NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SANDIWARA BERUJUNG PETAKA.

“Kirimkan alamat rumah ibumu.”

Kalimat itu keluar dari mulut Ardiah dengan nada datar, namun membuat Haikal yang sedang bersandar di meja kerjanya hampir terjatuh. Pria itu mengedipkan mata beberapa kali, seolah-olah ia salah dengar. Baru lima menit yang lalu, Ardiah masih memarahinya habis-habisan karena kedok "calon menantu" yang diciptakan Haikal tanpa persetujuan.

“Maaf?” tanya Haikal, suaranya bergetar antusias.

Ardiah menghela napas panjang, melipat tangan di dada. Wajahnya masih merah karena marah, tapi ada kelelahan yang jelas terlihat di matanya. “Ibumu menelepon saya tiga kali dalam satu jam ini, Haikal. Dia mengajak saya makan malam keluarga malam ini. Jika saya tidak datang, dia akan curiga. Dan jika dia curiga, sandiwara bodohmu akan ketahuan. Jadi, beri saya alamatnya. Saya akan pergi sendiri.”

Haikal tersenyum lebar, senyuman kemenangan yang sangat menjengkelkan. “Tidak bisa. Itu akan terlihat aneh. Pasangan kekasih harus datang bersama. Lagian, ini bagian dari komitmen profesional kita, kan? Biar ibu saya tidak curiga.”

Ardiah mendengus kesal. Logika Haikal memang sulit dibantah, meski menyebalkan. “Baiklah. Tapi kamu yang menyetir. Dan ingat, ini Sekali lagi kamu melibatkan saya dalam drama keluargamu tanpa izin, saya resign.”

“Siap, Nona Ardiah,” sahut Haikal sambil mengambil kunci mobilnya.

Perjalanan menuju rumah orang tua Haikal terasa tegang. Ardiah duduk kaku di kursi penumpang, sementara Haikal tampak santai bahkan bersiul kecil. Rumah itu bukan sekadar mewah, melainkan megah. Sebuah vila bergaya klasik dengan taman luas yang terawat rapi. Saat mereka masuk, seorang wanita paruh baya dengan senyum hangat menyambut mereka. Itu Bu Astuti, ibu Haikal.

“Nak Ardiah! Akhirnya kamu datang,” sapa Bu Astuti, langsung merangkul Ardiah. Wangi parfum mahal dan kesan keibuan yang tulus membuat Ardiah sedikit luluh. “Ayo masuk. Ayah dan Kakek sudah menunggu.”

Ardiah mengangguk sopan, mengikuti Bu Astuti masuk ke ruang tamu yang luas. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat dua pria duduk di sofa utama. Salah satunya adalah Pak Rizal, ayah Haikal, yang tampak tegas dan berwibawa. Namun, sosok di sebelahnya yang membuat darah Ardiah membeku.

Seorang kakek tua dengan tongkat kayu, rambut putih perak, dan tatapan tajam yang menusuk. Haikal pun tampak terkejut. Mulutnya terbuka sedikit.

“Kakek?” seru Haikal tak percaya. “Tumben Kakek mau turun gunung? Ada angin apa nih?”

Bu Astuti tertawa kecil, menuangkan teh untuk mereka. “Ya iyalah Kakek kamu mau turun gunung. Mama bilang kalau sekarang Mama sudah punya calon menantu, dan Kakek langsung minta diantar ke sini. Lagian, Kakek kamu sudah janji. Dia mau dioperasi jantungnya hanya jika dia sudah memiliki cucu mantu.”

Jantung Ardiah serasa berhenti berdetak. Operasinya? Cucu mantu? Perasaan tidak enak itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Ia melirik Haikal, mencari tanda-tanda bahwa ini hanyalah lelucon. Tapi Haikal tampak pucat pasi.

Rizal, ayah Haikal, meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi berdentum pelan. Suaranya berat dan otoriter. “Haikal, Ardiah. Kalian berdua sudah pacaran berapa lama?”

Haikal menelan ludah. “Eh... cukup lama, Yah. Kami...”

“Cukup untuk menikah,” potong Rizal tegas. Matanya menatap Haikal, lalu beralih ke Ardiah. “Saya ingin kalian segera menikah. Agar Kakek bisa segera dioperasi. Kesehatan beliau tidak bisa menunggu.”

Ardiah merasa dunianya runtuh. Menikah? Dengan Haikal? Dalam sandiwara gila ini? Ia menatap Haikal dengan tajam, matanya menuntut penjelasan. Akui saja! pikirnya putus asa. Katakan pada mereka bahwa ini bohong!

Haikal memahami tatapan itu. Dengan cepat, ia berbicara, “Yah, kami... kami belum siap. Pekerjaan kami di kantor sedang padat. Proyek besar. Kami butuh waktu.”

Tiba-tiba, Kakek Haikal memukul tongkatnya ke lantai. Suara itu menggema, membuat semua orang terdiam. “Alasan!” geram Kakek. Suaranya serak namun penuh tenaga. “Justru kalau kalian cepat menikah, pekerjaan semakin mudah. Karena pernikahan itu adalah hal yang baik. Membawa keberkahan.”

Kakek itu menatap Haikal dan Ardiah bergantian. “Kakek tidak mau tahu. Dalam seminggu ini, kalian harus sudah menikah. Kalau tidak... Kakek tidak mau berobat. Kakek akan kembali ke gunung dan mati di sana. Biar saja.”

Ancaman itu jatuh seperti bom atom. Astuti tampak sedih, Pak Rizal marah besar. Wajah Pak Rizal memerah karena amarah. “Haikal! Dengarkan kata Kakekmu! Kamu harus menikahi gadis ini minggu depan juga! Tidak ada alasan!”

Ardiah tidak tahan lagi. Tekanan ini terlalu berat. Sandiwara ini sudah melampaui batas kewajaran. Ia berdiri, napasnya tersengal-sengal.

“Om, Tante, dan Kakek... sebenarnya kami...” aku Ardiah, suaranya bergetar. Ia siap mengakhiri semua kebohongan ini, meski konsekuensinya mungkin buruk bagi Haikal.

Namun, sebelum kata-kata itu keluar sepenuhnya, sebuah tangan besar menutup mulutnya. Haikal.

Dengan gerakan cepat, Haikal menarik lengan Ardiah, membuatnya berdiri. Haikal membungkuk sedikit, memberi hormat pada orang tuanya dengan wajah yang berusaha tetap tenang meski keringat dingin mengalir di pelipisnya.

“Maaf, Pah, Mah, Kek. Kami... kami kaget. Kami perlu membahas ini sebentar di luar. Sabar ya, Kek. Nanti kami pikirkan dulu.”

Tanpa menunggu jawaban, Haikal menyeret Ardiah keluar dari ruang tamu. Mereka berjalan cepat melewati koridor, keluar dari pintu utama, hingga sampai di dalam mobil Haikal yang terparkir di halaman.

Begitu pintu mobil tertutup, Ardiah meledak. Ia melepaskan tangan Haikal dengan kasar.

“Gila! Kamu benar-benar gila, Haikal!” teriak Ardiah, air mata kemarahan menggenang di matanya. “Menikah? Seminggu? Kamu mempermainkan hidup saya! Saya tidak sanggup lagi dengan sandiwara konyol ini! Hentikan sekarang juga!”

Haikal tidak menjawab segera. Ia menyalakan mesin mobil, lalu menoleh pada Ardiah. Wajahnya serius, sangat serius. Tidak ada lagi senyuman tengil atau godaan. Hanya ada ketegangan dan sesuatu yang mirip keputusasaan.

“Ardiah, dengarkan saya,” kata Haikal pelan.

“Tidak! Saya ingin keluar!”

“Dengar!” suara Haikal naik sedikit, memotong protes Ardiah. “Saya tidak bisa menolak Kakek. Beliau sakit parah. Jika beliau stres, nyawanya taruhannya. Saya butuh waktu. Saya butuh cara untuk menunda pernikahan sungguhan, tapi tetap membuat mereka percaya.”

Haikal mengambil napas dalam, lalu menatap lurus ke mata Ardiah.

“Ayo kita nikah kontrak.”

Ardiah terdiam. Matanya membelalak. “Apa?”

“Nikah kontrak,” ulangi Haikal tegas. “Secara hukum sah, secara agama sah. Tapi di atas kertas perjanjian sipil, kita sepakati bahwa ini hanya berlangsung satu tahun. Setelah itu, kita cerai baik-baik. Alasan bisa apa saja. Inkompatibilitas. Perbedaan visi.”

Ardiah menggelengkan kepala, tidak percaya. “Anda menawarkan saya pernikahan palsu? Ini ilegal, Haikal!”

“Tidak ilegal jika niat awalnya memang untuk kepentingan tertentu dan disepakati kedua belah pihak, selama tidak ada penipuan dalam akad nikah itu sendiri. Kita akan menikah sungguhan di KUA, tapi dengan perjanjian pra nikah yang ketat,” jelas Haikal cepat. Otaknya bekerja keras mencari solusi di tengah krisis.

Lalu, Haikal menyebutkan angka yang membuat otak Ardiah berhenti bekerja sejenak.

“Dan sebagai kompensasi atas waktu, tenaga, dan reputasi Anda... saya akan memberikan bonus lima puluh miliar rupiah setelah kontrak selesai.”

Hening.

Suara jangkrik di luar mobil tiba-tiba terdengar sangat nyaring. Ardiah menatap Haikal, lalu menatap dashboard mobil, lalu kembali ke Haikal. Lima puluh miliar? Untuk satu tahun menjadi istri palsu?

“Lima... puluh... miliar?” bisik Ardiah, suaranya hampir tak terdengar.

Haikal mengangguk. “Uang muka lima belas juta sudah Anda terima tadi sore. Sisanya, setelah satu tahun. Atau lebih cepat, jika Kakek sudah sembuh dan operaasi berhasil.”

Ardiah merasa kakinya lemas. Hidupnya yang hancur, hutangnya, masa depannya yang suram... tiba-tiba ada jalan keluar yang ditawarkan oleh pria paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Tapi apakah ia rela menjual kebebasannya, bahkan status pernikahannya, demi uang?

Haikal menunggu jawaban, matanya penuh harap dan kecemasan. Di luar sana, badai kehidupan Ardiah baru saja berubah arah menjadi tornado yang jauh lebih besar.

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!