang pintu, diikuti Kai dan Anya yang sudah bersiap siaga.
"Bu Elara... apa arti semua ini? Kau selamat, tapi kenapa semua orang di sini hilang? Dan apa arti simbol mata itu?" tanya Ren bertubi-tubi, rasa curiga dan kekecewaan mulai bercampur di dadanya.
Elara tersenyum tipis. Ia mengulurkan tangan, menyentuh benda kunci hitam itu.
"Maafkan aku karena merahasiakan banyak hal darimu, Ren. Aku tidak berbohong saat bilang kau adalah pewaris Aran. Dan aku juga tidak berbohong saat bilang kau harus membuka penjara ini. Tapi... sejarah selalu memiliki dua sisi. Aran menceritakan versinya, tapi ada versi lain yang lebih tua dan lebih panjang."
Ia menatap tajam ke arah ketiga pemuda itu.
"Aran dan teman-temannya memang membangun Elarion sebagai tempat perlindungan. Tapi saat itu, mereka tidak sendirian. Ada kelompok yang lebih tua, yang sudah ada jauh sebelum perang besar. Kelompok yang menjaga keseimbangan energi dunia agar tidak hancur total. Mereka adalah para Pengamat."
Elara berdiri perlahan, tubuhnya yang dulu tampak rapuh dan tua, kini perlahan berubah. Kerutan di wajahnya memudar, postur tubuhnya menjadi lebih tegak dan muda. Aura di sekelilingnya bukan lagi aura kebaikan atau kelembutan, melainkan aura yang netral, dingin, namun sangat kuat — aura keseimbangan mutlak.
"Aku adalah pemimpin mereka, Ren. Dan aku sudah hidup jauh lebih lama dari seribu tahun. Kami membiarkan Aran membangun sistem itu karena saat itu memang satu-satunya cara menyelamatkan umat manusia. Kami membiarkan Dewan Tertinggi berkuasa karena kami tahu kekuasaan itu pada akhirnya akan korup dan runtuh."
Ia menunjuk ke arah Ren.
"Dan kami menunggumu. Kami menunggu saat di mana pewaris Aran cukup kuat untuk menghancurkan sistem itu, melepaskan energi yang terkurung, dan mengembalikan dunia ke keadaan asalnya — keadaan di mana manusia bebas, tapi juga kembali menghadapi risiko kekacauan."
Ren menatap wanita itu, rasa kaget melumpuhkan dirinya sejenak.
"Jadi... semua yang terjadi... pertempuran, pelarian, kematian, penderitaan... semuanya rencana kalian? Seperti sebuah percobaan besar?"
Elara mengangguk pelan, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Dunia adalah keseimbangan, Ren. Ada terang ada gelap, ada damai ada perang, ada kebebasan ada pengekangan. Aran memilih pengekangan demi kedamaian sementara. Kau memilih kebebasan meski berisiko kekacauan. Keduanya benar, keduanya salah. Dan tugas kami... memastikan roda itu terus berputar."
Ia mengambil kunci hitam itu, lalu memasukkannya ke dalam saku jubahnya.
"Kau sudah melakukan bagianmu, Archive Zero. Kau sudah membebaskan energi dunia. Kini energi itu menyebar ke seluruh penjuru Elarion, meresap ke tanah, ke air, ke udara... dan ke dalam tubuh manusia. Sama seperti seribu tahun lalu, mereka kini memiliki potensi untuk mencipta dan menghancurkan kembali."
Elara melangkah melewati mereka bertiga, menuju pintu keluar.
"Dan sekarang, tugas baru dimulai. Dewan Tertinggi hancur, tapi kekuasaan dan ambisi tidak akan pernah hilang selamanya. Manusia akan mulai belajar menggunakan kekuatan mereka lagi. Sebagian akan menggunakannya untuk kebaikan, sebagian lagi untuk menguasai. Dan kami... kami akan tetap ada, mengamati, memastikan keseimbangan tetap terjaga."
Di ambang pintu, Elara berhenti dan menoleh kembali. Wajahnya kembali menjadi wajah wanita tua yang lembut yang mereka kenal.
"Kau bukan lagi kunci, Ren. Kau bukan lagi penyelamat. Kau hanyalah satu dari banyak manusia yang kini memiliki potensi luar biasa. Kau bebas menjalani hidupmu. Tapi ingatlah... selama ada kekuatan, selama ada pilihan... kisah ini tidak akan pernah benar-benar tamat."
"Ke mana kau akan pergi?" tanya Kai, suaranya terdengar sedikit gemetar karena menyadari betapa besarnya skenario yang baru saja mereka jalani.
Elara tersenyum misterius, lalu menunjuk ke arah langit-langit yang terbuka, ke arah cakrawala di luar kota Elarion.
"Ke tempat di mana sejarah berikutnya akan ditulis. Masih banyak rahasia di luar sana, anak-anak. Kota ini hanyalah satu pulau kecil di dunia yang jauh lebih besar dan tua. Sampai jumpa lagi... jika takdir mempertemukan kita."
Dengan satu gerakan tangan, tubuh Elara perlahan menjadi samar, melebur menjadi kabut halus yang terbawa angin masuk lewat celah-celah dinding, hilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
Hening kembali menyelimuti ruangan itu.
Ren, Kai, dan Anya saling pandang. Di luar sana, suara riuh penduduk yang merayakan kebebasan masih terdengar, penuh sukacita dan harapan baru. Tapi di dalam hati mereka bertiga, pemahaman mereka tentang dunia ini baru saja berubah total.
"Jadi..." Kai memecah keheningan sambil menghela napas panjang, lalu tersenyum lebar kembali, meski matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. "Petualangan kita selesai, tapi ternyata... petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai ya?"
Ren menatap tangannya yang bersih, lalu menatap Anya di sebelahnya. Gadis itu tersenyum, senyum yang sama berani dan bebasnya seperti dirinya.
"Ya," jawab Ren tegas, matanya menatap ke arah jalan keluar, ke arah matahari, dan ke arah cakrawala yang kini terbuka luas tanpa batas. "Dunia ini kembali memiliki keajaiban. Dan kami... kami akan menjadi orang-orang pertama yang menjelajahinya."
Mereka bertiga berbalik serentak, berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan debu sejarah seribu tahun di belakang mereka. Di luar sana, Elarion bangkit dari tidur panjangnya, siap menghadapi masa depan yang penuh cahaya, bahaya, dan kebebasan sejati.
Dan jauh di luar batas kota, di balik pegunungan yang dulu tertutup kabut abadi, sepasang mata tua mengamati cahaya keemasan yang bangkit dari bawah tanah, tersenyum puas menyaksikan roda sejarah kembali berputar.
Bersambung ...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"