"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: FIRASAT SANG PENERUS
Kota Batu, Jawa Timur. Pukul 02:00 WIB.
FIIIIUUUU... (Angin gunung yang menusuk tulang).
Kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Panderman, merayap masuk ke celah-celah ruko "Pustaka Senyap" yang kini hanya menyisakan puing-puing hitam akibat pembakaran Rendra.
Di seberang jalan, di dalam sebuah rumah aman (safe house) milik intelijen militer, Reyna berdiri mematung di depan jendela.
Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini terlihat lelah. Di tangannya, sebuah tablet enkripsi militer menampilkan radar satelit Selat Malaka yang menunjukkan tanda "Sinyal Hilang" di koordinat kapal kargo Star of Panama.
"Arka... jangan mati sekarang. Kau belum membayar hutang budimu padaku," bisik Reyna.
KREEEET...
Ia meremas pinggiran jendela hingga kayu jati itu retak. Reyna tahu, jika radar militer tidak bisa menemukan Arka, artinya Arka sudah masuk ke ranah yang tidak bisa dijangkau teknologi, ranah ghaib.
"Tante Reyna... Papa sedang mandi di tempat yang gelap."
Reyna tersentak. DEG! Ia menoleh ke belakang. Dafa berdiri di ambang pintu kamar, memegang sebuah buku gambar dan krayon hitam.
Anak itu tidak tampak mengantuk, ZING! Matanya justru bersinar dengan pendar keemasan yang sangat tipis, persis seperti mata Arka saat menggunakan Segel Bumi.
Reyna berlutut di depan Dafa, memegang bahu kecilnya. "Apa maksudmu, Sayang? Papa sedang mandi?"
Dafa mengangguk pelan. Ia menunjukkan kertas gambarnya. Di sana, Dafa menggambar sosok pria yang dikelilingi oleh ular-ular raksasa dan seorang wanita tua yang sedang menari.
Yang mengerikan, di atas gambar pria itu, Dafa menggambar sebuah Rantai Hitam yang sedang retak.
"Papa sedang melepas bajunya," ucap Dafa polos. "Tapi bajunya bukan kain, Tante. Bajunya adalah kulitnya sendiri. Papa mau jadi naga agar bisa pulang."
Reyna tercekat. Dia tahu persis apa artinya itu. Dafa sedang melihat proses Ngrogoh Sukmo yang dilakukan Arka di Jambi secara real-time. Koneksi batin antara bapak dan anak ini melampaui logika jarak ribuan kilometer.
"Dafa, dengarkan Tante. Apapun yang kau lihat, tetaplah di sini. Jangan biarkan 'mereka' masuk," ucap Reyna dengan nada memerintah.
"Mereka sudah di depan pintu, Tante."
Tiba-tiba... TOK. TOK. TOK.
Suara ketukan pintu itu pelan, namun berirama. Ketukan yang tidak menggunakan kepalan tangan, melainkan menggunakan kuku yang panjang dan tajam. SRAK... SRAK...
Reyna segera mencabut pistol Glock 17 dari balik pinggangnya, KLIK! (Suara mengokang senjata). Ia menarik Dafa ke belakang tubuhnya. "Dafa, masuk ke bawah meja. Sekarang!"
Pintu kayu rumah aman itu mendadak mengembun. KRETEK... KRETEK... Es mulai menutupi gagang pintu.
Dari balik celah bawah pintu, mengalir cairan hitam pekat yang berbau bunga kamboja busuk, persis seperti bau dupa Nyai Ronggeng di Jambi. SREEEET...
“Reyna... serahkan anak itu... atau ruko ini akan menjadi kuburan kalian berdua...” suara itu bukan berasal dari mulut, melainkan bisikan yang merambat lewat dinding-dinding rumah.
"Black Order," geram Reyna. "Kalian benar-benar berani menyentuh wilayah Jenderal Wironegoro?"
"Wironegoro sedang sibuk mengurus mayat Arka di Malaka, Manis..."
BOOOOOMMMM!
Pintu itu mendadak meledak hancur. Bukan oleh bom, tapi oleh hantaman Aji Brajamusti yang sangat kuat. PYARRRR! Seorang pria bertubuh raksasa dengan tato Banaspati di sekujur dadanya melangkah masuk.
Di belakangnya, tampak beberapa pria berpakaian serba hitam dengan mata yang merah menyala.
Reyna melepaskan tiga tembakan beruntun.
BANG! BANG! BANG!
Peluru itu mengenai dada si raksasa, namun bukannya darah yang keluar, peluru membal dari kulit si raksasa. TING! TING!
Pria itu tertawa, memungut peluru yang membal dari kulitnya. "Peluru tembaga tidak mempan untuk Ilmu Rawa Rontek-ku, Reyna."
Reyna membuang pistolnya. Ia tahu senjata api tidak berguna sekarang. Ia meraih dua buah keris kecil (patrem) yang tersembunyi di balik sepatu boot-nya. SREET!
"Dafa, tutup matamu," bisik Reyna.
Di saat Reyna bersiap melakukan perlawanan terakhir, Dafa justru melangkah maju. Ia melepaskan tangan Reyna. Anak kecil itu menatap si raksasa dengan pandangan yang sangat tenang, terlalu tenang untuk anak seusianya.
"Jangan ganggu Papa," ucap Dafa.
Dafa menghentakkan kaki kanannya ke lantai keramik rumah itu. DHUMMMMMMMMM!
Seluruh fondasi rumah itu bergetar hebat. KRAKKKK! Tanpa mantra, tanpa ritual, Dafa melepaskan Resonansi Bumi murni.
Lantai keramik itu terbelah, menciptakan rekahan yang dalam tepat di bawah kaki para penyerang Black Order.
"Apa?! Bagaimana mungkin anak kecil ini punya Segel Bumi tanpa belenggu?!" teriak si raksasa terkejut saat kakinya terjepit di antara beton yang mendadak mengunci.
Reyna terperangah. Ia baru menyadari satu hal yang selama ini dirahasiakan Arka, Dafa bukan sekadar anak biasa. Dafa Lahir tanpa Segel.
Jika Arka harus berjuang membuka belenggunya, Dafa lahir dengan kekuatan yang sudah menyatu dengan darahnya.
KEMBALI KE MUARO JAMBI:
Di alam sukma, jiwa Arka yang bersinar keemasan merasakan getaran dari arah Jawa. WUUUUUNGGGGG! Ia merasakan denyut kekuatan Dafa yang memanggilnya.
“Dafa... kau melindungiku?”batin Arka menguat.
Arka menatap Nyai Ronggeng Sukmo yang kini tampak ketakutan melihat cahaya Arka yang semakin terang. Arka tidak lagi ragu.
ZAP! Ia mengangkat Keris Kyai Sangga Buwana yang kini berpendar hijau zamrud bercampur emas.
"Kau bilang aku terlalu suci untuk dunia ini, Nyai?" Arka melesat, suaranya menggelegar seperti guntur. WHUSSSHHHH!! "Maka biarkan aku menyucikanmu dengan kebenaran tanah ini!"
Arka menghujamkan kerisnya ke arah jantung ghaib Nyai Ronggeng.JLEB!
Di saat yang sama, sosok penjaga raksasa bermata obor di belakang raga Arka menghantamkan gadanya ke arah Ki Ageng Serang Ulo yang mencoba menyerang raga Arka. BRRRRRRAAAAAAKKKKK!
DHUAAARRRRRR!!!! (Ledakan energi dua dimensi).
Benturan dua dimensi itu menciptakan ledakan energi yang membutakan mata. Seluruh kompleks Candi Muaro Jambi bergetar, dan air di kolam suci Telago Rajo mendadak memuncrat ke atas setinggi gedung sepuluh lantai.
BYURRRRRRRRR!
Cahaya putih menelan segalanya. VREEEUMMM...
Saat cahaya itu meredup, Arka membuka matanya di dunia nyata. HAAH... HAAH... Ia terengah-engah, sukmanya kembali ke raga dengan hentakan yang menyakitkan.
Di depannya, Nyai Ronggeng dan Ki Ageng sudah lenyap, hanya menyisakan tumpukan abu hitam dan seruling bambu yang patah. Sosok penjaga raksasa tadi juga menghilang, kembali ke dalam relief candi.
Arka segera merangkak ke arah Siska. SREEET... "Siska! Bangun!"
Siska terbatuk hebat, menghirup udara sebanyak-banyaknya. Wajah birunya perlahan memudar. Ia menatap Arka dengan air mata mengalir. "Arka... aku bermimpi... aku melihat Dafa... dia sedang berkelahi di rumah..."
Arka tertegun. Jika Siska bisa melihat Dafa, artinya situasi di Batu sudah sangat gawat.
Arka berdiri, meski tubuhnya gemetar. Ia menatap ke arah kolam suci Telago Rajo. Di sana, di tengah kolam yang airnya kini tenang kembali, mengapung sebuah kotak kayu jati tua yang dilapisi lumut emas.
Prasasti Air Abadi.
SPLASH... Arka berjalan masuk ke dalam air kolam, mengambil kotak itu. DZZZT... DZZZT... (Suara sel tubuh Arka yang menutup seketika). Arka menatap ke arah Jawa. Matanya berkilat dingin.
[SINKRONISASI ELEMEN AIR: 25% - COMPLETED] [KEMAMPUAN BARU: REGENERASI SEL GHAIB AKTIF]
Arka merasakan kekuatannya kembali penuh, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Namun, ia tidak merasa senang. Ia menatap ke arah timur, ke arah Pulau Jawa yang mulai terlihat di cakrawala batinnya.
"Kita harus pulang, Siska," ucap Arka dengan suara dingin. "Mereka sudah menyentuh anakku. Dan bagi siapa pun yang menyentuh Dafa... aku tidak akan lagi menjadi ksatria yang peningit (tersembunyi)."
GRRRRRRR... (Gempa kecil terjadi di bawah kakinya).
"Aku akan menjadi Bencana bagi mereka." DHUM!(Ledakan udara saat Arka mengepalkan tangan).
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.