NovelToon NovelToon
Masa Depan Menantimu

Masa Depan Menantimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: sat*dya

seseorang yang ingin mengubah hidup nya dan ia bekerja keras demi itu semua

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sat*dya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

anak laki laki bermata dingin

Alya mundur satu langkah sambil menatap layar hologram di dinding kamarnya.

Tulisan itu masih menyala terang.

SELAMAT DATANG, ALYA.

KEMBALILAH SEBELUM TERLAMBAT.

Jantungnya berdegup sangat cepat.

“Apa ini…?”

Ia segera menyentuh layar hologram tersebut, tetapi tulisan itu tiba-tiba menghilang.

Layar kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Kini hanya tampilan standar kamar asrama yang terlihat.

Suhu ruangan: normal.

Sistem keamanan: aktif.

Asisten AI: online.

Alya berdiri diam beberapa detik.

Ia mencoba berpikir logis.

“Mungkin hanya error sistem…”

Namun bahkan saat mengucapkannya, ia sendiri tidak percaya.

Pesan misterius.

Ucapan Reno.

Tatapan aneh para siswa.

Semua mulai terasa terlalu kebetulan.

Alya mengembuskan napas pelan lalu duduk di tepi tempat tidur.

Kasurnya empuk sekali sampai ia sedikit tenggelam.

Ia melihat keluar jendela besar di samping kamar.

Dari lantai dua belas, seluruh Akademi Zenith terlihat seperti kota masa depan yang bercahaya.

Lampu biru menghiasi setiap gedung.

Drone patroli terbang perlahan di udara.

Dan di kejauhan, Menara Zenith berdiri megah seperti pusat dunia ini.

Indah.

Tetapi juga terasa dingin.

Alya membuka tasnya dan mengeluarkan foto keluarganya.

Foto lama itu diambil beberapa tahun lalu sebelum ayahnya meninggal. Wajah mereka tampak sederhana tetapi bahagia.

Alya tersenyum kecil.

“Aku pasti bisa bertahan di sini,” bisiknya pelan.

Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar.

Tok. Tok.

Alya sedikit terkejut.

“Siapa?”

“Petugas asrama.”

Alya segera membuka pintu.

Seorang perempuan muda berseragam Zenith berdiri sambil membawa kotak hitam kecil.

“Selamat datang di Menara Orion,” katanya ramah. “Ini perangkat akademi pribadi Anda.”

Alya menerimanya pelan.

“Terima kasih.”

“Orientasi malam dimulai satu jam lagi. Mohon seluruh siswa hadir di aula utama.”

“Baik.”

Petugas itu tersenyum tipis lalu pergi.

Alya menutup pintu kembali dan membuka kotak hitam tersebut.

Di dalamnya terdapat gelang digital baru berwarna putih perak dengan lambang Zenith di tengahnya.

Saat dipasang di tangannya, gelang itu langsung aktif otomatis.

Selamat datang, Alya Rahman.

Sistem sinkronisasi selesai.

Alya sedikit kagum.

Teknologi Zenith jauh lebih canggih dibanding apa pun yang pernah ia gunakan sebelumnya.

Ia menghabiskan beberapa menit mempelajari fitur gelang itu.

Ada jadwal pelajaran.

Peta akademi.

Data siswa.

Bahkan sistem komunikasi internal.

Namun saat Alya membuka menu “akses area”, satu bagian menarik perhatiannya.

Lorong Barat – akses dibatasi.

Alya mengernyit.

Lorong Barat?

Kenapa area itu dibatasi?

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, gelangnya berbunyi.

Notifikasi baru.

Orientasi malam dimulai dalam 30 menit.

Alya segera bersiap.

Ia mengganti pakaian dengan seragam akademi yang tadi sudah disediakan di lemari kamar.

Seragam itu dominan putih dengan garis biru gelap di bagian lengan.

Begitu mengenakannya, Alya hampir tidak mengenali dirinya sendiri di cermin.

Ia terlihat seperti benar-benar menjadi bagian dari Akademi Zenith.

Meski begitu, rasa gugup tetap ada.

Alya akhirnya keluar kamar dan berjalan menuju lift.

Koridor Menara Orion masih sepi. Hanya beberapa siswa berlalu-lalang sambil berbicara pelan.

Saat lift terbuka, Alya masuk bersama dua siswa lain.

Mereka sempat melirik gelang putih milik Alya.

“Beasiswa?” tanya salah satunya.

Alya mengangguk kecil.

“Oh.”

Nada suaranya langsung berubah datar.

Sepanjang perjalanan lift turun, mereka tidak bicara lagi.

Alya menunduk pelan.

Ia mulai membenci cara orang-orang memandang status beasiswanya.

Begitu keluar dari lift, suasana akademi sudah jauh lebih ramai dibanding sebelumnya.

Lampu malam Zenith sangat indah.

Jalur pejalan kaki bercahaya lembut.

Pohon-pohon sintetis memancarkan warna biru kehijauan.

Air di kanal transparan memantulkan cahaya seperti kristal.

Namun Alya tidak punya waktu menikmati semuanya.

Ia mengikuti petunjuk gelang digital menuju aula utama.

Di tengah perjalanan, seseorang tiba-tiba memanggilnya.

“Alya!”

Alya menoleh.

Hana berlari kecil menghampirinya sambil tersenyum lebar.

“Akhirnya ketemu lagi!”

Alya langsung merasa lega.

“Hana.”

“Kamu sudah lihat kamarmu?”

Alya tertawa kecil.

“Kamarnya lebih besar dari rumahku.”

Hana ikut tertawa.

“Zenith memang gila.”

Mereka berjalan bersama menuju aula.

Di sepanjang jalan, Hana terus bercerita tentang siswa-siswa terkenal di akademi.

“Itu anak ketua perusahaan teknologi.”

“Oh.”

“Kalau yang tadi lewat itu juara kompetisi AI internasional.”

Alya hanya bisa kagum mendengarnya.

Semakin lama, ia semakin sadar betapa luar biasanya orang-orang di tempat ini.

Lalu Hana menurunkan suaranya sedikit.

“Dan kalau kamu melihat Reno…”

Alya langsung menoleh.

“Kenapa?”

“Jangan terlalu dekat dengannya.”

“Memangnya dia kenapa?”

Hana tampak ragu.

“Aku juga tidak tahu pasti. Tapi banyak rumor tentang dia.”

“Rumor seperti apa?”

“Katanya dia pernah meretas sistem akademi sendirian.”

Alya membelalakkan mata.

“Hah?”

“Ada juga yang bilang keluarganya punya hubungan dengan Helix Corporation.”

Nama itu terdengar asing bagi Alya.

“Helix?”

“Perusahaan teknologi terbesar di Neo Jakarta.”

Alya mencoba mengingat.

Ia pernah melihat nama itu di berita beberapa kali.

Perusahaan yang mengembangkan banyak sistem AI modern.

“Kenapa semua orang terlihat takut padanya?” tanya Alya pelan.

Hana mengangkat bahu.

“Karena dia terlalu pintar.”

Mereka akhirnya tiba di aula utama.

Ratusan siswa sudah berkumpul di dalam.

Suasana sangat ramai.

Layar hologram raksasa di atas panggung menampilkan logo Zenith yang berputar perlahan.

Alya dan Hana duduk di bagian tengah.

Tak lama kemudian lampu aula meredup.

Suasana langsung tenang.

“Selamat malam, siswa baru.”

Suara AI terdengar memenuhi ruangan.

“Orientasi malam akan segera dimulai.”

Panggung hologram menyala terang.

Satu per satu data akademi muncul di udara.

Jadwal.

Aturan.

Sistem penilaian.

Alya memperhatikan semuanya serius.

Namun tiba-tiba pintu aula terbuka.

Semua siswa menoleh bersamaan.

Reno masuk sendirian.

Seperti sebelumnya, aura dingin langsung memenuhi ruangan.

Beberapa siswa otomatis diam saat ia lewat.

Alya tidak tahu kenapa, tetapi matanya langsung mengikuti langkah Reno.

Pemuda itu berjalan santai menuju kursi paling belakang.

Tatapannya tenang dan sulit ditebak.

Dan anehnya…

Saat Reno melewati barisan tengah, ia kembali melihat ke arah Alya.

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Jantung Alya kembali berdetak aneh.

Ia cepat-cepat memalingkan wajah.

“Astaga…” bisik Hana. “Dia melihatmu lagi.”

“Aku juga tidak tahu kenapa.”

“Kalian saling kenal?”

“Tidak.”

Namun Alya sendiri mulai ragu dengan jawabannya.

Karena setiap kali Reno melihatnya, ekspresi pemuda itu selalu berubah sedikit.

Seolah ia mengenal Alya lebih dari yang seharusnya.

Orientasi berlangsung hampir satu jam.

Setelah selesai, para siswa mulai keluar aula satu per satu.

“Aku lapar,” keluh Hana.

Alya tertawa kecil.

“Ayo ke kantin.”

Mereka berjalan keluar bersama kerumunan siswa.

Namun di salah satu lorong menuju kantin, gelang digital Alya tiba-tiba bergetar.

Notifikasi baru.

Alya membuka layar kecil di pergelangan tangannya.

Pesan anonim lagi.

JANGAN IKUTI MEREKA KE LORONG BARAT.

Wajah Alya langsung pucat.

“Ada apa?” tanya Hana.

“Tidak… tidak apa-apa.”

Namun sebelum Alya sempat menyembunyikan kegelisahannya, suara langkah terdengar dari belakang.

Tap. Tap. Tap.

Alya menoleh.

Dan melihat Reno berdiri beberapa meter di belakang mereka.

Tatapannya langsung tertuju pada gelang Alya.

Ekspresi dinginnya berubah serius.

“Siapa yang mengirim pesan itu?” tanyanya pelan.

Alya membeku.

Hana terlihat bingung.

“Kalian benar-benar saling kenal?”

Namun Reno tidak menjawab pertanyaan Hana.

Ia terus menatap Alya.

Untuk pertama kalinya, Alya bisa melihat sesuatu di balik mata dingin pemuda itu.

Kekhawatiran.

“Kalau kamu ingin tetap aman,” kata Reno pelan, “mulai sekarang jangan pernah sendirian di akademi ini.”

Lalu tanpa menunggu jawaban, Reno berbalik dan berjalan pergi meninggalkan mereka.

Alya hanya bisa berdiri diam.

Jantungnya berdetak semakin cepat.

Karena kini ia yakin.

Semua ini bukan kebetulan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!