Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06.
...~•Happy Reading•~...
"Perkembangan bagus, Pa. Dia kira Jarem doang yang jadi rebutan gadis-gadis, sampe mau dengar Jarem tanpa saring. Seperti tidak ada pria lain saja." Mama Juano senang melihat Laras terusik oleh keadaan Rafael, tapi juga gemas ingat sikap Laras pada Jarem.
"Biar dia lihat sendiri, ada pria lain seperti Rafa punya pesona dan jadi rebutan gadis-gadis komplek." Mama Juano tersenyum ngucapin Rafael jadi rebutan.
"Rafa belum didandani saja, sudah bikin dia emosi. Apa lagi didandani seperti Jarem dengan outfit sesuai. Hhhmmm... Kita lihat saja." Terbesit ide di pikiran Mama Juano, agar Laras bisa membuka cakrawala pikirannya.
"Iya. Biarkan saja, dia lihat dan nilai sendiri. Nanti dikira kita sedang berusaha menjodohkan mereka dan punya alasan untuk menolak Rafa tinggal di rumah." Papa Juano merem ucapan istrinya.
"Ssssttt.. Itu mereka sudah putar di bundaran. Kita panggil Juan ke sini. Biar para gadis di depan gak gangguim Rafa." Papa Juano melihat Rafael dan Juano sudah putar balik di bundaran.
Juano mengangkat tangan ke arah mereka sambil tersenyum riang. "Ke sini..." Papanya memanggil tanpa suara, hanya menggerakan tangan agar mereka menyebrang.
Para anak muda yang mengikuti mereka langsung berpencar sambil tersenyum malu saat melihat orang tua Juano berjalan di belakang mereka.
Papa Juano jadi tertawa dalam hati melihat reaksi para gadis penghuni komplek terhadap Rafael. 'Pantas saja. Ternyata tubuh Rafael atletis.' Papa Juano baru menyadari melihat Rafael memakai celana pendek miliknya dan kaos yang agak ketat.
Juano berlari menyeberang diikuti oleh Rafael. "Kak Laras gak ikut, Ma?"
"Ikut. Itu sudah balik." Mamah Juano menunjuk dengan menggerakan wajah ke arah Laras yang sudah menyebarang dan berjalan sendiri.
"Kenapa Kak Laras gak terusin, sih." Protes Juano.
"Abis, pagi, pagi, kalian bikin iring-iringan." Papa Juano menambahkan, sambil tersenyum dan mengacak rambut Juano yang basah.
"Oh, kakak-kakak itu bikin Kak Laras marah, ya. Kami tidak bikin apa-apa kok, Pa. Tau tau mereka sudah ngekor." Juano membelah dirinya dan tidak mau disalahkan kakaknya.
"Iya. Kalau mau lari lagi, pelan-pelan saja. Atau jalan cepat di depan. Mama dan Papa mau jalan satu putaran saja." Mama Juano memberikan kesempatan mereka olah raga pagi dengan cara Rafael.
Setelah tiba di rumah, mereka tidak melihat Laras. "Juan, kalau mau mandi, duluan. Saya mau cuci mobil." Ucap Rafael sambil mengambil selang air.
"Kalau begitu Juan mau bantu cuci mobil juga, Kak." Juano lihat kaosnya juga basah seperti Rafael, jadi dia mau ikut bantu.
"Ok. Biar sekalian basah. Tolong minta kunci mobil sama Papa. Supaya bersihkan bagian dalam juga." Rafael mau bersihkan mobil bagian dalam, karena ada Juano cuci mobil bersamanya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua mencuci mobil dengan gembira. Juano yang biasanya menghabiskan waktu dengan main game di kamar setelah mandi, jadi riang mencuci mobil.
Papa dan Mamanya yang melihat dari dalam tersenyum senang. Rafael telah membawa aura positif kepada Juano. Dia mau membantu tanpa perlu diminta.
Ketika mereka sedang sibuk mencuci mobil, terdengar suara wanita dari luar pagar. "Juan, mari makan bubur, yuuukkk..."
"Kak, benar. Mereka mau traktir makan bubur." Bisik Juano setelah mengintip dari cela pagar. Rombongan yang lari pagi dengan mereka telah duduk di taman komplek di depan rumah bersama tukang bubur yang berjualan di komplek.
"Kalau Juan mau makan bubur dengan mereka, tinggalin saja."
"Gak, Kak. Mobil belum bersih."
"Kalau begitu, bilang buat mereka. Supaya mereka tidak tunggu Juan." Rafael tidak mau mengatur Juano. Dia mau Juano yamg memutuskan sendiri pilihannya. Agar dia menolak dengan alasan yang benar, sedang mencuci mobil.
Juano membuka pagar dan berbicara dengan mereka yang sedang makan bubur di taman. Kemudian dia kembali masuk ke halaman. "Sudah, Kak." Lapor Juano lalu mengambil kanebo untuk mengeringkan mobil yang sudah bersih.
Tiba-tiba Laras berdiri di depan pintu tanpa mereka ketahui. "Itu akibatnya pagi pagi tebar pesona. Bikin berisik di depan rumah." Ucap Laras tanpa menyebut nama yang dituju.
Laras jadi emosi dan kesal dengar teriakan, canda tawa para gadis di luar pagar. Sehingga dia keluar memarahi Juano dan Rafael.
"Kak Laras, kami cuma cuci mobil Papa. Kami tidak punya pesona. Mengapa bilang kami tebar pesona?" Juano berhenti melap mobil dan protes pada kakaknya.
"Makanya, belajar. Jangan kebanyakan main game." Ucap Laras sambil mengangkat sendal mau melempar adiknya yang tidak mengerti pesona.
"Kak Rafa, pesona itu baik?" Tanya Juano dengan wajah polos. Rafael jadi tahu, Juano bukan sedang meledek kakaknya. "Baik." Jawab Rafael singkat.
"Oh, kalau begitu gak pa'pa pesona ditebar." Juano merasa senang. "Kak Rafa punya pesona?"
"Tidak tahu." Jawab Rafael singkat, agar Juano tidak bertanya lagi. Apa lagi dia melihat emosi Laras makin tersulut.
"Kak Rafa tidak tahu? Mengapa Kak Laras bisa tahu kita punya pesona? Kak Laras hebat, ya." Ucapan polos Juano disambut dengan lemparan sendal Laras. Dia makin kesal melihat sendalnya ditangkap Rafael, hingga tidak mengenai Juano.
"Juan, stop komentar. Tidak usah pikirkan segala macam pesona. Nanti kalau sudah waktunya, kau akan tahu. Ayo mandi." Rafael mengajak Juano masuk ke dalam rumah, agar kakaknya tidak makin emosi.
Mama dan Papa Juano yang ada dalam rumah hanya bisa tersenyum sambil menggeleng lihat yang terjadi di halaman. Apa lagi melihat Laras masuk sambil mendengus.
"Ayo, cepat mandi Juan. Apa tidak lapar?" Mama Juano menaikan nada suara, seakan sedang memarahi Juano.
~••
Sore menjelang malam, Juano dan Rafael sedang bermain game dalam kamar. Tiba-tiba pintu kamar diketok disertai suara Laras memanggil nama Juan. "Ssssttt..." Juano meletakan jari di bibir kepada Rafael lalu menuju pintu.
"Iya, Kak Laras." Jawab Juano setelah membuka pintu. "Waaah..." Juano tidak meneruskan melihat kakaknya sudah berdandan cantik, tapi wajahnya sangat serius.
"Juan, keluar dulu. Kakak mau bicara." Ucap Laras sambil masuk ke dalam kamar.
Mendengar permintaan Laras, Rafael duduk tegap di atas karpet. "Rafa, nanti jangan keluar kamar, sampai saya pergi. Saya tidak mau pacar saya melihatmu." Laras terpaksa harus bicara pribadi dengan Rafael, sebab dia tidak mau acara malam minggunya terganggu, karena harus menjelaskan siapa Rafael kepada Jarem.
"Baik. Ada lagi?" Tanya Rafael singkat. Dia mengerti maksud Laras tanpa perlu dijelaskan.
"Hanya itu." Ucap Laras singkat lalu keluar dari kamar Juano.
Juano masuk ke kamar lagi setelah kakaknya keluar. "Kak Rafa kenapa? Kakak dimarahi Kak Laras?" Tanya Juano sambil berdiri.
"Tidak dimarahi. Hanya mau minta tolong. Duduk lagi di sini." Rafael menepuk karpet di depannya. Juano duduk sambil melihat Rafael. Dia khawatir Rafael dimarahi kakaknya dan akan pergi dari rumah.
Setelah lama berpikir, Rafael bertanya. "Juan, apa kenal pacar Kak Laras?"
...~•••~...
...~•○♡○•~...