Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 — Pertemuan di Pintu Gerbang Tanah
Archive Zero
Bab 21 — Pertemuan di Pintu Gerbang Tanah
Meninggalkan Hutan Senyap, pemandangan berubah drastis. Pepohonan raksasa dan kabut abadi perlahan digantikan oleh tanah berbatu yang kering dan berlekuk-lekuk. Udara yang tadinya lembap dan sejuk kini menjadi lebih kering, berdebu, dan berbau tanah yang dalam—bau yang tajam namun akrab, seolah bumi itu sendiri sedang bernapas berat di bawah kaki mereka.
Jalan setapak yang mereka lalui kini menanjak terus ke atas, mengarah ke rangkaian pegunungan berwarna merah kecokelatan yang menjulang gagah di hadapan mereka. Puncak-puncaknya tajam dan bergerigi, menembus langit biru yang bersih tanpa awan. Di antara celah gunung-gunung itu, terlihat aliran cahaya samar yang berdenyut perlahan, menandakan bahwa mereka semakin mendekati pusat aliran energi dunia.
Kai yang sepanjang perjalanan terus meneliti alat pemindai di tangannya, tiba-tiba berseru pelan, menarik perhatian Ren dan Anya.
"Lihat ini... pembacaan energinya melonjak naik drastis sejak kita keluar dari hutan. Di sini, di wilayah pegunungan ini, tenaga alam terasa jauh lebih padat dan lebih murni dibandingkan tempat mana pun yang pernah kita kunjungi. Ini persis seperti catatan lama para Pengamat. Kita sudah masuk ke wilayah penyangga Jantung Dunia."
Ren menatap tebing-tebing tinggi di sekeliling mereka, matanya menangkap pola-pola alami yang tersusun rapi pada formasi bebatuan itu. Ia bisa merasakan getaran halus yang merambat naik dari tanah masuk ke kakinya, seolah bumi sedang berbicara langsung padanya.
"Tempat ini... terasa hidup," gumam Ren pelan. "Bukan seperti makhluk hidup, tapi seperti raksasa tidur yang napasnya bisa kita rasakan. Energi di sini mengalir sangat kencang, berputar dan masuk ke dalam gunung-gunung itu."
Anya menegakkan tubuhnya, matanya meneliti bayangan-bayangan gelap di celah tebing yang curam. Kekuatan es di dalam dirinya kini merespons suhu yang berubah drastis; semakin tinggi mereka naik, semakin dingin udara terasa, meski matahari bersinar terik di atas kepala.
"Dan kita tidak sendirian di sini," ucap Anya dingin namun tenang. "Aku merasakan ada kehadiran yang mengawasi kita. Bukan satu, tapi banyak. Mereka bersembunyi di balik batu dan celah, diam dan tak bergerak, tapi mereka ada di sana."
Belum sempat Ren bertanya lebih lanjut, suara gemuruh berat terdengar bergema di seluruh lembah. Suara itu bukan suara bencana, melainkan suara langkah kaki yang sangat besar dan berat, yang membuat tanah bergetar lembut setiap kali terdengar.
Dari balik sebuah tebing raksasa di depan jalan mereka, muncullah sosok-sosok yang membuat tunggangan energi mereka mendadak berhenti dan mendengus takut.
Itu adalah makhluk-makhluk setinggi sepuluh meter, tubuh mereka terbentuk sepenuhnya dari batu padat dan tanah liat yang bercampur, dengan urat-urat berwarna emas yang berkilauan mengalir di sekujur tubuh mereka. Wajah mereka kasar namun memiliki bentuk yang menyerupai manusia, dengan mata yang menyala terang berwarna oranye, penuh kewibawaan dan kekuatan purba. Di tangan mereka, mereka memegang tongkat besar yang ujungnya berukir simbol lingkaran—simbol yang sama dengan yang ada di kota para Pengamat, namun jauh lebih tua dan lebih sederhana.
Ada lima makhluk batu itu, berdiri melintang menutup jalan setapak yang hanya cukup dilewati satu kereta saja. Aura yang mereka pancarkan begitu berat dan kokoh, seolah gunung itu sendiri yang berdiri menghadang mereka.
"Penjaga Gerbang Tanah..." bisik Kai, matanya membelalak mengenali makhluk itu dari gambar-gambar kuno di bukunya. "Mereka adalah ciptaan alam yang hidup sejak awal waktu, dibentuk untuk menjaga akses menuju Jantung Dunia. Mereka tidak jahat, tapi juga tidak ramah. Mereka hanya menjalankan tugas: menguji siapa pun yang berani mendekat."
Makhluk batu yang berdiri paling depan, sosok yang ukurannya sedikit lebih besar dan lebih kokoh dari yang lain, melangkah maju satu langkah. Suaranya terdengar seperti gesekan bebatuan yang saling bertabrakan, berat, dalam, dan bergema memenuhi lembah.
"BERHENTI DI SINI, PARA PENGEMBARA."
Ren segera turun dari kereta, memberi isyarat pada Anya dan Kai untuk tetap tenang. Ia melangkah maju beberapa langkah, berdiri tegak di hadapan makhluk raksasa itu, tidak sedikit pun terguncang oleh perbedaan ukuran yang sangat jauh.
"Kami tidak datang untuk berkelahi, Penjaga yang mulia," ucap Ren dengan suara lantang dan tenang, menyalurkan rasa hormat lewat nada bicaranya. "Kami datang atas panggilan keseimbangan. Kami merasakan ada gangguan besar yang mengancam aliran energi dunia. Kami datang untuk mencari tahu penyebabnya, dan memperbaikinya agar damai kembali terjaga."
Mata makhluk batu itu menyala lebih terang, menatap Ren lekat-lekat. Cahaya oranye itu seolah menembus tubuh Ren, melihat langsung ke dalam inti kekuatan dan jiwanya.
"HANYA MEREKA YANG MEMBAWA KUNCI KESEIMBANGAN YANG BOLEH LALU," suara makhluk itu kembali bergema. "BANYAK YANG DATANG DENGAN KATA-KATA MANIS, TAPI HATI PENUH AMBISI DAN KEKUASAAN. MEREKA INGIN MENGUASAI SUMBER KEKUATAN, BUKAN MENJAGANYA. KAMI TELAH MENGHANCURKAN RATUSAN KELOMPOK YANG DATANG SEBELUM KALIAN."
Di belakang makhluk itu, terlihat samar-samar tumpukan sisa-sisa senjata dan baju zirah yang sudah berkarat dan tertanam di tanah—bukti nyata nasib para penakluk yang gagal di masa lalu.
Anya melangkah maju berdiri di samping Ren, aura dinginnya memancar lembut, tidak mengancam, namun menunjukkan kekuatan elemen yang murni.
"Kami tidak menginginkan kekuasaan," ucap Anya jelas. "Kami telah berjuang melawan mereka yang menginginkannya. Kami telah melihat betapa hancurnya dunia saat keseimbangan dihancurkan. Kekuatan yang kami miliki bukan untuk menaklukkan, tapi untuk melindungi."
Kai juga turun dan maju selangkah, walaupun tetap berada agak di belakang. Ia mengangkat tangannya, menunjukkan perangkat kecil yang selalu ia bawa—alat pengukur energi yang diberi para Pengamat. Alat itu kini bersinar terang, berdenyut selaras dengan detak energi di sekitar mereka.
"Para Pengamat di timur mengirim kami," tambah Kai. "Mereka yang menulis sejarah, mereka yang menjaga pengetahuan. Mereka tahu bahaya apa yang mengintai, dan mereka mengirim kami karena kami memegang pemahaman yang benar tentang kekuatan ini."
Penjaga batu itu diam sejenak. Angin berhembus kencang di celah tebing, membawa debu berputar di antara mereka. Makhluk itu menundukkan kepalanya yang besar, menatap ketiga pemuda itu bergantian. Ia merasakan energi ungu keseimbangan milik Ren, energi es murni milik Anya, dan energi pengetahuan yang terstruktur milik Kai. Ia merasakan juga ikatan yang kuat menyatukan ketiganya, ikatan yang lebih kokoh daripada batu, lebih dingin daripada es, dan lebih terang daripada api.
"KALIAN MEMANG MEMBAWA TANDA YANG BENAR," akui makhluk itu akhirnya. "TAPI KUNCI SAJA TIDAK CUKUP. KAMI HARUS MEMASTIKAN HATI KALIAN TETAP TEGAR DAN TUJUAN KALIAN TETAP MURNI, BAHKAN SAAT DIHADAPKAN PADA KEKUATAN TERBESAR DUNIA. JANTUNG DUNIA ADALAH SUMBER SEGALA KEKUATAN. DI SANA, KEINGINAN HATI AKAN TERWUJUD DENGAN MUDAH. AMBISI KECIL BISA MENJADI RAKSASA YANG MENGHANCURKAN."
Makhluk itu mengangkat tongkat besarnya ke langit. Seketika itu juga, tanah di sekeliling kereta mereka bergetar, dan dinding batu di kedua sisi jalan mulai berubah bentuk, membentuk sebuah ruangan terbuka raksasa, seolah alam itu sendiri sedang membangun sebuah arena ujian.
"UNTUK BISA LALU, KALIAN HARUS LULUS UJIAN TERAKHIR KAMI. UJIAN BUKAN KEKUATAN FISIK, TAPI UJIAN KETEGARAN HATI DAN KEBIJAKSANAAN."
Tiba-tiba, tiga cahaya terang memancar keluar dari tubuh makhluk penjaga itu, melesat masuk ke dalam dada Ren, Anya, dan Kai secara bersamaan. Pandangan mereka seketika menjadi kabur, suara di sekeliling menghilang, dan realitas di depan mata mereka berubah sepenuhnya.
Ren mendapati dirinya berdiri sendirian di sebuah ruangan luas yang penuh dengan tumpukan harta karun, permata, emas, dan artefak kuno yang bersinar terang. Di tengahnya, ada sebuah singgasana megah, dan di atasnya terhampar kekuatan yang begitu dahsyat hingga bisa membuatnya menguasai seluruh dunia hanya dengan satu jentikan jari. Sebuah suara berbisik di telinganya: Ambillah. Jadilah raja. Kau sudah berjuang keras. Kau pantas memegang kendali segalanya. Tidak ada lagi yang bisa melawanmu. Dunia akan tunduk padamu.
Namun, Ren menggeleng pelan. Ia mengingat kembali masa-masa sulit di Elarion, penderitaan rakyat, bahaya kekuasaan yang dipegang oleh Dewan Tertinggi, dan janjinya untuk melindungi kebebasan. Ia menundukkan pandangannya dari kemegahan itu, berbalik memunggungi singgasana itu.
"Aku tidak ingin memegang kendali atas orang lain," ucap Ren tegas pada ruang kosong itu. "Aku hanya ingin semua orang bebas menjalani hidup mereka sendiri dengan damai."
Pemandangan itu lenyap seketika.
Di sisi lain, Anya mendapati dirinya berdiri di atas dunia yang hancur lebur. Langit gelap, tanah retak, dan kehidupan hampir musnah sepenuhnya. Sebuah suara bergema: Ini yang akan terjadi jika kau terus berjalan. Kekuatan di sana terlalu besar, kau tidak akan sanggup mengendalikannya, kau akan gagal, dan semuanya akan mati. Berhentilah sekarang. Pulanglah. Biarkan saja semuanya hancur, setidaknya kau selamat.
Tapi Anya mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ia mengingat wajah-wajah anak-anak yang tersenyum padanya di Elarion, mengingat kehangatan teman-temannya, dan mengingat rasa sakit saat hampir kehilangan mereka dulu.
"Selama aku masih bernapas, aku tidak akan membiarkan kehancuran datang," jawab Anya dingin namun penuh keyakinan. "Lebih baik aku mati berjuang, daripada hidup lari dari tanggung jawab. Selama ada harapan sekecil apa pun, aku akan maju."
Pemandangan itu pun lenyap.
Dan Kai, ia mendapati dirinya berada di sebuah perpustakaan raksasa yang berisi seluruh pengetahuan alam semesta, rahasia masa lalu, masa kini, dan masa depan. Suara itu berbisik: Ambillah semuanya. Jadilah makhluk paling bijaksana dan paling tahu segalanya. Kau bisa duduk diam di sini, mempelajari segalanya selamanya, tanpa perlu menghadapi bahaya atau risiko apa pun. Pengetahuan adalah kekuatan tertinggi, dan kau bisa memilikinya semua.
Kai menatap ribuan buku dan gulungan itu dengan mata berbinar sejenak—rasa penasaran ilmiahnya memang sangat besar. Tapi kemudian ia teringat tujuannya. Pengetahuan tanpa tindakan tidak ada gunanya. Apa gunanya tahu segalanya jika dunia di luar sana hancur? Apa gunanya kebijaksanaan jika sahabat-sahabatnya dalam bahaya?
Ia menutup matanya dan mundur selangkah. "Pengetahuan ada gunanya hanya jika digunakan untuk kebaikan. Aku tidak butuh tahu segalanya, aku hanya butuh tahu apa yang dibutuhkan untuk melindungi orang-orang yang kucintai. Dan aku lebih memilih berjalan bersama kawan-kawanku, daripada duduk sendirian di tumpukan buku."
Pandangan mereka kembali menjadi jernih. Mereka kembali berdiri di jalan setapak di antara tebing-tebing tinggi, masih berhadapan dengan Penjaga Tanah yang raksasa itu. Cahaya oranye di mata makhluk itu kini berubah menjadi warna emas yang hangat dan ramah.
"BAGUS," suara makhluk itu kini terdengar lebih lembut, meski masih berat dan bergema. "KALIAN TELAH LULUS. KALIAN MEMEGANG KEKUATAN, TAPI TIDAK TERGODA OLEHNYA. KALIAN MENGHADAPI BAHAYA, TAPI TIDAK MUNDUR KARENA KETAKUTAN. KALIAN MENCARI ILMU, TAPI TIDAK LUPA TUJUAN HATI."
Makhluk itu mengangkat tongkatnya sekali lagi, lalu menghentakkan ujungnya ke tanah.
"TERBUKALAH, GERBANG UTAMA!"
Di belakang tubuh kelima penjaga itu, dinding gunung yang kokoh dan tertutup batu keras perlahan terbuka perlahan, bergeser ke samping dengan suara gemuruh dahsyat. Di baliknya, terlihatlah jalan menuju ke dalam jantung pegunungan itu—sebuah lorong panjang yang terbuat dari kristal bening, yang dinding, lantai, dan langit-langitnya memancarkan cahaya putih keemasan yang indah dan menyilaukan. Udara yang keluar dari lorong itu begitu murni dan penuh energi, hingga membuat seluruh rambut mereka berdiri dan kekuatan di dalam tubuh mereka berdenyut sangat kencang, penuh semangat.
"JALAN INI AKAN MEMBAWA KALIAN LANGSUNG KE TENGAH," ucap Penjaga itu sebagai perpisahan. "NAMUN INGATLAH PESAN KAMI: DI SANA, KEKUATAN BESAR BERTEMU DENGAN HATI MANUSIA. TETAPLAH MENJADI DIRI KALIAN SENDIRI, TETAPLAH BERSATU, DAN KALIAN AKAN BISA MENGHADAPI APA PUN YANG ADA DI SANA. SEMOGA KESEIMBANGAN SELALU MENYERTAI KALIAN, PARA PENJAGA BARU DUNIA."
Ren mengangguk hormat, memberi penghormatan terakhir pada makhluk-makhluk agung itu.
"Terima kasih atas pelajaran dan izinnya. Kami tidak akan mengecewakan kepercayaan kalian."
Mereka bertiga kembali naik ke atas kereta. Dengan hati-hati namun penuh semangat, Kai mengendalikan tunggangan mereka melaju masuk ke dalam lorong kristal yang berkilauan itu. Di belakang mereka, gerbang batu perlahan menutup kembali, menyembunyikan jalan itu dari dunia luar, menjaga rahasia terbesar bumi hanya untuk mereka yang berhak mengetahuinya.
Di dalam lorong itu, cahaya semakin terang, dan suara aliran energi semakin keras, terdengar seperti detak jantung raksasa yang berirama. Jantung Dunia semakin dekat. Jawaban atas semua misteri, asal mula segala kekuatan, dan penyebab gangguan besar itu... kini tinggal selangkah lagi dari jangkauan tangan mereka.
Dan di kejauhan, di ujung lorong yang tak terlihat, bayangan sosok berselimut daun yang mengikuti mereka dari Hutan Senyap itu berdiri diam, tersenyum misterius sambil bergumam pelan pada dirinya sendiri.
"Permainan sesungguhnya baru saja dimulai... mari kita lihat, apakah kalian cukup kuat untuk memegang kebenaran yang pahit itu..."
Bersambung...
jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"