Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POPOK, DOA, DAN REBUTAN WALI ASUH
Suasana di klinik pesantren pagi itu dipenuhi oleh rasa haru yang meluap-luap. Di tengah sinar matahari yang menerobos celah jendela, Mentari terbaring lemas namun wajahnya memancarkan cahaya kebahagiaan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. Di sampingnya, sebuah boks bayi dari kayu jati yang harum menampung sesosok malaikat kecil yang masih merah, terbungkus kain bedong berwarna biru muda.
Gus Zikri tidak beranjak dari sisi ranjang. Matanya merah karena tidak tidur, namun senyumnya tidak pernah pudar. Ia terus menatap putranya seolah-olah jika ia berkedip, keajaiban itu akan hilang.
Sebuah Nama dan Azan Pertama
"Mas... sudah ada namanya?" bisik Mentari parau.
Zikri mengangguk. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga sang bayi, lalu dengan suara bariton yang bergetar penuh cinta, ia membisikkan azan yang sangat merdu. Seluruh ruangan mendadak hening. Dokter dan perawat yang merapikan peralatan medis pun berhenti sejenak, menghargai momen sakral tersebut.
Setelah selesai, Zikri mengecup kening Mentari lalu berbisik, "Namanya Muhammad Zayan Al-Fatih. Semoga dia menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan memiliki kemuliaan akhlak seperti Rasulullah."
"Zayan... Mas Zayan," Mentari mengulang nama itu dengan penuh kasih. "Ganteng banget namanya, kayak Abinya."
Kebahagiaan itu segera berganti dengan kepanikan pertama sebagai orang tua baru. Saat perawat meninggalkan mereka untuk beristirahat, Zayan tiba-tiba menangis kencang.
"Mas, kayaknya dia pup deh," ucap Mentari panik. "Aku belum bisa bangun, Mas."
Gus Zikri menarik napas panjang. "Biar Mas yang urus. Mas sudah baca tutorialnya di buku semalam."
Zikri membuka bedong dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang membuka kitab kuno yang sangat rapuh. Namun, begitu popok dibuka, ZRAAAT! Sebuah "hadiah" kuning menyemprot tepat ke arah baju koko putih bersih milik Gus Zikri.
"ASTAGHFIRULLAH!" Zikri mematung dengan tangan menggantung di udara.
Mentari yang melihat itu malah tertawa sampai perutnya yang masih nyeri terasa terguncang. "Mas! Hahaha! Itu sambutan selamat datang dari Zayan!"
"Ini... ini di luar perkiraan saya," gumam Zikri sambil mencoba membersihkan bajunya dengan tisu, namun bukannya bersih, noda itu malah semakin melebar. Sang pemimpin pesantren yang disegani itu kini tak berdaya menghadapi serangan popok bayi.
Pintu klinik tiba-tiba terbuka lebar. Bondan, Fahma, dan Hafizah masuk dengan membawa berbagai macam bungkusan. Bondan mengenakan kaos bertuliskan "Coolest Aunti in the World"_, sementara Fahma membawa boneka dinosaurus yang ukurannya hampir sebesar bayinya.
"MANA KEPONAKAN GUE?! MANA?!" teriak Bondan heboh.
"Ssttt! Bondan, ini klinik, bukan pasar!" tegur Hafizah sambil membawa keranjang berisi ramuan jamu untuk pemulihan Mentari.
Fahma langsung mendekati boks bayi. "Wah... kok kecil banget? Tari, ini beneran bisa tumbuh besar? Kayak kerupuk yang dicelup air ya, melar-melar gitu?"
Bondan mendorong Fahma pelan. "Minggir lo! Gue sudah mutusin, gue adalah Wali Asuh utama Zayan. Gue bakal ajarin dia cara dandan yang modis biar nggak cuma pake sarung terus kayak Abinya!"
"Nggak bisa!" sahut Fahma tak mau kalah. "Aku yang bakal jadi Wali Asuh. Aku bakal ajarin Zayan cara makan seblak tanpa sakit perut. Itu ilmu bertahan hidup yang penting!"
Mentari tertawa lemah. "Kalian berdua mending bantuin Gus Zikri tuh. Beliau baru saja 'diberkati' sama Zayan."
Bondan melihat noda di baju Zikri dan langsung meledak tertawa. "WADUH! Gus! Itu lambang kehormatan baru ya? Bau-baunya sedap banget sampe ke depan pintu!"
Di luar klinik, Abah dan Umi (orang tua Zikri) sudah menunggu. Saat Zikri keluar untuk mengganti baju, ia berpapasan dengan ayahnya. Sang Kyai sepuh itu menepuk pundak Zikri dengan bangga.
"Zikri, sekarang kamu tahu kenapa Abah dulu sering bangun malam bukan hanya untuk salat, tapi untuk menggendongmu saat kamu rewel," ucap Abah dengan mata berkaca-kaca.
Zikri menunduk khidmat. "Iya, Abah. Ternyata menjadi ayah adalah madrasah kesabaran yang sesungguhnya."
Malam harinya, Mentari sudah kembali ke rumah kecil mereka. Suasana rumah terasa sangat berbeda. Ada suara tangisan bayi, aroma minyak telon, dan tumpukan popok di sudut ruangan. Gus Zikri duduk di samping Mentari, membantu istrinya menyusui Zayan dengan sabar.
"Mas," panggil Mentari.
"Iya, Sayang?"
"Makasih ya. Kalau bukan karena Mas yang maksa aku ke pesantren, mungkin Zayan lahir di tengah kebisingan Jakarta yang nggak ada habisnya. Di sini... aku merasa dia benar-benar dilindungi oleh doa."
Zikri merangkul pundak Mentari, mengecup keningnya. "Zayan adalah pengikat cinta kita, Mentari. Dia bukti bahwa sejauh apapun kita pergi, Allah selalu punya cara untuk membawa kita pulang ke pelukan-Nya."
Zayan menggeliat kecil di pelukan Mentari, seolah setuju dengan ucapan Abinya. Di bawah naungan langit pesantren yang tenang, Mentari akhirnya menemukan kebahagiaan yang paling hakiki: Menjadi istri dari seorang Imam, dan Ibu dari seorang pejuang kecil.