NovelToon NovelToon
Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Ibu Susu Untuk Putra Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Duda / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.

Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.

Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.

Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Amira tersenyum tipis. “Takut kurang.”

Tiur terkekeh kecil. “Gus Habibi mah kalau minum memang kuat.”

Ucapan itu membuat Amira tanpa sadar menoleh ke arah Habibi yang sedang dipakaikan baju oleh khadimah lain. Bayi kecil itu tampak tenang pagi ini. Sesekali matanya mencari-cari ke arah Amira. Dan setiap kali tatapan mereka bertemu, dada Amira selalu menghangat aneh. Seperti ada ikatan yang tumbuh diam-diam. Padahal baru sepekan.

Umi Salma masuk ke kamar sambil membenahi jilbabnya. “Amira.”

“Iya, Umi?”

“Kami mungkin tiga hari di Mlati.”

Amira mengangguk pelan. “Kalau begitu… saya izin pulang ke rumah selama Habibi pergi.”

Umi Salma tampak berpikir sebentar sebelum tersenyum lembut. “Tentu saja boleh.”

“Terima kasih, Umi.” Jujur saja, sejak semalam Amira sudah menunggu-nunggu kepulangan ini. Ia rindu rumahnya. Rindu tidur di kamar sendiri. Dan terutama rindu suaminya.

Sudah seminggu sejak ia datang ke ndalem. Namun Mirza belum sekali pun datang menjenguk. Padahal dulu suaminya sendiri yang berjanji. “Aku bakal datang seminggu sekali. Atau dua kali kalau sempat.” Nyatanya tidak ada. Bahkan pesan-pesan Amira sering dibalas lama. Kadang hanya singkat. “Lagi ngajar. Atau nanti ya.”

Awalnya Amira mencoba memahami. Mungkin Mirza sibuk. Tetapi semakin hari, hatinya mulai merasa kosong. Apalagi di tengah suasana ndalem yang asing ini, Amira sering berharap suaminya datang sekadar untuk memastikan dirinya baik-baik saja.

Namun yang datang justru hanya pesan-pesan singkat tanpa kehangatan. Sementara dirinya diam-diam mulai merasa terlalu terbiasa berada di tempat ini.

Menjelang dzuhur, semua persiapan keberangkatan akhirnya selesai. Habibi sudah berada dalam gendongan Tiur, sementara beberapa koper kecil dimasukkan ke bagasi mobil oleh para khadimah.

Amira sendiri berdiri di teras ndalem sambil memegang tas kecil miliknya. Ia juga akan pulang hari ini. Meski hanya beberapa hari, hatinya tetap terasa ringan membayangkan bisa kembali ke rumah dan bertemu Mirza.

“Amira.” Umi Salma memanggilnya pelan.

Amira segera mendekat dan mencium tangan perempuan sepuh itu. “Terima kasih sudah menjaga Habibi selama ini.”

Amira langsung menggeleng cepat. “Saya justru banyak merepotkan, Umi.”

“Tidak.” Umi Salma tersenyum lembut. “Panjenengan membantu kami lebih dari yang panjenengan kira.”

Lalu seperti biasa beliau menyelipkan sebuah amplop ke tangan Amira.

Amira langsung panik kecil. “Umi… jangan lagi.”

“Ambil.”

“Sungguh, Umi, ini terlalu banyak.”

Amira bahkan belum membuka amplopnya, tetapi ia sudah tahu isinya pasti tidak sedikit. Selama sepekan ini saja Umi Salma hampir tidak membiarkannya mengeluarkan uang sama sekali. Makanan. Pakaian. Obat. Semua disediakan. Dan sekarang masih diberi amplop lagi.

“Ini untuk kebutuhan panjenengan,” ujar Umi Salma tenang.

“Tapi saya cuma menyusui Habibi…”

“Dan itu bukan hal kecil.”

Amira terdiam. Tangannya masih menolak halus amplop itu, tetapi Umi Salma menggenggam jemarinya perlahan agar menerima. “Jangan membuat saya tidak enak hati.”

Kalimat itu justru membuat Amira makin sungkan. Akhirnya ia menerimanya dengan kedua tangan sambil menunduk. “Terima kasih, Umi.”

“Mobil juga sudah siap.”

Amira mendongak bingung. “Mobil?”

“Nanti sopir ndalem yang mengantar panjenengan pulang.”

Amira langsung kaget. “Tidak usah, Umi. Rumah saya dekat.”

“Tidak apa-apa.”

“Saya bisa naik angkot atau ojek.”

Namun Umi Salma menggeleng pelan. “Panjenengan masih masa nifas.” Nada suara beliau lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.

Amira kembali kehilangan kata. Ia benar-benar tidak terbiasa diperlakukan sebaik ini. Bahkan perhatian-perhatian kecil seperti memastikan ia tidak kelelahan di jalan terasa terlalu mewah untuk hidup yang biasa ia jalani.

***

Sepanjang perjalanan pulang, hati Amira terasa jauh lebih ringan. Ia bahkan beberapa kali tersenyum sendiri sambil memandangi jalan dari balik jendela mobil.

Sudah seminggu. Seminggu penuh ia tidak bertemu Mirza. Dan hari ini ia ingin memberi kejutan. Makanya sejak tadi Amira sengaja tidak mengabari suaminya kalau dirinya pulang. Ia membayangkan wajah Mirza nanti saat membuka pintu rumah. Mungkin kaget. Pastinya senang. Maklumlah, selama ini sejak menikah mereka benar-benar tak pernah berpisah.

Mungkin langsung bertanya kenapa ia tidak bilang-bilang lebih dulu. Pikiran sederhana itu saja sudah cukup membuat hati Amira hangat. Mobil akhirnya berhenti di depan rumah kecil mereka. “Sudah sampai, Bu,” ujar sopir ndalem sopan.

Amira mengangguk sambil tersenyum. “Terima kasih banyak, Pak.” Setelah mengangkat tas kecilnya, Amira berdiri beberapa detik di depan rumah.Sepi. Tidak ada sandal di teras. Ia mengetuk pintu pelan. Tidak ada jawaban. “Mungkin di belakang,” gumamnya kecil. Amira mencoba membuka pintu. Tidak dikunci. Namun begitu masuk ke dalam rumah, suasananya kosong. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada Mirza. Amira sedikit kecewa, meski masih mencoba berpikir positif.

Tak lama kemudian seorang tetangga lewat di depan rumah. “Mbak Amira?”

Amira buru-buru tersenyum. “Iya, Bu.”

“Lho, sudah pulang? Bukannya katanya enam bulan ya di pondok?

“Iya. Ini cuma pulang tiga hari."

“Oo, pasti mau melepas rindu." tetangga Amira menggoda, membuat perempuan itu tersenyum malu. "Ibu mertua sampeyan ke pasar tadi.”

“Oh…” Amira mengangguk. Tapi juga bertanya, kenapa pintunya tidak dikunci? Pasti kelupaan lagi.

“Mungkin bentar lagi pulang.”

Amira mengangguk kecil lagi. “Mas Mirza ke mana ya, Bu?”

Tetangganya berpikir sebentar. “Tadi kayaknya pergi juga.”

Amira langsung menebak sendiri. Pasti menemani ibunya ke pasar. Biasanya memang begitu kalau belanja agak banyak. “Ya sudah, Bu. Terima kasih.”

Setelah tetangganya pergi, Amira kembali masuk rumah. Sunyi sekali. Ia duduk sebentar di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Tidak ada pesan dari Mirza. Jam terus berjalan. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Rumah tetap kosong.

Amira mulai bosan sendiri. Akhirnya ia teringat seseorang. Nurul. Sahabatnya sejak remaja. Rumah Nurul hanya beda gang dari rumahnya. Kalau sedang senggang, mereka sering mengobrol sore bersama. Lagipula sudah lama Amira tidak bertemu Nurul sejak pindah ke ndalem. “Mungkin Nurul ada di rumah,” gumamnya pelan.

Akhirnya Amira mengambil jilbabnya lagi lalu keluar rumah. Ia berjalan pelan melewati gang kecil yang sudah sangat familiar baginya. Dan entah kenapa semakin dekat ke rumah Nurul, hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang.

Gang menuju rumah Nurul masih sama seperti dulu. Sempit, dengan pot-pot bunga di depan rumah warga dan suara televisi yang samar terdengar dari beberapa jendela terbuka.

Amira berjalan pelan sambil sesekali memegangi perutnya yang masih belum benar-benar pulih. Namun langkahnya mendadak melambat saat tiba di depan rumah Nurul.

Pintu rumah itu tertutup rapat. Tetapi ada sandal laki-laki di depan teras. Amira mengernyit kecil. Sandal itu terasa familiar. Sangat familiar. Jantungnya tiba-tiba berdetak aneh.

“Ah, mungkin tamu,” bisiknya mencoba menenangkan diri. Sebab Nurul hanya punya ayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!