NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Terpaksa Menjadi Istri Sang Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Hidup Arumi hancur saat ayahnya terjerat utang besar kepada keluarga konglomerat Wijaya. Untuk melunasi utang tersebut, ia terpaksa menikah dengan Renard, sosok miliarder dingin yang dikenal kejam dan penuh rahasia. Bagi Renard, Arumi hanyalah alat untuk memenuhi tuntutan keluarga. Namun, di balik topeng arogan dan gengsinya, Renard menyimpan sisi lembut yang ia sembunyikan dari dunia, termasuk hobi rahasia yang tidak sengaja terbongkar oleh Arumi. Tanpa Renard sadari, Arumi adalah sosok penyelamat masa kecil yang selama ini ia cari. Mampukah Arumi mencairkan hati sang miliarder sebelum masa kontrak pernikahan mereka berakhir dan rahasia masa lalu terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Di Bawah Sorot Lampu dan Pengakuan Bisu

Gemerlap lampu gantung kristal raksasa di tengah ballroom hotel bintang lima itu memancarkan pendar cahaya yang menyilaukan.

Alunan musik instrumental dari kuartet gesek di sudut ruangan mengalun elegan, berpadu dengan suara dentingan gelas sampanye dan dengung percakapan basa-basi dari para tamu kalangan elite.

Di tengah lautan manusia yang mengenakan jas mahal dan gaun rancangan desainer ternama, Renard dan Arumi berdiri layaknya poros yang menarik seluruh gravitasi ruangan.

Sejak mereka melangkah masuk dan menempati area VVIP, pandangan dari berbagai penjuru tidak henti-hentinya mengarah pada mereka. Bisik-bisik penasaran terus berdengung layaknya lebah.

Namun, setiap kali ada kolega bisnis atau petinggi universitas yang datang menghampiri untuk menyapa, Renard melayaninya dengan karisma seorang pemimpin absolut.

Pria itu menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, sembari memastikan Arumi selalu berada tepat di sisinya, tak bergeser sedikit pun dari lengannya.

Arumi mengulas senyum simpul yang telah ia latih dengan sempurna.

Gaun hijau zamrudnya sesekali berkilau saat ia bergerak membalas sapaan para tamu. Meski dari luar ia tampak luar biasa tenang dan menguasai keadaan, di dalam dadanya, jantungnya masih berdebar kencang.

Berdiri sebagai Nyonya Wijaya di acara sebesar ini adalah sebuah tekanan mental yang luar biasa.

"Kamu mulai lelah?" Suara bariton Renard yang berat tiba-tiba berbisik tepat di telinga Arumi.

Hembusan napas hangat pria itu menyapu sisi wajahnya, membuat Arumi seketika menahan napas.

"Tidak, saya baik-baik saja," jawab Arumi pelan, mendongak sedikit untuk menatap rahang tegas suaminya. "Hanya... sedikit tidak terbiasa menjadi pusat perhatian puluhan pasang mata."

Renard mendengus pelan, sebuah senyum tipis—sangat tipis hingga hampir tak terlihat—mengembang di sudut bibirnya. "Biasakan dirimu. Mulai sekarang, ini adalah duniamu juga."

Belum sempat Arumi mencerna makna mendalam dari kalimat singkat tersebut, ketenangan mereka tiba-tiba terusik oleh kedatangan seorang pria muda berkemeja marun yang dibalut jas abu-abu terang.

Pria itu melangkah mendekat dengan segelas anggur merah di tangannya, memamerkan senyum miring yang terlihat sangat arogan.

"Wah, wah, wah. Lihat siapa yang kita temui di sini. Sebuah kejutan yang benar-benar tidak terduga," sapa pria itu dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, menarik perhatian beberapa tamu di sekitar mereka.

Arumi menoleh, dan senyum di wajahnya seketika luntur.

Pria di hadapannya adalah Bastian Dirgantara.

Bastian adalah putra sulung dari Dirgantara Group, dan yang lebih buruk lagi, ia adalah salah satu pria yang dulu sempat gencar mengejar Arumi saat keluarga Baskoro masih berjaya, namun langsung menghilang tanpa jejak di hari pertama berita kebangkrutan ayah Arumi mencuat ke media.

"Bastian," gumam Arumi kaku. Jemarinya yang bertumpu pada lengan Renard tanpa sadar mencengkeram kain jas pria itu lebih erat.

"Arumi Baskoro... ah, maaf, aku bahkan tidak tahu harus memanggilmu apa sekarang," ucap Bastian dengan nada pura-pura menyesal yang sangat menyebalkan.

Matanya menatap Arumi dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Terakhir kali aku mendengar kabarmu, keluargamu sedang disita bank dan ayahmu melarikan diri entah ke mana. Siapa sangka, burung kecil yang jatuh dari sarang emasnya kini sudah menemukan dahan baru yang jauh lebih besar."

Bastian mengalihkan pandangannya pada Renard, lalu mengangkat gelas anggurnya seolah bersulang. "Tuan Renard Wijaya. Saya benar-benar kagum. Saya tahu Anda terkenal menyukai investasi berisiko tinggi, tapi memungut putri dari seorang buronan bangkrut untuk dijadikan istri? Itu langkah yang sangat... berani. Atau jangan-jangan, dia menggunakan trik licik untuk menjebak Anda?"

Keheningan yang mencekam seketika menyelimuti radius beberapa meter di sekitar mereka. Para tamu yang berdiri di dekat sana menahan napas, tidak ada yang berani bersuara.

Arumi menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tubuhnya sedikit gemetar.

Penghinaan Bastian terasa seperti belati yang mengoyak luka lama yang belum sepenuhnya kering.

Ia ingin membalas, ia ingin berteriak bahwa ayahnya bukan sekadar buronan, namun suaranya seolah tercekat di tenggorokan.

Namun, sebelum Arumi sempat membela diri, Renard sudah bergerak.

Dengan gerakan yang sangat tenang namun memancarkan aura membunuh yang luar biasa pekat, Renard melepaskan lengan Arumi, lalu bergeser satu langkah ke depan, sepenuhnya menutupi tubuh istrinya dari pandangan Bastian.

Tatapan mata Renard berubah menjadi sekelam malam tanpa bintang, mengunci Bastian layaknya seekor predator puncak yang menatap mangsa menyedihkan.

"Pertama," suara Renard terdengar sangat pelan, namun nadanya yang setajam silet berhasil membuat Bastian seketika menelan ludah.

"Namanya adalah Arumi Wijaya. Nyonya Wijaya. Aku sarankan kau membersihkan telinga dan mulutmu sebelum menyebut nama istriku."

Bastian memaksakan sebuah tawa canggung. "Tuan Renard, saya hanya bergurau. Kita sama-sama tahu latar belakang keluarganya—"

"Kedua," potong Renard dingin, sama sekali tidak memberi ruang bagi Bastian untuk bernapas.

"Istriku tidak perlu menjebakku untuk mendapatkan posisinya. Aku yang memilihnya. Dan keputusanku bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan lelucon oleh pewaris perusahaan kelas dua sepertimu."

Wajah Bastian memerah karena malu dan marah, namun ia tidak berani melawan sosok CEO raksasa di hadapannya.

Renard memiringkan kepalanya sedikit, merogoh saku celananya dengan santai, namun kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya terdengar seperti vonis eksekusi.

"Aku dengar proyek reklamasi pesisir milik Dirgantara Group sedang mengalami krisis likuiditas dan sangat bergantung pada suntikan dana dari konsorsium. Kebetulan sekali, aku mengenal baik ketua konsorsium tersebut. Sayang sekali jika besok pagi mereka tiba-tiba menarik seluruh pendanaan hanya karena pewaris Dirgantara tidak diajari tata krama berbicara di depan umum."

Mendengar ancaman nyata yang dilontarkan tanpa ampun itu, wajah Bastian seketika berubah pucat pasi.

Gelas anggur di tangannya bergetar hebat.

Ia tahu persis bahwa bagi Renard Wijaya, menghancurkan perusahaan sekelas Dirgantara Group hanyalah perkara membalikkan telapak tangan.

"T-Tuan Renard... saya... saya sungguh meminta maaf. Saya tidak bermaksud..." Bastian tergagap, keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya.

"Pergi dari hadapanku sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar menghancurkan keluargamu malam ini juga," desis Renard tanpa nada.

Bastian tidak menunggu peringatan kedua.

Pria pengecut itu segera membungkuk kaku dan berjalan cepat meninggalkan area tersebut, menghilang di balik kerumunan tamu layaknya pecundang.

Keheningan masih tersisa selama beberapa detik, sebelum akhirnya para tamu di sekitar mereka buru-buru memalingkan wajah dan berpura-pura kembali pada obrolan mereka, terlalu takut untuk memancing kemarahan Renard.

Renard menghela napas panjang, meredakan emosi gelap yang sempat menguasainya.

Ia kemudian berbalik menatap Arumi.

Tatapan dinginnya seketika mencair, digantikan oleh sorot kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Renard pelan.

Tanpa ragu, pria itu mengangkat tangannya dan menyelipkan sehelai rambut Arumi yang terlepas dari sanggulnya ke belakang telinga. Sentuhan jemari besarnya di pipi Arumi terasa begitu hangat dan nyata.

Arumi menatap mata suaminya lekat-lekat.

Air mata yang tadi tertahan di pelupuk matanya kini mendesak ingin keluar, bukan karena hinaan Bastian, melainkan karena rasa haru yang luar biasa hebat.

Untuk kedua kalinya, Renard menjadi benteng terkuat yang melindunginya dari kekejaman masa lalunya.

"Terima kasih, Renard," bisik Arumi tulus, suaranya sedikit bergetar. "Tapi Anda tidak perlu mengancam perusahaannya sejauh itu hanya demi... demi menjaga citra kontrak kita."

Renard menatap Arumi dalam diam.

Di tengah riuhnya irama musik jazz dan gemerlap pesta di sekeliling mereka, pria itu memangkas jarak.

Ia menundukkan wajahnya hingga bibirnya berada hanya beberapa sentimeter dari telinga Arumi.

"Kapan kamu akan berhenti mengira bahwa semua ini hanya tentang kontrak, Arumi?" bisik Renard dengan suara parau yang menyiratkan keputusasaan tersembunyi.

"Aku menghancurkannya bukan demi citra perusahaanku. Aku melakukannya karena dia berani melukai istriku."

Arumi melebarkan matanya, napasnya tercekat hebat.

Sebelum Arumi sempat merespons pengakuan yang menggetarkan jiwa itu, Renard sudah kembali menegakkan tubuhnya.

Pria itu kembali memasang wajah tenang seolah tak terjadi apa-apa, lalu kembali menekuk lengannya dengan gestur protektif.

"Ayo," ucap Renard lembut namun tegas. "Kita sudah selesai di sini. Waktunya pulang."

Malam itu, di bawah sorotan lampu dan tatapan iri dunia luar, Arumi menggenggam lengan Renard dengan keyakinan yang baru.

Kontrak kertas bernilai miliaran rupiah yang tersimpan di dalam brankas mansion itu kini terasa tidak lebih dari sekadar formalitas usang, karena jauh di dalam lubuk hati mereka berdua, batas antara sandiwara dan cinta yang nyata telah sepenuhnya lebur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!