NovelToon NovelToon
Aku Berhak Bahagia

Aku Berhak Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Rumah Tangga / Janda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"

Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.

Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?

Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?

Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Berhak Bahagia - episode 7

Dua bulan sudah Mila bekerja di rumah miliknya Hanny, masih butuh beberapa bulan lagi ia mengumpulkan uang buat mengurus semua berkas-berkas yang harus dipersiapkannya untuk menggugat suaminya.

Mila duduk di teras rumah Hanny sembari melamun, ia memikirkan rencananya apabila telah lepas dari suaminya. Kedua orang tuanya melarangnya berpisah tetapi hatinya tak sanggup menerima semuanya.

Hanny yang kebetulan datang mengunjungi rumahnya melihat Mila duduk termenung. Mendekatinya dan bertanya, "Mil, apa kamu lagi ada masalah?"

"Eh, Bu Hanny. Tidak ada, Bu," jawab Mila tersenyum tipis.

"Kata Dewi, akhir-akhir ini kamu sering melamun," ucap Hanny, kemarin dia mendengar karyawannya itu mengatakan bahwa Mila sering terlihat melamun sebelum pulang.

Mila cuma tersenyum singkat saja.

"Kalau kamu ada masalah, coba cerita. Mungkin saya bisa membantumu," kata Hanny lalu duduk di kursi yang ada di sebelah kanannya Mila.

"Bu, apa salah saya menggugat cerai suami?" Mila meminta pendapat.

"Kenapa kamu ingin berpisah?" tanya Hanny.

Mila lalu menceritakan mengenai rumah tangganya.

"Ya Allah, jahat sekali suamimu itu!" Hanny geleng-geleng kepala mendengar cerita Mila tentang Hardi.

"Saya sudah tak tahan lagi, Bu. Suami tidak mencintai saya, jadi buat apa saya pertahankan," kata Mila.

"Kalau saya jadi kamu, saya juga akan melakukan hal sama!" ucap Hanny.

"Jadi, tidak apa-apa kalau saya menggugat cerainya?" Mila meminta pendapat dan dukungan.

"Perbuatan suami kamu itu sudah keterlaluan. Dia tak memberikan uang belanja yang layak, menghina kamu dan melakukan kekerasan. Kamu berhak hidup tenang dan mendapatkan pria yang baik," kata Hanny.

"Kedua orang tua saya tak setuju, Bu. Itu yang membuat saya bingung," ucap Mila sendu.

"Pernikahan kamu yang menjalaninya, bukan orang lain apalagi orang tuamu," kata Hanny lagi.

Mila mengangguk paham.

"Jika kamu butuh pengacara atau bantuan, saya siap membantumu!"

"Bu Hanny mau membantu saya?" Mila bertanya untuk memastikannya.

"Ya, kebetulan ada teman saya pengacara," kata Hanny.

"Terima kasih banyak, Bu. Semoga pilihan saya bercerai adalah tepat!" Mila tampak begitu senang.

"Walaupun sulit, kamu berhak bahagia. Sekarang kamu kumpulkan bukti yang kuat agar memudahkan urusan perceraian kalian!"

"Bukti apa, Bu?" tanya Mila yang tak mengerti.

"Kalau kamu mengalami kekerasan pastikan ada orang yang mengetahuinya dan kamu bisa merekam semua pembicaraan kalian ketika bertengkar. Semua itu supaya hakim cepat memproses perceraian kalian!" jawab Bu Hanny.

"Saya tidak punya bukti rekaman, tapi saya sering curhat dengan teman," kata Mila.

"Dia juga bisa jadi saksi," ucap Hanny.

Setelah mencurahkan isi hatinya, Mila kembali ke rumah suaminya. Hari ini dia takkan memasak melainkan membeli beberapa lauk.

Mila sampai di rumah pukul 2 lewat 30 menit, melaksanakan shalat Zuhur lalu lanjut tidur siang.

Jam 6 sore, Hardi pulang kerja. Seperti biasa dia membuka tudung saji melihat masakan istrinya. Dia tersenyum ketika melihat menu yang tersaji di meja makan.

"Begini setiap hari 'kan enak!" kata Hardi menatap balado udang, capcay dan 2 ekor ikan bakar.

"Kalau tiap hari Mas kasih aku uang seratus ribu, aku mau memasak makanan seperti ini!" sindir Mila.

"Setiap hari seratus ribu kasih kamu, rugi aku!" kata Hardi.

"Kok rugi? Bukankah Mas Hardi juga ikut makan?"

"Aku gak mau badanmu tambah besar karena makan enak!" Hardi beralasan padahal memang dasarnya pelit.

Mila tertawa getir.

"Ambilkan aku piring, aku mau makan dulu sebelum mandi!" kata Hardi menarik kursi.

Mila meletakkan piring kosong dihadapan suaminya.

"Pasti gajimu besar, makanya bisa beli makanan enak!" kata Hardi sambil mengambil nasi dan meletakkannya di piring.

"Gajiku gak besar, cuma aku gak mau menahan selera. Anggap saja makanan hari ini sedekah aku kepada Mas Hardi!"

Hardi menoleh ke arah istrinya, ia sedikit tersinggung dengan ucapannya. Namun, karena tak ingin melewati rejeki hari ini dia memilih tak menggubrisnya.

-

Malam harinya di kamar, Mila tidur lebih awal sebab seharian dia sangat lelah. Dia juga tak memperdulikan lagi suaminya begadang dan menggoda wanita lain di media sosialnya.

Hardi keluar dari kamar tidurnya dengan pelan-pelan agar Mila tak terbangun. Ia menghubungi salah satu wanita yang dikenalnya lewat sosial media.

Mila tak lagi marah atau cemburu, rasa cintanya telah padam disirami kekerasan dan makian.

Jam 12 malam, Mila terbangun karena ingin buang air kecil. Ia tak melihat suaminya disampingnya, ia kemudian keluar dari kamar.

"Nanti aku telepon lagi!" Hardi mengakhiri panggilannya.

"Lanjutkan saja, Mas!" sindir Mila kemudian melangkah ke kamar mandi.

Hardi mengernyitkan dahinya. Biasanya Mila bertanya panjang lebar dengan siapa dirinya bertelepon ria. Menyuruhnya tidur bahkan mengajaknya berdebat. Sudah 2 minggu ini sikap Mila berubah.

Mila kembali ke kamarnya, melewati suaminya yang masih duduk di sofa tepat disamping pintu kamar.

"Sebentar lagi aku tidur!" kata Hardi.

"Hmm.." ucap Mila sembari membuka pintu kamarnya.

***

Keesokan harinya, Mila tak membuat sarapan. Dia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan lainnya.

Hardi yang mau sarapan lantas bertanya, "Kenapa tidak masak?"

"Ini sudah tanggal enam, Mas Hardi belum memberikan uang belanja. Jadi, gak ada makanan pagi ini!" jawab Mila sambil mencuci piring kotor yang kemarin malam.

"Pakai uangmu dulu kenapa?"

"Uangku sudah habis buat beli lauk kemarin."

"Halah, jangan pelit begitu!"

"Apa Mas Hardi belum gajian?" tanya Mila.

"Sudah. Cuma aku mau membeli sesuatu," jawab Hardi.

"Kalau begitu tahan saja perut Mas Hardi sampai sesuatu itu terbeli!" tukas Mila.

"Mila, jangan sementang kau sudah bekerja jadi seenaknya menghinaku!" Hardi sedikit meninggikan suaranya.

"Aku tidak menghina, aku bicara seadanya. Mas mau beli sesuatu tapi melimpahkan biaya makan kepada gaji istrinya. Apa Mas tidak punya malu?" Mila menghentikan kegiatannya.

"Tutup mulutmu itu!!" bentak Hardi.

"Aku capek, Mas!" Mila meneteskan air matanya.

"Kau pikir aku tidak capek bekerja cuma buat memberikanmu makan!" kata Hardi.

"Itu memang tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga!"

"Begini saja, kita urus diri masing-masing. Kalau kau mau makan, pakai uangmu jangan gunakan uangku!" Hardi memberikan pilihan.

"Baiklah, itu memang yang aku harapkan. Bahkan, aku juga tidak ingin tinggal berlama-lama di rumah ini!" Mila meninggikan suaranya.

"Kau mau tinggal di mana, hah? Apa orang tuamu menerimamu?" ledek Hardi.

"Aku bisa pergi ke luar kota!" kata Mila.

"Halah, paling gak akan tahan kau tinggal di kota orang. Sendirian lagi!" remeh Hardi.

"Jangan pernah menyepelekan aku!" Mila tak senang dianggap lemah.

"Perempuan gendut kayak kamu itu gak akan mampu hidup sendirian jauh dari keluargamu!" hina Hardi.

"Kau benar-benar menyepelekan aku!!" Mila semakin meninggikan suaranya. "Aku mau kita berpisah!!"

"Lagian kalau kita bercerai, memangnya ada laki-laki lain yang menerima kau seperti ini?" Hardi memandangi tubuh istrinya dari atas ke bawah.

"Aku tidak peduli, masih ada laki-laki lain yang menerimaku atau tidak. Penting saat ini, aku bisa berpisah dari laki-laki seperti kau!!" Mila berucap penuh emosi.

"Kalau begitu, silahkan keluar dari rumah ini!!" usir Hardi.

"Baik, aku keluar hari ini juga!!" Mila melangkah ke kamarnya.

"Aaargghh....dia merusak pagiku saja!" Hardi menjatuhkan kursi dengan kasar.

Di kamar Mila membereskan barang-barang miliknya ke dalam tas besar. Ia tak memikirkan lagi tempat tinggalnya sementara. Baginya keluar dari rumah Hardi adalah kesempatan emas.

Mila menenteng satu tas ditangan kanannya dan 1 lagi di pundaknya.

"Aku yakin kau gak akan tahan tinggal diluar sana!" Hardi benar-benar meremehkan istrinya.

"Tunggu saja surat cerai dari pengadilan!" tegas Mila.

Hardi malah tertawa menghina mendengar perkataan istrinya.

"Aku serius, aku tidak main-main dengan ucapanku!!" Mila mengeraskan rahangnya.

"Iya, aku tunggu!!" Hardi malah menantang.

1
Murni Zain
siapapun jodoh untuk mila yg penting bs menerima dia sebagai menantu, semua masalalu mila. 🤗🥰
Dew666
Hasbi nikah sm sepupu mila kali, mila jodoh Aldo aja
Murni Zain
Gass,,, otw halal🤭
Dew666
👑👑👑
Dew666
🍎🍎🍎
Murni Zain
akhirnya bs mengungkapkan kata suka'🥰
Mami AL: walaupun baru cuma dalam hati 🤭
total 1 replies
Murni Zain
Hasbi,, pernah sama² tersakiti. 🤭🤭
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
Murni Zain
🤗🤗🤗Alhamdulillah msh d ketemu kn sama orang baik ya mbak Mila.
Murni Zain
ehh kenapa Mas Hasbi 🤔🤔🤔 cemburu apa ada trauma???
Dew666
Aldo
Murni Zain
2 laki-laki memcoba dekat sm Mila🤭
Mami AL: kita buat Mila bingung memilih 😅🤭
total 1 replies
Mami AL
kebetulan yang tepat sekali, ya, Kak😄🤭
Murni Zain
ohhh so sweet banget🥰🥰🥰

jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
Murni Zain
Hasbi kan🤔🤔🤔

atw sang mantan. 🤔🤔🤔
Murni Zain
semoga jodoh Mila.... Hasbi🤗
Murni Zain
mungkin kn jodoh mila..🤔
Mami AL: kita lihat nanti, ya, Kak🤭
total 1 replies
Murni Zain
Semoga ada kebahagiaan d t4 baru ya mbak.. 🥰😍🤗💪🏼💪🏼💪🏼
Murni Zain
Semangat mbak Mila.. 🥰🤗
Murni Zain
baik bgt nih ibu mertua... klo aku dl sebaliknya😄 tp tu masa lalu q.. yg sekarang sdh terbayar dgn suami yg setia, baik bertanggung jawab sm keluarga. 🤗🥰
Mami AL: Alhamdulillah, Kak.. Bahagia selalu 😊
total 1 replies
Murni Zain
Ternyata mertuanya baik ya.. klo aku dl... seperti enggak d Terima krn aku ank kampung. 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!