NovelToon NovelToon
The Royal Family

The Royal Family

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Viana18

Di tengah kota mewah Seoul berdiri sebuah komplek elite bernama Royal Family Residence tempat tinggal empat keluarga sultan paling berpengaruh di Asia. Rumah mereka berdampingan, bisnis mereka mendunia, dan anak-anak mereka terkenal di sekolah elit Aexdrem High School serta Universitas Aexdrem.
Walaupun terlihat sempurna dari luar, isi rumah mereka justru penuh keributan, lawakan receh, drama keluarga, dan perang mulut tiap hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viana18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah, seolah ikut merayakan kebahagiaan yang baru saja bersemi kemarin. Di halaman luas kediaman keluarga Nakomoto, pemandangan yang sangat mewah dan menarik perhatian warga sekitar pun terlihat jelas. Tiga buah mobil mewah berwarna berbeda terparkir rapi berjejer, menambah kemegahan rumah besar itu.

Di mobil pertama berwarna hitam mengkilap ada Henderi, di sebelahnya mobil berwarna putih bersih dikendarai Jeno, dan yang terakhir mobil berwarna perak elegan dikendarai Gualin. Ketiga pemuda itu sudah berdiri rapi di depan pagar utama, pakaian seragam sekolah mereka tersetrika rapi dan wangi, rambut ditata sedemikian rupa agar terlihat tampan sempurna. Di tangan masing-masing, mereka memegang seikat bunga segar yang indah—bunga yang mereka tau betul adalah bunga kesukaan sang kekasih.

Henderi membawa mawar merah yang melambangkan cinta yang membara, Jeno membawa bunga tulip putih yang sederhana namun indah persis seperti Nana, dan Gualin membawa bunga lili putih yang anggun dan tenang, sama seperti sifat Renjun.

Suara klakson mobil dibunyikan singkat tapi sopan, dan tak lama kemudian gerbang tinggi itu terbuka lebar. Ayah Yuta dan Bunda Winnie keluar lebih dulu dengan senyum lebar menyambut kedatangan ketiga pemuda yang kemarin baru saja membuktikan keberanian dan ketulusan mereka. Di belakang mereka, perlahan muncul tiga sosok wanita cantik, anggun, dan mempesona—Dejun, Renjun, dan Nana. Tiga bidadari itu melangkah keluar dengan seragam sekolah yang pas di badan, wajah mereka merona merah karena malu sekaligus bahagia melihat pemandangan di depan sana.

Henderi, Jeno, dan Gualin seketika terpaku, menatap tak berkedip seolah sedang melihat bidadari turun dari kayangan. Jeno sampai mengusap matanya pelan, mulutnya sedikit terbuka takjub.

"Ya ampun... cantik banget sumpah! Nana sayang makin cantik aja tiap aku liat, gimana sih caranya?!" gumam Jeno pelan tapi masih kedengeran sama teman-temannya di sebelah, bikin Henderi dan Gualin tertawa kecil.

Mereka bertiga pun berjalan mendekat dengan hormat, lalu menundukkan kepala sedikit menyapa Ayah dan Bunda.

"Pagi, Ayah Yuta! Pagi, Bunda Winnie!" seru mereka serempak dengan nada semangat.

Ayah Yuta tertawa renyah, menepuk bahu mereka satu per satu. "Pagi juga anak-anak hebat. Wah, ini pemandangan apa nih? Tiga mobil mewah, tiga cowok ganteng, bawa bunga lagi. Ada pesta apa pagi-pagi begini? Hehehe."

"Ah Paman, masa pesta sih. Ini mah cuma niat baik aja, sebagai cowok yang baik dan udah resmi, harus dong jemput dan antar kekasihnya ke kampus biar aman dan nyaman," jawab Henderi santai sambil nyengir, lalu segera beralih menatap Dejun yang berdiri di sebelah kanan sambil tersenyum malu-malu.

Henderi berjalan dua langkah mendekat, lalu menyodorkan seikat mawar merah itu dengan tatapan penuh cinta. Matanya menatap lekat manik mata Dejun.

"Buat kamu, Dejun. Ini mawar merah, bunga kesukaan kamu kan? Aku inget banget, dari dulu aku selalu inget hal-hal kecil tentang kamu. Aku tau kamu suka yang merah, yang cerah, dan yang manis. Semoga bunga ini bisa bikin pagi kamu makin indah, sama kayak kehadiran kamu yang selalu bikin hari-hari aku jadi indah banget," ucap Henderi lembut dan tulus.

Dejun menerima bunga itu dengan senyum merekah, wajahnya merah merona sampai ke telinga. Ia mencium aroma bunga itu sebentar, lalu menatap Henderi dengan pandangan berbinar.

Di sebelahnya, Jeno udah gak sabar pengen ngomong, dia langsung nyerodong maju ke depan Nana yang berdiri manis sambil menahan tawa liat kelakuan Jeno. Jeno menyodorkan bunga tulip putih itu dengan semangat, matanya berbinar-binar kayak anak kecil dapet mainan baru.

"Nanaaaaa! Ini buat kamu! Tulip putih lho! Bunga kesukaan kamu banget kan?! Aku inget banget lho, dulu pernah kamu cerita kalau kamu suka bunga ini karena warnanya bersih, bentuknya sederhana tapi cantik, gak norak, dan wanginya lembut banget. Persis kayak kamu deh sebenernya! Hahaha!" seru Jeno heboh tapi tatapannya sangat lembut.

Nana menerima bunga itu sambil tersenyum manis, matanya menatap wajah Jeno yang meski lukanya udah agak memudar tapi masih ada sisa memar samar di pipinya. Nana mengelus pelan bagian pipi itu dengan wajah sedikit masam tapi penuh kasih sayang.

"Kamu ini ya... masih aja semangat banget. Makasih ya bunganya, bagus banget. Tapi... lukanya gimana? Masih sakit gak? Kamu kok nekat banget sih, Buat masuk sekolah, bawa mobil lagi.Apa gak sakit?" omel Nana lembut, nadanya penuh kekhawatiran.

Jeno langsung menggeleng kencang, senyumnya makin mekar sampe giginya kelihatan. Dia langsung menggenggam tangan Nana yang ada di pipinya, menempelkannya makin erat ke pipinya.

"Gak sakit sama sekali tau! Udah sembuh total! Lukanya itu mah luka kemarin, sekarang udah jadi kenangan indah aja. Justru aku seneng banget lho ada bekas lukanya, jadi inget terus kalau kemarin aku udah berjuang hebat banget demi dapetin kamu. Na, kamu tau gak sih betapa bahagianya aku dari kemarin sampe sekarang? Rasanya aku pengen teriak ke seisi dunia kalau Nana udah resmi jadi pacar aku! Rasanya kayak mimpi aja tau. Dulu aku cuma bisa ngeliat dari jauh, cuma bisa gangguin kamu, cuma bisa manja-manja gak jelas. Tapi sekarang? Aku punya hak penuh buat jagain kamu, buat sayang sama kamu, buat jemput kamu, buat panggil kamu 'pacar aku'. Sumpah deh, Na... aku rasanya jadi cowok paling hebat sedunia cuma gara-gara jadi pacar kamu."

Nana tertawa renyah mendengar penuturan panjang lebar Jeno yang penuh semangat itu. Dia menggeleng pelan, tapi senyumnya gak pernah hilang. "Kamu bisa aja Jeno. Bisa-bisanya ngomong gitu. Tapi... aku seneng kok. Aku seneng kamu sebahagia itu. Dan aku juga... bangga banget sama kamu. Kemarin pas aku liat kamu berjuang, pas aku liat kamu jatuh terus bangkit lagi padahal udah lemas banget... aku tau. Aku tau kamu beneran tulus sama aku. Makasih ya udah nekat banget demi aku. Aku janji, aku bakal jagain hati kamu ini, dan kita bakal bahagia bareng-bareng ya."

"SIAP KOMANDAN! SIAP BAHAGIA TERUS SAMPAI KAPAN PUN!" jawab Jeno lantang bikin semua orang di situ tertawa geli.

Tak kalah romantis, di sisi lain Gualin berdiri tenang dan anggun di depan Renjun. Dengan gerakan halus dan sopan, dia menyodorkan seikat bunga lili putih yang indah dan harum semerbak. Wajah Gualin masih ada sisa lecet kecil di dahinya, tapi penampilannya tetap berwibawa dan menawan.

"Buat kamu, Renjun. Lili putih. Aku tau ini bunga kesukaan kamu. Sama kayak kamu, bunga ini kelihatan tenang, anggun, bersih, dan indah banget. Gak perlu banyak gaya, tapi keindahannya itu yang paling menonjol. Pas banget sama kamu," ucap Gualin dengan suara rendah, lembut, dan berwibawa khas dirinya.

Renjun menerima bunga itu dengan pipi memerah padam, senyum manis mengembang di bibirnya. Dia menatap wajah Gualin lekat-lekat, menatap sisa lukanya, lalu tangannya perlahan menyentuh dahi pemuda itu dengan penuh perhatian.

"Makasih banyak ya, Gualin. Kamu kok bisa sih inget hal-hal kecil kayak gini? Padahal kan aku cuma pernah bilang sekali aja waktu itu," kata Renjun pelan, suaranya terdengar sangat haru. "Dan... lukanya? Masih nyeri gak? Kemarin kan lumayan parah lho jatuhnya. Aku sampe khawatir banget tau, takut kamu kenapa-napa."

Gualin tersenyum tipis, senyum yang paling indah dan tulus. Dia memegang tangan Renjun yang ada di dahinya, lalu mengecup punggung tangan itu pelan dan sopan.

"Gak ada apa-apanya, njun. Sakit dikit gini mah belum seberapa dibanding rasa bahagia aku kemarin pas tau aku menang, pas tau aku dapet izin Ayah kamu, dan pas tau kamu mau jadi pacar aku. Kamu tau kan aku orangnya pendiem, gak banyak omong kayak Jeno atau Henderi. Aku gak bisa ngomong manis kayak mereka. Tapi satu hal yang harus kamu tau... apa yang aku lakuin kemarin, apa yang aku lakuin hari ini, dan apa yang bakal aku lakuin nanti... semuanya tulus, semuanya demi kamu, dan semuanya buat bikin kamu bahagia."

Gualin menatap mata Renjun dalam-dalam, melanjutkan ucapannya dengan mantap. "Aku emang gak seberisik Jeno, gak seheboh Henderi. Tapi percaya deh Jun... soal setia, soal sayang, soal jagain kamu, aku gak bakal kalah sama siapa pun. Kemarin pas aku ngelawan mereka berdua, pas badan aku sakit banget, pas tenaga aku mau abis... yang ada di pikiran aku cuma satu: aku gak boleh kalah, karena di sini ada kamu yang nungguin aku. Kamu jadi tenaga terbesar aku. Makasih ya udah percaya sama aku, makasih udah milih aku. Aku janji, aku bakal jagain kamu selamanya dengan cara aku sendiri, cara yang tenang tapi pasti, cara yang penuh cinta."

Mata Renjun berkaca-kaca terharu mendengar ucapan tulus dan dalam itu. Dia mengangguk pelan, senyumnya makin mekar indah. "Aku tau kok, Gualin. Aku ngerti banget kamu. Aku juga milih kamu bukan karena kamu heboh atau banyak omong. Aku milih kamu karena ketenangan kamu, karena kesabaran kamu, karena ketulusan kamu yang kelihatan banget walaupun kamu diem aja. Aku bangga banget punya kamu. Kemarin aku liat semuanya, aku liat kamu bertahan walau sakit, aku liat kamu cerdik dan tenang ngadepin semuanya. Itu bikin aku makin yakin kalau pilihanku udah bener banget. Makasih ya udah berjuang keras demi aku juga."

Ayah Yuta dan Bunda Winnie yang melihat interaksi ketiga pasangan itu dari dekat cuma bisa saling pandang dan tersenyum bahagia banget. Hati mereka rasanya lega dan senang luar biasa melihat anak-anak perempuan kesayangan mereka udah punya pendamping yang begitu tulus, berani, dan sangat mencintai mereka.

"Udah udah... jangan lama-lama ngobrolnya nanti keburu telat lho ke sekolah," sela Bunda Winnie lembut sambil tertawa. "Mumpung hari ini kalian udah resmi, udah punya izin, jadi Bunda sama Ayah percayain anak-anak kami ke kalian. Antar dan jemput mereka dengan selamat ya, jaga mereka baik-baik di jalan."

Ayah Yuta ikut menimpali dengan nada tegas tapi ramah. "Ingat ya pesan Ayah. Kalian udah buktiin keberanian kalian kemarin. Sekarang buktiin tanggung jawab kalian sehari-hari. Kalian bawa mobil mewah, kalian ganteng, kalian punya segalanya... tapi ingat, yang paling berharga yang kalian bawa hari ini adalah anak-anak perempuan kami. Jaga mereka lebih dari kalian menjaga mobil mewah kalian itu. Paham?!"

"SIAP, ayah!" jawab ketiga pemuda itu serempak dengan lantang dan mantap.

Dejun, Renjun, dan Nana pun berpamitan mencium tangan Ayah dan Bunda mereka. Mereka pun berjalan menuju mobil masing-masing dengan hati berbunga-bunga.

Sebelum masuk ke mobilnya masing-masing, Jeno sempat berhenti sebentar, menoleh ke arah Nana yang berjalan di sebelahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!